Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 174


__ADS_3

Tak ingin membuang lebih banyak waktu untuk berfikir, akhirnya Rachel pun bergegas melangkah menuju pintu dan langsung membukanya. Mata Rachel melebar, saat mendapat seseorang yang ia kenal sebagai asisten pribadi Antony datang menemuinya secara khusus.


"Anda bukankah.."


"Ya, saya orang yang bekerja sebagai asisten pribadi tuan muda Anton." Jelas lelaki itu dengan ramah.


"Iya hehe, tapi maaf, ada perlu apa kesini?"


"Maafkan saya jika saya sedikit lancang nona, tapi bisakah anda meluangkan sedikit saja waktu anda untuk tuan muda anton hari ini?"


"Maksudnya? Ta, tapi setauku, tidak ada agenda meeting apapun hari ini dengan One Light Corp."


"Itu memang benar nona, tapi, ini lebih kepada urusan pribadi. Saya lihat, jika antara nona dan tuan muda, memiliki hubungan yang cukup dekat, bahkan terakhir yang saya tau, tuan muda Anton pernah menaruh perasaan pada anda dan saya yakin, hal itu masih dirasakannya hingga saat ini."


"Maaf tuan, aku sungguh tidak mengerti maksud dari ucapanmu ini, bisakah langsung to the point saja? Karena kebetulan, aku juga ingin pergi." Jelas Rachel namun dengan nada lembut dan ramah.


"Begini nona, hari ini adalah hari ulang tahun tuan muda Anton, sekaligus juga menjadi hari kematian adiknya yang begitu ia cintai. Selama ini, dia selalu kesepian, tidak memiliki teman dekat, dan tidak begitu akur dengan kedua orang tuanya. Jadi,, bisakah anda menghiburnya, setidaknya saya ingin memberikan kesan ulang tahun yang berbeda dan akan menjadi sangat berarti di sepanjang hidupnya."


Mendengar permintaan yang terlihat begitu tulus itu, membuat Rachel seketika tertegun. Ia benar-benar dilanda kebingungan yang luar biasa, ia menganggap Antony adalah temannya, bahkan mereka akhir-akhir ini juga sudah mulai akrab layaknya teman pada umumnya, hingga muncul rasa kasihan saat mendengar perkataan asisten pribadinya barusan. Namun di sisi lain, Rachel begitu takut Arsen marah saat mengetahui hal ini.


"Ta, tapi... kenapa harus aku orangnya?" Tanya Rachel lagi dengan raut wajahnya yang jadi terlihat kikuk.


"Hanya anda orang satu-satunya yang bisa membuat tuan muda tersenyum lepas. Saya cukup lama memperhatikannya, tuan muda benar-benar berbeda ketika berhadapan dengan anda."


"Tapi aku sudah..."


"Ya, saya tau anda sudah menikah nona, maka dari itu sebelumnya saya sudah meminta maaf atas kelancangan ini. Tapi tolong bantu saya sekali ini saja, saat ini, tuan muda sedang berada di perpustakaan, seperti biasa, dia selalu melewati hari ulang tahunnya dengan hanya termenung di suatu ruangan seorang diri, dan hal itu sudah terjadi selama bertahun-tahun, benar-benar tidak ada yang spesial dalam hidupnya. Jadi bisakah anda membantu untuk menghiburnya??"


"Apa Antony yang menyuruhmu?" Tanya Rachel yang jadi sedikit curiga.


"Tidak, sama sekali nona, aku kesini atas inisiatifku sendiri. Aku sudah cukup lama bekerja untuknya, jadi, tuan muda anton bukan hanya sekedar bos bagiku."


Rachel kembali terdiam beberapa saat, ia sama sekali tidak melihat adanya kebohongan dari sorot mata orang yang kini ada di hadapannya.


"Jika benar begitu, maka kasihan sekali Antony, sekarang, aku paham kenapa tempo hari dia memintaku untuk jadi temannya. Kurasa, tidak ada salahnya jika aku menghiburnya, bukankah memberi kebahagiaan pada seseorang juga termasuk perbuatan mulia?" Pikir Rachel dalam hati.


Akhirnya setelah beberapa saat berfikir, tibalah Rachel pada keputusannya yang menyetujui untuk ikut bersama asisten pribadi Antony.


Sepanjang jalan, Rachel kebanyakan diam karena terus berfikir.


"Sebaiknya aku hubungi Arsen, agar dia tidak salah paham." Gumam Rachel sembari mulai meraih ponselnya.


Namun, saat baru saja ingin menelpon, tiba-tiba saja Rachel menjadi ragu, karena ia meyakini, Arsen akan tidak setuju dan melarang keras untuknya bertemu dengan Antony.


"Sebaiknya jangan, jika tau ia bahkan tidak akan pernah mengizinkannya." Celetuknya lagi yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Sayang, maafkan aku, ini hanya sebentar, aku hanya ingin menghiburnya sebagai teman, ku harap kamu mengerti." Gumam Rachel lirih dalam hati.


Rachel tak sengaja melirik ke arah toko kue, lalu meminta supir untuk berhenti.


"Ada apa nona? Apa ada masalah?" Tanya sang Asisten.


"Sangat aneh rasanya jika aku datang hanya dengan tangan kosong, aku tidak sengaja melihat toko kue, jadi aku ingin turun sebentar untuk membeli kue untuk bosmu." Jawab Rachel sembari tersenyum.


"Oh apa perlu saya yang turun nona?"


"Aaaa tidak perlu, sebagai teman aku ingin memilih sendiri kue ulang tahun untuknya." Rachel pun kemudian bergegas turun untuk menuju toko kue yang berada tepat di tepi jalan.


Mobil sedan mewah berwarna hitam yang di tumpangi oleh Rachel, akhirnya berhasil membawanya hingga depan loby perpustakaan milik Antony. Rachel perlahan turun dengan matanya yang melirik kesana kemari, memandangi sekitarnya.


Rachel melangkah dengan tenang memasuki perpustakaan megah itu dengan di dampingi oleh asisten Antony. Sang Asisten terus menuntunnya untuk menyusuri berbagai ruangan hingga akhirnya ia pun tiba di depan sebuah pintu yang kala itu tertutup rapat.


"Di dalam ruangan inilah tuan muda selalu menghabiskan waktunya setiap kali hari ulang tahun dan kematian adiknya tiba." Jelasnya lagi.


Rachel pun terdiam sembari menoleh ke arah pintu yang ukurannya cukup tinggi itu. Dahi Rachel mulai mengernyit saat menyadari jika ia tau ruangan ini.

__ADS_1


"Aku tau ruangan ini, aku pernah berada di dalamnya." Ungkap Rachel dengan tenang.


"Benarkah?? Apa anda yakin??" Tanyanya yang nampak begitu terkejut seolah tidak percaya.


"Kenapa wajah anda seperti itu? Seolah tidak percaya dengan ucapanku."


"Bu,, bukan begitu nona, setau saya tidak ada siapa pun yang di izinkan masuk ke dalam, termasuk saya yang sudah lama bekerja dengan tuan muda, tidak pernah tau bagaimana isi dalamnnya."


"Ha?! Benarkah? Lalu, apa aku bisa menyebut diriku beruntung karena menjadi satu-satunya orang asing yang tau bagaimana di dalam ruangan ini?" Rachel pun terkekeh kecil.


"Bukan beruntung, lebih tepatnya anda adalah wanita yang di spesialkan oleh tuan muda."


Mendengar hal itu, lagi-lagi Rachel terdiam dengan perasaan yang kikuk.


"Eemm baiklah, lalu bagaimana cara kita masuk ke dalam? Apa kamu yakin dia tidak akan marah jika kita melakukan ini??" Tanya Rachel yang sedikit ragu.


"Saya memiliki aksesnya, namun meski begitu, saya tetap tidak punya keberanian untuk masuk ke dalam, karena sudah mendapat ultimatum dari tuan muda agar tidak pernah menginjakkan kaki di ruangan ini sebelum mendapat perintah."


"Oh, begitu rupanya. Emm baiklah, ayo kita lakukan," Rachel pun kembali tersenyum.


Asisten itu bergegas mengeluarkan kue yang di beri Rachel dari dalam kotak, lalu memberikannya pada Rachel. Ia pun menempelkan semua kartu di sisi pintu, kartu itu ternyata berfungsi sebagai akses untuk masuk ke dalam.


"Silahkan masuk nona." Asisten itu membukakan pintu dan mempersilahkan Rachel untuk masuk.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Saya sebaiknya menunggu disini."


"Begitu kah? Emm baiklah, semoga kamu sedang tidak menjebakku." Ucap Rachel yang kemudian mulai masuk secara perlahan ke ruangan itu.


Ruangan itu masih sama seperti saat pertama kali Rachel masuk, masih terlihat begitu menakjubkan. Suara gemericik air terjun buatan yang ada di tengah-tengah ruangan itu santer terdengar ditelinga hingga membuat siapapun yang berada di dalamnya jadi merasakan ketenangan seperti berada di alam lepas.


Rachel terus melangkah pelan memasuki ruangan itu lebih dalam lagi, matanya kembali melirik kesana dan kemari demi mencari keberadaan Antony. Setelah beberapa langkah, kini langkah Rachel seketika mulai terhenti, saat akhirnya mendapati Antony yang kala itu sedang duduk membelakanginya.


Sejenak, Rachel seolah ikut terhanyut dalam rasa sedih yang di rasakan oleh Antony, entah kenapa bisa begitu, namun tiba-tiba saja ia merasakan jika kedua matanya mulai berkaca-kaca.


Rachel segere menengadahkan kepalanya ke atas, agar air matanya yang tergenang tidak tumpah di pipinya. Lalu ia menghela nafas singkat, dan kembali memunculkan senyumannya, lalu mulai menyanyikan lagu ulang tahun dengan lemah lembut.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Tony."



Mendengar nyanyian dari suara yang tak asing baginya, membuat Antony sontak menoleh ke arah belakangnya. Matanya membulat sempurna, ia nampaknya dibuat begitu tercengang saat mendapati sosok Rachel sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman.


Antony seketika mengucek-ucek matanya, awalnya ia berfikir rasa kesepian mulai membuatnya berhalusinasi.


"Kenapa ini terasa sangat nyata?" Ujarnya seorang diri.


Mendengar hal itu, membuat Rachel semakin tersenyum dan kembali melangkah untuk mendekatinya.


"Ini nyata, bukan hanya imajinasi, apalagi halusinasimu." Ucap Rachel.


Antony yang masih begitu tercengang, perlahan mulai bangkit dari duduknya dengan sorot mata yang seolah tak lepas menatap Rachel.


"Ini, ini sungguhan?" Tanyanya lagi sembari memegang kedua pundak Rachel, memandangi Rachel dari ujung kaki hingga kepala untuk lebih memastikannya lagi.


"Happy birthday Antony Yue, I wish you can be happier in your life, always." Ucap Rachel lagi sembari menyodorkan kue ke hadapannya.


Antony terdiam, memandangi kue ulang tahun yang diberikan Rachel padanya.


"Kamu,, kamu membelikan ini?"


"Iya, memangnya kenapa? Apa tidak sesuai dengan seleramu? Eem kalau begitu maaf, ini terjadi begitu mendadak, membuatku sama sekali tidak punya persiapan apapun." Jelas Rachel secara singkat.


"Tidak! aku,. aku suka, suka sekali." Antony pun akhirnya tersenyum dan meraih kuenya.

__ADS_1


Antony nampaknya masih begitu speechless dengan kedatangan Rachel muncul secara tiba-tiba dan tak terduga. Membuatnya masih sulit untuk berkata-kata, yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah memandangi Rachel.


"Hei, kenapa memandangku seperti itu ha? Pandanganmu itu, secara tidak langsung seolah seperti sedang mengintimidasiku. Tau tidak?"


"Ehh maaf, maaf, aku,,, aku masih begitu speechless karena hal ini. Ayo duduk lah." Antony bersigap mempersilahkan Rachel untuk duduk.


Mereka pun meniup lilin bersama, lalu memotong dan memakan kuenya juga bersama. Banyak hal yang mereka perbincangkan saat itu, terutama bagaimana Rachel bisa mengetahui hari ulang tahun Antony yang padahal ia tidak pernah mempublish hal itu. Kedatangan Rachel membuat suasana hatinya seketika berubah, kini ia banyak tersenyum bahkan bisa tertawa lepas karena Rachel.


"Terima kasih banyak." Ucap Antony tiba-tiba dengan tatapannya yang jadi begitu sendu.


"Terima kasih? Untuk apa? Aku bahkan belum memberimu hadiah apapun." Jawab Rachel nampak bingung.


"Terima kasih sudah datang kesini, dan merubah semuanya terutama suasana hatiku." Raut wajah Antony kembali berubah menjadi terlihat begitu sendu.


Membuat Rachel yang awalnya terus tersenyum, perlahan mulai memudarkan senyumannya saat melihat Antony yang mendadak terlihat kembali lirih,


"Bertahun-tahun aku melewati hari ulang tahunku hanya seorang diri, tanpa perayaan apapun, bahkan kedua orang tua ku pun juga sering melupakan hari ini. Mereka begitu sibuk, kurasa saat ini pun, mereka lupa jika mereka masih memiliki seorang anak." Ungkap Antony sembari tersenyum, namun senyumannya kali ini tidak sama seperti senyuman sebelumnya, terlihat sangat lirih.


"Tepat di hari ini juga, adikku, adik kesayanganku, pergi meninggalkan aku untuk selamanya."


Antony pun kembali meraih bingkai foto yang sejak tadi ia pandangi. Lalu menunjukkannya pada Rachel.


"Dia Ananta, adikku."


Rachel pun tersenyum tipis memandangi wajah Ananta yang terlihat begitu manis dengan senyumannya yang nampak begitu ceria.


"Dia mirip seperti mu." Ungkap Rachel pelan.


Antony pun tersenyum.


"Ya, banyak yang bilang seperti itu, hanya saja, dia memiliki sikap kebalikan dariku. Jika aku memiliki sikap yang begitu tenang, maka Ananta, dia adalah orang yang terlalu grasak grusuk dan ceroboh."


"Eeeemm kalau boleh tau, bagaimana dia bisa meninggal?" Tanya Rachel dengan sangat hati-hati.


"Dia mengalami kecelakaan yang membuatnya tewas di tempat." Jelas Antony dengan tatapannya yang mulai kosong.


Rachel kembali terdiam, merasa menyesal karena menanyakan hal yang jadi membuat Antony semakin bersedih.


"Maaf sudah membuatmu kembali mengingatnya, aku menyesal. Harusnya aku kesini untuk membuatmu senang." Rachel pun ikut terlihat murung.


"Sama sekali tidak, aku senang kamu menanyakannya padaku, itu menandakan kamu cukup peduli pada hidupku." Antony akhirnya kembali tersenyum.


Rachel ikut tersenyum tipis.


"Jadi, apa benar-benar tidak ada hadiah untukku?"


"Hah?! Emm hadiah?" Rachel pun mulai terlihat bingung.


"Iya hadiah, biarpun aku memiliki segala yang ku butuhkan, tapi rasanya akan lebih istimewa bila ada seseorang memberikan sesuatu sebagai hadiah."


"Ta, tapi aku belum menyiapkannya. Emm baiklah, sekarang katakan, kamu sedang menginginkan apa?"


"Apa aku bisa meminta apapun?" Tanya Antony yang mulai menatap Rachel begitu lekat.


"Ya setidaknya mintalah sesuatu yang aku bisa lakukan, jangan meminta untuk hal yang tidak bisa."


"Aku yakin kamu bisa melakukannya jika kamu berkenan."


"Apa itu?"


"Tapi sebelumnya kamu harus berjanji akan mengabulkan apapun permintaanku."


"Eemm baiklah, karena ini ulang tahunmu, maka minta lah apapun, aku akan memberikannya, tapi ingat apa yang sebelumnya aku katakan. Minta apa saja yang bisa kulakukan, jangan meminta hal yang tidak mungkin."


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2