
"Sayang, sini biar aku suapi!" Laura dengan cepat langsung merebut sendok dari tangan Arsen.
"Ah tidak perlu, aku bisa makan sendiri." Tolak Arsen secara halus sembari tersenyum tipis.
"Ah sudah, kamu tidak perlu malu di depan Bella, aku yakin Bella juga pasti akan mengerti. Bukan begitu Bella?"
Lagi-lagi Rachel hanya mengangguk singkat sembari menampilkan sebuah senyum kecutnya.
"Ayo buka mulut mu sayang, aaaa." Ucap Laura kemudian.
Arsen pun mulai menghela nafas, lalu dengan sedikit berat hati ia pun membuka mulutnya.
"Bagaimana? Lebih enak kan jika disuapi oleh pacar?"
Arsen pun hanya mengangguk.
"Nanti jika kita sudah menikah, aku akan sering memasak untukmu dan menyuapi seperti ini. Kamu senang kan sayang?" Tanya Laura dengan lembut seolah memang sengaja ingin membuat Rachel panas.
Lagi-lagi Arsen hanya tersenyum tipis dan mengangguk, sementara Rachel sejak mereka datang, membuatnya jadi kebanyakan diam, bahkan nafsu makannya pun seakan hilang seketika. Yang ada hanyalah dadanya yang mulai terasa sesak menyaksikan bagaimana Laura yang terus bersikap sok mesra dengan Arsen.
Tak tahan dengan pemandangan menyakitkan itu semua, Rachel pun akhirnya kembali membuka suara.
"Maaf tuan muda, sepertinya saya harus kembali ke kantor lebih dulu."
"Kenapa terburu-buru? Tunggu lah sebentar lagi, kita akan kembali ke kantor bersama-sama."
"Maaf tuan muda, tapi sepertinya ada pekerjaan yang harus dengan cepat saya selesaikan. Saya kembali ke kantor naik taksi saja, permisi." Ucap Rachel yang mulai bangkit dari duduknya dan langsung beranjak pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Arsen terlebih dulu.
"Tapi Bella, hei Bella...." Ucap Arsen namun sama sekali tak di gubris oleh Rachel.
"Sayanggg, sudah lah. Biarkan saja dia kembali ke kantor lebih dulu, dengan begitu kita bisa lebih leluasa berduaan." Laura pun dengan begitu manja kembali memeluk pinggang pacarnya sembari menyandarkan kepalanya ke pundak Arsen.
Arsen pun hanya diam sembari memandangi kepergian Rachel yang terus melangkah semakin jauh, semakin jauh, hingga punggungnya pun kini tak lagi terlihat.
Rachel pun langsung menyetop taksi dan langsung kembali menuju kantor utama Blue Light Group. Sepanjang jalan ia terus merenung, hatinya yang berbunga seolah langsung gugur begitu saja.
"Sampai kapan kau sadar jika wanita itu bukanlah wanita yang baik Arsen Lim? Rasanya aku ingin menyerah saat ini juga untuk mendapatkan hatimu, namun membayangkan bagaimana nanti kamu yang akan dibuat kecewa dan sakit hati oleh wanita itu, aku sungguh tidak tega." Gumam Rachel dalam hati sembari terus memasang raut wajah sendunya.
"Tidak, tidak, aku Rachel Chou, aku tidak boleh kalah dengan hama betina itu. Aku tidak akan membiarkan Arsen disakiti olehnya. Tidak akan." Kini Rachel pun seolah kembali tegar saat ia kembali diingatkan dengan visi misinya di awal.
__ADS_1
Akhirnya tibalah Rachel di kantor utama, ia pun memilih menyibukkan diri di depan laptopnya agar tidak terlalu merasa bersedih atas apa yang baru dialaminya. Tanpa terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul 14.45 menuju petang, dan Arsen baru terlihat masuk ke ruangannya. Namun belum sempat ia duduk di kursi, matanya langsung tertuju kepada Rachel yang terlihat tengah begitu sibuk dan serius di depan laptop. Ia pun langsung berpaling menuju pintu ruangan Rachel.
"Serius sekali? Sedang mengerjakan apa?" Tanya Arsen yang langsung membungkuk di samping Rachel sembari matanya yang juga menatap ke arah laptop milik Rachel.
Hal itu pun membuat Rachel terkejut dan langsung menoleh ke arah Arsen yang kala itu sudah berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Mata mereka kini kembali bertemu, namun Rachel dengan cepat langsung memalingkan wajahnya dan berusaha bersikap biasa saja.
"Oh ini, saya sedang membuat proposal yang nantinya akan di ajukan ke perusahaan Starligt Corp tuan muda." Jelas Rachel dengan tenang dan kembali menatap laptopnya.
"Formal sekali," celetuk Arsen sembari mendengus pelan.
"Bukankah ini masih jam kerja dan kita sedang berada di kantor?"
"Emm terserah kamu saja." Jawab Arsen dengan lembut sembari tersenyum.
"Ayo kemari lah." Arsen pun kembali melangkah menuju ruangannya.
"Kemana?" Tanya Rachel sembari mengernyitkan dahinya.
"Ke ruanganku sebentar, ada yang harus ku bahas." Jawab Arsen yang terus melangkah menuju kursinya.
Akhirnya Rachel pun patuh dan ikut beranjak menuju ruangan Arsen.
"Duduk lah dulu."
Rachel pun langsung duduk dengan wajah datarnya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Arsen tiba-tiba.
"Apanya?" Tanya Rachel kembali yang merasa tidak paham maksud dari pertanyaan Arsen.
"Aku sudah baikan dengan Laura, bagaimana menurutmu?"
Mendengar hal itu membuat Rachel seketika jadi mendengus.
"Haruskah membahas tentang percintaanmu di jam kerja seperti ini? Aku sedang banyak pekerjaan tuan muda Arsen Lim yang terhormat, jadi maaf aku tidak bisa sharing denganmu kali ini." Jawab Rachel yang merasa sedikit kesal.
Rachel pun segera ingin bangkit dari duduknya, namun dengan cepat tangan Arsen langsung menahannya dan menyuruhnya untuk tetap duduk.
"Hei, duduk lah dulu, pekerjaanmu bisa dilanjutkan nanti, tidak udah cemas, aku tidak akan memberikanmu SP karena hal ini. Ayo lah, biasanya juga kamu selalu semangat saat aku ingin sharing."
__ADS_1
"Arsen Lim, tidak kah kamu sadar? Hatiku terasa panas saat kamu ingin kembali membahas tentang hama itu." Gumam Rachel dalam hati.
"Ayo berikan pendapatmu, bagaimana menurutmu?" Tanya Arsen lagi.
"Apa kamu senang saat sudah berbaikan dengannya?"
"Sepertinya begitu?" Jawab Arsen dengan tenang sembari mengangguk singkat.
"Apa kamu yakin dia sungguh akan berubah?" Tanya Rachel lagi.
"Kurasa dia berhak mendapat kesempatan kedua." Jawab Arsen.
"Emm kalau begitu ya sudah! Kamu sudah punya pemikiran sendiri dalam hal itu, lalu untuk apa bertanya pendapatku. Apa itu penting?"
"Astaga Bella, ada apa denganmu ha? Apa kamu sedang datang bulan ya? Kenapa tiba-tiba jadi sensi begini?"
"Aku sensi karena sebenarnya aku...."
"Sebenarnya apa?" Kali itu Arsen mulai menatap serius wajah Rachel.
"Aku..."
"Katakan padaku!" Ucap Arsen lagi.
"Aku tidak suka melihatmu yang dengan sangat mudah memaafkannya. Aku tidak yakin dia sungguh akan berubah, aku tidak yakin dia tulus denganmu, apa selama ini kamu tidak pernah merasa jika dia terus memanfaatkan mu?"
"Jaga bicaramu Bella!" Arsen pun langsung berdiri.
"Kenapa? Bukankah tadi kamu bertanya tentang pendapatku?"
"Aku dekat denganmu, berteman denganmu, tapi bukan berarti itu jadi membuatmu bebas berfikiran buruk tentang pacarku!"
Mendengar ucapan Arsen sontak membuat perasaan Rachel semakin terasa sakit, hingga membuat matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Ok, kalau begitu aku sungguh minta maaf atas perkataanku tentang pacar kesayanganmu tuan muda. Lebih baik aku kembali ke ruanganku." Rachel pun langsung berbalik arah dan dengan cepat kembali melangkah menuju ruangannya.
Air matanya pun langsung menetes begitu saja, perasaannya kali ini semakin terasa sakit saat Arsen yang ia cintai masih sangat membela Laura kekasihnya.
...Bersambung......
__ADS_1