
Rachel pun turun ke bawah dengan langkahnya yang sedikit lesu karena memikirkan Arsen, ia terus berjalan menuju kantin yang memang tersedia khusus diperuntukkan bagi seluruh pegawai kantor utama.
"Hai nona Bella." Sapa beberapa staff yang berpapasan dengannya.
"Oh hai." Rachel pun tersenyum dan terus melanjutkan langkahnya.
"Hai nona Bella." Sapa beberapa pegawai yang lagi-lagi berpapasan dengannya.
"Hai." Rachel pun kembali tersenyum meski dalam hati ia merasa sedikit aneh.
"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa mendadak jadi begitu ramah padaku?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Tak ingin terlalu ambil pusing, ia pun melanjutkan perjalanannya hingga tibalah ia di kantin, setelah memandangi berbagai menu yang ada, ia pun langsung menjatuhkan pilihannya pada makanan yang begitu sangat ia rindukan yaitu mie goreng pangsit dan jus melon sebagai minumannya.
"Mohon tunggu disini untuk minumannya." Ucap penjual di kantin.
Rachel pun mengangguk sembari tersenyum, dan terus berdiri untuk menunggu minumannya. Namun tanpa sengaja ia mendengar obrolan tiga orang staff wanita di salah satu meja yang sedang asik bercerita tentangnya dan Arsen.
"Apa itu benar?" Tanya seorang wanita dengan wajah serius.
"Tentu saja, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika sekretaris baru itu memeluk tuan muda Arsen dengan begitu eratnya sampai pintu lift itu terbuka."
"Wahh, benar-benar di luar dugaan ya. Bukankah pacar tuan muda sangat lah cantik? Lalu kenapa dia malah memilih berselingkuh dengan sekretaris yang baru beberapa hari bekerja dengannya?"
"Namanya juga lelaki jaman sekarang, tidak pernah puas dengan satu wanita. Apalagi melihat tuan muda Arsen yang tampan, cool, dan yang pasti dia kaya raya."
"Dan yang jelas, jika mereka memang ada hubungan, tentu hal itu akan membuat seluruh staff yang ada di kantor utama ini mau tak mau juga harus hormat pada sekretaris baru itu." Sahut salah satu wanita.
"Emm entah lah, yang jelas aku sangat sedih, jika tuan muda Arsen ingin berselingkuh, kenapa dia tidak memilihku saja sebagai selingkuhannya? Hahaha"
__ADS_1
Ketiga wanita itu pun akhirnya saling tertawa, Rachel yang mendengar dan memandangi mereka pun seketika mulai di buat mendengus kesal.
"Ini minuman mu." Ucap penjual kantin sembari menyerahkan segelas jus pada Rachel.
"Terima kasih." Rachel pun kembali tersenyum singkat meski senyuman terpaksa.
Rachel pun dengan membawa jus nya mulai berjalan menuju meja kosong yang bertepatan meja itu tepat di belakang meja ketiga staff wanita itu. Dengan tenang Rachel pun menghampiri mereka dengan tak ketinggalan menampilkan senyumannya yang paling ramah.
"Hai." Sapa Rachel.
Ketiga wanita itu nampak sedikit terkejut melihat Rachel yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Ha, haii." Jawab ketiganya dengan wajah yang kikuk.
"Dengan sayup-sayup aku dengar kalian sedang asik menceritakan tentang ku dan tuan muda Arsen. Apa itu benar?" Tanya Rachel masih dengan senyumannya yang begitu tenang.
"Ti, tidakkk Bella, oh maksudku nona Bella." Jawab salah satu dari ketiga staff.
"Jika tidak selingkuh kenapa kalian bisa berpelukan dengan sangat erat seperti itu hehehe." Jawab salah satu staff sembari cengengesan.
"Perlu ku luruskan, tadi pagi lift yang aku dan Arsen naiki sedang ada trouble, membuat lift dan lampunya mati di tengah jalan. Aku memiliki fobhia akan kegelapan, itu lah yang membuatku sangat histeris ketakutan hingga tanpa sadar aku memeluk Arsen untuk berlindung. Itu saja! Jadi apa yang kalian lihat tadi pagi, itu tidak lah seperti yang kalian pikir. Aku bersyukur memiliki bos seperti Arsen yang sama sekali tidak marah saat aku dengan lancang berani memeluknya karena ketakutan, jadi tolong jaga ucapan kalian tentang dia, karena kalau tidakk...." Rachel pun mulai memicingkan matanya menatap ketiga wanita itu secara bergantian.
Hal itu membuat ketiga wanita itu sontak menjadi mulai panik hingga harus menelan ludah karena takut.
"Mengerti tidak?!" Bentak Rachel lagi sembari menggebrak meja mereka.
"Me, mengerti." Ketiga staff itu pun seketika mengangguk patuh seolah sangat takut jika Rachel akan melaporkan mereka pada Arsen.
"Bagus." Rachel pun kembali tersenyum singkat dan langsung pergi begitu saja untuk melanjutkan langkahnya menuju meja kosong yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
"Kenapa dia berkata seolah sudah begitu dekat dengan tuan muda? Bahkan dia berani hanya menyebut nama saja tanpa menyebut kata tuan muda terlebih dulu." Bisik salah satu wanita ketika Rachel telah beranjak pergi.
Rachel pun duduk sembari mulai meminum jus melon miliknya hingga kandas. Ia merasa suasana mendadak berubah menjadi gerah dan terasa panas saat mendengar obrolan ketiga wanita itu.
"Berani-beraninya mereka bergosip tentangku dan Arsen. Apa mereka tidak tau bagaimana mengerikannya seorang Arsen jika sudah marah?" Ketus Rachel dalam hati.
Setengah jam berlalu, kini tersisa sebuah piring dan gelas kosong lah yang menghiasi meja makan Rachel saat itu.
"Oh ya ampun sepertinya aku kekenyangan." Celetuk Rachel seorang diri sembari mengusapi perutnya.
Ia pun melirik ke arah jam tangannya dan seperti bersiap ingin beranjak, namun tiba-tiba matanya kembali membulat.
"Tunggu, Arsen Lim, apa dia sudah makan? Atau masih sibuk dengan pikirannya?" Tanya Rachel pelan.
Rachel pun langsung mengeluarkan ponselnya lalu memilih untuk menelpon ke bagian resepsionis.
"Selamat siang, apa tuan muda Arsen sudah terlihat keluar dari kantor?" Tanya Rachel tanpa basa basi.
"Maaf nona Bella, sejak pagi tuan muda Arsen belum terlihat keluar dari ruangannya."
"Oh ok, baiklah. Terima kasih."
Rachel pun menutup telponnya, lalu ia mulai berinisiatif untuk memesankan makanan untuk sahabat kecilnya itu. Ia ingat beberapa makanan yang sangat di sukai Arsen ketika kecil seperti bakpao isi keju, dimsum, kwetiaw goreng kecap, dan mie ramen. namun ia sama sekali tak tau Arsen masih menyukainya ketika ia besar atau tidak.
"Ah sudah lah, aku pesan saja, masalah dia mau makan atau tidak, itu urusan belakangan." Gumam Rachel dalam hati sembari mulai tersenyum.
Akhirnya Rachel pun membungkuskan kwetiaw goreng kecap, dan bakpao isi keju, tak lupa pula sebuah cup es capuccino berukurangan besar pun juga ia pesankan untuk Arsen. Kini senyuman Rachel pun semakin berkembang kala memandangi berbagai bungkusan makanan dan minuman yang dibawanya.
"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku, karena hari ini lelaki menyebalkan itu sudah menjadi pelindung sekaligus penenangku."
__ADS_1
...Bersambung......