
Dengan wajah masamnya, Rachel pun memilih kembali fokus memandangi laptopnya sembari bertopang dagu. Namun tanpa ia sadari, Arsen sudah berdiri menghadap dinding kaca yang ada di sisinya.
Tok tok tok
Seketika lamunan Rachel buyar saat Arsen mengetuk dinding pembatas kaca itu menggunakan jari telunjuknya. Hal itu sontak membuat Rachel terperanjat dan langsung berdiri tegak.
"Iya tuan muda."
"Hari pertama bekerja diisi dengan sebuah lamunan, nampaknya asik juga ya." Celetuk Arsen sembari mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Rachel pun hanya bisa kembali cengengesan sembari mulai kembali merapikan pakaiannya.
"Kemari lah." Ucap Arsen lagi sembari menggerakkan jari telunjuknya.
Rachel pun mengangguk, lalu mulai melangkah menuju ruangan Arsen, Arsen pun kembali terduduk di kursi kejayaannya dan di susul pula dengan Rachel yang kini duduk di kursi yang ada hadapannya.
"Ada apa tuan muda?"
"Aku masih penasaran, bagaimana kamu bisa tiba-tiba melamar kerja disini dan dapat posisi sebagai sekretaris pribadiku?" Tanya Arsen yang mulai menatap serius ke arah Rachel.
Menyadari ekspresi Arsen yang begitu serius menatapnya, sontak membuat jantung Rachel kembali berdebar tak karuan.
"Tenangkan dirimu Rachel, jangan menunjukkan gelagat yang aneh yang bisa membuat Arsen curiga." Gumam Rachel dalam hati sembari terus menghela nafas secara perlahan demi membuatnya tenang.
"Oh tentang itu, emm aku, ya sebenarnya aku sudah sejak dulu ingin menjadi bagian dari Blue Light Group, mengingat betapa besar dan makmurnya perusahaan ini, namun karena kemarin aku masih berada di Paris, itulah sebabnya aku baru melamar kerja disini beberapa hari yang lalu. Dan aku juga begitu kaget saat tau jika orang yang kutemui beberapa kali di Paris adalah CEO disini dan menjadi bosku sekarang." Jelas Rachel yang masih sedikit gelagapan.
"Emm masuk akal juga, jadi ternyata kamu bukan penduduk asli sana ya."
"Hehehe tentu saja bukan tuan muda, apakah dari wajahku tidak bisa terlihat jika aku ini juga orang Asia? Aku di Paris hanya untuk melanjutkan pendidikan saja."
"Emmm baiklah, mengingat pendidikan mu yang lulusan luar negeri dan papa ku lah yang langsung menginterview mu, maka aku tidak akan mungkin meragukan Kemampuanmu lagi." Arsen pun akhirnya tersenyum tipis.
"Terima kasih tuan muda, semoga adanya saya disini, bisa membantu meringankan pekerjaan anda." Rachel pun ikut tersenyum manis.
__ADS_1
"Tapi ingat, meski kita sudah beberapa kali bertemu sebelumnya, dan pernah mengalami kejadian tak terduga di malam pesta itu, bukan berarti kamu bisa..."
Namun sebelum Arsen menyelesaikan ucapannya, nampaknya Rachel sudah mengerti dengan apa yang di maksud oleh Arsen.
"Oh tentu, saya mengerti tuan muda, jangan khawatir."
"Iya, aku berharap agar kamu tetap bisa bersikap profesional disini dan untuk kejadian itu, emm anggap aja itu tidak pernah terjadi."
"Baik tuan muda." Jawab Rachel.
Ada sepercik perasaan sedih dan kecewa dalam hati Rachel saat Arsen mengatakan hal itu, namun ia tidak bisa terlalu menunjukkan perasaan itu, ia hanya bisa terus tersenyum meski kali ini hanya menampilkan senyumannya yang sedikit kecut.
"Dan ini, tugas pertama untukmu." Ucap Arsen kemudian sembari meletakkan sebuah map di atas meja tepat di hadapan Rachel.
Rachel pun perlahan meraih map berwarna hitam itu, lalu mulai membuka dan mengamatinya.
"Aku mau kamu menyelesaikan laporan itu hari ini juga, tepatnya sebelum jam makan siang harus sudah selesai."
"Sebelum jam makan siang?"
"Ah hehe tidak apa tuan muda." Jawab Rachel yang kembali cengengesan.
"Dan ingat, jangan ada satu angka pun yang salah! Karena satu angka saja salah, maka semuanya akan salah. Mengerti?"
"Baik tuan muda."
"Ok, kamu bisa kembali ke ruanganmu sekarang."
"Baik, saya permisi dulu." Rachel pun akhirnya mulai beranjak dan kembali menuju ruangannya.
Sembari berjalan menuju ruangannya, ia terus mengomel dalam hati, karena merasa kesal dengan sahabat kecilnya itu.
"Dasar sok bos, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu padaku, andai aku sedang tidak menyamar saat ini, aku pasti sudah menjitak kepalanya." Gumam Rachel dalam hati.
__ADS_1
Rachel pun kembali menduduki kursinya dengan sedikit kasar, bibirnya manyun, dan kembali melirik tajam ke arah Arsen yang saat itu terlihat sedang fokus pada laptopnya.
"Sikapnya sungguh berbeda dengan yang aku temui ketika di Paris dan di malam pesta. Saat itu sikapnya begitu manis dan lembut, sangat jauh berbeda dengan sekarang yang sok tegas dan sok cuek. Dasar menyebalkan!" Rachel pun terus mengomel pelan seorang diri.
Namun tak ingin terlalu lama membuang waktu dengan ngedumel, ia pun langsung mengerjakan tugas pertamanya, mengingat laporan itu harus selesai siang ini juga. Namun saat baru selesai setengahnya, ponsel Rachel tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan baru masuk. Rachel pun melirik ke arah ponselnya, melihat nama Ricie yang mengirimkan pesan padanya, wajahnya yang awalnya ketat sontak berubah menjadi sumringah. Rachel dengan semangat pun langsung meraih ponselnya untuk segera membaca pesan apa yang dikirim oleh sahabatnya itu.
"Hai Chel, what's up? Bagaimana misimu? Apa sudah berhasil?" Tanya Ricie di dalam pesannya.
Dan ya, tentu saja sebelumnya Rachel sempat curhat tentang Arsen dan misi-misi yang ingin ia lakukan pada Ricie, karena memang ia tidak bisa menutupi apapun dari sahabatnya itu.
"Misi awal berhasil, sekarang aku sudah resmi menjadi Sekretaris pribadinya, tinggal menjalankan misi selanjutnya! Dan kau, bagaimana kabarmu selama tidak ada aku?" Balas Rachel dengan cepat.
"Oh ya, lalu bagaimana? Apa sekarang kau sedang berada disamping pria tampan itu? Apa kau bisa memotretnya secara diam-diam dan mengirimkannya padaku? Dan ya, kabarku sedang tidak baik-baik saja, karena tidak ada kau di hari-hariku lagi, itu cukup membuatku kesepian disini." Balas Ricie.
Membaca balasan pesan dari Ricie sontak membuat Rachel ingin tertawa, namun mengingat ia sedang di kantor, ia pun berusaha menahan tawanya dan terus berbalas pesan pada sahabatnya itu. Hingga entah berapa menit sudah berlalu, Rachel pun tak sadar jika saat ini Arsen telah berada tepat disampingnya.
"Awww." Teriak Rachel yang begitu terkejut saat menyadari Arsen yang sudah berada tepat disampingnya.
Namun seperti tak bereaksi apapun, saat itu Arsen justru lebih fokus pada laporan yang sedang di kerjakan oleh Rachel di laptopnya hingga ia hanya diam saat Rachel berteriak.
"Masih ada kesalahan di bagian ini." Tunjuk Arsen pada layar laptopnya.
Saat itu Rachel masih terdiam terpaku memandangi Arsen yang kala itu begitu dekat dengannya.
"Di bagian ini, ini dan ini." Tunjuk Arsen lagi di beberapa titik.
Namun Rachel masih tak bergeming, matanya seolah tak bisa lepas saat menatap Arsen yang terlihat begitu serius.
"Ya tuhan, bagaimana seorang Arsen Lim bisa tumbuh besar jadi setampan ini? Dan astaga, saat sedang serius begini, kenapa membuatku jadi begitu nyaman menatapnya." Gumam Rachel yang terus menatap kagum ke arah Arsen.
Namun Arsen yang merasa ucapannya tidak mendapat respon dari Rachel, sontak langsung melirik ke arah Rachel, hal itu membuat mereka jadi saling bertatapan sejenak dengan jarak yang lumayan dekat. Membuat mata Rachel seketika membulat, ia pun tersadar dan seketika langsung memalingkan wajahnya ke arah laptop.
__ADS_1
...Bersambung......