Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 181


__ADS_3

Sisi lain di tepi jalan...


Antony yang saat itu jadi babak belur akibat pukulan yang di layangkan oleh Arsen secara bertubi-tubi, terlihat terus terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


Dengan bersusah payah, ia pun meraih ponsel dari saku celananya untuk menelpon asistennya.


"Uhukk,, uhukk,, tolong jemput aku sekarang!" Pinta Antony.


"Astaga tuan muda, apa yang terjadi pada anda? Dimana anda sekarang?" Asistennya pun terdengar panik.


"Cek saja gps ku sekarang!" Ucapnya yang kemudian langsung menutup teleponnya,


Antony kembali memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mulai berusaha untuk bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju mobilnya. Dengan nafas yang sedikit terengah, ia langsung mendudukan kasar tubuhnya ke kursi bagian depan.


"Sial." Gerutunya seorang diri sembari memandangi cerminan diri dari kaca spion.


Saat itu wajah Antony benar-benar terlihat kacau, terdapat beberapa memar di bagian pipi dan ujung bibirnya yang terliat luka. Selang beberapa saat, asisten pribadinya pun nampak muncul dengan menaiki mobil miliknya.


Ia terlihat bergegas turun dari mobilnya, dan langsung menghampiri Antony yang kala itu terlihat duduk terkulai di dalam mobilnya.


"Tuan muda, apa yang terjadi?" Tanyanya yang nampak panik.


"Uhukk,,uhuk,," Namun Antony seolah tak kuasa menjawabnya dan hanya bisa terbatuk batuk.


"Siapa yang berani melakukan hal ini padamu tuan muda? Apa perlu saya tindak??!"


"Arsen Lim, dia yang melakukannya!"


"Ha?! Aa,,apa? Tu,, tuan muda Arsen?!"


"Tapi kenapa? Kenapa tuan muda berkelahi dengannya? Bukankah kalian rekan kerja."


Antony hanya diam dan mendengus pelan.


"Tolong antar aku pulang, dan tolong, urus mobilku."

__ADS_1


"Baik tuan muda."


Antony pun segera di papah oleh asisten pribadinya menuju mobil, dan langsung melajukan mobilnya menuju apartement baru Antonya.


Sisi lain di Apartement...


Saat itu Rachel masih terduduk bersimpuh, ia bersandar dengan lesu di pintu ruang kerja Arsen yang masih tertutup rapat. Suasana malam semakin hening dan terasa semakin pekat, Rachel yang sejak tadi terus menangis, matanya mulai terlihat sembab dan mulai terasa lelah. Perlahan semakin terasa berat, hingga akhirnya ia tertidur dalam keadaan terduduk.


Di saat itu pula, Arsen pun nampaknya masih belum tidur, pikiran yang begitu kalut, hati yang terasa begitu sakit, keduanya sudah cukup menghilangkan rasa kantuknya. Ia kembali melirik ke arah pintu, memandangi sela-sela bawah pintu dan masih melihat bayangan Rachel disana.


Arsen pun akhirnya bangkit, lalu melirik ke arah jam tangan yang saat itu masih ia pakai. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 01:25 dini hari.


"Sudah sangat larut, apa dia sungguh akan bertahan disana hingga pagi?" Gumam Arsen dalam hati.


Arsen pun mulai berdiri, lalu berjalan mondar mandir dan terlihat sangat gelisah. Ia mulai melangkah perlahan menuju pintu, menempelkan telinganya untuk mendengar suara Rachel. Anehnya, ia sama sekali tidak mendengar suara apapun lagi, hingga membuatnya mulai penasaran.


Arsen kembali menghela nafas, lalu perlahan mulai memutarkan kunci pada pintunya dan dengan perlahan pintu pun terbuka. Dan betapa terkejutnya Arsen saat itu membuka pintu, ia pun langsung mendapati tubuh Rachel yang langsung tertumbang dan tergeletak di hadapannya.


"Astaga." Gumamnya pelan.


Arsen tertegun sejenak, memandangi Rachel yang terlihat terkulai dalam keadaan mata yang terpejam di lantai.


Beberapa saat terdiam, Arsen pun memutuskan untuk mengangkat Rachel dan bermaksud memindahkannya ke kamar. Dengan sangat pelan dan hati-hati, Arsen meletakkan tubuh Rachel ke atas ranjang, lalu menyelimutinya dan mematikan lampu kamar.


Ia pun berdiri sejenak memandang nanar wajah istrinya yang kala itu tengah tertidur dengan begitu pulasnya.


"Aku bahkan tidak tau, langkah apa yang harus ku ambil setelah kejadian ini." Gumamnya lagi yang kembali menghela nafas berat.


Tak lama Arsen pun kembali keluar dari kamar, kembali ke ruang kerjanya dan membaringkan lagi tubuhnya di sofa. Matanya kini menerawang jauh ke awang-awang, memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk rumah tangganya yang bahkan sudah berantakan meski di awal pernikahan mereka.


Ke esokan harinya...


Arsen semalaman tidak bisa tidur, ia pun memutuskan untuk berangkat kekantor pagi-pagi selali, bahkan saat suasana masih begitu gelap, matahari pun belum muncul, tapi Arsen sudah berangkat ke kantor.


Arsen pergi, sama sekali tidak meninggalkan pesan mau pun sarapan seperti sebelumnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus kabut dan menyusuri jalanan yang masih lembab akibat embun di pagi hari.

__ADS_1


Saat itu kantor utama pun masih nampak lengang, namun Arsen tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan terus saja melangkah menuju ruang kerjanya,


Begitu membuka pintu, ia pun di kagetkan dengan adanya seorang pegawai kebersihan di ruang kerjanya, OB itu pun nampaknya juga begitu terkejut dan langsung menunduk saat menyadari kehadiran Arsen,


"Maaf tuan muda, saya tidak menyangka hari ini anda datang sepagi ini, maafkan saya karena belum selesai membersihkan ruangan anda." Ungkap OB yang terlihat begitu ketakutan dan terus menundukkan kepalanya.


"Tidak apa, lanjutkan saja!" Tegas Arsen dengan nada datar dan wajah dinginnya.


"Ba,, baik tuan muda." OB pun mengangguk cepat dan kembali melanjutkan membersihkan meja kerja Arsen.


Sedangkan Arsen, kala itu ia memilih berdiri memandangi pemandangan kota pagi itu dari dinding kaca yang ada di salah satu sisi ruangannya.


"Setelah ini, tolong buatkan aku secangkir kopi!" Pinta Arsen tanpa membalikkan badannya.


"Baik tuan muda."


Beberapa menit berlalu, sang OB sudah selesai membersihkan ruangan Arsen, ia pun bahkan nampak kembali lagi ke ruangan Arsen dengan sudah membawa secangkir kopi dan dua potong roti mentega di atas nampan yang ia pegang.


Sementara Arsen, sejak tadi ia masih saja berdiri termenung di tempat yang sama. Tatapannya pun terlihat begitu kosong seolah sedang mengalami banyak masalah dalam hidupnya.


Dengan sangat hati-hati, sang OB pun mulai meletakkan nampannya ke atas meja, dan mulai menghidangkan makanan dan minuman yang ia bawa, ke atas meja.


"Ini secangkir kopi yang anda minta tuan muda, silahkan dinikmati."


"Biarkan saja disitu! Terima kasih." Jawab Arsen masih dengan nada yang terdengar begitu datar.


"Sama-sama tuan muda, kalau begitu saya pamit mau melanjutkan pekerjaan."


"Eeemm." Jawab Arsen singkat.


OB pun pergi dan kembali meninggalkan Arsen seorang diri di dalam ruangannya yang kala itu terasa begitu sejuk.


Sisi lain di Apartement...


Rachel tersentak saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:35, ia pun sontak terperanjat dari tidurnya dan cukup merasakan kebingungan saat mendapati dirinya yang sudah tidak berada di depan pintu ruang kerja Arsen lagi, melainkan saat ini ia justru berada di atas ranjang empuknya.

__ADS_1


"Sejak kapan aku pindah kesini? Perasaan, sejak semalam aku tidak ada kembali ke kamar." Gumam Rachel seorang diri sembari mulai menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal.


...Bersambung......


__ADS_2