
Sisi lain di Apartement...
Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 23:20 malam, Rachel dan Arsen nampak sudah tertidur pulas. Namun, tiba-tiba saja Rachel tersentak dan terbangun dari tidurnya.
Lalu memandangi Arsen yang kala itu terlihat tidur dengan begitu pulasnya. Entah kenapa, ia mulai menangis saat mengingat mimpinya barusan. Mimpi yang ia alami bukanlah mimpi yang buruk, justru mimpi yang sangat indah dan manis. Di dalam mimpinya, terlihat dirinya dan Arsen kala itu tengah memadu kasih di sebuah balkon yang begitu tinggi yang Rachel sendiri pun tak tau itu dimana.
Suara isak dari tangisan Rachel kala itu nyatanya berhasil membuat Arsen ikut terbangun. Arsen pun seketika melirik ke arah istrinya yang sedang menangis di tengah keheningan malam, membuat Arsen langsung panik dan mendekatinya.
"Sayangku ada apa?"
"Aku baru saja bermimpi."
"Bermimpi? Apakah kamu bermimpi buruk?" Arsen pun mulai memeluk Rachel.
"Tidak, justru ini mimpi yang sangat indah dan yang aku dambakan."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu menangis?"
"Aku menangis, karena sepertinya mimpi ku ini tidak akan terwujud."
"Memangnya mimpi apa?" Tanya Arsen lembut yang mulai merasa penasaran.
Rachel pun menatap Arsen lalu mulai mengalungkan kedua tangannya ke leher Arsen seolah seperti ingin menciumnya. Namun Arsen sontak menghindar dan membuat Rachel semakin bersedih.
"Benar saja, mimpiku tidak akan terwujud." Ucap Rachel lirih dan kembali menangis.
"Maksudmu apa? Mimpi apa?"
"Aku bermimpi, kita sedang memadu kasih di sebuah balkon yang begitu tinggi, aku menginginkannya, mau sampai kapan kamu tidak menyentuhku?"
Arsen pun seketika jadi terdiam, memandangi Rachel yang terlihat begitu lirih dan terus menangis.
"Tapi sayang, bukankah aku sudah mengatakan hal ini sebelumnya."
"Pleasee." Pinta Rachel seolah memohon.
Arsen kembali terdiam dengan tatapannya yang sendu.
"Please, wujudkan mimpiku." Ucapnya lagi yang terdengar semakin lirih.
Rachel pun kembali menciumi Arsen, menciumi pipi hingga lehernya, saat itu Arsen masih terdiam dan mulai tertunduk lesu. Dia benar-benar bingung, karena ia sungguh tidak mau semakin memperparah luka Rachel yang akhirnya jadi tidak sembuh-sembuh,
"Aku sudah baik-baik saja, pleasee." Suara Rachel terdengar semakin pelan dan lirih.
Lalu ia perlahan mulai ingin mencium bibir Arsen lagi, berbeda halnya seperti sebelumnya saat Arsen seketika langsung menghindar. Kini Arsen hanya diam, membiarkan bibir Rachel mulai berlabuh di bibirnya, dan mulai kembali melumatiinya dengan lembut.
Tangan Rachel, semakin liar berkelana membuka seluruh kancing kemeja piama Arsen. Hingga akhirnya Arsen dibuat tak punya pilihan lain, pertahanannya lagi-lagi harus ambruk di tangan Rachel. Arsen pun membalas ciuman Rachel, dengan langsung menerkam bibirnya dan melahapnya dengan begitu buas.
Bak dua ekor binatang buas yang saling memangsa satu sama lain. Kini antara Rachel dan Arsen kembali bergulat, Rachel dengan cekatan langsung duduk dan berpangku di atas Arsen, membuat ciuman semakin panasss dan Arsen pun ikut terduduk di bawahnyaa.
Rachel membuka piama yang masih membalut tubuh tegap suaminya, begitu pula dengan Arsen, yang seolah tak mau kalah dan langsung membuka baju Rachel dan membuangnya ke sembarang arah. Suasana hening kini seolah berubah menjadi ramai, bukan karena banyak orang, melainkan ramai karena banyaknya macam-macam suara dari kamar itu.
Suara *******, suara gesekan antara ranjang dan dinding, serta suara genjotan tempat tidur yang kedengarannya begitu tak beraturan. Arsen, kini mulai menembus kembali lubang surgawi yang kini berhasil membuatnya jadi semakin candu. Rasa hangat yang dirasakannya di dalam lorong sempit itu, benar-benar memberikannya kenikmatan tiada tara yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya dari wanita lain selain dari istri sekaligus orang yang sejak kecil sudah menjadi sahabatnya itu.
Kini, malam Rachel tak lagi suram seperti sebelumnya, malam ini, akhirnya kembali ia habiskan dengan penuh gairah yang begitu menggelora dan menggebu-gebu.
Pagi hari yang cerah...
Rachel hari ini bangun lebih dulu, kini ia semakin pulih, nyaris tidak ada rasa perih yang di rasakannya lagi. Rachel kembali melakukan aktivitas yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan, mulai dari memasak sarapan, serta menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
Saat itu ia membangunkan Arsen dan menyuruhnya mandi, Arsen pun patuh dan langsung beranjak menuju kamar mandi. Rachel kembali menyibukkan diri di dapur, hingga beberapa menit kini sudah berlalu, Arsen pun keluar dari kamar dengan sudah nampak rapi, bertepatan pula dengan Rachel yang baru selesai memasak mie goreng untuk menu sarapan kali ini.
Sarapan pun dilewati dengan tenang, Arsen menghabiskan makanan miliknya dalam sekejab.
"Apa aku boleh masuk kerja hari ini?" Tanya Rachel,
"Sepertinya tidak perlu dulu, aku dan uncle sepertinya bisa menghandle tugasmu untuk sementara."
"Eeemmm benarkah? Baiklah." Kata Rachel yang memilih patuh.
"Oh ya, sepertinya hari ini aku akan sedikit sibuk, ada dua meeting yang harus ku hadiri bersama uncle. Apa tidak apa-apa kamu sendiri di rumah?"
"Oh benarkah? Lalu kira-kira kamu pulang jam berapa?" Tanya Rachel seolah menyelidik.
"Eeemm tidak tentu, tapi sepertinya aku akan pulang malam hari ini, tidak apa kan?"
"Oh baiklah, tidak apa, aku akan menunggumu."
"Nanti aku akan menghubungi Lylia untuk menemanimu lagi." Arsen pun tersenyum sembari mulai menyeduh secangkir teh miliknya.
"Ah tidak perlu, aku sepertinya ingin tidur saja sepanjang hari, agar besok aku semakin fit dan bisa masuk kerja."
"Kamu yakin?" Tanya Arsen memastikan.
"Iya yakin." Jawab Rachel sembari tersenyum,
"Aah baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa tolong kabari aku."
Rachel pun mengangguk dan kembali tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Arsen pun akhirnya pamit pergi, tak lupa ia mengecup kening hingga bibir Rachel secara singkat sebelum ia benar-benar pergi.
"Bye mon cherie." Ucap rachdl sembari melambaikan tangannya.
"Bye ma cherie." Arsen pun tersenyum dan langsung melanjutkan langkahnya.
Rachel menutup kembali pintunya, dan beranjak menuju dapur untuk kembali membereskan sisa darapan merrka. Ia kembali berbaring setelah pekerjaan rumahnya selesai. Tanpa sadar ia pun tertidur, lalu seketika terbangun saat ponselnya berdering. Ia pun langsung terperanjat, dan mencari-cari ponselnya dengan gelabakan.
Terlihat nama Antony terpampang nyata di layar lonselnya, ia pun mengangkatnya dengan lesu.
"Ya Tony,"
"Hai, kamu dimana?"
"Aku di rumah,"
"Oh begitu, emmm oh ya, bagaimana dengsn hari ini? Apakah kamu bisa memberiku hadiahnya hari ini?"
Rachel pun menghela nafas oanjang.
"Eeemm, memangnya kita mau kemana?"
"Nanti juga kamu akan tau." Jawab Antony.
__ADS_1
"Haaaish, kenapa kamu mendadak jadi sangat misterius begini ha? Kamu tidak sedang memiliki rencana untuk menculikku kan?"
"Hahaha bagaimana kamu bisa berfikir sekejam itu padaku?" Antony pun terkekeh.
"Eeeem baiklah, jam berapa mau menjemputku?"
"Satu jam lagi aku jemput ya." Jawab Antony.
RAchel pun langsung melirik ke arah jam, saat itu jam ternyata sudah menunjukkan 15:00 sore.
"Astaga, sudah sore?? Berarti aku tertidur cukup lama, haissh, bagaimana aku bisa tidur dengan begitu pulas?" Gumam Rachel yang terkejut saat baru menyadari jika hari mulai petang.
"Baiklah, aku mau mandi dan siap-siap."
"Baiklah, bye."
"Bye"
Antony pun mengakhiri panggilannya, Rachel pun meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas yang ada di sebelah ranjangnya, lalu dengsn lesu ia pun akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
Rachel menyitam tubuhnya yang ternyata sejak pagi belum mandi, hanya memerlukan wakfu dua puluh menit saja, kini ia pun ksliar dari kamsr mandi dengsn sudsh nampak segar. Ia memakai pakaian yang sedikit tebal karena memang cuaca berubah menjadi sangat dikit dalam beberapa hari ini.
Tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 15:55, pinsel rachel kembali berdering dan nama antony kembali muvnul terpampang di lyarnya.
"Ya tony, sudah dimana?"
"Kamu sudsh siap?" Tanya Sntony
"Eeemm sepertinya begitu." Jawab Rachel singkat.
"Aku sudsh bersda di depan loby, apa aku perlu turun dan menjemputmu ke atas?"
"Oh benarkah? Baiklah aku saja yang kedana, kamu tentu tidak perlu baik kesini."
"Aaaah baiklah."
Rachel pun bergegad keluar dari apartementnya, berjalan cepat menuju loby dan langsung masukn begjtu saja ke mobil mewah yang sudah menunggunya tepat di depan loby. Antony kembali melajukan mobilnya sesaat setelah Rachel masuk menjnggalkan kawasan apartement elite, utnuk menuju ke suatu tempat.
"Jadi apa aku sudha boleh tau kita mau kemana sekaragn?"
"Nanti, nanti kamu akan tau." Jawabnya lagi.
Rachel pun seketika mendengus dan hanya tersenyum. Lalu mempercayakan semuanya pada antony yang ingin mengajaknya entah kemana.
Perjalan mereka kini mulai keluar dari pusat kota, melalui perjalanan menanjak ke arah sebuah bukit. Rachal ysng sejak tadi menikmati jalanan dari kaca jendela mobil, mulain mengernhitkan dahinya saat menyadari mereka semakin tinggi naik ke atas.
"Sebenarnya kamu ignjn membawaku kemana?" Tanya Rchel lagi yang mulai merasa sedikit cemas.
"Sebentar lagi, sebentar lagi kita akan tiba." Jawab Antony yang terus fokus mengemudi karena semakin tinggi, jalanan itu terlihat semakin curam.
Beberapa menit berlalu, Rachel terus diam, dan perasaan takut seolah kian menderanya.
"Haaais apakah ini pilihan yang dalah? Kemana dia membawaku! Apakah salah jika mempercayainya sebagai teman?" Gumam Rachel dalam hati yang semakin merasa tak tenang.
"Arsen, maafkan aku yang tidak beranj jujur, apapun yang trrjadi padku setelah ini, percayalah aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Tambahnya lagi.
Tak berapa lama setelahnya, Antony pun menghentikan mobilnya di tepi bukit. Lalu ia pun turun dan membukakan pintu untuk Rachel.
"Kita sudah sampai." Ucapnya sembari tersenyum.
"Antony,,, ki,, kita ada dimana?" Tanya nya yang mulai terlihat sedikit gemetar.
Antony pun hanya tersenyum, lalu menjawab,
"Kamu akan tau setelah kamu turun." Jawab Antony dengan sikapnya yang masih terlihat begitu tenang.
Rachel pun menghela nafas, lalu perlahan mulai memberanikan dirinya untuk turun. Antony pun mulai melangkah lebih dulu untuk menuntunnya, suasana disana benar-benar sepi, berada di ketinggian membuat suara angin yang berhembus terdengar jelas begitu menderu-deru, membuat Rambut Rachel yang terurai jadi terus berkibas-kibas karenanya,
Rachel terus berjalan dengan ragu mengikut langkah antony, perasaannya semakin tak enak namun entah kenapa, saat itu ia masih saja ingin mengikuti langkah antony yang entah akan membawanya kemana.
Tak lama, mereka tiba di sebuah pemakaman, mata Rachel seketika mendelik saat memandangi gapura ysng bertuliskan 'taman makan'.
"Pemakaman??" Tanya rachel seolah tertegun.
Antony pun kembali tersenyum, dan mendengus.
"Iya, lalu kamu pikir aku membawamu kemana?" Tanya nya yang kemudian melanjutkan langkahnya .
Rachel kembali mengikutinya dengan rasa penasaran yang semakin menajadi -jadi. Lalu tiba-tiba langkah antony pun terhenti saat mereka sudah tiba tepat di depan sebuah makam yang bertuliskan 'Ananta Yue'
Mata rachel kembali mendelik saat membaca namanya.
"Dia membawaku ke makam adiknya?" Gumam Rachel dalam hati.
"Ini adalah makam adikku, biasanya setiap sore di hari ulang tahunku, aku selalu menyempatkan diri untuk kemari. Namun saat kamu menyetujui untuk ikut bersamaku, aku berpikir untuk menundanya menjadi hari ini. Jadi, aku sengaja membawamu kesini untuk mengenalkanmu padanya." Ungkap antony dengan wajahnya yang kembali terlihat sendu.
Rachel pun terdiam, dalam hatinya ia begitu merasa bersalah karena sempat menaruh rasa curiga pada nya. Kini Rachel kembali menatap ke arah makam itu lalu mulai tersenyum lirih.
Antony mulai berjongkok di hadapan batu nisan yang bertuliskan nama sang adik.
"Hai cantik, bagaimana kabarmu? Lihat lah, aku kembali lagi, tapi tidak sendirian seperti biasanya. Kali ini, aku datang bersama orang pertama yang menjadi temanku setelah kamu tidak ada." Ujar antony seolah sedang berbicara dengan adiknya.
Rachel pun ikut berjongkok, dan mulai tersenyum.
"Hai Ananta, senang bisa melihatmu disini, kamu adalah adik yang beruntung karena memiliki kakak seperti Antony." Ungkap Rachel dengan lembut dan terdengar begitu tulus.
Antony pun tersenyum, lalu mulai membersihkan makam adiknya dengan cara mencabuti rerumputan liar dan membersihkan debu yang menutupi foto adiknya.
Tanpa terasa hari semakin beranjak petang, keberadaan mereka yang kebetulan berada di atas bukit membuat pemandangan sore itu jadi terlihat begitu menawan. Bias jingga mulai menghiasi langit senja, serta sunset yang perlahan mulai menunjukkan eksistensinya pun ikut serta menambah kesempurnaan pemandangan senja kala itu.
"Bisakah kita menikmatinya sebentar?" Tanya Antony saat beranjak pergi dari taman makam.
'Menikmati apa?" Tanya Rachel yang nampak bingung.
"Sunset." Ucap Antony sembari menunjuk ke arah sunset yang memang terlihat begitu menawan.
"Ohh baiklah, kebetulan aku juga ingin menyaksikannya sedikit lebih lama," jawabnya sembari tersenym.
Antony pun kembali ikut tersenyum, lalu mulai mengajak Rachel berjalan menuju tepi bukti, hingga membuat pemandangan semakin jelas terlihat nyata.
"Terima kasih, sudah mau percaya dan ikut denganku." Ucap Antony yang kembali menatap Rachel lekat.
Rachel pun tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maaf ya." Ucap Rachel.
"Maaf? Maaf untuk apa?" Dahi Antony pun mulai mengernyit.
"Sejujurnya, tadi aku sempat mencurigaimu akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku." Ungkap Rachel sembari cengengesan.
Mambuat Antony seketika jadi mendengus dan tersenyum.
"Aku tau."
"Hah?!! Ka, kamu tau??" Mata rachel pun spontan mendelik.
"Sangat jelas terlihat dari gelagatmu yang menatapku dengan tatapan yang berbeda."
"Hehehe benarkah? Emm ya, maka dari itu aku minta maaf."
"Tidak apa, tapi setidaknya aku harus berterima kasih padamu, meski kamu curiga, tapi tetap mencoba untuk percaya padaku hingga akhir, dan hal itu cukup membuatku tersanjung."
"Hehehe untung saja, karena jika tidak aku pasti akan menjadi orang yang paling menyesal karena gagal bertemu dengan adikmu. Terima kasih sudah mengenalkan ku padanya."
Antony pun mengangguk, lalu kemudian ia pun mengajak Rachel untuk kembali ke mobil, karena hari nampaknya sudah semakin gelap. Mereka pun kembali turun ke bawah, tak terasa, saat mereka sudah tiba di pusat kota, jam pun sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.
"Apakah aku masih memiliki waktu untuk mengajakmu makan malam? Jujur saja, aku sangat lapar saat ini." Antony pun terkekeh lirih.
Rachel terdiam sejenak, ia pun melirik ke arah jam tangannya, lalu bergegas meraih ponselnya karena mendapati pesan baru yang tak lain ialah dari Arsen.
"Sayang, aku akan pulang sedikit telat malam ini, jaga dirimu dan jangan telat makan, i love you." Isi pesan Arsen.
Akhirnya Rachel pun kembali tersenyum dan menatap Antony.
"Baiklah, aku akan menemanimu makan malam."
"Benarkah?" Antony pun kembali sumringah.
"Eemm." Rachel mengangguk.
"Memangnya kemana Arsen? Apa dia tidak marah?" Tanya Antony yang jadi sedikit heran.
"Dia sedang lembur bersama paman Alex, dalam beberapa hari ini, aku tidak masuk kerja dan itu cukup membuat mereka repot." Jelas Rachel singkat sembari kembali tersenyum.
"Ohh begitu rupanya, emm syukur lah." Lagi-lagi Antony kembali tersenyum dan melajukan mobilnya.
Tak berapa lama mereka pun tiba di sebuah restaurant, Antony bergegas turun dari mobilnya dan membukakan pintu lagi untuk Rachel. Antony dengan tenang mulai menuntun Rachel untuk masuk menuju ke sebuah meja yang kosong, lalu mendudukinya.
15 menit menunggu dengan tidak terlalu banyak perbincangan antara Rachel dan Antony, akhirnya tak lama makanan yang sebelumnya mereka pesan pun tiba. Seolah tak ingin lebih banyak membuang waktu, Rachel pun langsung saja melahap makanannya tanpa ada rasa segan pada Antony.
Makan malam dilewati dengan tenang dan sesekali di selingi dengan perbincangan ringan. Namun ada hal yang tak biasa di tengah makan malam mereka saat itu. Tiba-tiba saja seorang pelayan datang dengan sudah membawakan sebotol wine ke meja mereka.
Rachel pun seketika memandangi botol wine itu dengan dahinya yang mengenyit.
"Tony, apa kamu yang memesan ini?" Tanya Rachel memastikan.
"Iya." Antony pun mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Kapan kamu memesannya? Kenapa aku tidak dengar?"
"Tadi, saat aku ke toilet, tidak sengaja melihat seorang pelayan mengantarkan wine ke meja salah satu tamu. Jadi, ku putuskan untuk memesannya juga." Jelas Antony secara singkat.
"Ta, tapi aku tidak minum."
"Iya aku tau kamu tidak minum, biar aku saja yang meminumnya."
Rachel pun terdiam dan hanya menghela nafasnya.
20 menit berlalu, Rachel pun terlihat sudah menghabiskan makanan miliknya. Begitu pula Antony, ia bahkan juga sudah menghabiskan sebotol wine seorang diri.
Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu, hingga memutuskan untuk minum wine.
Jam terus bergerak, dan kini sudah menunjukkan pukul 20:00 malam. Memastikan sudah tidak ada lagi makanan yang perlu di santap, Rachel pun meminta Antony untuk segera mengantarkannya pulang karena saat itu sudah tak ada lagi pembahasan yang begitu berarti baginya.
Namun Antony menundanya dan meminta tambahan waktu sedikit lagi, Rachel nampak begitu berat untuk menyetujuinya kali ini, tapi wajah Antony saat itu terlihat begitu memelas saat memohon padanya hingga membuatnya merasa bimbang.
Tak lama, pelayan kembali datang dan membawakan satu botol wine lagi ke meja mereka. Membuat Rachel terperangah memandangi botol wine yang kini ada di hadapannya.
"Kamu memesannya lagi??!"
"Hehehe iya, hanya satu botol lagi, ku mohon." Ucapnya memohon.
Rachel kembali terdiam dengan tatapan mata yang mulai memicing saat memandangi Antony yang mulai sedikit mabuk.
"Hehehe tolong jangan menatapku seperti itu, tolong mengerti lah perasaanku saat ini." Ujar Antony lagi sembari tersenyum lirih.
Akhirnya, setelah menghela nafas kasar, Rachel pun setuju mengulur sedikit waktu lagi, karena saat itu ia tak lagi memiliki firasat buruk apapun terhadap Antony.
"Eemm baiklah, satu botol lagi. Ingat, satu botol lag Antony!!"
"Iya, iya aku janji." Ucap Antony sembari kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya.
Antony terus menikmati gelas demi gelas wine yang terus menerus ia tuangkan tak berjeda, sesekali ia melirik ke arah Rachel yang saat itu tengah duduk bertopang dagu sembari memandanginya dengan tak bersemangat.
"Tidak tau masalah hidup apa yang sebenarnya sedang kamu hadapi, tapi apakah dengan cara minum-minum begini membuat masalahmu selesai?" Ketus Rachel sembari terus memandangnya dengan lesu.
"Sejak kecil, aku selalu terbiasa mendapatkan apa yang ku inginkan, jadi saat aku sedang menginginkan sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan, maka itu sudah menjadi masalah besar bagiku." Jawab Antony dengan tenang sembari mulai menatap Rachel dengan lekat.
"Menerima kenyataan saat kamu sudah dinikahi oleh pria lain, itu lah yang menjadi masalah bagiku saat ini." Gumamnya dalam hati.
Namun Rachel yang memiliki pemikiran sangat polos dan lurus, sama sekali tak tau apa maksud di balik ucapannya itu.
"Hei tuan muda, hidupmu terlihat begitu sempurna dengan segala yang kamu miliki, memangnya apalagi? Apa masih ada yang belum kamu dapatkan?"
"Tentu saja ada." Jawab Antony yang kembali tersenyum lirih.
"Oh ya? Memangnya apa yang belum kamu dapatkan?" Tanya Rachel polos.
Antony pun mulai mendengus sembari menatap lirih gelas yang berisikan wine terakhir.
"Someone!" Jawabnya singkat sembari langsung menenggak minumannya hingga kandas dalam sekali teguk.
Antony meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja dengan sedikit keras. Rachel yang memandangi hal itu pun sontak kembali menegakkan duduknya.
"Huh, akhirnyaa." Ucapnya seakan merasa lega dan mulai bangkit dari duduknya.
"Nampaknya kamu begitu tak sabar." Celetuk Antony yang mulai terkulai dengan wajahnya yang nampak memerah.
__ADS_1
"Hei, ini sudah malam, aku harus segera pulang sebelum suamiku tiba di rumah."
...Bersambung......