
Siang itu saat Bas memutuskan untuk makan siang setelah jam makan siang kerjanya, Bas makan siang di restoran dekat perusahaannya. Oh ya, setelah perilisan aplikasinya, Bas direkrut perusahaan terkenal di London, dia pun menerimanya dan menjadi IT handalan di perusahaan itu.
Bas memasuki restoran itu dengan beberapa teman kantornya. Tak sengaja dirinya melihat siluet bayangan seseorang yang dikenalnya hendak masuk mobil. Bas spontan berlari mengejar gadis itu dan berteriak memanggilnya.
"Vivi..." seru Bas setengah berlari.
"Vivi..." seru Bas lagi berlari menuju mobil yang sudah berlalu saat dirinya mendekat.
Bas hanya menatapnya dari belakang, sebenarnya dia juga tak yakin apa gadis itu adalah Vivi atau bukan. Bas menatap perusahaan besar didepannya, yang diyakini tempat keluar gadis itu dari gedung ini. Gadis tadi memakai pakaian formal seperti pekerja kantoran pada umumnya.
Dan dilihat dari mobil yang dinaikinya tadi, seperti seorang sopir yang mengantarkan gadis itu.
Besoknya Bas berdiri di tempat dilihatnya Vivi kemarin, tapi hingga jam makan siang berakhir, Vivi tak kunjung muncul yang dia perkirakan akan melewati lagi jalan itu. Bas kembali ke kantor dengan lesu dan tanpa semangat.
Hingga selama seminggu itu pula Bas selalu menunggu di tempat yang sama, tapi sekarang dia agak jauh dari tempat itu. Karena Bas sekalian membeli makan siang, selama beberapa hari menunggu, Bas tak pernah makan siang dengan benar.
Saat Bas memulai memakan makan siangnya, terlintas seorang gadis di seberang jalan tempatnya biasa menunggu. Bas langsung meletakkan makanannya.
"Vivi..." ucap Bas berlari sebelum gadis yang disebutnya Vivi itu pergi dari situ.
Bas berlari sekencang mungkin agar Vivi tak bisa mengelak lagi.
Grep...
Bas akhirnya mampu meraih lengan Vivi, hingga membuat gadis itu berhenti karena tarikan kencang lengan itu.
"Vivi." Gadis itu menoleh merasa mengenali suara bariton itu. Pria yang selama ini dihindari, pria yang selama ini dikagumi, pria yang selama ini memporak-porandakan hatinya.
"Bas..." lirihnya beralih menatap lengannya yang dipegang erat oleh Bas.
"Mau lari lagi?" ucap Bas.
"A...apa kabar Bas?" tanya Vivi gugup menatap wajah marah Bas.
"Kenapa? Kau mau jawaban sebenarnya atau jawaban basa-basi?" jawab Bas dengan wajah datar dan nada dingin.
"Kau... menyakitiku... le... lepaskan Bas!" ucap Vivi berusaha melepaskan cekalan tangan Bas yang sebenarnya tidak terlalu kencang.
"Maaf, tapi sayangnya aku tak melepaskanmu sebelum mendapatkan jawaban yang kuinginkan darimu." jawab Bas tanpa melepas cekalannya meski sedikit dikendurkan.
"A... apa yang kau... inginkan?" Vivi menatap Bas sedikit canggung dan gugup.
__ADS_1
"Kenapa menghindariku?"
"A... aku...tidak. Si...siapa ... yang menghindarimu?" jawab Vivi gugup.
"Jangan bodoh Vivi, kita ini jenius, sama-sama jenius, kau pikir pertemanan kita selama ini tak mampu menilai arti perubahan respon tubuhmu?" ucap Bas sarkas. Dia ingin sekali berteriak saat menemukan Vivi tapi melihat keadaan tubuhnya membuatnya urung
"Aku tak mengerti maksudmu?" jawab Vivi mengalihkan pandangannya.
"Jangan berkelit Vivi, kau tahu saking jeniusnya aku, sampai aku terlalu ragu untuk percaya apa yang terjadi pada kita. Dan aku butuh seseorang menjelaskan bahwa yang kupahami benar-benar sama seperti apa yang kupikirkan. Sampai kapan kau akan menghindari perasaanmu?" ucap Bas tak sabaran.
"Perasaan apa? Kurasa kau salah paham?" elak Vivi meski dadanya bergemuruh kencang saat bersama Bas.
"Oh ya, salah pahamkah? Kalau begitu aku bertanya, bagaimana dengan malam itu. Apa kau juga akan mengelak kejadian malam itu?" tanya Bas mulai menaikkan intonasi bicaranya.
"Ma... malam kapan...a...aku... tak ingat apa yang terjadi. Ku... kurasa mungkin kau bermimpi." jawab Vivi, sedikit mengingat malam itu membuat wajahnya memerah dan segera dikendalikan perasaannya.
"Ah, aku tahu kau pasti akan mengelak, akan kutunjukkan sesuatu jika bergitu." Bas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto darah yang berbekas di sprei tempat tidurnya malam itu. Vivi menatap tak percaya kalau Bas akan sampai melakukan hal seperti itu.
"I..itu bisa didapat dari mana saja." elak Vivi.
"Kalau begitu lihat ini!" Bas menunjukkan video panas saat percintaan panas malam itu.
Wajah keduanya terpapang jelas disana. Bas memang memasang cctv di setiap sudut apartemennya kecuali kamar mandi untuk berjaga-jaga tentang hal-hal yang mungkin terjadi.
"Kau masih mengelak lagi?" tanya Bas menarik dagu Vivi dengan lengan masih mencekal lengan Vivi yang sudah tidak berontak melepaskan diri.
"I...itu hanya kesalahan, ku...kurasa kita sudah sama-sama dewasa untuk tidak berpikir lebih jauh. Anggap saja itu tidak pernah terjadi." jawab Vivi tanpa menatap wajah Bas yang ditepisnya cekalan dagunya tadi.
"Hah...hahaha... begitu mudahnya kah kau mengatakan itu? Begitu mudahnya kah kau bilang itu suatu kesalahan?" ucap Bas merasakan dadanya berdegup kencang merasa sesak sakit entah karena apa.
"Anggap saja itu seperti biasa terjadi pada pasangan yang lain." ucap Vivi lagi meski sesak dirasakan di dadanya.
"Vio, come on. We must go now?" seru seorang pria bule dari seberang jalan.
Vivi dan Bas beralih menatap pria bule di seberang jalan. Pria yang berbeda dengan yang sering ditemui Vivi saat bersama Bas. Bas menatap wajah Vivi menuntut penjelasan.
"Okey." jawab Vivi.
"Lepaskan Bas, aku harus pergi." pinta Vivi.
"Tidak akan. Kita belum selesai bicara."
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Bas. Aku harus pergi." sentak Vivi tapi cekalan tangan Bas semakin kencang.
"Aku perlu mengetahui kabar yang mungkin saja benihku sudah tumbuh di tubuhmu." ucap Bas yang akhirnya meledak juga.
"A... apa maksudmu Bas..." Vivi menatap horor tak percaya.
Bas sejak tadi sudah mengamati perubahan tubuh Vivi, tubuh Vivi yang kurus selama ini terlihat lebih berisi dan subur, perutnya juga sedikit membuncit. Dan Bas tahu selama ini Vivi selalu memperhatikan tubuhnya.
Jika terlihat berat badannya bertambah dia akan langsung kelabakan untuk diet dan olahraga agar berat badannya turun dan perutnya tak membuncit dan dia akan mengatakan, wanita tak akan ok jika berat badannya berlebihan dan perutnya membuncit.
Itulah sebabnya Bas menyimpulkan ada hal lain yang terjadi pada tubuh Vivi. Dan Bas saking jeniusnya awalnya tak akan percaya dan mengira bahwa benih yang ditanamnya malam itu akan langsung jadi.
"Vio, come on!" seru seorang pria bule tadi yang masih menunggu Vivi. Vivi menatap ke arah pria yang memanggilnya tadi.
"Kenapa? Kau akan mengelak apa lagi?"
"I...itu... tidak benar?" elak Vivi.
"Apa aku perlu bawa ke rumah sakit untuk periksa sekaligus tes DNA juga?" ucap Bas sarkas merasa marah karena Vivi terus saja mengelak semua ucapannya.
"I...itu..."
"Vio, what happened?" seru pria di seberang.
"Ki...kita bertemu lain kali saja." pinta Vivi memelas.
"Jangan membodohiku lagi." seru Bas. Membuat Vivi tersentak atas suara kencang Bas.
"Bas, please, aku janji akan menemuimu lagi. Ada hal penting yang harus kulakukan." pinta Vivi memelas.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
.