
Sarapan pagi itu di akhiri dengan kandasnya nasi goreng yang ada di piring Arsen. Seolah tak ingin membuang lebih banyak waktu, Arsen langsung bangkit dari duduknya saat baru meminum sedikit teh miliknya,
"Kamu sudah mau pergi sekarang?"
"Iya." Jawabnya singkat,
"Kalau begitu tunggu aku, aku akan pergi bersamamu." Rachel pun bergegas ikut bangkit.
"Mau kemana?" Dahi Arsen pun mulai mengernyit.
"Apa kamu tidak lihat aku sudah berpakaian rapi begini? Ya tentu saja ingin berangkat ke kantor." Jawab Rachel dengan tenang.
"Bukankah sudah ku katakan kemarin?!"
"Arsen Lim! apa amarah mulai membuatmu jadi tidak bisa bersikap profesional sekarang?! Ini jelas masalah pribadi kita, kenapa malah membawa masalah itu ke ranah bisnis?" Rachel mulai menatap tajam ke arah Arsen.
"Siapa yang tidak profesional ha?! Sudah jelas-jelas kamu yang berbuat curang, masuk ke Blue Light karena adanya orang dalam yang cukup berpengaruh. Apa itu namanya?!" Arsen pun ikut membalas tatapan Rachel dengan tatapan yang tak kalah tajam sembari mengecakkan pinggangnya.
"Tapi aku sudah membuktikan bagaimana kinerjaku saat menjadi Sekretarismu,"
"Tetap saja, masuk dengan cara tidak murni bukanlah hal yang bisa di abaikan begitu saja. Intinya aku tetap pada keputusanku!" Tegas Arsen.
"Ya sudah, aku juga tetap pada keputusanku, aku akan tetap bekerja menjadi Sekretarismu."
"Apa kamu sungguh lupa siapa CEO Blue Light Group saat ini? Bahkan meski kamu berlindung di balik kekuasaan papaku, itu tetap tidak cukup kuat untuk mengalahkan apapun yang jadi keputusanku. Mengerti?!"
"Pokoknya aku tetap mau ikut denganmu, biar bagaimana pun juga, aku adalah istri sah dari CEO itu saat ini." Jawab Rachel yang terus mengikuti langkah Arsen dengan senyumannya yang terus ia pancarkan.
"Tidak boleh!" Tegas Arsen.
"Ikut!" Rachel tanpa ragu langusng melingkarkan kedua tangannya ke lengan Arsen.
Membuat Arsen tak bisa berkutik dalam beberapa saat, kali ini ia benar-benar di buat jadi begitu kwalahan dalam menghadapi sikap keras kepala Rachel.
*Tingtong*
Namun tiba-tiba suara bel kembali terdengar.
"Siapa lagi yang datang kali ini?" Celetuk Rachel sembari melirik ke arah pintu.
Rachel dengan langkah lesu pun langsung menuju pintu dan langsung membukanya. Matanya kembali dibuat mendelik saat mendapati Yuna yang sudah berdiri di hadapannya. Kala itu di tangan Yuna sudah membawa banyak bahan makanan yang memang sengaja ia bawakan agar anak dan menantunya tidak kehabisan stok makanan.
"Bibi,,, eh eemm maksudku mama."
"Selamat pagi sayang, apa kedatangan mama pagi ini mengganggu kalian?"
"Oh tidak ma, sama sekali tidak." Rachel pun tersenyuk kiku.
"Astaga mama membawa apa itu banyak sekali? Haiyo kenapa harus repot-repot ma."Rachel pun bergegas meraihnya dari tangan Yuna.
"Hanya membawakan kalian sedikit bahan-bahan makanan."
__ADS_1
"Ya ampun, mama baik sekali, ah ayo ma masuk lah."
Arsen yang mendengar hal itu pun sontak ikut melangkah menuju pintu.
"Mama." Ucapnya pelan.
Yuna sedikit terkhayal memandangi penampilan Arsen dan Rachel yang sudah nampak begitu rapi.
"Kalian berdua nampak sangat rapi sekali, apa kalian mau pergi?" Tanya Yuna yang tak tau menau.
"Ah iya ma, ka,, kami mau ke kantor."
"Hah?! Kalian sudah mulai masuk kantor? Kenapa cepat sekali? Dan,, kenapa mama tidak tau hal ini?"
"Ahh, duduk lah dulu maa," Rachel pun bergegas menarik tangan Yuna untuk membawanya duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamunya.
"Iya." Yuna pun tersenyum lalu mulai melangkah masuk.
"Emm baiklah kalau begitu, aku harus pergi sekarang." Arsen pun tersenyum singkat dan langsung beranjak pergi.
"Ta,, tapi Arsen ak, aku..." Ucap Rachel yang mencoba menahan kepergian Arsen.
"Kenapa? Apa kamu mau jadi menantu durhaka yang meninggalkan mama disini sendiri?" Tanya Arsen yang seolah merasa puas karena berhasil membuat Rachel jadi tak bisa berkutik sama sekali.
Rachel pun terdiam, dengan bibirnya yang mengerucut membiarkan Arsen yang langsung pergi begitu saja.
"Apa kalian masih belum juga baikan?" Tanya Yuna yang mulai nampak curiga karena melihat sikap Arsen.
"Belum?!"
Kali ini Rachel hanya mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan lingerie yang mama berikan? Apa kamu tidak memakainya?"
"Aku memakainya ma, sudah dua malam aku memakainya tapi itu sama sekali tidak membuahkan hasil."
"Bagaimana bisa? Apa Arsen sama sekali tidak ada menunjukkan ketertarikannya saat melihatmu menggunakannya?"
"Ketertarikan yang bagaimana ma, yang ada justru dia malah selalu terlihat tegan dengan wajahnya yang memerah, dan bahkan dia lebih terkesan menghindariku." Keluh Rachel dengan tatapannya yang kosong.
"Ha, benarkah?" Tiba-tiba saja Yuna terlihat sumringah.
"Tentu saja ma, tapi kenapa wajah mama mendadak jadi begitu sumringah?"
"Itu menandakan jika Arsen bereaksi, wajahnya merah dan terlihat begitu tegang mungkin karena ia sedang berusaha menahan sesuatu yang sedang bergejolak." Jelas Yuna sembari tersenyum,
"Apa mama yakin?"
"Haisssh, tentu saja yakin, apa kamu masih meragukan pengalaman mama yang sudah berumah tangga selama puluhan tahun,"
"Emm jadi aku harus bagaimana ma? Sampai saat ini dia masih saja bersikap dingin padaku."
__ADS_1
"Kamu harus mencobanya terus sayang, jangan mudah menyerah ya. Dan ya, satu lagi saran mama yang juga tak kalah penting."
"Apa itu ma?" Tanya Rachel dengan dahinya yang mulai mengkerut.
"Terkadang membuatnya cemburu juga bisa membantu mempercepat fase kemarahannya, dan dengan itu pula kita tau seberapa besar Arsen mencintaimu dan seberapa takut ia kehilanganmu."
"Membuatnya cemburu?"
"Emmm." Yuna pun tersenyum dan mengangguk.
"Ta,, tapii ma."
"Sudah lah sayang, mama yakin kamu pasti mengerti apa yang mama maksud dalam hal ini."
"Baik ma, terima kasih sekali lagi."
"Ah baiklah kalau begitu, mama mau pergi ke Mall, ada sesuatu yang harus mama beli, apa kamu mau sekalian ikut bersama mama?"
"Tapi aku harus ke kantor ma,,"
"Oh ya sudah, kalau begitu mama antar saja, kebetulan searah."
Rachel pun akhirnya hanya bisa patuh.
"Baiklah ma, tunggu sebentar ya."
Rachel kembali bangkit dari duduknya, lalu mulai beranjak menuju kamar untuk mengambil tasnya.
"Membuatnya cemburu terkadang diperlukan untuk mempercepat fase marahnya?" Gumam Rachel lagi dalam hati yang seolah kembali bertanya.
Akhirnya Rachel teringat akan barang-barang yang diberikan oleh Antony padanya. Lalu ia pun bergegas pergi ke dapur, meraih jam tangan untuk kemudian ia pakai. Lalu meraih tas dan memasukkan kalung berlian itu ke dalam tasnya.
Keputusan Rachel sudah bulat, ia akan ke kantor dengan menggunakan tas dan jam tangan dari Antony.
"Ma, aku sudah siap! Kita pergi sekarang?"
Yuna pun tersenyum dan langsung bangkit dari duduknya. Namun tak sengaja matanya melirik ke arah jam tangan Rachel yang berubah, tidak seperti jam tangan yang sebelumnya ia selalu pakai.
"Apa kamu baru saja membeli jam itu sayang? Itu nampak bagus di tanganmu."
"Oh ini hehehe, eem sebenarnya..."
"Kenapa sayang?" Dahi Yuna pun mulai mengernyit.
"Ini adalah hadiah pernikahan dari Antony ma, namun kemarin aku mendapati ini ada di tempat sampah, sepertinya Arsen sengaja membuangnya saat itu tau siapa pengirimnya." Jelas Rachel secara singkat.
"Dan kebetulan aku teringat dengan ucapan mama tentang membuatnya cemburu, jadi ku putuskan untuk memakainya, aku ingin melihat reaksinya." Tambah Rachel lagi.
"Aaaaa bagus sayang, ini lah yang mama harapkan darimu, mama tau kamu gadis pintar. Semangat ya sayang, mama yakin secepatnya Arsen akan berbalik mengejar-ngejarmu lagi." Yuna semakin terlihat sumringah dan merangkul hangat tubuh Rachel.
Tak lama mereka pun pergi meninggalkan kawasan apartement elit untuk menuju ke kantor utama Blue Light Group.
__ADS_1
...Bersambung..:...