
Arsen terus melangkah menuju mobilnya dengan membawa Rachel dalam gendongannya. Setibanya di depan pintu utama, Rachel mulai sedikit tersadar dan terus bergumam.
"Aku tidak mau minum lagi." Gumamnya dengan begitu pelan.
Arsen yang mendengar itu hanya meliriknya sejenak, menyadari matanya yang masih terus terpejam, Arsen pun memilih hanya diam dan terus melangkah.
"Tidak, aku tidak mau minum lagi, jangan paksa aku pak tua!" Gumam Rachel lagi sembari mulai memukul-mukul dada bidang Arsen.
Hal itu sontak membuat Arsen seketika menghentikan langkahnya, ia kembali menatap wajah Rachel yang kala itu tampak memerah.
"Heh, acara minum-minum sudah berakhir, tidak ada yang menyuruhmu minum lagi sekarang." Jawab Arsen.
Rachel seketika terdiam dan kembali tertidur pulas, membuat Arsen kembali melanjutkan langkahnya.
"Terima kasih." Ucap Rachel kemudian dengan begitu pelan.
"Terima kasih telah hadir dalam hidupku lagi, Arsen Lim." Gumam Rachel lagi.
Membuat seketika langkah Arsen langsung terhenti dan kembali menatap lekat wajah Rachel.
Namun secara tiba-tiba saja, seseorang yang begitu familiar telah berdiri di hadapan Arsen dan memanggilnya.
"Arsen Lim." Ucapnya.
Membuat Arsen seketika menoleh ke arah sang pemilik suara, matanya pun jadi membulat sempurna saat memandangi sosok wanita cantik nan seksi yang tak lain ialah mantan kekasihnya yaitu Laura.
"Kau?!"
Laura pun seketika berlari untuk menghampiri Arsen, lalu tanpa ragu ia pun langsung menepis kasar tubuh Rachel yang saat itu sedang di gendong oleh Arsen.
"Lepaskan dia." Ucap Laura.
Rachel pun seketika tersentak dan gelabakan, ia pun berdiri dengan sempoyongan sembari menatap bingung wajah Laura dan Arsen secara bergantian.
"Hei, apa-apaan kau ini?" Ketus Arsen sembari menatap tajam ke arah Laura.
"untuk apa kamu menggendongnya dan keluar dari hotel ini?"
"Mau apapun yang ku lakukan, itu sudah bukan lagi jadi urusanmu!" Jawab Arsen sembari memalingkan wajahnya.
Laura tanpa berkata-kata langsung saja memeluk Arsen, ia memeluknya dengan begitu erat dan kemudian mulai menangis.
"Tolong maafkan aku, aku tidak bisa melupakanmu." Ucap Laura dengan lirih.
__ADS_1
"Lepaskan aku Laura." Ucap Arsen yang mencoba ingin mendorong pelan tubuh Laura agar melepaskan pelukannya.
Namun bukan melepaskan pelukannya dari Arsen, Laura justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, aku hancur tanpa kamu. Tolong maafkan aku, aku mengaku salah, aku khilaf." Laura pun terus merengek.
"Lepas kataku!" Bentak Arsen yang akhirnya berhasil lepas dari jeratan tangan Laura.
"Please, aku mohon please, please, please. Bila perlu aku akan sujud di kakimu sekarang juga agar kamu mau memaafkan aku." Tangisan Laura semakin pecah.
Arsen terus diam seolah tak bergeming, Namun ternyata hal itu cukup mengganggu bagi Rachel. Kala itu ia sedang dalam pengaruh alkohol, hingga membuatnya sangat terganggu dan begitu tak suka dengan pemandangan yang ada di hadapannya itu.
"Berhenti mengganggunya lagi perempuan ular!!" Bentak Rachel kemudian.
Membuat Laura begitu terkejut, termasuk Arsen yang langsung menoleh ke arahnya dan begitu tak menyangka Sekretarisnya berani melakukan hal itu pada mantan kekasihnya.
"Ka, kau berani membentakku lagi?" Tanya Laura seolah tak percaya.
Rachel dengan langkah sempoyongan mulai mendekati Laura dan berdiri di hadapannya, lalu ia memandangi penampilan Laura dari ujung kaki hingga rambut.
"Lihat lah penampilanmu ini, kau ini benar-benar terlihat seperti wanita yang bekerja di dunia malam. Apa kau tidak kedinginan berpakaian seperti ini ha?" Celetuk Rachel dengan nada bicaranya yang khas layaknya orang mabuk.
"Dasar wanita tidak tau malu, berhenti menghinaku dan lihat lah pada dirimu sendiri. Apa kau merasa kau ini wanita baik-baik? Wanita baik mana yang mabuk dan pulang di gendong oleh lelaki yang sudah memiliki pacar?"
"Tidak nona tidak, lelaki seperti dia sangat tidak pantas untuk wanita jahat seperti mu. Dia pantas mendapatkan wanita yang tulus mencintainya tanpa memandang harta dan tahta." Tambah Rachel lagi sembari mulai menyandarkan kepalanya pada pundak Arsen.
"Bukankah begitu tuan muda?" Rachel pun mulai membelai-belai lengan Arsen.
Membuat Laura semakin menggeram dan siap untuk menerkam Rachel. Namun tangan itu seketika di tahan oleh Arsen yang seolah tak membiarkannya menyentuh Rachel.
"Sudah lah, berhenti bertindak bodoh seperti ini Laura. Ini sudah malam, sedang apa kau disini? Ada baiknya kau pulang ke rumah!" Tegas Arsen.
"Sayang, tolong jangan membelanya di depanku. Aku tau aku salah, aku sungguh menyesalinya dan sungguh minta maaf." Laura pun meraih tangan Arsen dan ingin menciumnya.
Namun Rachel langsung menepis tangan itu, dan mulai menatap Laura dengan begitu tajam.
"Hubungan kalian sudah berakhir dan dia milikku, jadi jangan dekati dia lagi!" Ucap Rachel dengan begitu lantang.
Setelahnya Rachel pun langsung menarik tangan Arsen dan membawanya pergi begitu saja. Dan anehnya, entah kenapa Arsen malah diam dan terkesan menurut hingga membuat Laura semakin bertanya-tanya.
"Hei kamu mau bawa aku kemana? Mobilnya ada disana."
"Emm baiklah, kamu boleh pergi." Rachel pun seketika langsung melepaskan tangan Arsen.
__ADS_1
"Kemana?" Tanya Arsen yang bingung.
"Pulang lah sana."
"Ayo ku antar kamu pulang, kamu sedang mabuk."
"Tidak, aku tidak mau pulang." Rachel pun mulai melangkah sempoyongan.
Membuat Arsen seketika menghela nafas dan memilih mengikuti langkah Rachel dari belakang.
"Dasar wanita ular, hama betina, sok cantik!tidak kah dia punya urat malu?" Rachel pun terus bergumam kesal dan terus melangkah tanpa henti.
Arsen yang mendengar itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya dan terus mengikutinya.
"Kenapa wanita semacam dia bisa ada di dunia ini? Dan kenapa seorang Arsen Lim bisa sangat mencintainya? Haaaaa, Kenapaaaa?" Teriak Rachel yang akhirnya berhenti di pinggir sungai yang ada di pinggir jalanan kota.
Arsen pun ikut berhenti tepat di sisinya, lalu mulai menoleh ke arahnya dan berkata.
"Itu dulu, sekarang sudah tidak." Jawab Arsen dengan tenang.
Membuat Rachel seketika terdiam dan mulai membalas tatapan Arsen.
"Be, be, benarkah? Ka, kamu sungguh sudah tidak mencintainya lagi?"
"Tidak" jawab Arsen sembari menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
"Yakin? Sedikit pun tidak ada perasaan lagi?"
"I'm sure." Arsen pun mengangguk.
Mendengar hal itu, membuat Rachel seketika berteriak riang bukan kepalang, ia pun dengan spontan langsung memeluk Arsen begitu saja.
"Yes yes yes." Teriak Rachel yang terus memeluk Arsen sembari melompat-lompat.
"Kamu, kenapa bisa segirang ini?"
"Aku girang karena begitu senang saat mendengar kamu sudah tidak mencintai hama betina itu lagi. Itu artinya mulai saat ini kamu bisa belajar mencintaiku." Rachel pun semakin mengeratkan pelukannya.
Degggg...
Mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut Rachel, sontak membuat Arsen terdiam dengan matanya yang mulai membulat sempurna.
...Bersambung......
__ADS_1