Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 196


__ADS_3

Arsen dengan tenang ingin meminum lagi segelas wine yang telah ia tuangkan di hadapan Yuna, ibunya. Mata Yuna, seketika mulai ia picingkan ke arah anak sulungnya yang seolah tanpa beban ingin terus minum minuman yang juga bisa memabukkan itu di hadapannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Yuna pun kembali melangkah ke arah Arsen, lalu tanpa rasa segan, ia langsung mengambil alih gelas itu dari tangan Arsen yang kala itu sudah hampir ingin meminumnya.


"Maa, apa yang mama lakukan? Berikan gelas itu kembali!" Pinta Arsen.


"Lihat lah isi rumah mu ini Arsen Lim!! Hampir di setiap sudutnya terdapat botol wine, apa kamu masih belum puas menghabiskan banyak waktu hanya untuk meminum minuman ini??"


"Maa, tolong mengerti lahh."


"Apalagi yang harus mama mengerti?? Masalahmu ini sudah ada solusinya, tapi kamu saja yang tidak ingin menyelesaikannya!!"


Arsen pun terdiam sejenak.


"Lagi pula, terlalu banyak minum minuman seperti ini, akan tidak baik untuk kesehatan!! Jadi dengan tegas mama melarangmu untuk lanjut minum!!" Tegas Yuna lagi.


"Aku,, bukan tidak ingin menyelesaikannya ma! Aku ingin, bahkan sangat ingin, tapi,,," Arsen pun mulai kembali menundukkan kepalanya.


"Tapi apa lagi??"


"Aku hanya belum siap dengan penolakan! Di sepanjang hidupku, aku tidak pernah merasakan penolakan, jadi,, itu cukup membuatku cemas berlebihan karena belum terbiasa dengan penolakan yang nantinya akan di lakukan Rachel ketika aku datang kesana." Ungkap Arsen murung.


"Justru kamu harus merasakan itu, semakin banyak hal-hal pernah kamu rasakan dalam hidupmu, itu akan semakin menjadikanmu manusia yang tegar, dan tahan mental di waktu yang akan datang, sehingga jika hal semacam itu terjadi lagi, maka jiwamu telah siap menjalaninya dan tidak kaget lagi, termasuk pula penolakan!!"


Lagi-lagi dan lagi, Arsen menjadi diam saat mendengar ucapan ibunya, ia pun perlahan mulai kembali mengangkat kepalanya yang sebelumnya terus menunduk, lalu kembali menatap dalam wajah Yuna.


"Apa saat ini pun kamu masih juga ragu pada ucapan mama Arsen Lim?" Yuna pun membalas tatapan Arsen dengan tatapan tak kalah lekatnya.


"Ak,,, aku..."


"Dengar, apapun saran yang mama berikan untukmu, itu sudah pasti akan menjadi yang terbaik untukmu nak. Karena, tidak ada seorang ibu manapun di belahan bumi ini yang ingin menyesatkan anaknya, kecuali dia gila!"


Tapi untuk saat itu, Arsen seperti kehilangan daya bicaranya hingga membuatnya masih saja terdiam. tak berapa lama suara bel pun terdengar, Yuna seketika melirik ke arah monitor, nampak beberapa pegawai kebersihan berseragam sudah berdiri di depan pintu. Tanpa pikir panjang, Yuna pun bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu untuk mereka.


"Baguslah kalian cepat datang." Celetuk Yuna sembari tersenyum.


"Selamat pagi nyonya."


"Ya pagi, ayo, ayo masuk lah."


Beberapa pegawai kebersihan itu pun mulai melangkahkan kaki memasuki tempat tinggal Arsen. Dan sama halnya dengan Yuna, mereka pun nampak sedikit terkejut saat memandangi penampakan yang terlihat sangat berantakan.


Yuna yang memahami hal itu pun kembali menghampiri mereka sembari tersenyum.


"Ya, aku tau kalian pasti sangat terkejut saat melihat isi dalam sebuah apartement mewah berubah menjadi tempat yang terkesan sangat kumuh ini. Dan,, itulah sebabnya aku memesan pegawai kebersihan tidak hanya satu orang." Jelas Yuna meski para pegawai itu tidak ada bertanya apapun padanya.


Tak ingin terlalu lama membuang waktu, Yuna pun segera mempersilahkan mereka untuk mulai bersih-bersih dan berbenah. Arsen saat itu masih diam sembari terus memandori mereka bekerja membersihkan segala ruangan di tempat tinggalnya itu.

__ADS_1


"Maa, seharusnya mama tidak perlu melakukan ini semua." Ucap Arsen pelan.


"Diam dan duduk tenang lah, kamu tidak perlu memikirkan ini semua, yang perlu kamu pikirkan saat ini hanyalah masalahmu dengan Rachel. Fokus lah pada hal itu saja." Tegas Yuna sembari kembali memainkan ponselnya.


Yuna pun sama halnya dengan para pegawai kebersihan, ia juga terlihat sibuk mengurus ini dan itu demi membuat tempat tinggal anaknya kembali nyaman dan bersih seperti sebelumnya. Tak berapa lama, bel kembali berbunyi, Yuna kembali melirik ke arah monitor dan mulai kembali tersenyum.


"Siapa lagi kali ini maa?" Keluh Arsen.


"Diam dan tenanglah!!" Jawab Yuna yang sedikit melotot sembari kemudian kembali melangkah menuju pintu.


Beberapa kurir dari supermarket yang ada di lantai bawah gedung apartement terlihat tiba dengan sudah membawa banyak kantong belanjaan.


"Nyonya, ini pesanan anda."


"Ah iya, ayo masuk lah," Yuna dengan semangat menggiring para kurir untuk masuk.


"Nah, kalian bisa meletakkannya disini." Tambahnya lagi sembari menunjuk ke arah meja bar, tempat dimana Arsen masih terduduk.


Arsen kembali dibuat tercengang, saat memandangi ada banyak kantong belanjaan yang di letakkan di hadapannya.


"Semuanya sudah sesuai dengan pesanan anda nyonya, anda bisa memeriksanya terlebih dulu, jika ada kekurangan, maka kami akan segera membawakan kekurangannya."


"Ahh tidak perlu, aku yakin bisnis kalian pasti lah bisnis yang jujur." Yuna pun tersenyum.


"Terima kasih banyak kalau begitu nyonya, kami permisi dulu."


Yuna segera meraih kembali dompetnya.


"Ini, ada sedikit bonus untuk kerja keras kalian hari ini." Yuna pun memberikan beberapa lembar uang.


Salah satu pegawai yang menerima uang itu sontak membulatkan matanya.


"Tapi nyonya,,, apa ini tidak terlalu berlebihan??"


"Tidak, itu sesuai dengan kerja keras kalian yang begitu cepat melayani pesananku."


"Baiklah terima kasih banyak sekali lagi nyonya."


Mereka pun pergi, melihat pemandangan itu lagi-lagi membuat batin Arsen mendadak teriris. Bagaimana tidak, melihat sikap Yuna yang selalu memberikan uang tips pada siapapun yang membantunya, membuat Arsen kembali teringat pada Rachel yang memiliki kebiasaan yang sama dengan ibunya itu.


"Kenapa mama harus terus mengingatkan aku tentang Rachel?? Hal itu membuat dadaku kembali terasa sesak." Gumam Arsen dalam hati.


Namun lamunan Arsen tiba-tiba buyar saat Yuna meletakkan segelas jus jambu merah ke hadapannya.


"Ini, minum lah. Jus segar seperti ini akan jauh lebih baik dan menyehatkan jika kamu konsumsi."

__ADS_1


Arsen pun mendengus, lalu kembali tersenyum kecil. Perlahan tapi pasti, ia akhirnya mulai meminum jus pemberian sang ibu. Tak lama pula, berbagai makanan pun di hidangkan oleh Yuna, yang hampir seluruhnya adalah kesukaan Arsen.


"Makan lah, mama tau akhir-akhir ini kamu memiliki pola makan yang buruk."


Arsen kembali tersenyum, kali ini ia semakin merasa terharu pada sikap Yuna yang super peduli padanya. Yuna menghabiskan waktu dari pagi hingga siangnya di apartemet Arsen, demi memastikan jika putra sulungnya itu sudah baik-baik saja.


Arsen makan dengan tenang, di dampingi dengan Yuna yang ikut makan di hadapannya. Selesai makan, Arsen kembali terdiam sejenak. Lalu ia mulai menatap Yuna lagi, Yuna yang tak sengaja melirik juga ke arahnya sontak menghentikan aktivitasnya dalam menyantap makanannya.


"Ada apa? Kenapa menatap mama seperti itu?"


"Maa,,,"


"Iya?"


"Sepertinya aku sudah memutuskan."


"Memutuskan apa?" Dahi Yuna nampak mulai mengernyit.


"Aku,,, eemmm." Tiba-tiba Arsen nampak ragu ingin melanjutkan ucapannya.


"Aku, ingin ke Paris!" Tambahnya lagi setelah beberapa saat menghela nafas.


Mata Yuna mendadak membulat, kedua tangannya yang sebelumnya masih memegang sendok dan garpu, seketika ia lepaskan peralatan makan itu dari tangannya. Yuna langsung meraih kedua tangan Arsen yang kala itu terletak di atas meja.


"Benarkah sayang??" Tanya Yuna dengan matanya yang nampak begitu berbinar.


"Apa menurut mama keputusanku ini sudah benar?"


Yuna dengan cepat menganggukkan kepalanya dengan matanya yang kini mulai berkaca, Yuna merasa ingin menangis, tapi bukan menangis karena merasa sedih, melainkan karena begitu merasa haru.


"Apa Rachel akan menerima kedatanganku?"


"Tentu nak! Mama yakin dia akan langsung memelukmu saat melihatmu datang menyusulnya."


Arsen pun mengangguk dan ikut tersenyum haru.


"Kamu tidak perlu repot mengurus semuanya sayang, biar mama yang mengatur segalanya untukmu, kamu hanya perlu menjaga kesehatan sebelum kamu pergi kesana. Ok?"


"Tapi maa.."


"Tidak ada tapi-tapi lagi, kali ini tolong menurut saja, karena saat kamu berada di rumah, kamu sedang tidak menjadi CEO Blue Light Group, melainkan anak mama."


"Emmm, baik lah jika itu membuat mama senang."


"Sangat senang!" Yuna semakin melebarkan senyumannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2