Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 47


__ADS_3

Rachel dengan semangat langsung masuk ke dalam mobil, Arsen yang sudah masuk duluan dengan sikap tenangnya mulai menstarter mobilnya sembari melirik singkat ke arah Rachel.


"Jangan lupa sabuk pengaman mu." Ucap Arsen dengan datar.


"Oh ok tuan muda." Dengan cepat Rachel pun meraih sabuk pengaman dan mulai ingin mengaitkannya ke sisi kursinya,


Namun entah bagaimana bisa Rachel tak berhasil mengaitkan sabuk pengamannya meski sudah mencoba beberapa kali.


"Kenapa ini susah sekali? Apa caranya berbeda seperti mobil biasa?" Tanya Rachel pelan sembari terus fokus mencoba mengaitkan sabuknya.


Arsen yang mendengar hal itu pun seketika kembali melirik ke arah Rachel, tanpa berkata apapun, Arsen pun langsung saja meraih sabuk itu dari tangan Rachel.


"Begini caranya." Ucap Arsen kemudian sembari menunjukkan cara mengaitkan sabuk pengaman yang benar pada mobilnya.


Namun lagi-lagi jarak mereka yang begitu dekat kembali membuat jantung Rachel begitu berdebar cepat. Rasa gugupnya pun tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Apalagi saat Arsen menatapnya, membuat kedua mata mereka saling beradu dengan jarak yang cukup dekat.


"Hei." Ucap Arsen.


Lagi-lagi Rachel pun tersentak, dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Kenapa terus menatapku? Kamu mengerti tidak yang ku ajarkan tadi?"


"Iya, iya mengerti hehehe." Rachel pun akhirnya hanya bisa cengengesan.


Tanpa ingin memperpanjang masalah, Arsen pun mulai menancap gas mobilnya, kini


kedua mobil mewah itu pun akhirnya mulai bergerak meninggalkan area gedung kantor utama yang megah. Di sepanjang jalan, dengan senyuman tipisnya, mata Rachel pun terus memandang kagum ke arah jendela mobil, ia begitu senang akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di kota kelahirannya yang sudah banyak berubah itu.


Namun tak lama ponsel Arsen kembali berdering, ia pun segera meraih ponsel yang berada di saku jasnya dan langsung menjawab panggilan itu.


"Ya sayang." Jawab Arsen namun dengan nada yang datar.


Mendengar kata "sayang" yang terlontar dari bibir Arsen, sontak membuat Rachel yang awalnya terus tersenyum, kini seketika menjadi manyun dan mulai melirik tajam ke arah Arsen.


"Kamu dimana sayang?" Tanya Laura.


"Aku sedang di jalan, mau ke restoran."


"Kamu makan di luar? Kenapa tidak mengajakku?"

__ADS_1


"Maaf, siang ini aku makan di luar bersama papa." Jawab Arsen dengan tenang.


"Hanya berdua??"


"Oh tentu tidak, aku juga makan bersama uncle Alex dan Sekretaris baruku."


"Apa? Sekretaris baru? Siapa dia? Bagaimana orangnya? Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" Laura seketika melontarkan begitu banyak pertanyaan yang cukup membuat Arsen memutarkan bola matanya.


"Iya, namanya Bella, dia baru masuk hari ini. Tadi aku begitu sibuk hingga lupa mengabarimu."


"Apa dia cantik?"


Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Arsen perlahan kembali melirik ke arah Rachel, ia memandangi singkat Rachel dari ujung rambut hingga kaki.


"Emmm lumayan." Jawab Arsen pelan.


"Apa?! Lumayan? Lumayan apa maksudmu? Lumayan cantik begitu?" Laura pun terdengar di buat mulai panas.


"Ya begitu lah kira-kira." Jawab Arsen dengan jujur.


Mendengar jawaban Arsen sontak membuat Laura semakin merasa tak karuan.


"Iya, dia berada di mobilku saat ini."


"Apa?! Jadi kamu dan sekretaris itu hanya berdua di mobil?" Laura pun semakin menggeram, karena selama ia mengenal Arsen, ia tak pernah mendengar ataupun melihat Arsen berada di mobil yang sama dengan wanita lain selain dirinya.


"Iya, memangnya kenapa? Kenapa nada suaramu terdengar seperti kesal?"


"Aku tidak suka, selama ini hanya aku wanita satu-satunya yang pernah satu mobil denganmu sayang, dan aku tidak mau hal itu berubah."


"Astaga Laura, tolong bedakan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Apa kamu lupa sekarang aku ini sudah menjadi CEO yang pastinya butuh seorang sekretaris untuk membantuku dalam segala hal."


Akhirnya mereka pun mulai berdebat di sepanjang jalan, Laura nampaknya begitu tak terima saat tau ada wanita lain yang akan sering berada di dekat Arsen selain dirinya. Meski ia masih begitu yakin jika ialah yang lebih cantik, namun kali itu entah kenapa Laura mulai dibuat sedikit ketir.


"Ya sudah, aku sudah mau sampai di Restoran, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kamu jangan telat makan siang ya, bye." Ucap Arsen yang kemudian langsung mematikan ponselnya.


Saat itu, di waktu yang sama Rachel yang terus memalingkan wajahnya ke arah jendela sontak kembali tersenyum saat mendengar perdebatan antara Arsen dan Laura.


"Apa hama betina itu mulai merasa was-was dan cemburu padaku? Ahh lihat saja nanti, akan makin aku panas-panasi hama betina itu. Lagi pula, bukankah dia terlalu berlebihan jika cemburu hanya karena hal sepele?" Gumam Rachel dalam hati.

__ADS_1


Arsen dengan sedikit kasar meletakkan ponselnya ke sisi kursinya, lalu mulai mengusap kasar wajahnya, ia terlihat begitu pusing akibat perdebatannya tadi.


Rachel yang menyadari akan hal itu pun langsung berceletuk.


"Sepertinya pacar anda begitu sering membuat anda pusing ya tuan muda." Celetuk Rachel.


Dan entah kenapa, bukannya marah, saat itu Arsen justru seolah begitu tenang menanggapi celetukan dari Rachel.


"Ya begitu lah memang dia, terkadang sikapnya memang begitu berlebihan, aku pun kadang heran." Jawab Arsen sembari mendengus.


"Bukankah tujuan semua orang berpacaran itu untuk saling melengkapi dan saling membahagiakan ya? Jika terus merasa pusing kenapa tidak putus saja?"


Mendengar hal itu, Arsen pun langsung melirik sedikit tajam ke arah Rachel.


"Apa itu sebuah pertanyaan? Atau hanya sebuah saran? Tentu saja aku tidak akan memutuskannya."


"Kenapa?" Tanya Rachel sembari mengerutkan dahi.


"Meski dia begitu, aku tetap mencintainya dan sampai kapanpun akan begitu."


"Sampai kapan pun? Apa anda yakin tuan muda?"


"Tentu saja, lagi pula aku ini lelaki setia. Aku tidak mungkin meninggalkan pasanganku hanya karena hal sepele."


"Emmm kamu belum merasakan rasa jenuh yang sebenarnya saja makanya masih bisa berkata begitu. Nanti juga lama-lama kamu akan jenuh dengan sikap wanita itu, belum lagi kamu tau keburukannya yang lain." Gumam Rachel dalam hati sembari memutarkan bola matanya.


"Kenapa kamu memasang ekspresi seperti itu ha? Apa kamu mulai meragukan ucapanku?" Tanya Arsen lagi saat melihat raut wajah Rachel yang seolah meragukannya.


"Tidak tuan muda, ya saya berdoa semoga hubungan kalian tetap baik-baik saja ya hehehe." Rachel pun akhirnya cengengesan.


"Meskipun aku sendiri tidak yakin setelah ini kalian akan baik-baik saja." Gumam Rachel lagi dalam hatinya.


Tak lama, akhirnya mobil mewah itu pun berhenti di depan sebuah restoran berbintang yang tak lain ialah Blue Light Restaurant. Arsen pun segera turun dan di susul oleh Rachel, mereka pun mulai melangkah perlahan memasuki restoran, tanpa berkata apapun, para pelayan pun langsung menghampiri Arsen untuk menggiringnya ke meja yang telah di siapkan.


"Sebelah sini tuan muda." Ucap sang pelayan dengan begitu ramah.


Para pelayan membawa mereka masuk ke sebuah ruangan VVIP yang memang khusus sudah di kosongkan untuk mereka. Saat itu Benzie dan Alex belum juga tiba hingga membuat Arsen dan Rachel harus kembali duduk berduaan di dalam ruangan itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2