
Matahari semakin tinggi dan terik, namunkan Arsen masih belum juga kembali, membuat Rachel mulai cemas dan bertanya-tanya. Ia pun memutuskan untuk menelpon Arsen, pertama kali menelepon, sama sekali tidak mendapat jawaban.
"Kenapa tidak di angkat? Apa karena masih marah padaku?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai menggigiti jarinya.
"Emm benar juga kata mama, kalau gagal, maka coba lagi, kalau sekali panggilan tidak di angkat, maka telepon lagi." Rachel pun kembali tersenyum tipis dan mencoba untuk menelpon Arsen lagi.
Tut... Tut...
Dan ya, benar saja, tak sampai sepuluh detik, Arsen pun akhrinya mengangkat teleponnya.
"Ya?" Ucap Arsen yang terdengar sangat datar.
"Sudah berjam-jam, kenapa kamu belum juga kembali? Bukankah paman Alex mengatakan meetingnya hanya dua jam?" Tanya Rachel dengan nada manja.
"Dua jam apanya? Ini baru saja selesai meeting, bahkan kliennya juga masih disini."
"Benarkah? Lalu kapan kamu kembali?"
"Kenapa aku harus kembali, apa aku memiliki alasan untuk kembali?"
"Hei, tolong jangan begitu, jika masih mau marah, maka marah lah, tapi kamu tetap harus kembali kesini." Jawab Rachel yang terdengar lirih.
Namun belum sempat Arsen menjawab, Tiba-tiba saja Rachel pun mendengar sayup-sayup suara beberapa orang wanita yang sedang tertawa renyah. Lalu salah satu wanita itu terdengar sedang bertanya pada Alex.
"Tuan Alex, hari sudah siang, penerbangan bos juga di tunda hingga dua jam, apa tidak sebaiknya kita lanjutkan untuk makan siang bersama?" Begitu lah yang di dengar oleh Rachel.
"It,, itu,,, itu suara siapa?" Dahi Rachel pun mulai mengkerut.
"Suara? Masih ada banyak orang disini, tentu saja suara klien."
"Benarkah? Apa CEO Unicorp sudah berubah menjadi seorang wanita sekarang? Ha?" Rachel nampak mulai terbakar api cemburu.
Mendengar nada bicara Rachel yang terkesan mulai meninggi, sontak membuat Arsen mulai mengernyitkan dahinya dan tersenyum sinis.
"Apa dia sedang cemburu?"
"Oh, kenapa memangnya? Dan ya, seperti yang kamu dengar, ada banyak wanita cantik dan juga berpenampilan yang sangat menarik disini, mereka adalah sekretaris pribadi Tuan Edward dan beberapa wanita lainnya ada yang akuntan, ada pula dari notaris yang kebetulan ada urusan dengan Tuan Edward." Jelas Arsen dengan santai, yang berniat ingin semakin memanas-manasi Rachel.
"Ap, apa maksudmu? Apa kamu mulai tergoda dengan para wanita itu dan ingin menelantarkan istrimu? Begitu?" Rachel nampaknya semakin dilanda kekesalan, api cemburunya pun nampak semakin jelas berkobar.
"Haais, cerewet sekali, ya sudah ya, aku mau lanjut berbincang dulu."
"Heii!"
__ADS_1
"Haaish apalagi?" Tanya Arsen namun tanpa sepengetahuan Rachel ada sebuah senyuman tipis yang terukir dari bibirnya.
"Apa kamu sungguh ingin makan siang di luar dengan para wanita itu?"
"Memangnya kenapa? Lagi pula, percuma juga aku pulang, tidak ada yang bisa di makan kan disana."
"Kamu pulang sekarang!!" Tegas Rachel.
"Iya, nanti aku pulang setelah makan siang."
"Aku minta kamu pulang sekarang, ak,,aku sudah belanja banyak, aku bisa memasak makan siang untukmu." Nada bicara Rachel kembali terdengar lirih.
Membuat Arsen tak tega untuk lanjut memanasinya lagi.
"Emm lihat nanti ya, aku tutup dulu, bye." Jawab Arsen yang masih mencoba bersikap cuek.
Rachel pun terdiam dan hanya bisa mendengus kesal sembari memandangi ponsel nya.
"Hah, dia bahkan langsung mematikan ponselnya saat aku belum sempat menjawab apapun." Ketus Rachel yang semakin merasa kesal.
Rachel yang sudah terlanjur merasa kesal pun langsung membuang ponselnya ke sofa dengan begitu kasar. Perasaan yang tak tenang membuatnya kembali berjalan mondar mandir di ruang tamu dengan berbagai pikiran.
Tak ingin terlalu larut ke dalam lautan emosi, Rachel pun akhirnya mulai menghela nafas panjang, demi membuatnya sedikit lebih tenang, ia pun kembali mengutas senyuman dan berceletuk.
Rachel terus mengutas senyum, ia kembali duduk dan mencoba untuk bersikap tenang.
"Tenang Rachel, tenang, dia hanya mencoba memanas-manasi mu. Dia tidak mungkin berpaling secepat itu tidak mungkin." Celetuk Rachel lagi yang terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun selang beberapa detik setelahnya, Rachel seketika langsung mengacak-ngacak rambutnya dan kembali menggeram.
"Haaaish, bagaimana kalau para wanita itu benar-benar cantik dan seksi?? Laki-laki mana yang tidak tergoda??!" Keluh Rachel lagi.
"Aaaaagh membuatku emosi saja!! menyebalkan sekali kau Arsen Lim!" Rachel pun kembali menggeram sembari terus memukul-mukul bantal yang ada di sofa.
Sisi lain di kantor Utama Blue Light Group...
Arsen kembali memasukkan ponselnya dan kembali duduk di tempatnya.
"Apa setelah ini anda ada urusan lain tuan muda?" Tanya salah satu wanita yang berposisi sebagai akuntan di kantor Unicorp.
"Oh tidak ada." Jawab Arsen sembari tersenyum tipis.
"Aah bagus sekali, kalau begitu kita bisa lanjut berbincang sambil makan siang bersama, bukan begitu tuan Edward?"
"Sure, kenapa tidak? Sambil mengisi waktu kosong ku karena penerbangan di undur, kita bisa makan siang bersama terlebih dulu." Tuan Edward pun terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, lagi pula masih ada banyak hal yang harus kita diskusikan mengenai kerja sama kita ini. Waktu beberapa jam nampaknya masih tidak cukup untuk membahas proyek raksasa kita." Celetuk sekretaris pribadi tuan Edward.
"Emmm baiklah, ayo kita ke restaurant milik keluar Lim saja, bukankah itu termasuk ke dalam 5 besar restaurant terbaik di kota ini?" Tambah tuan Edward yang mulai bangkit dari duduknya.
Arsen yang awalnya terduduk pun ikut bangkit dari duduknya,
"Tapi aku sungguh minta maaf sebelumnya tuan Edward, sepertinya aku tidak bisa ikut makan siang bersama kali ini." Ucap Arsen sembari tersenyum tipis.
"Hah?! Ta,, tapi kenapa tuan muda?" Tanya seorang akuntan yang nampaknya dalam diam dia terus curi-curi pandang terhadap Arsen.
"Arsen, tapi kenapa kau tidak bersedia ikut makan siang?" Bisik Alex.
"Uncle, ini bahkan hampir 5 jam dan bersyukur aku tidak marah, dan sekarang, uncle mau aku menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersama mereka di waktu liburku?" Jawab Arsen yang juga berbisik pada Alex.
"Iya tuan muda, kenapa anda tidak bersedia ikut? Bukankah anda free sekarang?" Tanya tuan Edward yang mulai mengernyitkan dahi.
"Iya tuan Edward, aku sungguh minta maaf. Istriku sudah masak dan sekarang dia sedang menungguku di rumah, aku sudah janji ingin makan siang dengannya." Jelas Arsen meski ia berbohong saat mengatakan jika ia sudah janji ingin makan siang di rumah dengan Rachel.
Alex yang mendengar itu pun seketika tersenyum dan akhirnya mengerti.
"Ta, tapi tuan muda, bukankah istri anda seharusnya bisa lebih pengertian bila menyangkut urusan pekerjaan?" Celetuk akuntan itu lagi yang sepertinya masih sangat tidak rela bila Arsen tidak ikut serta.
"Dia sudah cukup pengertian saat membiarkan aku menghadiri meeting hari ini yang begitu lama di saat hari pertama kami menjadi suami istri. Jadi aku tidak ingin membuatnya semakin kecewa." Jawab Arsen yang kembali mengutas senyuman tipis.
"Emm baiklah tuan muda, tidak apa, anda pulang lah, sisanya biar saya sepenuhnya yang menghandle." Ucap Alex yang mencoba bersikap profesional di hadapan para klien.
"Terima kasih." Arsen pun semakin melebarkan senyumannya saat menatap Alex.
"Tuan edward, aku mohon pengertiannya, sekali lagi saya minta maaf. Saya permisi." Arsen pun beranjak pergi lebih dulu.
"Tuan muda." Panggil Alex lagi.
Arsen pun menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Bukankah anda kesini tidak membawa mobil? Ini, pakai saja mobil saya dulu."
"Ah tidak perlu, aku sudah menyuruh seseorang untuk mengantar mobilku kesini." Jawab Arsen kembali tersenyum dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Emm baikla, it's ok. Kita masih bisa membahasnya dengan tuan Alex yang nampaknya sudah memahami segalanya tentang Blue Light." Tuan Edward pun kembali tersenyum dan merangkul Alex.
Tapi berbeda dengan dengan wanita yang menjabat sebagai akuntan, ia nampaknya masih terpaku memandang sendu kepergian Arsen.
"Huh, sayang sekali, andai dia bisa tinggal sedikit lebih lama lagi." Celetuknya dalam hati.
...Bersambung......
__ADS_1