Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 180


__ADS_3

"Aaagh." Rachel seketika meringis saat tangannya yang luka mulai tersentuh oleh ujung kapas yang sudah di basahi dengan air demi menghilangkan kotoran yang menempel di lukanya terlebih dulu.


Saat itu Arsen memilih bungkam, ia sama sekali tidak merespon dan terus saja diam. Rachel pun sesekali melirik ke arahnya, dengan perasaan yang begitu takut dan sangat merasa bersalah.


"Ku yakin saat ini dia pasti sangat marah, tapi meski begitu, dia bahkan masih bersedia mengobati lukaku. Oh ya ampun, istri macam apa aku ini." Guman Rachal lirih seolah sedang mengutuk dirinya sendiri.


"Ini salahku, benar-benar murni salahku." Ucap Rachel tiba-tiba dengan suara yang terdengar begitu pelan dan lirih.


Arsen sudah pasti mendengarnya, namun saat itu, ia tetap masih tak bergeming dan memilih fokus mengobati luka Rachel dengan wajahnya yang masih terlihat begitu ketat.


"Aku tau kamu pasti sangat marah, bahkan kamu memang pantas untuk marah padaku, tapi...." Tambah Rachel lagi.


Mendengar hal itu, Arsen yang sudah selesai menutupi luka Rachel dengan plester, sontak langsung meletakkan botol betadine ke atas meja dengan sangat keras. Hal itu pun seketika membuat Rachel langsung terdiam saking terkejutnya. Saat itu, Arsen mulai menatap Rachel dengan wajah dinginnya yang kembali membuat Rachel mulai takut.


Namun anehnya, Arsen masih saja diam, lalu tiba-tiba mulai bangkit dari duduknya dan beranjak pergi begitu saja. Melihat hal itu, tak mungkin Rachel hanya diam, ia pun sontak ikut beranjak dan bergegad menyusul langkah Arsen.


"Sayangg." Panggil Rachel lirih.


Arsen pun seketika menghentikan langkahnya, lalu mulai berbalik arah, ia menoleh ke arah Rachel, memandanginya dengan raut wajah yang semakin terlihat tak bersahabat.


"Masih pantaskah aku mendengar kata itu lagi?" Tanya Arsen sembari mendengus.


Rachel semakin tak tenang, matanya mulai berkaca-kaca, saat mendengar Arsen berkata begitu padanya.


"Lagi-lagi aku bersalah padamu, sebagai istri, kali ini aku memang pantas di kutuk. Tapi,, setidaknya dengarkan penjelasanku." Raut wajah Rachel semakin terlihat lirih, ia perlahan mendekati Arsen lagi dan mulai meraih tangannya.


"Kamu boleh melakukan apapun, apapun yang sekiranya bisa melampiaskan semua amarahmu, tapi setelah kamu mendengarkan penjelasan ku terlebih dulu. Ya?"


Arsen, saat itu benar-benar merasakan sakit hati serta kecewa, namun meski begitu, tetap saja membuatnya tidak sanggup untuk memaki atau pun mengumpat istrinya, padahal jelas-jelas istrinya sudah kedapatan bersama lelaki lain.

__ADS_1


Arsen pun menghela nafas berat, lalu mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan kembali menatap Rachel dengan tatapan semakin tajam.


"Penjelasan apalagi yang perlu aku dengar? Meski kamu memiliki alasan khusus, tetap saja judulnya kamu berbohong padaku lagi!!"


"Aku tidak bohong, hanya saja aku tidak terbuka padamu, aku tidak meminta izin lebih dulu padamu, itulah kesalahanku." Rachel ingin meraih sebelah lagi tangan Arsen.


Namun saat itu, justru Arsen yang lebih dulu mencengkram kedua lengannya dengan cukup kuat.


"Kamu bahkan sudah tau jika aku begitu benci saat kamu berinteraksi dengan Antony di luar urusan pekerjaan. Tapi kamu, dengan tidak berperasaannya malah pergi bersamanya tanpa sepengetahuanku!! Apa tindakan mu ini bisa di sebut selingkuh??!! Iya?! Apa kamu bermain api di belakangku?!" Pekik Arsen sembari semakin mencengkram kuat lengan Rachel serta menggoyang-goyangkannya.


Arsen mulai meninggikan suaranya, sorot matanya pun semakin menajam, seolah saat itu ada kobaran api kemarahan yang sedang menyala-nyala dari pancaran matanya.


Ini kedua kalinya Arsen terlihat benar-benar marah pada Rachel, namun berbeda halnya seperti sebelumnya, kali ini Arsen sepertinya


jauh lebih sakit hati dan kecewa.


"Tidak, demi tuhan aku tidak ada hubungan apapun dengannya selain berteman." Jelas Rachel yang terus menangis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Arsen pun seketika melepas kasar cengkraman tangannya pada lengan Rachel,.


"Cukup! Aku tidak yakin bisa mempercayaimu seperti dulu, karena setiap kata yang keluar dari mulutmu saat ini, tidak ada yang aku percaya!" Tegas Arsen yang kemudian langsung beranjak pergi.


"Sayang, tolong dengarkan aku, aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Teriak Rachel yang mencoba mencegah kepergian Arsen.


Namun tetap saja, Arsen sama sekali tidak menghiraukan Rachel lagi, ia terus saja melangkah menuju kamar, mengambil bantal dan selimut, lalu kembali keluar.


"Sayangg, kamu mau tidur dimana? Tidak sayang, ku mohon jangan lakukan itu!" Rachel kembali menghampiri Arsen, memegang tangannya dengan begitu memelas.


"Disaat malam hari, kamu tidur denganku, tapi pergi bersama lelaki lain saat sore hari. Lalu, apalagi yang bisa ku ucapkan mengenai hal ini??!" Ucap Arsen lirih yang kemudian menepis kasar tangan Rachel dan berlalu menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Arsen menutup kasar pintu ruang kerjanya, lalu menguncinya seolah tak membiarkan Rachel untuk masuk menyusulnya. Dan benar saja, Rachel bergegas menyusulnya, berkali-kali mencoba menekan handle pintunya namun tetap tak bisa membuat pintu itu terbuka.


"Arsen Lim, aku mohon dengarkan aku, tolong maafkan aku, tolong, kita jangan bertengkar lagi." Tangisan Rachel semakin pecah sembari terus saja mengetuk-ngetuk pintunya.


Arsen tertegun di balik pintu dengan perasaannya yang saat itu begitu campur aduk. Dia mulai mengepalkan kuat tangannya, saat kembali membayangkan bagaimana Antony yang terlihat begitu berusaha ingin mencium Rachel.


"Bajingan itu, berani-beraninya dia mengganggu apa yang sudah menjadi milikku!!" Ketus Arsen dalam hati.


"Sayang, tolong buka pintunya, biarkan aku masuk." Teriak Rachel masih saja terdengar dari balik pintu, meski kedengarannya suaranya mulai sedikit melemah.


Arsen pun menghela nafas kasar, ingin sekali rasanya ia membuka pintu untuk mendengar penjelasan dari Rachel. Namun, lagi-lagi emosinya seolah menghalangi hal itu, bahkan saking sakit hatinya, membuat seolah tidak sanggup lagi melihat wajah Rachel.


"Kenapa, kita bahkan baru memulainya, bahkan baru saja merasakan cinta yang begitu menggebu, tapi kenapa kamu merusaknya dengan hal ini? Jika sudah begini, akankah aku bisa kembali percaya padamu?!" Gumam Arsen lirih dalam hati.


Arsen pun melanjutkan langkahnya dengan lesu menuju sebuah sofa panjang yang ada di ruangan kerjanya. Meletakkan bantal serta selimutnya di sana dan mulai berbaring. Sesekali matanya melirik ke arah pintu, bisa dengan jelas ia liat dari bawah sela pintu, jika Rachel masih berada di balik pintu itu.


Ada secercah perasaan tidak tega yang ia rasakan, namun itu tidak juga membuatnya berubah pikiran.


"Kenapa kita harus begini Rachel, tidak kah kamu sadar jika aku sangat kecewa dengan semua ini?!"


*Tok tok tok*


Suara ketukan pintu untuk kesekian kalinya, yang semakin lama terdengar semakin pelan dan melemah.


"Arsen, aku yakin kamu mendengarku, tolong buka pintunya." Pinta Rachel semakin lirih,


Kini ia mulai duduk tersandar lesu di depan pintu dengan sorot matanya yang kosong diiringi pula dengan air mata yang masih saja terus mengalir seolah tanpa henti. Ia terus mengetuk pintu itu, meski semakin lama suara ketuka itu sudah nyaris tak terdengar lagi.


...Bersambung...,...

__ADS_1


__ADS_2