Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 145


__ADS_3

Nampaknya Rasa kesal dan cemburu Rachel, berhasil membuatnya tak bisa melakukan apapun di apartement. Berbeda dari sebelumnya yang ia terlihat sangat bersemangat berbenah rumah, kini rasa semangat itu telah berganti menjadi lesu.


"Awas saja jika dia benar-benar memilih makan di luar bersama wanita-wanita itu, aku tidak akan memaafkannya." Ketus Rachel yang masih terus berjalan mondar mandir dengan begitu gelisah.


Ting tong...


"Haissh siapa lagi yang datang? Tidak kah dia tau jika aku sedang tidak berminat bertemu dengan siapa pun sekarang!" Rachel yang memang sudah kesal sejak awal kembali menggeram dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Rachel menghentak kakinya dengan kasar, lalu mulai melangkah cepat menuju pintu, dan langsung membukanya dengan membawa raut wajahnya yang begitu ketat.


"Siapa sih?!" Tanya nya dengan sedikit meninggi sembari membuka pintu.


Namun betapa terkejutnya dia saat mendapati Arsen yang telah berdiri di hadapannya.


"Arsen, ka, kamu pulang?" Ucapnya yang seketika dibuat begitu tercengang.


"Begini kah caramu jika menyambut orang-orang yang datang?" Tanya Arsen datar sembari langsung masuk begitu saja.


"Ah tidak, tidak, sama sekali tidak begitu. Itu tadi, karena,,, emm karena aku sedang merasa kesal." Jelas Rachel yang terus mengikuti langkah Arsen menuju sofa.


Arsen mulai mendudukan dirinya di sofa, lalu kembali menatap Rachel yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan datar seperti biasa.


"Kesal?" Tanyanya sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, ucapanmu di telepon tadi sungguh membuatku kesal, dan aku berpikir jika kamu akan tetap pergi makan siang di luar bersama para wanita itu." Rachel kembali menjelaskan pada Arsen dengan bibir yang yang mulai manyun.


Mendengarnya, Arsen seketika hanya di buat mendengus sembari mulai melonggarkan dasinya. Lalu ia mulai menyadari ada hal yang beda, ia pun seketika memandangi ke arah sekelilingnya, nampak begitu banyak perubahan di ruang tamu, mulai dari tata letak, hingga banyaknya barang-barang baru yang menghiasi setiap sisi ruangan itu.


"Ada apa?" Tanya Rachel saat melihat Arsen yang seperti orang kebingungan.


"Ini,, ini kamu yang melakukannya?"


"Oh iya, aku mencoba membuat hunian kita menjadi lebih hidup dan nyaman." Rachel akhirnya kembali tersenyum.


"Bagaimana, apa kamu menyukai suasana baru rumah kita?" Tanya Rachel lagi dengan penuh semangat.


"Setiap rumah memang akan terasa lebih nyaman, lebih hidup, dan lebih hangat jika sudah mendapat sentuhan dari seorang wanita. Ternyata itu bukan hoax, rasanya benar-benar seperti di rumah yang sesungguhnya, nyaman." Gumam Arsen dalam hati sembari memandangi lagi ke setiap sudut ruangan dan mulai mengutas sebuah senyuman tipis tanpa Rachel tau.


"Hei, aku sedang bertanya pendapatmu, kenapa diam saja? Bagaimana, kamu suka kan?" Rengek Rachel lagi sembari menggoyang-goyangkan lengan Arsen.


Arsen kembali meliriknya, dan seketika menghilangkan senyuman untuk kembali memasang wajah datar.

__ADS_1


"Emm not bad." Jawabnya yang kemudian mulai bangkit dari duduknya.


Tapi lagi-lagi ia melirik ke arah tubuh Rachel yang kala itu sedang di balut oleh sweeternya.


"Dan ini? Apa kamu juga membelinya??" Sindir Arsen.


"Oh ini hehehe, iya aku meminjam sweeter mu, karena tadi aku benar-benar bingung tidak punya baju." Rachel pun mulai cengengesan.


"Sejak kapan meminjam tapi tidak meminta izin pada sang pemilik? Itu jelas bukan meminjam, lebih ke mencuri secara terang-terangan." Ucap Arsen dengan santai dan kembali melangkah menuju dapur yang langsung terhubung dengan meja bar yang biasa juga di jadikan sebagai meja makan.


"Haaaish, mana ada maling secantik aku, aku sungguh hanya meminjamnya saja. Aku tidak izin karena tidak ingin mengganggumu yang sedang meeting." Rachel lagi-lagi terus berjalan mengikuti kemana Arsen pergi.


"Jika tidak ingin menggangguku, kenapa tadi menelpon dan menyuruhku untuk pulang ha?" Tanya Arsen yang terus saja melangkah.


"Aku menelepon karena sudah melebihi waktu normal meeting."


Arsen akhirnya memilih untuk diam dan terus melangkah, dan ya, Arsen lagi-lagi kembali tersenyum saat melihat ke sebuah rak yang ada di dapur sudah di penuhi dengan berbagai macam bumbu dan bahan masakan lainnya. Rachel bahkan juga terlihat membeli satu set peralatan masak yang begitu lengkap.


"Emm baiklah, sesuai yang dijanjikan padaku, sekarang aku lapar dan ingin makan." Ucap Arsen sembari duduk di kursi meja bar.


Mendengar hal itu, mata Rachel seketika dibuat membulat sempurna, bagaimana tidak, saking sibuk berkutat dengan pikiran kalutnya sejak tadi, membuatnya belum sempat memasak apapun.


Hal itu sontak membuat mata Arsen ikut terbelalak saat mendengar pengakuannya.


"Hah?! Belum masak apapun?!"


"Eh tapi tenang, tenang, jangan marah dulu hehehe, aku akan memasaknya sekarang untukmu ya." Rachel pun segera berlari memasuki area dapur yang di kelilingi oleh meja bar itu sendiri.


"Haaaish, bagaimana bisa kamu menyuruhku pulang saat belum menyediakan apapun?! Agh astaga, yang benar saja!" Arsen kembali berdiri dan mengecakkan pinggangnya, ia menatap Rachel dengan tatapan yang seolah sangat tidak habis pikir.


Namun bukannya takut, Rachel justru hanya bisa cengengesan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Iya, iya maaf. Siapa suruh tadi kamu memanas-manasiku." Jawab Rachel mencoba membela diri.


"Sudah lah tidak perlu masak, aku takut akan semakin kecewa saat menunggu lama, ternyata rasanya tidak sebanding." Ketus Arsen yang bersiap untuk beranjak.


Melihat hal itu, Rachel bergegas berlari menghampirinya dan menahan kedua lengannya.


"Eh, eh tunggu! Ka,, kamu mau kemana?"


"Mau pergi, mau mencari makanan." Jawab Arsen yang kembali ingin melangkah.

__ADS_1


Tapi langkahnya kembali di hadang oleh Rachel.


"10 menit! Beri aku waktu sepuluh menit untuk memasak makanan untukmu. Ya??! Please.." Rachel dengan cepat menyatukan kedua tangannya sebagai permohonan di hadapan Arsen, dengan memasang raut wajah penuh harap.


Kala itu Arsen hanya mendengus dan mulai memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


"Ayo lah Arsen Lim yang tampan, yang ketampanannya mengalahkan dewa-dewa langit, tunggu sebentar saja, yaa? Lagi pula bukankah akan lebih enak memakan makanan yang hangat." Rachel dengan sikap manjanya kembali meraih tangan Arsen dan menggoyang-goyangkannya lagi.


Akhirnya Arsen lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.


"Ten minutes right?"


"Sure." Jawab Rachel yang akhirnya tersenyum puas.


"Ok." Jawab Arsen singkat dan kembali ingin beranjak.


"Aaaa kamu mau kemana lagi?" Rengek Rachel yang lagi-lagi menahan tangan Arsen.


"Astaga,,, aku hanya ingin mengganti baju, apa mau melarangnya juga?!" Keluh Arsen.


"Aaa baiklah, cium dulu." Rachel pun bergegas mengalungkan kedua tangannya ke leher Arsen.


"Tidak mau." Jawab Arsen yang seketika langsung memalingkan wajahnya.


"Aaa ayo cium aku, biar aku lebih semangat." Rengek Rachel yang terus menggoda Arsen.


Tapi Arsen masih saja memalingkan wajahnya karena tak ingin tergoda.


"Emm baiklah kalau tidak mau, biar aku saja yang cium." Rachel tanpa ragu-ragu langsung mencium singkat bibir Arsen.


*Muachh*


Lalu ia tersenyum dan kembali menatap wajah datar suaminya.


"Je t'aime." Ucapnya lagi dengan begitu lembut.


Yang mana susunan kata itu adalah dari bahasa Pranciss, sebuah Frasa cara terdalam untuk pengungkapan rasa cinta kepada seseorang.


Lalu kemudian ia pun langsung beralih menuju dapur untuk lanjut memasak. Meninggalkan Arsen yang masih terdiam mematung di tempatnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2