
Yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Erick datang dengan membawa seikat bunga mawar seperti biasa.
"Kenapa lama sekali? Aku hampir jenuh menunggumu." Ucap Laura dengan tatapan menggoda.
"Astaga Laura ku sayang, tenang lah, malam masih sangat panjang dan kita bisa menghabiskannya dengan banyak gaya malam ini." Jawab Erick yang mulai tersenyum sembari mencolek dagu Laura.
Mendengar hal itu membuat Laura pun ikut tersenyum lebar, lalu dengan cepat langsung menarik Erick begitu saja untuk masuk ke rumahnya.
Laura menolak tubuh Erick hingga ia terduduk di sofa tempat dimana Arsen biasa duduk, lalu kemudian dengan cepat dan sangat agresif Laura mulai menindihnya, tanpa ragu-ragu, ia pun duduk berpangku begitu saja di paha Erick.
Membuat Erick semakin tersenyum dan mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Laura.
"Sekarang katakan, gaya apa yang akan kita gunakan untuk memulainya?" Bisik Laura tepat di telinga Erick.
"Gaya apapun yang kamu inginkan, aku siap melakukannya." Jawab Erick yang seketika langsung mencium bibir Laura.
Kini kedua bibir mereka saling bertautan satu sama lain, Laura pun terlihat tak segan membalas ciuman Erick dengan begitu ganasnya. Bagaimana tidak, di belakang Arsen mereka nyatanya sudah sangat sering melakukan hubungan terlarang itu tanpa ada seorang pun yang tau.
Kini baju kimono Laura mulai merosot ke pinggangnya, membuat bagian atasnya kini terbuka dan hanya menyisakan bra berwarna merah yang masih menyangga kedua gundukan daging miliknya.
"Cepat lakukan, aku sudah tidak tahan." Bisik Laura di sela-sela erangannya.
"Kamu yakin mau sekarang? Disini?"
Tak menjawab pertanyaan Erick, Laura pun langsung menariknya, membawanya ke kamar tamu yang berada tak jauh dari ruangan tamu nya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan, kita lakukan disini saja." Ucap Laura yang langsung kembali mencumbu Erick sembari membawanya ke arah ranjang tanpa menutup rapat pintu kamar itu terlebih dulu.
Kini Laura dan Erick layaknya dua binatang buas yang sedang saling memangsa satu sama lain, menyebabkan suara dari gesekan ranjang yang terus bergoyang-goyang terdengar jelas di malam ini. Di tambah lagi suara desahan Laura yang saat itu begitu menikmati permainan yang di berikan Erick seolah tak dapat ia kendalikan lagi, hingga membuat suaranya pun begitu menggema di ruangan itu.
Namun tanpa mereka sadari, mobil Arsen saat itu terlihat telah terhenti tepat di samping mobil Erick. Arsen pun seketika turun dari mobilnya dan memandangi mobil Erick yang sudah terparkir lebih dulu dengan tatapan sedikit bingung.
"Bukankah ini mobil Erick? Sedang apa dia disini?" Tanya Arsen dalam hati.
"Apakah dia datang bersama dengan Mila? Emm mungkin saja, kurasa Laura memang sengaja menyuruh Mila untuk datang karena dia merasa kesepian. Kesian juga, aku jadi merasa sedikit bersalah padanya karena sudah sedikit cuek akhir-akhir ini." Gumam Arsen lagi sembari tersenyum tipis dan mulai melangkah menuju pintu utama rumahnya.
Pintu utama rumah Laura saat itu dalam keadaan terbuka meski tidak terbuka sepenuhnya, Arsen pun mengintip ke arah ruang tamu namun saat itu suasana di ruang tamu terlihat begitu sepi tak ada seorang pun yang terduduk disana. Membuat Arsen mulai mengerutkan dahinya dan akhirnya ia perlahan masuk begitu saja ke dalam rumah itu.
"Laura." Panggilnya pelan sembari terus melangkah menuju sofa tempat dimana dia terduduk.
Namun sama sekali tak ada jawaban dari Laura, membuat Arsen semakin merasa bingung dan penasaran hingga ia ingin melangkah menuju dapur untuk mencari keberadaan Laura.
Namun seketika langkah Arsen terhenti saat ia samar-samar mendengar suara yang sedikit aneh menurutnya. Ia pun mencoba untuk lebih fokus mendengarkan dari arah mana sekiranya suara itu berasal. Lalu perlahan ia mulai melangkah menuju kamar tamu tempat dimana saat itu Laura dan Erick sedang bercumbu. Semakin dekat jarak Arsen pada kamar itu, maka suara itu pun terdengar semakin jelas dan nyata, suara desahan seorang wanita yang terdengar begitu mendayu-dayu di telinga Arsen sontak membuat jantung Arsen semakin berdegub cepat.
Dengan perlahan tapi pasti ia terus melangkah mendekati sebuah pintu kamar yang kala itu terbuka sedikit, ia pun menolak pelan pintu itu hingga terbuka setengahnya. Dan betapa terkejutnya Arsen saat itu, saat melihat bagaimana Laura yang sudah tidak berbusana sama sekali sedang duduk di atas tubuh Erick yang tengah terbaring sembari terus menggoyang-goyangkan tubuhnya layaknya seseorang yang tengah berkuda dengan begitu bergairahnya. Di tambah lagi Erick yang kala itu pun terlihat begitu menikmati sensasi goyangan yang diberikan Laura terus memainkan kedua tangannya pada kedua gundukan daging milik Laura.
Hal itu membuat mata Arsen begitu membulat sempurna, kedua tangannya mulai mengepal kuat hingga akhirnya ia pun menunjang keras pintu itu hingga terbuka lebar.
Bruuaakk..
Suara pintu yang sengaja dibuka dengan kasar pun, seketika membuat Laura dan Erick yang kala itu tengah menikmati permainan mereka sontak terkejut dan langsung menoleh secara serentak ke arah Arsen. Saat itu Arsen terlihat begitu tajam menatap ke arah mereka, hingga membuat Laura langsung terperanjat sembari meraih kimononya dengan cepat.
__ADS_1
"Arsen." Ucapnya.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Arsen pun langsung berjalan cepat menghampiri Erick yang kala itu pun terlihat begitu kikuk sembari dengan cepat menutup tubuhnya dengan selimut.
"Dasar brengsek!!" Maki Arsen yang langsung menarik kasar tubuh Erick sembari mulai memukul keras bagian wajahnya.
Sekali pukulan keras dari Arsen ternyata sudah cukup membuat hidung Erick mulai mengeluarkan darah.
"Arsen ini tidak..." nampaknya saat itu Erick ingin mencoba memberi penjelasan.
Namun Arsen yang kala itu sudah terlanjur tenggelam di lautan emosi pun langsung kembali memukulnya tanpa henti.
"Diam kau bajingan!!!" Teriak Arsen sembari terus memukuli Erick.
"Arsen please stop." Ucap Laura yang sangat panik sembari ingin menarik tangan Arsen.
Namun Arsen langsung menepis kasar tangan Laura dan kembali menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jauh kan tangan kotormu dariku!!" Bentak Arsen yang begitu meninggikan suaranya.
Membuat Laura begitu terkejut hingga langsung menangis begitu saja. Sementara saat itu Erick sudah terduduk lemas di bawah ranjang dengan keadaan wajah yang sudah babak belur.
"Tak ku sangka, ternyata orang yang selama ini sudah ku anggap sebagai sahabat sanggup menikamku dari belakang." Ketus Arsen sembari mendengus kasar.
"Sayang, aku mohon maafkan aku, setidaknya beri aku waktu untuk bicara..." Laura yang terus menangis kembali ingin mendekati Arsen.
__ADS_1
"Stop! Tolong jauhkan tubuhmu dariku!" Bentak Arsen lagi.
...Bersambung......