
Kini Arsen pun berdiri di sisi Rachel dan mulai merangkul pundaknya, hal itu sontak membuat Rachel tercengang sembari terus memandanginya dengan penuh kebingungan.
Begitu pula para wartawan yang jadi semakin banyak mengerumuni mereka, melihat tindakan Arsen yang seolah tak terjadi apapun di hadapan mereka, sontak membuat mata mereka mendelik seolah tak menyangka.
"Wah, tuan muda, apa anda yakin ingin memaafkan nona Rachel yang telah selingkuh bahkan di awal-awal pernikahan?" Tanya salah seorang wartawan.
Arsen pun menghela nafasnya sekali lagi dan kemudian mulai memancarkan sebuah senyuman tipis di hadapan mereka semua,
"Sepertinya kalian benar-benar salah paham tentang ini semua."
"Salah paham? Maksud anda salah paham yang bagaimana tuan muda?"
"Istriku ini tidak berselingkuh, dia juga pergi bersama Antony atas izinku," Ungkap Arsen berbohong.
Mendengar hal itu, kedua mata Rachel pun jadi semakin membulat saat mendengar statement yang di berikan oleh Arsen pada wartawan.
"Arsen Lim, kamu masih saja mencoba melindungi nama baikku bahkan disaat kamu sedang sakit hati dan kecewa padaku." Gumam Rachel dalam hati yang mulai kembali berkaca-kaca matanya karena merasakan haru dan merasa semakin bersalah.
"Hah?! Apa itu benar? Apa anda yakin tuan muda?!"
"Ya, tentu saja. Saat itu seharusnya aku lah yang menemui Antony untuk membahas beberapa proyek kerja sama yang sedang berjalan, tapi karena bertepatan saat itu aku sedang ada meeting mendadak dengan klien baru, jadi sebagai istri yang juga merangkap sebagai Sekretarisku, maka Rachel lah yang menggantikan aku untuk bertemu dengan Antony." Jelas Arsen lagi yang kembali tersenyum tipis.
Para wartawan yang mendengarnya pun mulai mengangguk tanda mengerti.
"Ooh jadi begitu ternyata, ternyata berita itu tidak benar." Celetuk beberapa wartawan sembari terus mengangguk-anggukan kepalanya.
Namun ada beberapa wartawan lagi yang masih merasa agak janggal dan masih kurang yakin pada pernyataan yang di berikan oleh Arsen saat itu.
__ADS_1
"Tapi tuan muda, difoto terlihat jelas jika nona Rachel seperti memegangi punggung tuan muda Antony, dan mereka terlihat begitu akrab, seperti lebih dari sekedar rekan kerja." Ungkap salah seorang wartawan,
Mendengar hal itu, tiba-tiba saja senyuman Arsen sejenak memudar, entah kenapa hatinya kembali terasa sakit saat membayangkan foto itu, apalagi dia pun melihat sendiri dengan mata kepalanya jika pada malam itu, Antony berusaha ingin mencium bibir istrinya.
Rachel pun kembali memandangi Arsen, entah bagaimana perasaannya saat itu ada perasaan gembira saat Arsen masih mau membelanya di depan khalayak ramai, namun perasaan sedih juga tidak terelakkan bahkan perasaan bersalah kini semakin besar dirasakan olehnya hingga membuatnya tak mampu berkata meski sepatah katapun.
"Tuan muda, kenapa anda diam saja? Apa anda mulai ragu dengan istri anda?" Tanya wartawan itu lagi.
Sebenarnya, saat itu Arsen mulai kembali merasa emosi dan ingin sekali rasanya ia meninju keras wajah wartawan yang berani berfikir seperti itu padanya. Namun lagi-lagi ia harus berpikir kembali tindakan apa yang harus ia buat di depan banyak orang, ia tidak mau hanya karena emosi sesaat, akan membuat lebih banyak prahara lagi.
Dan lagi, Arsen berpikir, jika ia memukul wartawan itu dan terlihat emosi, maka beritanya juga akan semakin menyebar dan dia yakin Antony nantinya akan semakin senang melihat hal itu, dan itulah yang di hindari oleh Arsen.
Akhirnya, Arsen pun kembali mendengus lalu memberikan senyuman tipisnya lagi,
"Tentu tidak, untuk hal itu aku juga tau pasti alasannya, karena istriku sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi, saat itu Antony sedang ingin merayakan kerja sama kami dengan mengajak istriku meminum wine, tapi sayangnya istriku tidak minum wine, jadinya dengan terpaksa Antony menghabiskan sendiri wine yang telah terlanjur ia pesan. Jadi itu lah yang membuatnya mabuk dan membuat istriku mau tidak mau harus memastikan dia aman dengan cara memegangi punggungnya dari belakang agar tidak ambruk." Jelas Arsen lagi yang terus berusaha untuk bersikap tenang,
"Oooh jadi begitu ternyata,, emm astaga ternyata beritanya benar-benar hoax." Celetuk seluruh wartawan lagi.
Sementara Rachel, saat itu ia pun mulai tertunduk malu dan mulai menitikkan air matanya karena ia sudah tak sanggup lagi membendungnya karena semakin merasa bersalah pada Arsen yang ternyata masih begitu peduli padanya.
"Istri macam apa aku ini? Istri macam apa??" Gumamnya dalam hati.
Ia begitu malu pada Arsen yang ternyata masih rela membohongi semua orang hanya demi menutupi kesalahan yang telah ia buat agar ia tidak terus di bully.
"Baiklah, kurasa sudah cukup penjelasan dariku, dan seperti yang kalian lihat, aku dan istriku masih baik-baik saja, dan tidak terjadi apapun di antara kami." Arsen pun semakin melebarkan senyumannya saat menatap Rachel sembari mulai mengusap-usap pundak Rachel.
"Tapi, kenapa nona Rachel sepertinya bersedih dan menangis?" lagi-lagi salah seorang wartawan merasa janggal dengan sikap Rachel yang nampak benar-benar aneh dan terus terdiam.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Arsen pun kembali melirik ke arah Rachel yang terus menunduk sembari terus menyeka air matanya yang semakin banyak menetes.
"Oh, hal itu terjadi karena berita yang kalian buat itu membuatnya sangat down, terutama saat membaca komentar-komentar pedas yang dilontarkan untuknya, itu lah yang membuatnya jadi shock dan seolah kehilangan semangat. Jadi ku harap, selanjutnya hal itu tidak akan terjadi lagi, karena jika masih ada yang berani memberi komentar miring padanya setelah mendengarkan penjelasanku, maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidup orang itu, siapapun dia aku tidak akan peduli!" Tegas Arsen di hadapan seluruh wartawan.
Arsen tanpa berkata apapun lagi, langsung membawa Rachel keluar dari kerumunan dengan dibantu beberapa security yang bekerja di kantor utama itu. Arsen berjalan cepat sembari terus menarik tangan Rachel untuk segera menjauh dari kerumunan wartawan, ia terus melangkah menuju luar gedung utama, sementara saat itu Rachel masih terus diam dan terus menyeka air matanya,
Hingga akhirnya tibalah mereka di parkiran dan di samping mobil Arsen, saat itu Arsen langsung melepaskan tangan Rachel dan kembali memasang wajah datarnya. Rachel kembali menatapnya dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku, maaf karena ulahku, kamu jadi harus ikut terlibat dan jadi harus berbohong pada orang banyak. Aku sungguh minta maaf." Ucapnya lirih.
Namun Arsen hanya diam dan memilih untuk langsung masuk ke dalam mobilnya. Saat itu Rachel hanya bisa terdiam memandanginya di tempat ia berdiri, seolah tanpa ingin menyusul masuk ke dalam mobil.
"Apa kau ingin mereka melihatku saat meninggalkanmu begitu saja disini dan akhirnya timbul lagi berita-berita baru?" Ketus Arsen yang menatap datar ke arah Rachel.
Rachel pun mengerti apa maksudnya, ia pun dengan lesu mulai melangkah memasuki mobil Arsen, hingga akhirnya mobil sport itu pun melaju cepat meninggalkan gedung utama.
"Setelah kejadian tadi, entah kenapa aku semakin merasa jika aku memang lah tidak pantas untuk bersanding denganmu, Arsen Lim." Gumam Rachel dalam hati yang kembali menangis.
Namun Arsen masih terus diam tanpa memperdulikan entah berapa banyak sudah air mata Rachel yang menetes sejak tadi. Menyadari mereka sudah sangat jauh dari gedung utama, Rachel pun kembali bersuara.
"Lagi-lagi, hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan padamu, aku mohon maaf kan aku. Dan aku semakin merasa, sepertinya wanita sepertiku memang tidak pantas untuk lelaki sebaik dan sesetia dirimu. Jadi lebih baik, kamu turunkan saja aku disini, bahkan duduk berdampingan denganmu pun aku sangat merasa malu dan benar-benar tidak pantas." Ungkap Rachel yang terdengar begitu lirih.
Dan apa yang terjadi, seolah sedang kehilangsn rasa tak tegaannya, kali ini Arsen memilih untuk menuruti permintaan Rachel. Ia dengan cepat langsung saja mengeremkan mobilnya hingga membuat laju mobil mewah itu terhenti seketika.
*Ciiiiiiiitttt*
Bunyi dari ban mobil yang bergesekan kuat dengan jalanan aspal pun santer terdengar, Rachel kembali memandang lirih ke wajah Arsen yang datar dan saat itu hanya menatap lurus ke depan seolah tanpa memperdulikan Rachel yang ingin turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk semuanya, tolong jaga dirimu." Ucap Rachel yang jadi semakin putus semangat saat melihat Arsen yang seolah tidak mencegah kepergiannya.
...Bersambung......