
"Haiyoo, ibumu menelpon oma dan menceritakan semuanya. Dan saat ini dia sedang mengurus Visa agar bisa segera kembali kesini bersama daddy mu." Jelas sang oma.
Hal itu pun berhasil membuat Rachel semakin mendelikkan matanya.
"Apa?!!"
"Iya, dia sangat terkejut saat tau kau melamar pekerjaan sebagai Sekretaris Arsen Lim, tanpa dia tau jika kau ini adalah Rachel." Jelas oma Rachel dengan singkat.
"Ta, tapi oma, ak, aku..." Rachel pun kembali terbata-bata.
"Sudah lah, kita bahas ini nanti saja, cucu kita bahkan baru saja datang, jangan membuatnya merasa tersudutkan." Ucap Mr. Liong di sela perbincangan.
Rachel pun mengangguk cepat sembari kembali menyandarkan kepalanya dengan sangat manja ke pundak sang kakek.
"Benar apa kata opa, oma. Tolong jangan menyudutkan cucu semata wayang kalian ini." Ucapnya pelan dengan memasang wajah cemberut.
"Haisssh." Oma Rachel pun hanya bisa memutarkan bola matanya.
Namun tiba-tiba saja Rachel merasakan ada sebuah getaran dari dalam tasnya, yang dimana ia tau getaran itu pasti berasal dari ponselnya. Ia pun bergegas membuka tasnya, lalu meraih ponsel miliknya. Terlihat dengan jelas nama Arsen Lim tertera di layar.
"Arsen Lim?" Ucap Rachel dalam hati yang mulai merasa sedikit panik.
Ia pun mencoba menghela nafas beberapa kali sebelum mengangkat teleponnya, namun belum sempat ia angkat, panggilan dari Arsen telah berakhir.
Tak lama sebuah pesan baru pun masuk.
"Aku di jalan menuju apartement mu." Isi pesan Arsen.
"Hah?! Ke apartement? Se, sekarang?!" Gumam Rachel dalam hati dengan kedua bola matanya yang langsung membulat sempurna saat membaca pesan dari Arsen.
ia dengan cepat membuka pesan lainnya yang di kirimkan oleh Arsen. Ternyata tanpa ia sadari, di saat-saar pertemuannya dengan Antony, Arsen sudah banyak sekali mencoba untuk menghubungi Rachel untuk menanyakan keadaannya. Bahkan Arsen pun beberapa kali mengirimkan pesan singkat, dalam pesan itu ia seolah terlihat begitu khawatir pada Rachel yang juga tak kunjung mengangkat telepon dan membalas pesannya.
"Astaga mati aku, begitu banyak panggilan tak terjawab darinya, kenapa aku tidak menyadarinya." Keluh Rachel dalam hati.
Kemudian dengan terlihat tergesa-gesa ia pun langsung berdiri dari duduknya.
"Oma, opa, maaf aku tidak jadi menginap. Aku harus pulang ke apartement sekarang." Ucapnya yang langsung saja beranjak pergi.
"Ta, tapi kenapa? Apa kamu kembali membuat masalah? Ada masalah apa lagi?" Tanya oma yang terlihat begitu kebingungan dibuat sikap Rachel yang terlihat begitu panik dan terburu-buru.
"Bukan apa-apa oma, aku bisa mengatasinya. Daaahh." Jawab Rachel sembari terus melangkah cepat menuju pintu.
__ADS_1
"Pak, kita pulang ke apartement sekarang juga!" Perintah Rachel pada supirnya sembari memasuki mobilnya.
"Ba, baik nona." Jawab sang supir yang langsung berlari menuju mobil.
"Ayo ngebut pak, aku harus segera tiba ke apartement dalam waktu singkat, ini darurat!" Ucap Rachel lagi yang begitu terlihat gelisah serta panik.
Mobil sedan berwarna hitam mengkilat itu pun langsung melesat cepat menyapu jalanan yang mulai sedikit demi sedikit berkabut. Dan untungnya, daerah apartement Rachel itu tidak jauh dari kawasan perumahan elit milik opanya.
Hanya menyita waktu 7 menit saja, kini mobil itu pun telah berhasil berhenti di depan loby. Rachel bergegas turun, namun ia jadi semakin panik dan kembali masuk ke dalam mobilnya saat ia melihat mobil Arsen baru saja memasuki gerbang kawasan apartement itu.
"Pak, pak, pak. Ayo cepat jalankan mobilnya, tolong turunkan aku di loby samping saja." Pinta Rachel yang terlihat semakin panik.
"Baik nona."
Mobil itu pun kembali berjalan untuk memutari gedung apartement. Rachel langsung bergegas keluar saat mobil telah berhenti di depan loby kedua yang letaknya di bagian samping kiri gedung.
Rachel berlari dengan cepat, melepas sepatu haknya dan menjinjingnya begitu saja. Nampaknya ia pun sudah begitu paham dengan setiap sudut apartement itu, ia terus berlari memotong jalan, berharap bisa tiba lebih dulu di dalam apartement.
Ia masuk ke lift, dengan cepat memencet tombol agar pintu lift segera tertutup. Mata Rachel lagi-lagi dibuat mendelik saat ketika pintu lift mulai tertutup, dari sela-sela yang masih tersisa, ia melihat Arsen mulai melangkah memasuki loby utama.
"Astaga, astaga, apa dia melihatku?" Tanya Rachel dalam hati.
*Tingg*
Bunyi denting lift yang menandakan jika telah sampai lantai tujuan. Rachel kembali berlari, menyusuri koridor-koridor yang cukup panjang. Hingga sampailah dia di depan pintu, dengan nafas yang begitu terengah, ia pun menempelkan ibu jarinya sebagai sidik jarinya pada alat yang letaknya di dekat gagang pintu untuk membuka pintunya.
Dengan cepat ia langsung berlari menuju kamarnya, lalu bergegas menghapus bedak dan lipstick yang mewarnai bibirnya dengan tisu basah.
"Oh ya tuhan, apa kali ini kamu sedang menghukumku karena kebohongan yang ku ciptakan? Aku bahkan hampir mati karena terus-menerus jantungan seperti ini." Celoteh Rachel seorang diri sembari terus menghapus riasan pada wajahnya hingga seolah membuat wajahnya kembali pucat.
Ting tong...
Suara bel pun berbunyi, dengan spontan mata Rachel melotot memandangi ke arah pintu.
"Oh my god, itu pasti dia." Celetuk Rachel yang dibuat terbelalak untuk sesaat.
Akhirnya ia pun mulai bangkit, sekali lagi ia memandang ke arah cermin sembari terus menerus menata rambutnya, membuatnya sedikit berantakan agar terlihat seolah baru bangun tidur.
"Nah, dengan begini ia akan percaya jika aku baru bangun tidur."
Rachel pun mulai perlahan menuju pintu, ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya benar-benar membuka pintu.
__ADS_1
*ceklek*
"Oh astaga, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Arsen sembari langsung memegang kedua pundak Rachel, ekspresi wajahnya nampak begitu khawatir saat Rachel membuka pintu dan muncul di hadapannya.
"Ma, maafkan aku, sepertinya aku tidur terlalu lelap hingga tak menyadari ada telepon darimu."
"Ah syukurlah, aku lega. Mengetahui kamu tidak enak badan dan tidak menjawab telepon dan pesanku, sungguh membuatku cemas. Seharusnya aku menjagamu dan tidak pulang tadi. Maaf ya." Ucap Arsen dengan volume suara yang begitu pelan sembari membelai lembut kedua belah pipi Rachel.
Rachel pun tersenyum, lalu ikut memegang kedua tangan Arsen yang masih berada di kedua pipinya.
"Aku senang saat melihatmu begitu mencemaskan aku, tapi aku sungguh baik-baik saja." Jawab Rachel menatap lekat ke wajah Arsen.
Membuat Arsen ikut tersenyum dan membalas tatapannya. Namun seketika dahi Arsen mulai mengkerut, saat memandangi Rachel dari ujung rambut hingga kaki. Seperti terasa ada yang aneh,
"Ada apa? Kenapa tatapanmu berubah?" Tanya Rachel.
"Bukankah pakaian yang kamu pakai sekarang ini, terlihat begitu mewah saat hanya di pakai untuk tidur?" Tanya Arsen yang kembali memandangi dress yang dikenakan oleh Rachel kala itu.
Dan ya, saking terburu-buru dan panik, hingga membuat Rachel melupakan satu hal yang juga tak kalah penting di banding menghapus make up, yaitu ia lupa mengganti bajunya dengan piyama.
Kala itu jantung Rachel pun kembali dibuat seolah berguncang begitu hebatnya, ia pun sampai harus menelan ludahnya sendiri saking shocknya.
"Aaaa sialll, aku lupa mengganti bajuku. Rachel oh Rachel, kenapa kau bodoh sekali." Gerutu Rachel dalam hati seolah sedang menyumpahi dirinya sendiri.
Dengan gelagapan ia pun terus berusaha mencari alasan yang pas, yang membuat Arsen agar tidak curiga.
"Oh ini hehehe, emmm ini.. ja, jadi tadi ak aku..." Rachel sejenak terlihat terbata-bata dan terus mengusap-usap tengkuknya.
"Katakan dengan jelas!" Tegas Arsen namun dengan suara yang masih terdengar sangat lembut.
"Emm begini, jadi tadi saat aku tiba-tiba terbangun dan membaca pesan terakhir yang kamu kirim, yang mengatakan jika kamu akan datang kesini. Aku dengan refleks langsung bangun dan mengganti pakaiannya. Bisa dikatakan, aku begitu tidak percaya diri jika harus bertemu denganmu saat menggunakan piyama." Jelas Rachel dengan senyuman kikuknya.
Namun, sejenak Arsen masih terdiam sembari terus menatap wajah Rachel dengan begitu lekat.
"Kamu sedang tidak berbohong padaku kan?" Tanya Arsen dengan ekspresi wajah yang datar.
Hal itu pun sungguh berhasil membuat Rachel kembali jantungan, di balik sikapnya yang masih terlihat begitu tenang di hadapan Arsen, ia nyatanya begitu gemetaran.
"Tidak! tentu saja aku tidak berbohong hehehe." Jawab Rachel akhirnya dengan wajahnya yang masih terlihat kikuk dan gelagapan.
...Bersambung......
__ADS_1