
Waktu terus bergulir, jarum jam pun terus berputar, namun meski begitu nyatanya Arsen masih tak kunjung menunjukkan batang hidungnya di kantor utama. Membuat Rachel hari itu harus menghandle semua pekerjaan Arsen seorang diri. Berkali-kali pula ia melirik ke arah ponselnya, namun sama sekali tak menemui adanya notifikasi dari Arsen.
"Kemana dia sebenarnya?" Tanya Rachel yang kembali memandangi kursi Arsen yang kosong.
Namun tak lama, kemunculan Alex yang masuk begitu saja ke dalam ruangan Rachel sontak mengundang kaget hingga membuat Rachel nyaris terperanjat.
"Astaga paman, mengejutkan saja." Ucap Rachel sembari mengusap-usap dadanya.
"Hehehe maaf-maaf, paman kesini ingin meminta tanda tangan persetujuan darimu, karena Arsen tidak ada, maka kamu yang harus tanda tangan disini." Ucap Alex sembari memberikan sebuah map berisikan selembar kertas ke hadapan Rachel.
Rachel tanpa ingin membacanya terlebih dulu pun langsung menandatangani dokumen itu begitu saja.
"Oh ya paman, kemana Arsen Lim? Kenapa dia tidak datang hari ini? Dia bahkan tidak memberiku kabar." Tanya Rachel sembari menyerahkan kembali map itu pada Alex.
"Ah ya, itu juga yang ingin paman tanyakan padamu. Apa terjadi sesuatu padanya? Tadi pagi ketika sarapan, Arsen terlihat terus menekuk wajahnya, dia bahkan mengatakan sedang tidak mood untuk masuk kerja hari ini." Jelas Alex dengan begitu serius.
"Benarkah begitu paman?" Tanya Rachel yang mulai mengernyitkan dahinya.
"Astaga, apa kamu berfikir paman mu ini akan berbohong? Apa wajah paman ada tampang-tampang pembohong?" Tanya Alex lagi sembari mendekatkan wajahnya ke arah Rachel.
Membuat Rachel seketika mulai tersenyum geli sembari mengangguk.
"Astaga, itu sama sekali tidak benar! Paman adalah orang yang paling bisa di percaya. Itu semua terbukti dengan paman Benzie yang hingga sekarang terus mempercayakan semuanya pada paman. Bahkan bibi Yuna pun mempercayakan adik perempuannya pada paman hahaha." Jelas Alex dengan begitu percaya diri.
"Emm kalau untuk hal itu tentu aku sangat percaya hehe."
"Emm baiklah, kalau begitu paman keluar dulu, masih banyak kerjaan."
Rachel pun mengangguk dan Alex pun mulai ingin beranjak pergi. Namun saat baru saja tangannya memegang handle pintu, Alex kembali menoleh ke arah Rachel.
"Oh ya Rachel, apa sebelumnya paman ada memberitahumu tentang Klien baru kita yang mempercepat waktu temu?"
Rachel pun seketika menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak ada,"
"Astaga berarti aku yang lupa." Celetuk Alex sembari memukul pelan jidatnya.
"Jadi begini, jadwal pertemuan mu dengan Mr. Fredy yang harusnya di adakan pukul 15:00 sore ini, di percepat jadi jam 13:00 siang ini." Jelas Alex dengan tenang.
"Apa?! Siang ini juga paman?!" Rachel pun seketika membulatkan matanya.
"Emm" jawab Alex mengangguk.
"Kenapa? Apa kamu belum menyelesaikan materi diskusinya?"
"Su, sudah sih, ta, tapi sepertinya masih ada yang kurang, aku harus segera memeriksanya dulu."
"Ya, selesaikan materi itu dengan baik ya, karena ini adalah klien baru."
Rachel pun kembali mengangguk.
"Bagus." Alex pun ingin kembali beranjak pergi, namun Rachel kembali menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi?"
"Lalu bagaimana dengan Arsen? Apa dia tidak ingin mengikuti meeting ini?"
"Oh ya untuk hal itu, Arsen bilang, dia menyerahkan sepenuhnya meeting kali ini padamu sebagai sekretaris kepercayaannya. Jadi lakukan performa terbaikmu ya, jangan buat dia kecewa." Jawab Alex sembari tersenyum tenang dan kemudian langsung pergi begitu saja.
Rachel pun terdiam, ini kali pertamanya dia menjalani meeting seorang diri tanpa Arsen. Di tambah yang harus ia hadapi kali ini adalah klien baru yang dia sama sekali belum tau bagaimana karakter orang-orang yang akan di temuinya itu. Mengingat hal itu cukup membuat Rachel mulai merasa gugup dan merasa tak tenang.
Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk mencoba menghubungi Arsen, namun sayangnya saat itu nomor Arsen sedang tak bisa di hubungi. Membuat Rachel akhirnya hanya bisa kembali terduduk lesu di kursi kerjanya.
"Astaga, niatnya menjadi Sekretaris untuk bisa mencuri hati Arsen. Tapi kenapa sekarang jadi begitu serius bekerja seperti ini? Bahkan hari ini, nama baik perusahaan sebesar ini ada di tanganku." Keluh Rachel dalam hati sembari mulai menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan yang ia lipat di atas meja kerjanya.
Tanpa di sadari, akhirnya Rachel pun tertidur begitu saja, waktu demi waktu pun mulai beranjak, jarum jam juga terus berputar seolah tak ingin berhenti untuk menunggu sejenak. Hingga akhirnya, kini waktu tepat menunjukkan pukul 12:00 siang, Rachel pun tiba-tiba tersentak dari tidurnya sembari berteriak.
__ADS_1
"Tidakkkk." Teriak Rachel yang langsung terduduk tegak.
Perlahan matanya pun terbuka sembari mulai menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengamati keberadaannya saat itu.
"Oh cuma mimpi." Celetuknya yang kemudian ingin kembali tidur.
Namun baru saja ia memejamkan matanya, matanya sontak langsung kembali terbuka lebar, bahkan membulat sempurna.
"Oh tidak, jam berapa ini?" Tanya nya yang langsung kembali duduk tegak sembari melirik ke arah jam tangannya.
Kini mata Rachel langsung membulat sempurna saat ia menyadari jika saat itu sudah jam 12 siang.
"Astaga, sudah jam 12 lewat?! Hanya tersisa satu jam lagi?! Oh ya ampun bagaimana ini?" Rachel pun semakin di buat panik hingga mulai kebingungan sendiri.
"Rachel oh rachel, kenapa harus ketiduran di kantor????" Keluh Rachel seorang diri sembari dengan sigap memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Aku harus pergi sekarang juga." Ucapnya yang kemudian langsung pergi meninggalkan ruangannya.
Rachel pun pergi dengan menggunakan mobil kantor, dengan di antar oleh supir kantor ia pun langsung menuju ke tempat yang telah dijanjikan sesuai jadwal yaitu di sebuah Lounge mewah yang terdapat di salah satu hotel bintang lima.
Sepanjang jalan, Rachel pun sibuk menata kembali rambutnya yang jadi sedikit berantakan, memoles kembali bedak di bagian wajahnya, hingga menambahkan lipstik yang mulai memudar di bibirnya.
Tepat pukul 12:55 Rachel pun akhirnya tiba di depan loby hotel, ia pun langsung melangkah cepat menuju Lounge yang berada tak jauh dari loby hotel.
"Selamat siang Mr. Fredy, maaf saya terlambat." Sapa Rachel dengan ramah sembari tersenyum.
Saat itu lelaki yang memiliki usia sepantaran dengan Benzie itu terlihat sudah tiba lebih dulu bersama sekretarisnya yang juga seorang wanita muda.
"Apa anda nona Bella dari Blue Light Group?" Tanya Fredy sembari mulai memandangi Rachel dari ujung rambut hingga kaki.
"Benar." Jawab Rachel sembari mengangguk.
"Oh ok, baiklah silahkan duduk nona." Fredy dengan sangat ramah akhirnya mempersilahkan Rachel untuk duduk.
__ADS_1
Tanpa basa basi meeting pun langsung di mulai, waktu beberapa jam pun dihabiskan untuk membahas materi kerja sama yang telah terkonsep sedemikian rupa. Hingga akhirnya Mr. Fredy pun setuju untuk bekerja sama dengan Blue Light Group, dan bahkan ia pun bersedia untuk langsung menanda tangani kontrak kerja sama hari itu juga asal Rachel menyanggupi persyaratan darinya.
...Bersambung......