
Mata Rachel tiba-tiba saja mulai berkaca-kaca saat memandangi foto dirinya dan juga Antony yang terlihat sedang di sebuah restaurant, di foto itu memang terlihat jelas bagaimana Rachel yang berusaha memegangi punggung Antony dari belakang agar ia yang saat itu tengah mabuk tidak ambruk.
"Ti,, tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin seperti ini, ini tidak benar!" Gumam Rachel dengan suara pelan sembari mulai meneteskan air matanya.
Saat itu Arsen masih terdiam, lalu mulai mendengus saat mendengar Rachel terus bergumam lirih.
Rachel pun segera menoleh lirih ke arah Arsen yang kala itu masih memasang wajah begitu ketat, perlahan ia pun mulai menghampiri Arsen dan ingin menyentuh tangannya.
Namun Arsen justru segera bangkit dari duduknya seolah menghindari sentuhan Rachel.
"Demi tuhan, ini tidak seperti apa yang terlihat di foto," Ucap Rachel yang semakin ingin menangis.
"Aku sama sekali tidak tau entah harus bagaimana aku bersikap padamu saat ini." Jawab Arsen datar tanpa menoleh ke arah Rachel sedikit pun.
"Tolong sayang, aku mohon dengarkan aku, jadi saat itu asisten Antony datang menemuiku, dia memohon agar aku mau ikut bersamanya untuk merayakan ulang tahun Antony secara sederhana, karena selama hidupnya Antony selalu merayakan ulang tahunnya seorang diri. Sejak itu, karena mengandalkan hati nurani, maka aku memutuskan untuk ikut dan mengucapkan ulang tahun pada Antony sebagai teman sayang. Hanya itu yang saat itu ada dalam pikiranku." Jelas Rachel yang mulai memegang lengan Arsen.
Namun Arsen hanya diam tak bergeming.
"Dan setelahnya, dia mengharapkan sebuah hadiah, namun ia meminta hadiah tidak berupa barang, melainkan dia meminta sedikit waktuku agar mau menemaninya ke makam adik kesayangannya yang telah meninggal, karena sebelumnya aku sudah terlanjur berjanji akan memberikan hadiah, maka dengan terpaksa aku menyetujui untuk pergi sebentar dengannya." Tambah Rachel lagi.
"Dan demi bajingan itu kau sampai rela berbohong padaku?!" Bentak Arsen yang langsung menatap Rachel dengan tatapan sangat tajam.
Rachel pun terkejut, lalu mulai membalas tatapan Arsen dengan raut wajah takut bercampur sedih.
"Tidak hanya itu, kau bahkan tidak meminta izin pada suamimu saat ingin pergi, terlebih lagi kau pergi bersama lelaki lain, yang kau tau lelaki itu begitu menggilaimu. Dimana pikiranmu Rachel Chou??!" Ketus Arsen lagi.
Rachel pun semakin menangis tersedu-sedu karena menyesali segala kesalahannya yang kali ini begitu fatal.
"Aku sungguh minta maaf sayang, demi apapun aku tidak ada maksud lain selain berteman dengannya, apalagi selingkuh, aku sama sekali tidak pernah memikirkan untuk selingkuh."
"Permintaan maaf juga tidak akan mampu mengulang waktu, saat ini ku yakin hampir seluruh penduduk di kota ini telah membaca beritamu."
"Maafkan aku, demi tuhan aku minta maaf, aku memang bersalah, lagi-lagi aku bersalah padamu, tapi semua yang aku ucapkan adalah faktanya." Rachel pun kembali memohon dan kembali meraih tangan Arsen.
Namun Arsen menepisnya, dengan sorot mata yang juga mulai berkaca-kaca, Arsen kembali menatap Rachel.
"Aku sungguh kecewa padamu, kamu merusak semuanya, semuanya!" Ungkap Arsen yang kemudian langsung keluar dari ruangannya begitu saja dan meninggalkan Rachel yang kala itu masih terus menangis.
Kini, ada banyak warga kota yang awalnya begitu mengagumi Arsen, terutama para wanita yang sebelumnya telah di buat patah hati secara serentak atas pernikahan Arsen dan Rachel, kini mereka pun berbondong-bondong dan terlihat kompak membully Rachel yang mereka anggap telah mengkhianati Arsen.
__ADS_1
"Ternyata kekayaan tidak mampu merubah sikap murahan mu Rachel Chou. Dasar murahan!"
"Hei Rachel Chou, kembalikan Arsen Lim pada kami karena murahan seperti mu sama sekali tidak pantas."
"Arsen kurang apa? Kenapa bisa-bisanya kau selingkuh?"
Begitu lah sebagian komentar yang memenuhi halaman berita online mau pun di media sosial milik Rachel yang benar-benar penuh dengan hujatan.
"Kenapa bisa begini? Kenapa bisa? Siapa yang melakukan ini?" Geram Rachel yang masih saja terus menangis sembari kembali memandangi fotonya yang masih terpampang nyata di laman depan berita online.
Rachel semakin menangis saat membaca beberapa komentar pedas tentang dirinya, ucapan para netizen benar-benar begitu tajam menusuk ke hatinya.
Sementara Arsen, saat itu ia pergi untuk menemui kembali Alex di ruangannya, dia yang sudah begitu merasa emosi itu pun langsung masuk begitu saja hingga membuat Alex sedikit terkejut.
"Astaga Arsen, kamu membuat uncle terkejut." Celetuk Alex sembari mengusap-usap dadanya.
"Sekarang juga aku minta tolong hapus seluruh berita sampah itu di media online. Aku tidak perduli bagaimana pun caranya, dalam waktu satu jam, semua berita itu harus sudah musnah!!" Tegas Arsen tanpa ingin berbasa basi lagi.
Alex pun terdiam sejenak sembari terus memandangi wajah Arsen yang kala itu memang terlihat begitu mengerikan karena kemarahannya.
"Baiklah tuan muda, tenang saja, aku akan mengurus masalah ini." Jawab Alex sembari mengangguk singkat.
Alex pun hanya mengangguk patuh.
Tanpa basa basi, Arsen akhirnya langsung beranjak ingin keluar dari ruangan Alex, namun baru saja tangannya ingin menyentuh handle pintu, seseorang dari luar ruangan pun menggerakkan handle pintu itu dan langsung masuk ke ruangan Alex begitu saja.
Mata Arsen sedikit mendelik, saat mendapati Benzie yang ternyata sudah ada di hadapannya. Saat itu Benzie terlihat sedang memegang ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto pada Alex dan Arsen saat itu juga.
"Apa maksud dari berita ini? Apa berita ini benar?!" Tanya Benzie dengan wajahnya yang juga terlihat sedang sangat marah,
Arsen pun terdiam sejenak sembari melirik singkat ke arah Alex yang saat itu benar-benar terlihat sedikit gelagapan.
"Aku yakin papa mengenal Rachel, dia tidak mungkin begitu, berita itu hoax." Ucap Arsen yang kemudian langsung pergi begitu saja,
Entah kenapa, meskipun ia saat itu sangat marah dan begitu kecewa pada Rachel, namun dalam hatinya, tetap tidak rela jika orang-orang membenci istrinya. Entah kenapa meski dalam pengaruh emosi yang begitu memuncak, namun hebatnya Arsen masih bisa membela Rachel di depan Benzie.
Kini jiwa dan pikiran Arsen benar-benar kalut, membuatnya tak berminat ingin kembali ke ruangannya. Ia pun memilih untuk keluar kantor, ia berpikir jika Antony lah dalang dari semua ini, membuat Arsen semakin kalap dan memutuskan untuk pergi mencari Antony dan memberinya pelajaran. Kebetulan saat itu Rachel juga baru saja keluar dari ruangan Arsen dan melihat Arsen yang mulai melangkah menuju lift.
"Apa dia mau pergi?" Tanya Rachel yang nampak cemas,
__ADS_1
Rachel pun bergegas menyusul langkah Arsen, lalu dengan cepat menarik kembali sebelah tangannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rachel lirih.
"Apa kamu perlu tau kemana aku akan pergi? Disaat kamu pun tidak memberitahuku kemana kamu pergi bersama lelaki bajingan itu!" Jawab Arsen yang langsung kembali melangkah pergi begitu saja.
Seolah tak tinggal diam dan pantang menyerah, Rachel pun kembali mengejar langkah Arsen.
Namun apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan, di depan loby utama kantor utama Blue Light Group, sudah berdiri banyak wartawan dari berbagai media yang menantikan kemunculan Arsen maupun Rachel.
Arsen terdiam sejenak dengan matanya yang semakin menajam, begitu pula dengan Rachel yang ada di belakangnya, juga ikut shock dan terkejut saat mendapati ada begitu banyak wartawan yang menunggunya.
"Wah itu tuan muda Arsen dan Rachel, akhirnya mereka keluar." Celetuk salah seorang wartawan yang menatap keduanya seolah vampir yang melihat darah.
Wartawan yang awalnya di hadang oleh beberapa security kantor, melihat kemunculan Arsen dan Rachel membuat mereka jadi semakin tak terkendali dan memaksa menerobos masuk untuk meliput Arsen dan Rachel yang kala itu sedang menjadi trending topik.
Dengan hitungan detik, kini Arsen dan Rachel pun telah di kelilingi oleh banyak wartawan yang siap mempertanyakan berbagai pertanyaan yang ada di benak mereka.
"Tuan muda, apa benar jika istri anda telah selingkuh dengan rekan bisnis anda sendiri yaitu tuan muda Antony Yue?"
"Tuan muda, lalu bagaimana tanggapan anda setelah mengetahui hal ini? Apa anda masih ingin tetap memaafkan dan melanjutkan pernikahan yang baru seumur jagung ini? Apa memutuskan untuk berpisah?"
"Tuan muda, bagaimana perasaan anda saat pertama kali melihat berita tentang perselingkuhan istri anda?"
Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan kepada Arsen meskipun saat itu ia belum mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Begitu pula dengan Rachel yang kala itu berada tak jauh dari Arsen, ia yang paling banyak dikerumuni oleh para wartawan karena wajahnya lah yang terpampang nyata di laman depan.
"Rachel, kenapa kamu sanggup berselingkuh dengan rekan bisnis suamimu sendiri?"
"Rachel, apa kurangnya tuan muda Arsen Lim bagimu? Kenapa kamu memutuskan untuk berselingkuh?"
"Rachel, sejauh apa hubunganmu dengan tuan muda Antony?"
Rachel pun semakin panik dan takut saat wartawan terus memangsanya dengan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan yang begitu menyudutkannya.
"Ti,, tidak, aku tidak begitu, tidakk." Ucap Rachel sembari kedua tangannya mulai menutupi wajah serta telinganya.
Arsen yang melihat hal itu pun, langsung menghela nafas dan menerobos para wartawan untuk menghampiri Rachel.
__ADS_1
...Bersambung......