
"Memangnya kemana pacar cantik dan seksimu itu ha? Kenapa belakangan ini kau jadi jarang membawanya? Hehe." Tanya Antony lagi sembari tertawa kecil.
Mendengar hal itu, membuat Arsen yang awalnya masih berusaha untuk bersikap tenang, kini mulai terpancing emosi saat Antony kembali membahas tentang Laura di hadapannya.
Kini Arsen pun mulai menatap Antony dengan tatapan yang sangat tak bersahabat, Rachel yang menyadari hal itu pun mulai merasa sedikit panik dan cemas karena ia begitu takut Arsen akan kembali emosi.
Akhirnya Arsen pun mulai berdiri sembari menghentakkan tangannya ke meja. Membuat Rachel jadi membulatkan matanya sembari langsung berdiri di tengah-tengah antara Arsen dan Antony.
"Ah sudah lah, tidak udah di bahas lagi, tidak lucu rasanya jika kalian bertengkar karena masalah sepele kan? Hehe." Ucap Rachel dengan gelagapan yang mencoba menjadi penengah di antara mereka berdua.
"Tidak ada yang ingin bertengkar disini, aku hanya bertanya tentang pacarnya saja, tapi kenapa hal itu nampaknya sangat membuatnya emosi?" Jawab Antony yang kembali menatap wajah dingin Arsen.
"Sudah, sudah. Bukankah itu urusan pribadinya? Sebaiknya kita tidak usah ikut campur, lagi pula ini tempat umum kan? Semua bebas makan disini dan bebas datang sendiri atau bawa pasangan." Jelas Rachel yang sebenarnya ia mencoba untuk menenangkan Arsen.
Mendengar penjelasan Rachel membuat keduanya kembali terdiam dengan wajah datar dan saling melempar tetapan tak biasa satu sama lain.
"Ah ya sudah, ayo kita lanjut makan saja ya. Ayo." Rachel pun berniat ingin kembali ke meja tempat dimana awalnya ia terduduk.
Namun seketika tangan Arsen menahan tangannya.
"Ini sudah malam, ayo ku antar saja kamu pulang." Ucap Arsen sembari menatap lekat wajah Rachel.
Mendengar hal itu seketika Antony pun jadi mendengus dan kembali tertawa kecil.
"Apa-apaan kau ini Arsen Lim? Bos macam apa yang menyuruh Sekretarisnya pulang, padahal Sekretarisnya belum selesai makan." Ketus Antony.
"Aku bisa membelikanmu makanan apa saja yang kamu inginkan. Sekarang ayo ku antar kamu pulang." Ucap Arsen lagi sembari kembali ingin menarik tangan Rachel.
Saat itu Arsen sama sekali tidak memperdulikan ucapan Antony bahkan ia tak menoleh ke arah Antony sedikit pun dan terus menatap Rachel berharap saat itu Rachel bersedia ikut dengannya.
__ADS_1
"Tidak!" Tegas Antony yang menahan tangan Rachel yang satunya.
Kini keduanya pun kembali bersitegang, saat itu mereka seolah tengah memperebutkan tangan Rachel.
"Dia datang bersamaku, dan pulang juga harus bersamaku. Bukankah itu prinsip yang selama ini kau pegang teguh Arsen Lim?" Tambah Antony lagi.
Mendengar hal itu membuat Arsen jadi terdiam sejenak dan terus menatap tajam ke arah Antony. Sementara Rachel yang saat itu berdiri di tengah-tengah mereka dengan keadaan kedua tangannya yang seolah di belenggu, mulai menatap Arsen dan Antony secara bergantian dengan raut wajahnya yang mulai panik.
Akhirnya Rachel pun menepis kedua tangan mereka agar mereka melepaskan tangannya.
"Sudah, tolong kalian berdua jangan seperti anak kecil." Tegas Rachel.
"Bella, tolong katakan padanya untuk menjadi lelaki yang berpegang teguh pada prinsip hidup, jangan jadi lelaki yang labil." Ucap Antony yang kembali mencoba bersikap tenang.
Saat itu Rachel pun jadi benar-benar bingung, dalam hatinya ia ingin sekali ikut bersama Arsen, namun di sisi lain, ia takut membuat Antony kecewa dan marah, hingga akhirnya akan berdampak pada kerja sama mereka di waktu yang akan datang.
"Tolong jawab dia Bella, aku yakin kamu adalah orang yang bisa menepati janji dan bertanggung jawab kan?" Tegas Antony.
Hingga membuat Rachel kembali terdiam, kini ia semakin di buat bingung untuk memilih di antara dua pilihan yang saat itu begitu rumit baginya.
"Ak, aku, emm ak, aku..." Rachel pun jadi begitu terbata-bata seolah lidahnya saat itu terasa begitu kelu.
Namun Arsen yang tak sabar menunggu jawaban dari Rachel seketika langsung mendengus dan tersenyum lirih.
"Baik, nampaknya kamu begitu kesulitan untuk membuat pilihan yang harusnya mudah. Ok, biar ku permudah." Ucap Arsen sembari mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang di atas mejanya.
"Ma, maaksudmu?" Tanya Rachel yang jadi semakin merasa tak menentu.
"Kamu pulang bersamanya saja, maaf sudah mengganggu waktu dinner kalian. Selamat malam." Arsen pun tersenyum tipis lalu kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ta, tapi, ak, aku..." Ucap Rachel yang saat itu masih ingin memberi penjelasan.
Namun sayang, saat itu Antony pun langsung tersenyum dan akhirnya menarik tangan Rachel.
"Kurasa dia semakin aneh, sudahlah, ayo lanjutkan makannya." Ucap Antony yang langsung membawa Rachel untuk kembali duduk di tempat mereka sebelumnya.
Rachel pun terduduk lesu sembari terus menatap nanar kepergian Arsen saat itu. Dalam hati ia merasa begitu bersalah, namun saat itu ia merasa tak bisa berkutik di depan Antony. Bukan karena ia takut, melainkan ia tak ingin hanya karena dia, membuat dua perusahaan besar di kota itu menjadi gagal bekerja sama yang dapat berimbas pada banyak orang.
"Apa yang kamu lihat? Apa masih memikirkan bos mu yang aneh itu?" Tanya Antony lagi.
"Ah tidak," Rachel pun dengan cepat menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kikuk.
"Baguslah, menurutku dia benar-benar sangat aneh, bagaimana kamu bisa tahan bekerja dengan orang seperti itu." Celetuk Antony lagi sembari mulai kembali menyantap makanannya.
Namun hal itu membuat nafsu makan Rachel kala itu menjadi semakin hilang karena ia merasa begitu tak terima jika ada orang yang berbicara buruk tentang lelaki kesayangannya itu.
"Maaf Antony, tapi menurutku dia sama sekali tidak aneh. Dia bahkan lelaki yang sangat baik dan sangat berbeda yang pernah aku kenal. Ya meskipun terkadang ia begitu menyebalkan, namun itu tidak membuatku benci padanya." Jelas Rachel sembari meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang ke piringnya.
"Kenapa kamu jadi begitu membelanya?" Tanya Antony sedikit bingung.
"Emm sepertinya aku sudah kenyang, bisa antar aku pulang sekarang?"
"Pulang? Tapi kita bahkan belum mencicipi semua menu yang sudah di hidangkan. Bahkan kita belum banyak berbincang tentang kita." Jawab Antony.
"Maaf Antony, tapi sepertinya aku sudah tidak nafsu makan lagi, aku benar-benar lelah. Tidak apa jika kamu tidak bisa mengantarku, aku akan pulang naik taksi saja. Selamat malam." Rachel pun tersenyum tipis dan seketika langsung bangkit dari duduknya.
Rachel pun akhirnya juga langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Antony yang saat itu masih terduduk di kursinya. Kini perasaan kesalnya mendengar Arsen yang ia sayang di nilai buruk pun tak bisa ia sembunyikan lagi hingga membuatnya memberanikan diri untuk pergi begitu saja.
...Bersambung......
__ADS_1