
Sisi lain di kediaman Antony Yue
Antony yang baru saja pulang ke rumah, memilih duduk bersantai di taman belakang rumahnya dengan di temani secangkir kopi. Tak lama ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menelpon asistent pribadinya.
"Iya tuan muda?"
"Rachel Chou, sahabat kecil dari seorang Arsen Lim. Segera cari tau latar belakangnya, dan apapun yang berkaitan dengannya. Segera laporkan padaku paling lama satu jam dari sekarang. Mengerti?"
"Baik tuan muda."
Antony pun langsung mengakhiri panggilannya dengan senyuman tipisnya. Tak lama ia pun meneguk kembali secangkir kopi miliknya hingga kandas, lalu kemudian langsung beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Antony melepaskan seluruh pakaiannya, ia memilih untuk langsung mandi, agar fisiknya kembali segar setelah seharian beraktivitas di luar.
Setengah jam berlalu, Antony pun keluar dari kamar mandinya dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya di tutupi oleh selembar handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
Tak lama, ponselnya pun berdering, terlihat asistent pribadinya kembali menghubunginya.
"Cepat juga." Celetuk Antony sembari tersenyum lalu langsung mengangkat teleponnya.
"Bagaimana?"
"Rachel Chou, anak tunggal dari pengusaha kaya, pemilik rumah sakit terbesar Columbia Asia, dan Long Trip Travel yaitu Martin Chou, ibunya Bernama Shea Hauw yang juga memiliki usaha butik kenamaan di kota ini maupun di Paris. Dari kecil Rachel ikut keluarganya pindah dan menetap di Paris. Kedua orang tua Rachel ternyata juga berteman sangat akrab dengan Benzie Lim, ayah dari Arsen Lim." Jelas sang asistent dengan singkat jelas dan padat.
"Ohhh begitu rupanya."
"Untuk info lebih detailnya, saya sudah kirimkan beberapa artikel tentang kekayaan keluarga Rachel melalui email anda tuan muda, anda bisa membacanya."
"Baiklah, kau bisa ambil bonusmu berapa pun angkanya." Ucap Antony yang langsung menyudahi percakapan mereka.
Saat itu Antony tertegun sejenak, ia nampaknya masih mencerna ulang informasi yang baru saja ia dapatkan dari asistentnya.
"Ini benar-benar jauh di luar ekspetasiku, ternyata dia bukanlah dari kalangan biasa. Tapi yang aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin gadis sekaya dia, rela menyamar jadi bawahan Arsen Lim?" Gumam Antony seorang diri.
Tik tok tik tok...
waktu terus berjalan, kini tibalah saatnya pertemuan antara Rachel dan Antony sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Saat itu Antony terlihat datang lebih dulu, ia langsung di arahkan menuju meja yang telah ia reservasi sebelumnya.
"Sebelah sini tuan muda."
Antony pun mengangguk dan mulai duduk.
"Terima kasih." Ucapnya datar.
__ADS_1
"Apa anda mau memesan menu sekarang tuan muda?"
"Hidangkan saja makanan dan minuman yang paling special di cafe ini, dan satu lagi, buat untuk dua porsi."
"Oh baik tuan muda, mohon menunggu."
Antony pun hanya mengangguk singkat. Dalam waktu lima menit saja, seorang pelayan pun datang kembali dengan membawa dua gelas mojito sebagai minuman best seller di cafe itu.
15 menit membuat seorang Antony menunggu, akhirnya seperti pucuk di cinta ulam pun tiba, Rachel pun terlihat memasuki cafe, kali ini Penampilan Rachel benar-benar berbeda dari sebelumnya, pada saat ia menyamar menjadi Bella yang lebih memilih berpenampilan seadanya. Ia memilih berpenampilan bagaimana Rachel yang sebenarnya, yang anggun, juga berkelas nan elegan.
Mata Rachel terus menyisir seluruh sudut ruangan yang cukup besar, melirik kesana kemari seolah sedang mencari seseorang, yang tak lain sudah pasti ia mencari keberadaan Antony.
Melihat hal itu, Antony pun langsung mengangkat tangannya untuk kemudian ia lambaikan ke arah Rachel. Rachel yang melihat itu pun akhirnya langsung menghampirinya.
"Akhirnya kamu datang juga, duduk lah." Ucap Antony sembari tersenyum tipis.
Rachel dengan wajah datarnya, perlahan mulai duduk di hadapan Antony dan mulai menatapnya dengan sedikit tajam.
"Aku sudah disini, sekarang katakan apa maumu." Ucap Rachel yang mencoba bersikap tenang di hadapannya.
Mendengar hal itu, sontak membuat Antony seketika mendengus disertai dengan sebuah tawa kecil.
Membuat Rachel seketika tertegun, rasa syok bercampur bingung serta heran. Bagaimana tidak, dalam waktu singkat Antony bahkan bisa mengetahui latar belakang keluarganya.
"Ka, kamu... kamu sungguh mencari tau tentangku?" Tanya Rachel yang seketika mengernyitkan dahinya.
"Sudah, ayo minumlah dulu. Tenangkan dirimu Rachel Chou." Antony pun mengangkat gelasnya berniat mengajak Rachel untuk minum bersama.
Namun Rachel justru hanya diam sembari menatap ragu gelas minumannya.
"Kenapa? Apa kali ini kamu berfikir aku menaruh racun ke dalam minumanmu? Atau justru obat tidur? Oh atau jangan-jangan kamu berfikir aku meletakkan obat perangsang?"
Namun Rachel masih diam seolah membenarkan perkataan Antony.
"Emm baiklah kalau begitu, biar aku saja yang meminumnya." Ujar Antony yang ingin meraih gelas minuman milik Rachel.
Namun akhirnya Rachel mencegahnya dan menahan tangannya.
"Tidak perlu, aku akan minum." Ucap Rachel datar dan langsung meminum sedikit minumannya.
Rachel terus mencoba tetap bersikap baik karena berfikir jika Antony masih menjadi rekan bisnis di perusahaan Arsen.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Rachel pelan saat meletakkan kembali gelasnya.
"Astaga, apa dari raut wajahku terlihat jika aku sedang menginginkan sesuatu darimu?"
"Tentu saja. Aku merasa jika tujuanmu memanggilku kesini saat tau rahasia besarku adalah ingin memerasku. Benarkan?" Mata Rachel pun mulai melotot pada Antony.
Membuat Antony seketika tertawa geli.
"Memerasmu???! Hahaha. Pikiran macam apa itu? Aku bahkan kebingungan mencari cara untuk menghabiskan uangku, bagaimana bisa kamu berfikir aku akan memerasmu hahaha."
"Lalu apa?! Katakan apa sebenarnya maksudmu memintaku datang kesini." Tegas Rachel lagi.
Lalu kemudian, Antony pun mulai diam sejenak, ia pun mulai menghela nafas singkat, lalu menatap wajah Rachel dengan begitu lekat.
"Baiklah, sebenarnya kamu pasti tau tujuan pertemuan kita kali ini. Sebenarnya aku masih sangat bingung dengan semua hal yang tanpa sengaja aku ketahui. Begitu membingungkan saat wanita yang selama ini aku kenal sebagai Bella yang cantik dan pintar, Bella yang begitu ku kagumi, ternyata hanyalah semu. Apa maksud dari ini semua? Kenapa kamu menyamar menjadi Bella dan rela menjadi bawahan Arsen Lim?"
Rachel pun tertunduk sejenak, lalu ia kembali menatap wajah Antony yang kala itu memang terlihat seolah butuh penjelasan.
"Apa aku sungguh harus menjelaskan semuanya padamu? Apa hal ini begitu penting bagimu?"
"Tentu saja. Orang yang selama ini ku ketahui sebagai wanita multitalenta yang sederhana, yang membuatku begitu tertarik, ternyata adalah seorang gadis kaya raya. Itu membuatku sedikit terkejut, maka dari itu aku butuh penjelasan darimu. Kenapa??"
"Jadi selama ini, kamu merasa tertarik pada kesederhanaanku? Lebih tepatnya kesederhanaan Bella? Begitu?"
"Jujur iya, aku sangat tertarik. Bahkan mungkin aku sudah jatuh cinta padamu." Ucap Antony yang kali ini menatap Rachel dengan tatapan yang begitu serius.
"Cinta?"
Antony mengangguk pelan.
"Tapi sayangnya kamu sudah tau jika aku adalah Rachel Chou bukan Bella si wanita sederhana yang kamu kagumi. Dan kamu pun tau aku dan Arsen Lim, akan segera menikah. Jadi sekali lagi aku minta maaf, maaf karena kamu harus kecewa atas kenyataan ini." Jelas Rachel.
"Bella dan Rachel hanyalah sebuah nama yang berbeda, namun orangnya tetap lah sama. Jadi mau Bella atau pun Rachel, tidak akan merubah perasaanku, aku tetap cinta."
Mendengar pengakuan Antony sungguh membuat Rachel sebenarnya merasa syok, ia mendadak jadi begitu canggung di tambah pula dengan perasaan yang juga semakin tak karuan.
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa dia jadi membuat pengakuan cinta padaku? Ini sungguh di luar ekspetasi." Celetuk Rachel dalam hati.
"Oh wait, tadi kamu mengatakan, kamu dan Arsen akan segera menikah? Yaya aku memang sudah tau sejak Arsen menunjukkan cincin itu." Ucap Antony sembari menunjuk ke arah cincin yang terpasang di jari manis Rachel.
"Tapi setauku, Arsen melamar Bella, bukan Rachel hehehe. Dan apa kamu seyakin itu Arsen bisa menerima kebohonganmu ini?" Tanya Antony sembari memancarkan senyumannya yang sungguh mematikan bagi Rachel kala itu.
Membuat Rachel lagi-lagi harus terdiam menelan ludahnya sendiri akibat perkataan Antony yang ia rasa ada benarnya.
__ADS_1
...Bersambung......