
Laura terus berjalan sembari menangis sesenggukan, tanpa sengaja ia pun berpapasan dengan Alex.
"Laura, kau disini?" Tanya Alex yang masih belum tau apapun.
"Iya paman." Jawab Laura sembari sedikit mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Laura, ada apa denganmu? Kau menangis?"
Laura masih diam sembari terus memandangi ke arah ruangan Arsen, dalam hatinya ia masih begitu berharap jika saat itu Arsen bisa keluar dari ruangan itu untuk menyusulnya. Namun hal itu nyatanya hanya tinggal harapan belaka karena hingga saat itu Arsen tetap tak terlihat muncul.
"Dia benar-benar tidak menyusulku kali ini, sungguh keterlaluan!" Gumam Laura dalam hati dan kembali menangis.
"Hei Laura, apa kau dan Arsen bertengkar?" Tanya Alex lagi yang ikut menatap singkat ke arah ruangan Arsen.
"Aku tidak apa-apa paman." Jawab Laura namun ia justru semakin menangis.
Tak lama Benzie pun terlihat muncul sembari merapikan jasnya, ia pun terlihat sedikit terkejut saat mendapati Alex dan Laura yang berada tak jauh dari ruangan Arsen.
"Ada apa ini?" Tanya Benzie dengan tenang.
"Ben, entah lah, saat kami bertemu dia sudah menangis." Jawab Alex.
"Aku curiga dia dan Arsen sedang bertengkar hebat." Bisik Alex kemudian.
Mendengar hal itu membuat Benzie seketika jadi tersenyum kecil, namun ia segera memasang wajah biasa saja di hadapan Laura.
"Laura, ini kantor, tidak baik jika ada banyak orang melihatmu menangis seperti ini. Ada apa? Apa kau dan Arsen bertengkar?" Tanya Benzie yang sebenarnya ingin mengorek informasi sebenarnya.
"Tanyakan saja pada Arsen paman." Jawab Laura yang langsung saja pergi dengan membawa tangisannya.
"Astaga anak itu, benar-benar tidak sopan." Celetuk Alex sembari memandangi kepergian Laura.
Saat itu Benzie kembali tersenyum, ia pun langsung kembali melangkah menuju ke ruangan Arsen putranya. Begitu pula dengan Alex yang seolah tak mau ketinggalan berita, ia pun ikut melangkah cepat untuk menyusul Benzie.
Saat itu Arsen masih diam, ia dengan wajahnya yang mengetat memilih untuk kembali duduk di kursinya. Sementara Rachel yang sejak tadi masih diam berdiri di tempatnya kini mulai dengan pelan kembali bersuara.
__ADS_1
"Ak, aku sungguh minta maaf tuan muda." Ucapnya dengan sangat pelan.
"Kembali lah ke ruanganmu." Jawab Arsen datar.
Sejenak Rachel terdiam, dalam hatinya ingin sekali ia tetap berada di sisi Arsen saat keadaan Arsen sedang kacau seperti saat itu. Namun hal itu tak dapat ia lakukan untuk saat ini karena statusnya di kantor itu masih sebagai bawahan Arsen yang harus patuh.
Arsen yang melihat Rachel masih berdiri terdiam, kembali menatapnya dengan wajah datar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Rachel yang menyadari hal itu pun seketika langsung bersigap pergi meninggalkannya.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku." Ucap Rachel yang langsung melangkah cepat keluar dari ruangan Arsen.
Melihat Rachel yang baru saja keluar dari ruangan Arsen, sontak membuat langkah Benzie seketika terhenti, ia pun kembali berbalik arah dan kembali tersenyum menatap Alex.
"Kurasa aku tau penyebab mereka bertengkar." Ucap Benzie yang semakin melebarkan senyumannya.
"Benarkah? Apa?"
Benzie pun mengarahkan wajahnya ke arah Rachel yang baru keluar dari ruangan Arsen seolah memberi jawaban pada Alex.
"Oh hahaha astaga ya ya ya, aku paham sekarang." Alex pun ikut tersenyum.
Benzie hanya tersenyum, lalu memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan Arsen.
"Arsen." Panggil Benzie begitu masuk ke ruangan putranya.
"Papa, uncle, ada apa?" Tanyanya datar.
"Papa melihat Laura keluar dari ruanganmu sambil menangis. Ada apa?" Tanya Benzie yang sembari mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Oh itu, tidak apa pa, hanya masalah kecil." Jawab Arsen datar.
Arsen sengaja tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya pada sang ayah, karena ia begitu paham bagaimana ayahnya itu. Jika Benzie tau jika Laura telah menghina baju pemberian Yuna pada malam pesta itu, tentu Benzie akan lebih murka dari pada Arsen, dan bisa saja ia memusnahkan Laura saat itu juga.
"Oh begitu." Jawab Benzie singkat.
"Apa ini ada hubungannya dengan Bella? Apa Laura sedang cemburu buta dengan sekretaris baru mu itu?" Tanya Alex lagi yang masih saja kepo.
__ADS_1
"Lebih kurang seperti itu uncle, tapi itu bukanlah masalah besar dan aku bisa menghandle nya." Jawab Arsen yang berusaha tetap bersikap tenang di hadapan ayah dan pamannya.
"Dengar Arsen, papa tidak mau hal seperti ini terulang kembali, dimana kantor utama di jadikan sebagai tempat perkelahian atau pun tempat berpacaran bagi kalian yang sedang menjalin asmara. Apalagu menyangkut pautkan hubungan asmara dan bisnis, itu sangat lah tidak cerdas. Mengerti?" Tegas Benzie pada anak sulungnya itu.
"Hei, kau bicara begitu seolah kau tidak pernah menjadikan kantor ini sebagai tempatmu memadu kasih dengan Yuna saja. Apa kau lupa bagaimana meja kerjamu dulu sudah menjadi saksi bisu bagaimana kau dan Yuna...." bisik Alex sembari tertawa geli.
"Diam kau!" Ketus Benzie pelan sembari menyenggol lengan Alex.
Alex pun akhirnya kembali terdiam sembari menahan tawanya.
"Ya, aku mengerti pa. Aku pun sudah mengatakan hal itu pada Laura." Jawab Arsen sembari mengangguk pelan.
"Bagus!" Benzie pun tersenyum.
"Oh ya Arsen, ini sudah mau jam makan siang, apa kau ingin makan bersama kami?" Tanya Benzie lagi.
"Maaf pa, tapi sepertinya hari ini aku makan di kantor saja, ada banyak berkas yang masih harus ku periksa disini." Jawab Arsen yang mencoba berkilah.
"Emm baiklah, kalau begitu papa pergi dulu."
"Ya pa."
Benzie dan Alex pun akhirnya keluar dari ruangan Arsen, meninggalkan Arsen seorang diri dengan sisa rasa kesalnya terhadap perkataan Laura yang masih begitu membuatnya tersinggung.
"Kamu benar-benar keterlaluan Laura, bagaimana bisa kamu sanggup berkata begitu, padahal mamaku begitu baik padamu" Gumam Arsen dalam hati sembari kembali melamun.
Rachel yang melihat Arsen terus melamun pun akhirnya melirik ke arah jam tangannya.
"Sudah jam makan siang? Apa dia tidak makan?" Tanya Rachel dalam hati.
Rachel pun mulai bangkit dari duduknya, berniat ingin mengetuk pintu ruangan Arsen, tapi ketika ia berfikir lagi, sebaiknya ia tidak mengangguk Arsen dulu karena bisa saja Arsen kembali mengusirnya.
"Baiklah Arsen Lim, sepertinya kamu memang perlu sendiri dulu untuk beberapa saat." Rachel pun tersenyum lirih memandangi Arsen dari ruangannya.
"Ok Rachel alias Bella, sebaiknya kamu saja yang makan, karena untuk mengambil hati seorang Arsen Lim ternyata membutuhkan banyak tenaga." Celetuk Rachel seorang diri sembari mulai merapikan meja kerjanya.
__ADS_1
...Bersambung......