
Rachel dengan langkah penuh semangat akhirnya kembali menuju ke ruangannya yang berada bersebelahan dengan ruangan Arsen. Dan benar saja, saat itu Arsen masih terlihat berada di ruangannya, ia terlihat begitu fokus pada beberapa berkas di tangannya.
"Sepertinya dia sudah sedikit lebih tenang sekarang, mungkin sekarang lah waktu yang tepat untuk memberikan makanan ini." Ucap Rachel sembari tersenyum tipis memandangi bungkusan makanan yang di pegangnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari pintu ruangan Arsen, tanpa meliriknya Arsen pun langsung menyuruh siapa pun orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.
"Masuk." Ucap Arsen dengan datar.
Tak lama Rachel dengan langkah sedikit ragu-ragu pun mulai masuk ke dalam ruangan Arsen, ia masih menyembunyikan bungkusan yang ia bawa di belakang tubuhnya. Arsen pun kemudian meliriknya singkat lalu kembali menatap datar ke arah berkas-berkasnya.
"Ada apa?" Tanya Arsen datar.
Rachel pun menghela nafas panjang, lalu ia pun semakin mendekati Arsen dan langsung meletakkan bungkusan makanan yang ia bawa ke atas meja.
"Ini aku bawakan makan siang untuk mu tuan muda."
Arsen pun kembali melirik ke arah bungkusan yang ada di hadapannya dengan wajah datarnya.
"Apa ini? Siapa yang menyuruhmu membawakan aku makanan?"
"Tidak ada, aku lah yang berinisiatif sendiri."
"Tidak perlu repot memikirkan makan ku, bawalah makanan ini kembali, aku tidak lapar. Tugas mu hanyalah membantu meringankan pekerjaanku di kantor, bukan menjadi kurir makanan." Jawab Arsen tanpa melirik ke arah Rachel.
Mendapat jawaban seperti itu dari Arsen sontak membuat Rachel mulai naik darah, membuatnya mulai merapatkan giginya sembari terus menggeram dalam hati.
"Dasar lelaki tidak tau terima kasih, benar-benar menyebalkan sekali kau ini Arsen Lim. Huh rasanya aku ingin membunuhmu saat ini juga." Ketus Rachel dalam hati yang terus menggeram.
Namun lagi-lagi Rachel bisa mengendalikan dirinya, ia pun berkali-kali menghela nafas demi menetralisir emosinya yang mulai terpancing.
"Tuan muda, aku bawakan makanan untuk mu bukan ada maksud tertentu, ini juga ada hubungannya dengan perusahaan. Bukankah seorang pemimpin sebuah perusahaan raksasa membutuhkan banyak energi? Baik itu energi untuk banyak berfikir mau pun untuk bekerja. Dan jika kamu tidak makan, maka energinya otomatis tidak akan bertambah dan justru malah terus terkuras. Itu tentu tidak baik untuk kelangsungan perusahaan kan?" Ungkap Rachel sembari mulai duduk di hadapan Arsen.
__ADS_1
"Aku sebagai sekretaris yang baik, tentu juga harus memikirkan kesehatan atasanku, karena jika nanti anda sakit karena telat makan dan banyak pikiran, itu akan mengganggu semua jadwal anda yang telah tertulis disini." Tambah Rachel lagi sembari kembali membuka map yang berisiki jadwal mingguan Arsen.
Mendengar hal itu Arsen pun mendengus sembari tersenyum tipis.
"Sebuah alasan yang sangat masuk akal." Ucap Arsen.
Tak lama sebuah bunyian sumbang yang berasal dari perut Arsen pun berhasil terdengar oleh Rachel, membuat Rachel seketika harus menahan tawanya karena melihat Arsen yang menjadi salah tingkah.
"Mungkin anda bisa menyembunyikan rasa lapar, tapi sepertinya tidak untuk para cacing di perut anda tuan muda." Celetuk Rachel.
Arsen pun hanya mendengus sekali lagi sembari menahan malunya di hadapan Rachel, kali ini ia tak bisa mengelak lagi dan tak bisa berkata apapun lagi untuk membela dirinya.
Rachel pun akhirnya kembali tersenyum, dan kembali mendekatkan makanan itu pada Arsen.
"Ayo, makan lah. Mumpung masih hangat." Ucap Rachel yang semakin melebarkan senyumannya.
Arsen pun kembali memandangi bungkusan makanannya, lalu mulai mengendus aroma yang mulai keluar dari bungkusan itu.
"Apa ini? Dari baunya sepertinya aku kenal makanan ini." Arsen pun seketika langsung membukanya.
"Kwetiaw goreng kecap?" Arsen pun kembali menatap Rachel.
Rachel hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Dimana kamu mendapatkannya? Oh astaga sudah sangat lama aku tidak memakan makanan ini."
"Di kantin kantor." Jawab Rachel polos.
"Ha?! Kantin kantor?" Arsen sedikit terbelalak.
Lagi-lagi Rachel pun hanya mengangguk dengan polosnya.
"Apa kamu yakin makanan di kantin itu enak dan hiegenis?"
__ADS_1
"Tentu saja, coba makan saja dulu. Bukankah kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari yang terlihat saja?" Ucap Rachel.
Lagi-lagi Arsen pun terdiam, karena menurutnya ucapan Rachel kali ini pun ada benarnya. Merasa tak tahan dengan godaan makanan yang ada di hadapannya, Arsen tanpa berfikir panjang pun mulai melahapnya begitu saja.
Saat itu Rachel begitu senang melihat Arsen mau memakan makanan yang ia bawa meski di awal ia mengalami penolakan.
"Makan lah ini juga." Rachel dengan semangat membuka bungkusan bapao keju.
"Dan ini minuman untuk mu tuan muda, ku yakin ini juga bisa membantu menyegarkan otak anda yang sedang kacau akibat pertengkaran anda dengan pacar anda tadi." Tambah Rachel lagi sembari mendekatkan cup es capuccino pada Arsen.
"Kwetiaw goreng kecap? Bapao keju? Es Capuccino? Bagaimana kamu bisa tau semua kesukaanku?" Tanya Arsen yang mulai merasa heran.
"Kesukaan mu? Apa kamu menyukai semua ini tuan muda? Aku bahkan baru mengetahui hal itu hehehe. Aku hanya memilih apa yang menurutku menarik saja hehe." Jawab Rachel berbohong.
Namun Arsen yang sudah terlanjur lapar pun hanya memilih mengangguk-angguk saat mendengar penjelasan dari Rachel tanpa ingin bertanya lebih dalam lagi.
"Kamu benar, kwetiaw ini sangat enak. Aku baru tau jika makanan di kantin kantor ini ternyata bisa seenak ini." Celetuk Arsen sembari terus melahap makanannya.
"Itulah sebabnya kita terkadang harus mencoba terlebih dahulu sebelum berasumsi." Jawab Rachel dengan tenang.
Arsen kembali mengangguk dan masih terus melahap makanannya dengan sangat semangat. Membuat Rachel yang ada di hadapannya terus tersenyum memandanginya, saat itu Rachel seolah sedang memandangi Arsen kecil yang sedang bersemangat melahap makananya, benar-benar menggemaskan.
"Huh ini benar-benar sungguh enak, rasanya hampir mirip seperti masakan mamaku. Ya meskipun masakan mama ku jauh lebih enak dari ini." Celetuk Arsen lagi.
Rachel kembali tersenyum saat tanpa sengaja melihat ada sisa makanan di sisi bibir Arsen, ia pun langsung meraih tisu yang ada di sudut meja kerja Arsen. Lalu dengan refleks langsung mengusap lembut ujung bibirnya untuk membersihkan sisa makanan itu.
"Ternyata tuan muda Arsen Lim saat makan masih seperti anak kecil ya. Makan lah yang tenang agar tidak belepotan seperti ini." Ucap Rachel dengan lembut sembari mengusap ujung bibir Arsen.
Hal itu seketika membuat Arsen terdiam, ia menatap Rachel dengan begitu lekat, entah kenapa jiwanya terasa menghangat saat diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita selain ibunya.
Mendapat tatapan seperti itu dari Arsen, sontak membuat Rachel tersadar, ia pun seketika langsung menjauhkan tangannya dan langsung meminta maaf.
__ADS_1
...Bersambung......