
Seolah seperti sudah menjadi kebiasaan baru baginya, kini Arsen tak lagi ragu ataupun sungkan saat menarik tangan Rachel. Entah kenapa, ia begitu merasa jika dia dan Rachel seperti sudah sangat dekat, seperti seolah sudah saling tau satu sama lain.
Saat itu Rachel pun hanya terdiam dan terus mengikuti langkah Arsen. Di satu sisi ia merasa begitu senang saat mendapatkan perhatian seperti itu dari Arsen, namun di sisi lain hatinya, ia masih saja merasa kecewa dengan sikap Arsen yang masih saja seolah buta mata dan buta hati saat membela Laura.
"Masuk lah." Ucap Arsen pelan.
Rachel yang terus diam pun memilih langsung masuk ke dalam mobilnya, perut yang terasa semakin sakit dan kram karena memang hari itu adalah hari pertamanya datang bulan sudah berhasil membuatnya menjadi pendiam hari itu.
Suasana di dalam mobil pun terasa begitu hening, hanya ada suara musik klasik yang sengaja di putar oleh Arsen agar membuat Rachel merasa lebih tenang. Hingga tanpa di sadari, perlahan mata Rachel pun mulai terasa berat dan sayu, ia pun akhirnya tertidur begitu saja.
Kini sore hari pun sudah berganti menjadi malam, saat itu sayup-sayup terdengar suara Rachel yang terus meringis dalam tidurnya.
"Aaghhh." Rachel terus meringis pelan sembari terus memegangi perutnya.
Menyadari hal itu, Arsen pun langsung menghentikan mobilnya, lalu mulai memandangi Rachel yang saat itu masih tertidur.
"Hei, apa kamu mengigau?" Tanya Arsen pelan.
Namun tak ada jawaban dari Rachel, ia terus meringis dan memegangi perutnya. Arsen yang bingung pun akhirnya langsung keluar dari mobil, tak sengaja matanya melirik ke arah sebuah mini market yang ada di ujung jalan.
Akhirnya tanpa pikir panjang, Arsen pun langsung pergi meninggalkan Rachel yang tertidur di dalam mobilnya lalu mulai berjalan kaki menuju mini market yang berada tak begitu jauh dari mobilnya.
Begitu tiba di depan pintu masuk, langkah Arsen seketika berhenti, ia mendadak menjadi ragu untuk memasuki mini market itu mengingat barang-barang apa yang ingin ia beli.
"Baiklah Arsen Lim, tidak ada yang tidak bisa kau taklukan di kota ini, apalagi hanya masalah sepele seperti ini." Gumamnya dalam hati sembari memantapkan hatinya.
Akhirnya setelah menghela nafas panjang, ia pun mulai melangkah perlahan memasuki mini market, ia berjalan mondar-mandir di lorong-lorong rak yang telah tersusun beraneka ragam cemilan, minuman, dan lainnya.
Ia yang semakin bingung pun akhirnya mulai menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal karena ia belum pernah membeli keperluan wanita sebelumnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Akhirnya seorang pegawai minimarket pun menghampiri Arsen.
"Oh begini, aku sedang mencari...." Ucapan Arsen kembali terhenti karena ia sebenarnya sungguh merasa malu.
__ADS_1
"Emm aku mencari pembalut untuk wanita datang bulan." Ucapnya lagi setelah kembali menghela nafas.
"Oh ada di rak sebelah sana, mari ikut saya." Ucap pegawai dengan lembut.
"Ini, ada berbagai macam dan merk, anda tinggal pilih saja yang sesuai dengan kebutuhan." Ucap pegawai itu lagi sembari menunjukkan ke arah berbagai macam pembalut.
Setelah pegawai itu pergi, Arsen pun mulai berdiri cukup lama memandangi berbagai macam merk pembalut yang ada di hadapannya lalu mulai meraih dua bungkus pembalut untuk mengamatinya.
"Astaga apa ini? Kenapa ada yang bersayap dan tidak bersayap? Dan ini, apa ini? Kenapa ada pembalut khusus malam dan siang?" Tanya Arsen dalam hati sembari kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Astaga hal begini saja tapi sungguh membuatku hampir gila." Celetuknya lagi.
Beberapa menit telah ia habiskan hanya untuk memandangi berbagai macam pembalut, Arsen yang mulai frustasi merasa tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi, ia pun akhirnya mengambil semua jenis pembalut yang ada di rak lalu memasukkannya dalam keranjang.
"Permisi, apa ada obat untuk penghilang nyeri saat datang bulan?" Tanya Arsen lagi saat berpapasan dengan pegawai mini market.
"Oh di sebelah sini." Tunjuk sang pegawai.
"Terima kasih." Arsen pun tersenyum tipis.
"Benarkan, tidak ada yang tidak bisa ku lakukan." Celetuknya dalam hati sembari terus tersenyum.
Arsen pun kembali memasuki mobilnya, saat itu Rachel masih terlihat tertidur pulas dalam keadaan duduk bersandar di pintu mobil. Arsen yang merasa tak tega pun akhirnya dengan pelan mulai memindahkan kepala Rachel ke sandaran kursi, lalu dengan perlahan ia pun menurunkan sandaran kursi mobilnya, agar Rachel bisa lebih nyaman saat tidur dengan posisi berbaring.
Arsen pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke apartment Rachel yang sudah tak terlalu jauh itu. Sesekali ringisan pelan Rachel masih saja terdengar dalam tidurnya.
"Sabar lah, sebentar lagi kita sampai." Ucap Arsen pelan.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan lahan parkir apartment Rachel. Arsen pun kembali menatap Rachel yang masih tidur, merasa tak tega untuk membangunkannya, akhirnya ia pun membiarkan Rachel untuk tetap tidur ia memutuskan untuk menunggu hingga Rachel bangun dengan sendirinya.
Demi membunuh waktu, Arsen justru memilih membuka tablet miliknya untuk mengecek berbagai email yang masuk mengenai perusahaannya. Entah kenapa saat itu ia seolah mengabaikan Laura yang dulu begitu ia prioritaskan.
Tak berapa lama akhirnya perlahan mata Rachel terbuka, ia pun begitu terkejut saat mendapati Arsen Lim yang sedang duduk di sampingnya sembari menikmati sebotol kopi yang ia beli dari mini market tadi dengan tatapan matanya yang masih saja fokus memandangi tabletnya.
__ADS_1
"Ka, kamu?!" Ucap Rachel yang langsung terduduk.
"Sudah bangun?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Kita dimana ini?" Rachel pun langsung menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari tau dimana mereka saat itu.
"Sekarang kita ada di parkiran apartment mu." Jawab Arsen yang langsung meletakkan botol kopinya di sisi kursinya.
"Apa?! Sudah sampai? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Melihat mu yang tidur terlalu pulas membuatku jadi tidak tega untuk membangunkannya."
"Be, benarkah begitu?" Tanya Rachel yang mulai merasa terharu.
"Emm." Jawab Arsen singkat seolah berlagak cuek.
"Baiklah kalau begitu, aku turun dulu. Sebelumnya terima kasih sudah mengantarku." Rachel pun segera turun dari mobil.
"Dan jas mu ini, biarkan aku mencucinya lebih dulu." Ucapnya saat sudah berada di sisi mobil Arsen.
Seolah tak ingin menjawab, Arsen pun langsung meraih dua bungkus kantong belanjaan yang sejak tadi ia letakkan di kursi belakang mobilnya.
"Ini, ku yakin kamu membutuhkannya." Ucap Arsen sembari menyerahkan kedua kantong belanjaannya pada Rachel.
"Ha?! Apa ini?" Rachel pun menatap dua kantong itu dengan tatapan bingung.
"Lihat saja sendiri." Jawab Arsen datar.
"Baiklah, sudah malam, aku pulang dulu." Tambahnya lagi.
"Ok, terima kasih sekali lagi."
"Sama-sama." Arsen pun langsung melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Rachel seorang diri.
__ADS_1
"Huh dasar, Kenapa jadi dia yang sok bersikap cuek sekarang?" Celetuk Rachel dalam hati.
...Bersambung......