
"Tapi Laura, tidak baik jika aku terlalu lama berada di kamarmu seperti ini." Jawab Arsen sembari menepis pelan tangan Laura.
Namun nampaknya saat itu Laura memang sudah benar-benar mempersiapkan trik konyol itu untuk menjebak Arsen agar masuk ke dalam kamarnya.
"Tenang lah sayang, tidak ada siapapun di rumah ini selain pelayan, jadi kita bebas melakukan apapun disini." Jawab Laura dengan lembut sembari mulai menciumi leher Arsen.
Hal itu pun sontak membuat Arsen kegelian, ia pun terus berusaha meloloskan diri dari pelukan Laura.
"Tidak Laura, aku tidak ingin menyentuhmu sebelum kita resmi menikah." Tegas Arsen.
"Aku mohon sayang, aku sangat merindukanmu." Bisik Laura sembari terus menciumi leher hingga rahang Arsen.
Arsen pun sejenak terdiam dan terus berusaha menghindar dari ciuman Laura, hingga tanpa sengaja ia melirik ke arah nakas yang ada di sisi kanan ranjang Laura. Terlihat ada sebuah jam tangan lelaki yang sudah terletak di atas nakas itu hingga membuat dahi Arsen seketika mengkerut.
"Sebentar, itu, itu jam tangan siapa?" Tanya Arsen sembari menunjuk ke arah nakas.
Laura yang sejak tadi begitu bergairah menciumi Arsen pun seketika menghentikan segala aktivitasnya dan ikut melirik ke arah jam tangan itu.
Arsen pun kembali menepis pelan tangan Laura, lalu dia mulai mendekati jam tangan lelaki yang nampak begitu familiar baginya dan langsung meraihnya.
"Ini tentu bukan milikmu kan? Karena ini jelas adalah jam tangan lelaki." Ucap Arsen yang kemudian menatap Laura dengan tatapan serius.
"Astaga, kenapa aku tidak menyadari hal itu? Ya ampun, habis lah aku jika ia tau jika jam tangan itu milik Erick." Celetuk Laura dalam hati yang mulai merasa sedikit panik.
Namun seolah sudah begitu lihai dalam mencari alasan, Laura pun seketika tersenyum dan langsung meraih jam tangan itu dari tangan Arsen.
"Oh astaga, ini jam tangan ayahku sayang. Kemarin aku menemukan jam tangan ini terletak begitu saja di atas meja halaman belakang rumah dan lupa mengembalikannya pada ayahku" Jelas Laura yang terus berusaha bersikap tenang di hadapan Arsen.
"Oh begitu rupanya." Arsen pun akhirnya mengangkat kedua alisnya dan kembali bersikap santai seolah tak ingin mengintrogasi Laura lebih dalam lagi karena memang sejauh ini dia masih begitu percaya dengan kekasihnya.
__ADS_1
"Sudah lah sayang, lupakan masalah jam tangan ini. Sekarang waktunya kita menghabiskan waktu bersama, sekarang aku adalah milikmu begitu pun sebaliknya." Bisik Laura yang kembali melingkarkan kedua tangannya ke leher Arsen.
Belum sempat Arsen mengucapkan sepatah katapun, Laura pun langsung mendorong Arsen hingga ia terbaring di atas ranjang. Dengan cepat ia pun langsung menindih Arsen sembari mulai menciumi kembali pipi hingga bibir Arsen.
Laura terus melumatt habis bibir Arsen bagaikan singa betina yang tengah kelaparan, saat itu Arsen pun akhirnya terdiam dan sebagai lelaki biasa, ia pun akhirnya pasrah saat Laura terus mencumbunya.
Merasa Arsen sudah mulai luluh, Laura pun kembali duduk di atas Arsen, dengan perlahan ia mulai membuka bajunya dan kembali mencium bibir Arsen dengan penuh gairah. Kini Laura tengah berada di puncak gairahnya, ia terlihat begitu liar dan seolah sudah begitu handal dalam melakukannya.
Hingga akhirnya ia pun memegang tangan Arsen, dan ingin mengarahkan tangan itu ke arah gundukan daging miliknya. Namun entah kenapa tiba-tiba saja mata Arsen yang mulai terpejam kini kembali membulat sempurna. Ia pun langsung bangkit sembari menepikan tubuh Laura yang ada di atasnya.
"Maaf aku tidak bisa." Ucapnya sembari langsung bangkit dari tidurnya.
"Tapi kenapa sayang? Kita sudah terlanjur berantakan seperti ini, aku mohon agar kamu mau melanjutkannya." Laura kembali menahan tangan Arsen dan mulai memeluknya dari belakang.
"Maaf aku sungguh tidak bisa Laura. Ini juga demi menjaga kehormatanmu kan?" Ucap Arsen sembari terus merapikan pakaiannya yang mulai berantakan akibat ulah Laura.
"Tidak, aku tidak peduli dengan kehormatanku, yang aku mau adalah kamu sayang." Laura pun kembali berdiri di hadapan Arsen dengan keadaannya yang saat itu hanya menggunakan bra berwarna hitam.
Meninggalkan Laura yang terdiam memandang kesal kepergian Arsen dari kamarnya.
"Aaagh sial! Harus dengan cara apalagi agar bisa membuatnya mau melakukannya denganku?" Keluh Laura dalam hati sembari terus mengusap kasar wajahnya.
Akhirnya dengan perasaan kesal, Laura pun kembali memakai bajunya, dan turun ke bawah untuk menyusul Arsen yang sudah lebih dulu turun.
"Aku harus kembali ke kantor sekarang." Ucap Arsen dengan lembut.
"Emm." Jawab Laura yang masih terlihat sangat kesal.
"Jangan marah, aku melakukan ini juga demi menjagamu, menjaga nama baik keluargamu." Ucap Arsen dengan lembut sembari membelai pipi Laura.
__ADS_1
Saat itu Laura masih terdiam, ia hanya terus menatap Arsen dengan tatapan tajam dengan kedua tangannya yang terus bersedekap di dadanya.
"Sabarlah sampai kita resmi menikah nanti." Ucap Arsen lagi sembari tersenyum tipis.
Namun Laura terus diam seolah tak berminat untuk mengatakan apapun saking sudah merasa kesal karena gairahnya yang tidak tersalurkan.
"Ya sudah, aku pergi ya. Maafkan aku," Arsen pun mengecup kening Laura dan langsung pergi meninggalkannya seorang diri.
Hal itu pun semakin membuat Laura kesal, lagi dan lagi ia gagal mendapatkan tubuh Arsen, ia gagal menyalurkan hasratnya.
Laura pun semakin di buat gelisah karena hasratnya yang belum tersalurkan. Hingga akhirnya ia pun kembali menelpon Erick, namun sayangnya saat itu Erick sedang ada tugas yang tak bisa ia tinggalkan.
"Lalu kapan kamu bisa datang? Ayo lah." Goda Laura dengan nada menggoda.
"Emm bagaimana kalau malam saja?"
"Malam? Bukankah itu masih terlalu lama?"
"Sabarlah cantik, hanya beberapa jam saja. Aku janji, nanti malam begitu semua tugas-tugas ini selesai, aku akan langsung datang untuk memuaskan mu, bahkan aku akan membuatmu minta ampun kelemasan." Jawab Erick dengan nada yang terdengar begitu liar.
"Benarkah bisa membuatku minta ampun? Emm baiklah, kita buktikan saja siapa yang lebih kuat." Jawab Laura sembari mulai menggigit bibir bawahnya.
"Ok cantik, let we see ya."
"Baiklah, tolong jangan membuatku menunggu terlalu lama nanti malam ok!"
"Ok sayang."
Akhirnya panggilan telepon pun berakhir. Laura pun memilih untuk langsung mandi dengan air hangat demi membuat tubuhnya kembali rileks.
__ADS_1
Sementara Arsen Lim memilih untuk kembali ke kantor karena ia baru teringat jika satu jam lagi akan ada meeting mingguan dengan para staff Blue Light Group yang dimana meeting itu akan di pimpin langsung oleh CEO Blue Light Group yaitu Arsen sendiri.
...Bersambung......