Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 155


__ADS_3

Berbincang cukup lama tentang banyak hal, nampaknya berhasil membuat Rachel sesaat menjadi lupa akan waktu.


"Sudah masuk jam makan siang, ingin makan siang di luar?" Ajak Antony menawari.


"Makan siang?" Mata Rachel seketika mendelik dan langsung melirik ke arah jam tangannya.


"Astaga!" Ucapnya lagi yang sontak langsung bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" Tanya Antony dengan tenang.


"Keasikan berbincang jadi membuatku lupa diri, aku harus pulang sekarang!" Tegas Rachel sembari bergegas merapikan buku-buku yang ada di mejanya.


"Pulang?"


"Ya tentu saja, aku harus menyiapkan makan siang untuk suamiku," Rachel pun segera meraih tas nya dan bersiap untuk beranjak pergi.


"Buku-buku ini sudah ku sewa, aku pergi dulu, jaga dirimu." Ucap Rachel sebelum akhirnya ia pun pergi dengan tergesa-gesa.


Antony hanya diam, memandangi dengan tenang kepergian Rachel yang terlihat melangkah begitu cepat. Tak lama Antony pun tak sengaja melirik ke salah satu dinding yang terbuat dari kaca transparan, hingga memungkinkan para pengunjung perpustakaan yang berada di dalamnya, dapat melihat pemandangan taman yang ada di luar gedung itu.


"Hujan?" Tanyanya dalam hati saat melihat guyuran air yang cukup deras membasahi dinding kaca itu.


"Apa Rachel tau di luar hujan?" Tanyanya lagi sembari kembali menoleh ke arah Rachel yang semakin jauh darinya.


Gedung perpustakaan yang begitu megah dan tinggi, membuat para pengunjung yang berada di dalam tentu tidak akan mendengar suara hujan meski sedang deras-derasnya.


Rachel terus melangkah cepat menuju pintu utama, sepanjang langkahnya ia nampak begitu panik dan terus ngedumel.


"Haaiish, bagaimana aku bisa begitu santai hingga melewatkan jam makan siang?!" Gumam Rachel seorang diri sembari terus memukul-mukul dahinya.


"Rachel oh Rachel, amarah suamimu tentang masalah sebelumnya saja belum mereda, kini kenapa kau tambah lagi dengan masalah baru?? Haaaish habis lah kau Rachel." Rachel seolah terus saja mengutuk dirinya sendiri.


Mata Rachel kembali membulat sempurna saat ia baru saja keluar dari pintu utama dan menyadari jika saat itu tengah hujan yang cukup deras.


"Hujan??" Tanyanya yang jadi begitu terperangah.


"Haiyo yang benar saja!" Rachel pun kembali terlihat panik dan kebingungan.


Mengingat ia memarkirkan mobil yang letaknya cukup jauh dari gedung perpustakaan itu.


"Huh tidak ada pilihan lain, mau tak mau aku harus menembusnya." Rachel seolah siap untuk berlari menembus guyuran air hujan.


Tapi tiba-tiba saja Antony kembali muncul di hadapannya hingga membuat langkahnya kembali terhenti.


"Kamu bisa sakit jika memaksakannya, dan juga, buku-buku itu, nantinya akan basah." Ujar Antony dengan pembawaannya yang begitu tenang.

__ADS_1


Rachel pun seketika melirik ke arah buku yang ia pegang.


"Benar juga." Gumamnya dalam hati.


Antony pun akhirnya mengembangkan sebuah payung yang ternyata sudah ia pegang dan sembunyikan di belakang punggungnya.


"Pakai ini." Ucapnya sembari memberikan payung itu pada Rachel.


Rachel menjadi tertegun sejenak,


"Jika terus terdiam seperti ini, maka kamu akan semakin lama tiba di rumah? Ambil ini!" Ucap Antony lagi yang langsung menyerahkan payung yang berwarna hitam itu ke tangan Rachel.



"Terima kasih." Rachel pun kembali tersadar dan memunculkan sebuah senyuman tipis.


Antony ikut tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang juga. Sekali lagi terima kasih." Rachel pun mulai beranjak pergi.


Tapi baru beberapa langkah, Antony kembali menatapnya dan bertanya,


"Apa sungguh tidak ingin aku antar?"


"Iya, iya, kamu tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tau apa jawabannya. Hati-hati di jalan."


Rachel pun mengangguk dengan senyumannya yang juga semakin berkembang. Rachel akhirnya pergi, melangkah semakin jauh di tengah derasnya air hujan, membawa serta payung yang diberikan oleh Antony untuknya.


Rachel bergegas masuk ke mobil, menutup kembali payungnya dan ikut memasukkannya ke dalam mobilnya. Mobil pun perlahan bergerak, meninggalkan gedung perpustakaan yang berada di kawasan padat pengunjung itu.


Menghabiskan waktu setengah jam lamanya, kini mobil Rachel pun nampak telah terparkir sempurna di basement apartement mewah itu. Ia berjalan sangat cepat, bahkan setengah berlari, menuju lift.


Sementara Arsen, kala itu seolah tak henti-hentinya melirik ke arah jam. Perasaan gelisah bercampur kesal kian menderanya, di tambah pula dengan perutnya yang mulai memunculkan bunyi-bunyian sumbang khas orang kelaparan.


"Haaaiis, apa amarahnya mulai membuatnya kehilangan akal dan membiarkan suaminya kelaparan di rumah?!" Ketus Arsen seorang diri yang kembali berjalan mondar mandir di ruang tamu.


"Eemm sudah hampir jam 2, bisa-bisa aku mati kelaparan karena terus menunggunya. Aku pesan makanan saja." Arsen pun mulai meraih ponselnya untuk memesan makanan melalui sebuah aplikasi online.


Tapi, saat tinggal selangkah lagi untuk melakukan pemesanan, ia kembali menghentikan aktivitas jarinya dan kembali berfikir.


"Ah tidak, tidak! jika aku pesan makanan, maka itu sama sekali tidak akan membuatnya merasa bersalah karena sudah pergi terlalu lama." Ujarnya sembari kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Aku tahan saja, ku yakin sebentar lagi ia akan memunculkan batang hidungnya." Tambahnya lagi yang memilih untuk duduk bersandar di sofa.


Dan benar saja, baru beberapa detik menduduki sofa, tiba-tiba saja suara bunyian dari pintu yang terbuka pun terdengar.

__ADS_1


Ya, Rachel memang bisa membuka pintunya kapan saja ia mau karena ia pun telah mendaftarkan sidik jarinya agar dapat mengakses pintu itu.


Arsen yang duduk bersandar akhirnya mulai menatap tajam ke arah Rachel yang baru muncul dari balik pintu.


"Nampaknya suasana di luar begitu asik hingga membuatmu melupakan tugasmu sebagai istri." Celetuk Arsen datar,


Rachel yang ragu-ragu menatapnya karena memang merasa bersalah akhirnya mulai meminta maaf.


"Ya, maafkan aku. Lagi-lagi aku salah." Ucapnya dengan suara begitu pelan.


Melihat ekspresi Rachel yang terlihat begitu lirih sontak membuat Arsen seketika terdiam, ia hanya bisa mendengus sembari menghela nafas kasar.


Tapi seketika Rachel mulai mengernyitkan dahinya saat melihat ada banyak kotak hadiah dengan berbagai macam bentuk tertumpuk di sofa ruang tamu.


"Apa ini hadiah pernikahan kita kemarin?" Tanyanya sembari mulai mendekati tumpukan hadiah itu dan memandanginya sejenak.


"Emm." Jawab Arsen singkat sembari kembali menyadarkan dirinya di sandaran sofa dengan kedua tangannya yang bersedekap.


*krukkkrukk*


Tapi seketika pandangan Rachel kembali beralih menatap Arsen dengan matanya yang mulai memicing saat mendengar suara aneh dari perutnya.


"Kamu belum makan?" Tanya Rachel dengan dahinya yang kemudian jadi berkerut.


"Menurutmu?! Apa kamu tidak bisa dengar para cacing terus mengalunkan nyanyian indah di perutku ha?"


"Astaga,, Ja, jadi, kamu belum juga makan siang? Tunggu lah sebentar, aku akan segera memesan makanan untukmu." Rachel kembali terlihat panik dan langsung meraih ponselnya.


"Memesan makanan katamu?" Arsen langsung bangkit dari duduknya.


"Iya, ku pikir akan lebih cepat bila aku memesan makanan saja."


"Lupakan saja kalau begitu! Tidak perlu memesan apapun." Ketus Arsen yang langsung beranjak pergi menuju kamar.


Rachel yang merasa bingung pun segera menyusul langkahnya.


"Tapi kenapa begitu? Bukankah selama tinggal disini sendirian pun kamu terbiasa memesan makanan? Kenapa sekarang tidak mau?"


"Lalu jika tetap memesan makanan, apa bedanya denganku yang sebelumnya tinggal sendiri!?" Arsen pun menghentikan langkahnya dan kembali menatap Rachel dengan tatapan begitu dingin.


Membuat Rachel seketika terdiam, dan kembali menunduk sejenak.


"Baiklah, aku akan masak makan siang untukmu. Sabar dan tunggu lah sebentar." Ucapnya yang kemudian beranjak menuju dapur.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2