
Dion berlarian di lorong rumah sakit. Setelah mendapat kabar dari Karina dia langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Karena istrinya kini sedang dibawa ke rumah sakit karena sedang melahirkan. Memang kemarin perasaan Dion tak tenang saat bekerja maupun di apartemennya.
Sehingga dia menyarankan istrinya untuk dititipkan ke rumah Karina karena sudah mendekati tiba waktunya untuk melahirkan. Beberapa hari ini setelah dirinya kembali ke apartemennya, istrinya itu sering mengeluh kesakitan di bagian pinggang dan perutnya.
Merasakan kontraksi palsu berulang kali. Bahkan Dion tak bisa tidur dengan nyenyak karena istrinya terus menerus merintih. Ingin dia membawanya ke rumah sakit saat itu juga, namun istrinya menyarankan untuk mengelus perutnya agar lebih baik. Dan ternyata itu lebih baik dan istrinya tertidur pulas sampai pagi.
Sedang Dion terus menerus mengelusnya. Berhenti sebentar saat istrinya langsung merintih. Benar-benar anak papa, kau mengerjai papamu ini ya? batin Dion yang tak dibuat tidur sama sekali oleh anaknya itu yang sebentar lagi akan melihat indahnya dunia. Hingga pagi tadi, mau tak mau Dion menitipkan ke rumah mertuanya.
Tentu saja itu masih pagi sekali. Selain banyak pekerjaan di kantor, Dion berniat menghindari Angel. Entah kenapa firasat Dion mengatakan kalau Angel akan semakin menyulitkannya dengan permintaan yang aneh-aneh sehingga membuatnya mau tak mau bertahan di sisinya.
Padahal Dion tak mau lagi membuat istrinya itu sakit hati atau salah paham tentang hubungan mereka. Dan belum sampai waktu makan siang, Karina menghubunginya mengabari kalau istrinya sudah di rumah sakit dan dokter mengatakan istrinya sudah pembukaan lima. Dion tanpa pikir panjang langsung berlari ke rumah sakit dengan mobilnya.
"Bagaimana keadaan istri saya ma?" tanya Dion dengan nafas yang ngos-ngosan berlari ke ruang persalinan tempat istrinya diperiksa. Dan dia melihat mamanya duduk di dekat ruangan itu.
"Dion, Vio ada di dalam kamu masuklah, dokter bilang dia membutuhkan suaminya." Dion mengangguk dan masuk ke dalam.
Setelah berganti baju khusus, Dion menghampiri istrinya yang nampak kesakitan karena bertambahnya pembukaan jalan lahir. Dan terlihat dokter dan beberapa perawat sudah melakukan persiapan karena sudah mencapai pembukaan sepuluh.
Dion mendekati istrinya menggenggam jemari tangannya dan tak lupa mengecup keningnya memberi semangat.
Tak sampai lima belas menit terdengar bayi mungil menangis memenuhi ruangan bersalin itu. Dion mengucap syukur dan mengecup bibir istrinya lembut.
"Anak kita lahir sayang." ucap Dion menatap Vio yang juga tersenyum tak bertenaga.
"Selamat pak, anak anda laki-laki, sangat tampak dan sehat." ucap dokter itu setelah perawat membersihkan tubuh bayi itu. Dion menerima anaknya untuk digendong. Dikecupinya putranya itu dengan penuh kasih sayang.
"Anak kita sangat tampan sayang, seperti diriku." ucap Dion narsis yang mendapat pukulan dari istrinya yang tersenyum lucu mendengar ucapan suaminya.
Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu tersenyum melihat kemesraan pasangan yang baru menjadi orang tua itu.
Dokter membawa Vio ke ruang perawatan setelah dibersihkan, sedangkan bayi mereka di tempatkan di ruang bayi. Dion menemani istrinya sepanjang waktu dan mulai menyuapi istrinya setelah beberapa jam tertidur karena kelelahan.
Karina menghubungi Derian dan Reno memberikan kabar pada mereka kalau cucu pertama mereka lahir. Tanpa banyak berpikir keduanya tiba di rumah sakit hampir bersamaan dengan Reno tiba lebih dulu setelah itu Derian juga sampai dan melihat Reno sedang bicara dengan istrinya.
Bohong kalau Derian tak cemburu melihat pemandangan itu. Bagaimanapun juga Reno adalah mantan suami dulu. Meski sudah lama Derian masih tetap tak suka dan cemburu melihat kedekatan mereka. Yang mau tak mau sekarang mereka sudah menjadi besan. Selain itu sorot mata Reno masih tetap sama saat menatap istrinya, masih mencintai Karina.
__ADS_1
Namun Derian berusaha menepisnya karena hari itu mereka sama-sama menjadi kakek. Derian merasa sedikit tak terima disebut tua dengan panggilan kakek. Tapi entah kenapa dia bahagia mendengar kabar tentang cucu pertamanya.
"Dimana Vio?" tanya Derian begitu mengejutkan istrinya dan Reno karena Derian tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.
Karina tersentak, sedang Reno terlihat sorot kesedihan menatap arah tangan Derian berada. Dan Derian melihat itu semua namun berusaha cuek.
Ketiganya pun masuk bersamaan ke dalam ruang perawatan Vio dengan Reno yang paling belakang.
"Papa... mama...papa Reno..." ucap Dion yang masih serius menyuapi istrinya.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Karina mendekati Vio yang terbaring di ranjang.
"Baik ma." jawab Vio tersenyum.
"Dimana cucuku?" tanya Derian antusias.
Derian terlihat bahagia karena cucunya ini dari putrinya yang paling disayangi, dan juga putri dari istri tercintanya Karina. Bukannya Derian tak menyayangi putrinya yang lain. Tapi saking cintanya dirinya pada Karina, dia lebih menyayangi putrinya dari istrinya yang dicintainya. Entahlah.
"Dia ada di ruang bayi pa." jawab Vio tersenyum.
"Selamat sore." sapa seorang perawat dengan menggendong bayi mungil yang sangat putih, bersih dan tampan.
"Cucuku?" ucap Derian.
"Waktunya memberi ASI tuan." ucap perawat itu menyerahkan pada Karina, Derian ingin menerimanya namun ditolak oleh Karina, Karina bayi ini masih rentan.
"Biarkan aku menggendongnya sayang." pinta Derian memelas.
"Belum saatnya, biarkan ibunya menyusuinya dulu." Semua yang ada disitu tersenyum melihat sifat kekanak-kanakan Derian.
Karina membantu Vio untuk menyusui putranya, dengan mengarahkan beberapa saran. Sedang ketiga pria itu berdiri berjajar di ujung ranjang menatap bayi mungil itu disusui.
"Tunggu!" seru Dion. Semua orang menoleh menatap Dion mengerutkan dahi penasaran kenapa Dion menghentikan istrinya untuk menyusui.
"Itu..."
__ADS_1
"Apa?" tanya Vio.
"Bagaimana kalau kita menggunakan dot saja." ucap Dion tegas tanpa tahu malu. Semua orang mengerutkan keningnya lagi. Dion menunduk.
"Jangan memberikan langsung seperti itu. Itu... hanya milikku." ucap Dion pelan tapi masih didengar yang lainnya dan jemari Dion menunjuk pada dada Vio.
"Kau memang menantuku." ucap Derian duduk di sofa di kamar itu.
Reno yang terlambat paham ikut duduk di sofa yang lainnya. Karina tersenyum lucu. Sedang Vio dia yang belum mengerti maksud suaminya menatap Karina meminta penjelasan. Dion mendekat dan berbisik di telinga istrinya. Dan seketika wajah Vio memerah tersipu malu.
"Apa kau tak mau mengalah juga pada putramu?" seru Vio tak terima.
Bukannya semua terkejut malah tertawa. Dion masih menegaskan untuk mengikuti keinginannya itu.
"Sayang... mengertilah!" pinta Dion memelas.
"Ma..." seru Vio meminta pembelaan. Karina malah tersenyum melihat putrinya hendak marah.
"Papamu dulu juga seperti itu." jawab Karina menatap Derian.
"Tapi ma, ini putranya, putra kandungnya?" tanya Vio masih keheranan dengan modus suaminya.
"Kau yang memutuskan." jawab Karina. Vio menatap suaminya yang memelas penuh harap. Hingga Vio menghela nafas panjang.
"Baiklah." ucap Vio mengalah. Dion berbinar senang. Mengecupi seluruh wajah istrinya.
"Makasih sayang." ucapnya. Semua orang yang ada disitu tertawa.
TBC
.
.
.
__ADS_1