
Entah kenapa, dengan hanya memeluk Rachel rasanya mampu membuat Arsen seketika merasa tenang dan damai. Perasaannya yang sejak semalam begitu berkecamuk kini seolah mereda saat ia berada dalam pelukan Rachel. Terasa sangat nyaman hingga membuat Arsen lupa berapa lama sudah ia memeluk erat tubuh Rachel.
Kini keduanya saling terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga tanpa mereka sangka, seseorang pun secara tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam ruangan Arsen.
"Arsen, ada yang...." Ucapan Alex pun seketika terhenti dan langsung berganti dengan mulutnya yang dengan spontan menganga begitu lebarnya saat melihat Arsen dan Rachel yang sedang berpelukan.
Menyadari Alex yang sudah berdiri di dekat mereka, sontak membuat Arsen pun seketika langsung terperanjat sembari melepaskan pelukannya.
"Uncle." Ucapnya yang jadi terlihat begitu kikuk.
"Oh, my, god. Aku benar-benar bingung sekarang, kenapa harus selalu aku yang memergoki adegan seperti ini?" Ucap Alex yang terlihat masih begitu tercengang.
"Uncle, dengar! in, ini emm,, ini tidak seperti yang uncle...."
"Ini benar-benar mengejutkan." Ucap Alex lagi yang langsung memotong penjelasan Arsen.
"Tidak uncle, berhenti berpikiran kotor, ini tidak seperti yang uncle pikirkan!" Jelas Arsen yang masih mencoba untuk memberi penjelasan pada pamannya itu.
"Kau tau Arsen, kurasa aku memang sudah di kutuk oleh tuhan untuk selalu memergoki CEO perusahaan ini beradegan mesra di dalam ruangan pribadinya." Ujar Alex.
"Ma, maksud uncle?" Tanya Arsen yang masih merasa kikuk di hadapan Alex dan Rachel yang saat itu masih terus terdiam dengan wajahnya yang mulai memerah karena malu.
Namun belum sempat Alex menjawab, ponsel Alex tiba-tiba saja berbunyi. Alex pun segera meraih ponsel itu dari saku jasnya, dan ia langsung tersenyum tipis saat mengetahui jika yang menelponnya adalah Benzie.
"Apa kau sudah melakukan yang ku suruh?" Tanya Benzie begitu Alex menyambut panggilannya.
"Ben, ada berita hot." Bisik Alex dengan semangat tanpa menjawab pertanyaan Benzie.
"Berita apa?" Tanya Benzie sembari mengernyitkan dahinya.
"Sudah, cepatlah datang ke ruangan Putramu sekarang. Aku tunggu!" Bisik Alex lagi yang langsung menyudahi panggilannya.
__ADS_1
Benzie sejenak terdiam memandangi ponselnya.
"Ada apa lagi?" Tanya nya dalam hati yang semakin penasaran.
Akhirnya tak ingin membuang waktu lama, Benzie pun mulai beranjak dari ruangannya menuju ruang kerja pribadi Arsen.
"Pa, papa." Ucap Arsen yang nampak semakin kikuk saat melihat sang ayah masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa Arsen Lim? Kenapa kau nampak gelagapan seperti itu?" Tanya Benzie sembari kembali mengernyitkan dahinya.
"Ti, tidak pa. Tidak ada apa-apa." Jawab Arsen sembari akhirnya ia mulai menampilkan senyuman demi meyakinkan papanya.
"Tidak ada apa-apa bagaimana? Jelas-jelas aku baru saja memergoki..." Ucap Alex.
"Uncle please stop!" Ucap Arsen sembari mendelikkan matanya ke arah Alex dengan maksud agar Alex diam.
"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Benzie yang dengan tenang mulai menatap Arsen, Rachel, dan Alex secara bergantian.
"Ben, setelah beberapa puluh tahun yang lalu aku pernah memergokimu tengah bercumbu mesra dengan Yuna di dalam ruangan pribadimu, kini hal itu kembali terjadi yang tak lain kemesraan itu dilakukan oleh anakmu sendiri." Jelas Alex tanpa memperdulikan peringatan dari Arsen.
"Emm." Jawab Alex sembari mengangguk penuh dengan keyakinan.
"Benarkah itu? Kau yakin melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?" Bisik Benzie yang juga nampak terkejut saat mengetahui hal itu.
"Sangat yakin." Bisik Alex menegaskan sembari mengangguk singkat.
"Bukankah ini yang kita harapkan?" Bisik Benzie sembari tersenyum.
"Hehehe iya, ternyata jauh lebih cepat dari perkiraan kita ya." Celetuk Alex sembari terus tertawa kecil.
Arsen yang kala itu berdiri tak jauh dari mereka pun mulai mengerutkan dahinya saat melihat papa dan pamannya berbicara dengan berbisik-bisik. Namun menyadari Arsen yang mulai terlihat curiga, Benzie pun kembali berdiri tegak dan memasang wajah datarnya menatap Arsen.
__ADS_1
"Memangnya apa yang sedang kalian lakukan saat Alex masuk kesini Arsen Lim?" Tanya Benzie lagi yang kini mulai menatap Arsen.
"Aku, emm aku." Arsen yang bingung pun mulai mengusap-usap tengkuknya.
"Kau tau, mereka sedang berpelukan dengan begitu erat saat aku masuk ke ruangan ini. Bahkan saking merasa nyamannya dengan pelukan hangat itu, mereka bahkan sempat tidak menyadari kehadiranku." Jelas Alex lagi dengan begitu semangat.
"Oh wow, jadi Arsen Lim sang CEO ternyata memiliki skandal dengan Bella sang Sekretaris? Begitu?"
"Emm" Jawab Alex mengompori sembari kembali mengangguk.
Saat itu, Arsen yang masih terdiam sontak merasa sangat kesal pada pamannya itu, karena mulutnya yang menurut Arsen sangat ember, pikirnya akan bisa berakibat fatal padanya mauapun Rachel.
"Uncle, benar-benar kelewatan!!" Ucap Arsen dalam hati sembari terus mengusap kasar wajahnya.
"Bukankah kau tau Arsen Lim, papa tidak pernah suka ada skandal di kantor ini! Apalagi antara CEO dengan sekretarisnya." Tegas Benzie kemudian yang bermaksud untuk mengetes anaknya.
Arsen masih terdiam, begitu pun dengan Rachel yang terus menundukkan kepala bersikap seolah sangat ketakutan.
"Jadi dengan terpaksa, Bella harus segera keluar dari kantor ini. Papa akan menyuruh Alex untuk mencari sekretaris baru untukmu yang lebih bisa profesional dalam pekerjaan." Tambah Benzie lagi.
Mendengar hal itu, Arsen yang sejak tadi terdiam pun sontak mulai bereaksi di tambah dengan matanya yang seketika jadi membulat sempurna.
"Tidak!" Jawab Arsen dengan tegas.
"Kenapa tidak? Apa kamu mulai ingin membantah papa hanya karena sekretaris mu?"
"Maaf pa, jika sedang berada di rumah, mungkin aku akan bersalah karena telah membantah keinginan papa. Tapi perlu papa ingat, saat ini kita sedang berada di kantor, dan sekarang di kantor ini, akulah CEOnya." Jawab Arsen dengan tegas.
Mendengar jawaban sang anak sontak membuat Benzie mendengus sembari tersenyum kecil.
"Dan maaf, aku tidak akan memecat Bella dan dia akan tetap jadi sekretarisku! Dan kejadian tadi, itu bukan salahnya melainkan salahku. Karena aku lah yang secara tiba-tiba memeluknya." Tambah Arsen lagi.
__ADS_1
Mendengar jawaban tegas dari Arsen, sontak membuat Benzie akhirnya terdiam seribu bahasa. Dalam hatinya ia merasa begitu puas dengan jawaban tegas putranya, saat itu Benzie merasa jika Arsen benar-benar menurun sikap tegas dirinya. Benzie seketika terbayang bagaimana dulu dia pun pernah di tes oleh sang nenek yang mencoba ingin menjodohkannya dengan Shea dan menyuruhnya untuk bercerai dengan Yuna. Dan saat itu Benzie pun melakukan hal yang sama dengan Arsen saat ini, dengan sangat lantang ia pun memberi penegasan pada sang nenek jika ia tidak mau menikah dengan Shea dan takkan menceraikan Yuna.
"Arsen Lim, kau sungguh mewarisi sikap tegas papamu ini, tenyata kau sangat gantle dan papa bangga padamu." Celetuk Benzie dalam hati.