Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 82


__ADS_3

Rachel pun dengan langkah tergesa-gesa langsung menuju ke bar, meski dengan langkahnya yang terpincang-pincang dan melewati banyak kerumunan, namun ia seolah tak peduli.


Dari kejauhan akhirnya Rachel pun bisa melihat Arsen yang saat itu terlihat tengah terduduk lesu sembari memutar-mutarkan gelas yang ia pegang. Namun seketika dahi Rachel mengkerut saat ia melihat ada seorang wanita seksi mulai mendekati Arsen dan seolah ingin menggodanya.


Hal itu pun membuat Rachel semakin melajukan langkahnya.


"Tuan muda, nampaknya anda terlihat begitu kacau malam ini. Apa ingin aku temani minum?" Tanya seorang wanita seksi berparas cantik yang tak lain ialah Ladies yang saat itu bekerja di Blue Light Club.


Arsen pun melirik sejenak ke arah wanita itu, lalu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung memberi kode dengan tangannya sebagai jawaban jika ia tidak berminat untuk ditemani.


"Ayolah tuan muda, aku yakin di situasi dan kondisi anda yang seperti ini, anda pasti butuh teman bicara, teman minum, bahkan menjadi teman tidur pun aku siap." Bisik wanita itu dengan nada menggoda.


Mendengar hal itu membuat Arsen seketika mendengus dan tersenyum sinis. Mendengar wanita yang secara suka rela ingin menyerahkan tubuhnya membuat Arsen Lagi-lagi jadi teringat dengan Laura yang kelakuannya tak jauh beda.


Namun belum sempat Arsen menjawab, tiba-tiba saja Rachel datang dan langsung berdiri di tengah-tengah mereka.


"Hei, berhenti menggodanya!" Tegas Rachel sembari melotot pada wanita itu.


Membuat sang wanita itu seketika langsung mengernyitkan dahinya dan bertanya kepada Arsen.


"Apa wanita galak ini pacarmu?" Tanya wanita itu pada Arsen.


"Hei, pacar atau bukan itu bukan urusanmu, sekarang pergi lah, cari lelaki lain saja yang bisa kau goda, jangan dia!" Tegas Rachel yang semakin membulatkan matanya.


Akhirnya ladies itu pun pergi dengan membawa rasa kesalnya terhadap Rachel.


Rachel pun akhirnya mulai menatap Arsen yang kala itu terus tertunduk dalam keadaan sudah setengah mabuk.


"Astaga Arsen Lim? Ada apa denganmu? Kenapa kamu jadi begini?" Tanya Rachel yang nampak begitu cemas.

__ADS_1


Arsen pun akhirnya mendongakkan kepalanya dan mulai menatap Rachel dengan matanya yang mulai sayu.


"Bella? Kamu disini?"


"Iya aku disini untuk menjemputmu, ayo kita pulang, kedua orang tuamu begitu cemas padamu." Jelas Rachel yang mulai ingin menarik tangan Arsen.


Namun tanpa berkata apapun, Arsen seketika bangkit dari duduknya dan langsung memeluk erat tubuh Rachel begitu saja. Hal itu sontak membuat mata Rachel membulat sempurna dan seketika tubuhnya terasa membeku hingga ia hanya bisa terdiam.


Begitu pula dengan beberapa pelayan dan bartender yang melihat pemandangan itu sontak dibuat terperangah saat melihat Arsen memeluk Rachel yang mereka tau jika Rachel bukanlah pacarnya.


"Terima kasih sudah ada disini untukku." Gumam Arsen dengan pelan.


"Ada apa sebenarnya denganmu Arsen? Kenapa tiba-tiba kamu begini?"


"Maaf, maafkan aku." Gumam Arsen lagi.


"Aku tidak tau pembicaraanmu ini ke arah mana, sudah lah, sekarang yang terpenting aku harus mengantarmu pulang, karena kamu sudah terlihat begitu kacau." Ucap Rachel.


"Ayo masuk lah." Rachel pun membukakan pintu mobil untuk Arsen.


"Ta, tapi mobilku ada disana, ini bu, bukan mobilku." Ucapan Arsen begitu tersendat-sendat layaknya orang mabuk pada umumnya.


"Sudah masuk saja, kamu sudah mabuk tidak mungkin aku membiarkanmu menyetir sendiri." Jawab Rachel yang terus memaksa Arsen untuk tetap masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam itu.


Akhirnya Arsen pun pasrah dan masuk begitu saja ke kursi bagian belakang mobil itu. Memastikan Arsen sudah terduduk dengan aman, Rachel pun akhirnya ikut masuk dan duduk di samping Arsen yang kala itu sedang duduk tersandar.


"Astaga aku pusing sekali." Celetuk Arsen sembari mulai memijiti pelipisnya dan dalam keadaan mata yang terpejam.


"Pusing? Kemarilah, biarkan aku memijit kepalamu." Ucap Rachel dengan lembut.

__ADS_1


Bukan hanya sekedar mendekat, Saat itu Arsen justru langsung menyandarkan kepalanya ke pundak Rachel, lalu sebelah tangannya ia lingkarkan ke pinggang Rachel.


Hal itu sontak membuat jantung Rachel mulai berdegub kencang, bagaimana tidak, saat itu posisi mereka jadi begitu dekat.


"Tunggu apalagi, ayo pijit kepalaku." Ucap Arsen yang langsung meraih tangan Rachel dan meletakkannya ke kepalanya.


"Oh, iy, iya iya." Ucap Rachel yang langsung tersentak.


Dengan lembut dan dengan ketulusan, Rachel pun mulai memijiti kepala Arsen, membuat Arsen semakin merasa nyaman dan kembali memejamkan matanya.


"Entah kenapa, saat ini perasaanku jadi jauh lebih baik dari sebelum kamu datang tadi." Celetuk Arsen dengan matanya yang terus terpejam.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kamu bertengkar lagi dengan Laura kekasihmu?" Tanya Rachel dengan lembut.


Namun Arsen yang mendengar nama Laura kembali di sebut, dengan cepat langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rachel.


"Ssssttt, aku mohon berhenti menyebut nama itu di hadapanku." Ucap Arsen dengan jarak wajahnya yang jadi begitu dekat dengan Rachel.


Membuat Rachel kembali terdiam seribu bahasa dengan disertai jantung yang semakin berdegub kencang.


"O, ok." Jawab Rachel akhirnya yang masih begitu gugup hingga membuatnya jadi terbata-bata.


Melihat hal itu membuat Arsen seketika tersenyum, lalu entah bagaimana kini tangannya pun mulai mengusap lembut pipi Rachel dan terus menatapnya dengan begitu lekat.


Kini keduanya kembali berpandangan, membuat kedua mata mereka kembali beradu seolah tak ingin berkedip sekalipun. Hingga tanpa mereka sadari, sejak tadi diam-diam sang supir terus memandangi adegan romantis mereka dari kaca yang ada di bagian depan. Saking keasikannya dengan tontonan romantis di kursi belakang, membuat sang supir jadi sedikit kehilangan fokusnya hingga membuatnya hampir menabrak trotoar jalanan.


Sang supir yang dengan cepat menyadari hal itu pun dengan cepat langsung banting stir ke kanan untuk menghindari trotoar yang ada di sisi kiri. Hal itu pun membuat tubuh Rachel sedikit terhempas ke arah Arsen hingga membuat kedua bibir mereka akhirnya tertempel begitu saja.


Ya untuk kedua kalinya, bibir mereka menempel tanpa disengaja dan tanpa di rencanakan. Mata Rachel kembali membulat sempurna, dengan cepat ia langsung ingin melepaskan tautan bibir mereka. Namun Arsen yang saat itu sedang dalam pengaruh alkohol pun seolah tak membiarkan Rachel menjauh darinya.

__ADS_1


Ia pun langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Rachel, membuat Rachel tak bisa menjauh apalagi menghindar. Lalu dengan gerakan yang sangat pelan, Arsen Lim mulai mengecup bibir Rachel, kemudian perlahan mulai ********** dengan sangat lembut. Saat itu Rachel masih terdiam, tubuhnya seolah membeku hingga membuatnya tak kuasa bergerak apalagi menolak.


...Bersambung......


__ADS_2