
Rachel, saat itu ia terus menangis ketika Arsen benar-benar menurunkannya di tepi jalan. Benar-benar menyakitkan rasanya saat seseorang yang dulunya begitu mencintainya dan memperlakukannya selayaknya seorang ratu, kini jadi bersikap seolah tak lagi peduli sedikit pun. Meskipun Rachel lah yang meminta Arsen untuk menghentikan mobil dan menurunkannya di tepi jalan, namun tetap saja rasanya sangat lah menyakitkan saat Arsen tak lagi berusaha mencegah untuk hal itu terjadi.
Tapi di sisi lain, Rachel juga merasa bahwa dirinya sudah tak lagi pantas bersanding dengan Arsen yang sudah terlalu baik padanya. Bagaimana tidak, semenjak Arsen rela berbohong di hadapan seluruh wartawan demi membela dan menjaga nama baiknya, saat itu pula lah Rachel semakin merasa bersalah.
"Tidak, aku tidak boleh terus menangisi semuanya, tidak boleh!! sangat egois rasanya jika aku terus bersikeras untuk mempertahankan Arsen yang memang tidak pantas untuk orang sepertiku." Gumam Rachel dalam hati sembari mulai menyeka air matanya.
Rachel pun bergegas meraih ponselnya yang ada di dalam tas, lalu memutuskan untuk menelpon mamanya.
"Iya sayang." Jawab Shea.
Rachel masih terdiam sejenak, sembari terus menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Shea.
"Rachel, apa kamu menangis?" Tanya Shea yang memang sudah sangat paham dengan tingkah polah anak semata wayangnya.
"Rachel!!" Panggil Shea lagi karena Rachel tak kunjung bersuara.
"Iya mom." Jawab Rachel akhirnya.
"Kamu menangis? Ada apa??" Tanya Shea yang mulai cemas.
"Mom, apa mommy belum mendengar kabar hari ini? Atau ada membaca berita online?" Tanya Rachel memastikan.
"Kabar apa? Mommy belum tau kabar apapun karena sejak tadi mommy begitu sibuk mengepak banyak barang."
"Oh, begitu." Jawab Rachel yang terdengar semakin pelan.
"Rachel, ada apa? Katakan pada mommy, ada apa??" Tanya Shea lagi yang semakin cemas.
"Mommy, bolehkah aku ikut pulang ke Paris bersama kalian?" Kini suara Rachel terdengar semakin serak dan seolah sedang berusaha menahan tangisnya.
"Hah, benarkah itu? Jadi kamu dan Arsen ingin ikut ke Paris bersama kami? Apa kamu ingin Arsen agar lebih mengenal kota Paris? Atau kalian sekalian ingin pergi bulan madu sayang?"
Shea nampaknya belum tau persis apa yang di alami oleh Rachel sebenarnya hingga ia berfikir jika Rachel ingin ikut ke Paris bersama dengan Arsen.
"Tidak mommy, Ar,, Arsen tidak akan ikut, hanya aku sendiri." Jawab Rachel dengan suara yang semakin pelan.
Mendengar hal itu, membuat Shea tiba-tiba menjadi terdiam sejenak sembari diiringi pula dengan perasaannya yang mulai merasa tak enak.
"Rachel, sebaiknya kamu katakan pada mommy ada apa? Apa yang terjadi? Apa kamu dan Arsen bertengkar lagi?" Kini Shea pun jadi semakin cemas dan tak karuan.
Namun, belum sempat Rachel menjawabnya, tiba-tiba saja Martin terlihat kembali dan menghampiri Shea dengan tergesa-gesa dan membawa raut wajahnya yang begitu masam.
"Sayang."
"Ssssttt, aku sedang berbicara dengan Rachel, sepertinya dia ada masalah." Bisik Shea pada suaminya.
__ADS_1
"Ya, aku tau apa yang menjadi masalahnya." Ucap Martin yang kemudian menunjukkan ponselnya ke hadapan Shea.
Saat itu layar ponselnya sedang menampilkan berita Rachel dan Antony, membuat mata Shea sontak menjadi membulat sempurna saat memandangi foto putrinya yang terpampang jelas.
"Ja,, jadi inikah masalahnya?" Tanya Shea pelan yang masih merasa seolah tak menyangka.
Martin pun hanya mengangguk pelan dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Rachel, sepertinya sekarang mommy tau permasalahan apa yang sedang terjadi antara kamu dan Arsen Lim." Ucap Shea kemudian.
"Jadi mommy sudah tau? Apa mommy pun sudah membaca beritanya? Atau daddy yang memberitahukannya kepada mommy?" Rachel pun hanya bisa tersenyum lirih dan kembali menjatuhkan air matanya.
"Itu tidak lah penting, yang ingin mommy tanyakan, apakah itu benar? Maksud mommy, apa itu benar-benar kamu yang ada di foto itu? Atau hanya editan? Karena seperti yang kita tahu, jaman sekarang sudah sangat canggih dan ada banyak manusia-manusia yang iri."
"Itu benar aku mommy." Jawab Rachel jujur.
Hal itu pun membuat Shea semakin syok bukan kepalang.
"Ja,,, jadi kamu..."
"Tapi aku tidak selingkuh mommy, berita itu tidak benar! Aku hanya mencintai Arsen dan ku yakin mommy tau bagaimana aku."
Shea pun akhirnya terdiam sejenak,
"Lalu, bagaimana foto seperti itu bisa terjadi?"
Setelah mendengar penjelasan anaknya, Martin pun ingin kembali melihat berita itu, ia ingin melihat bagaimana foto itu di ambil, namun nyatanya, dalam hitungan beberapa menit saja setelah ia menunjukkan berita itu pada Shea, berita itu tiba-tiba hilang dan tidak bisa di temukan lagi.
Hal itu membuat Martin jadi sedikit kebingungan karena tidak bisa membuka berita itu lagi.
"Kenapa tiba-tiba hilang?" Gumam Martin seorang diri sembari terus mengotak atik ponselnya.
"Ada apa?" Bisik Shea.
"Berita Rachel yang barusan ku tunjukkan padamu, tiba-tiba saja beritanya hilang tak berbekas. Bahkan tidak ada lagi di situs manapun." Jawab Martin.
"Benarkah? Apa mungkin ada yang sengaja untuk menyingkirkan berita itu? Apa mungkin perbuatan Arsen?" Tanya Shea.
"Ya, bisa jadi. Aku akan mencari tau."
Shea pun hanya mengangguk.
"Ada apa mommy." Tanya Rachel yang sejak tadi mendengar Shea yang terus berbisik-bisik dengan Martin.
"Kata daddy, beritamu bersama Antony tiba-tiba sudah hilang."
__ADS_1
"Hilang?"
"Iya, tidak dapat di temukan lagi bahkan di segala situs online."
"Apa mommy yakin?"
"Tentu saja, baguslah, setidaknya mommy bisa lega sekarang." Jawab Shea.
Martin memilih menelpon Benzie untuk menanyakan hal itu, namun tidak di angkat, akhirnya ia pun memutuskan untuk menelpon Alex. Dan benar saja, Alex lah yang telah mengatur semuanya agar berita itu hilang atas perintah dari Arsen Lim. Martin pun menyudahi panggilannya dan kembali memberitahukan hal itu pada Shea.
"Eeemm sesuai dugaan, memang Arsen yang telah memerintahkan agar berita miring tentang anak kita lenyap."
"Benarkah??! Aaaa syukur lah, ternyata dia masih peduli pada Rachel."
"Mommy." Panggil Rachel lagi.
"Iya sayang."
"Jadi Arsen yang melakukannya?"
"Iya sayang."
Rachel kembali terdiam, perasaan bersalah lagi-lagi terasa semakin tumbuh besar dan menguasai jiwanya.
"Mommy, jadi bagaimana? Apa boleh aku ikut bersama kalian?" Tanya Rachel lagi yang kembali menangis.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah ingin pergi meninggalkan Arsen?" Tanya Shea yang juga jadi ingin menangis.
"Karena aku semakin merasa jika aku sudah sangat tidak pantas untuk Arsen mommy. Dia terlalu baik padaku, sedangkan aku selalu saja membohonginya dan selalu melakukan hal-hal yang tidak ia sukai." Jelas Rachel kemudian.
"Apa kamu yakin dengan keputusan ini?" Tanya Shea lagi.
"Kurasa aku yakin mommy, kurasa ini yang terbaik, kurasa Arsen lebih berhak mendapat yang lebih baik dari pada aku, aku sudah merasa gagal mommy, aku sudah gagal menjadi istri yang baik untuk Arsen." Kini Rachel pun akhirnya tidak bisa lagi menahan segala tangisannya.
Shea pun terdiam dan mulai menatap Martin untuk menanyakan pendapatnya yang saat itu juga mendengarkan ucapan Rachel karena Shea dengan sengaja mengaktifkan loudspeaker pada panggilan Rachel agar Martin juga bisa mendengar.
Martin pun akhirnya mengangguk pelan, tanda setuju, hingga akhirnya Shea pun menyetujui keinginan putrinya.
"Baiklah sayang, kamu boleh ikut bersama kami, mommy rasa kamu memang perlu menenangkan diri."
"Baiklah mommy, terima kasih."
"Iya sayang, mommy dan daddy akan mengatur semuanya, kamu bisa segera berkemas ya."
"Iya mommy."
__ADS_1
Panggilan telepon pun berakhir, Rachel pun melanjutkan langkahnya dan memilih menyetop taksi untuk membawanya pulang ke apartement tempat tinggalnya dan juga Arsen.
...Bersambung......