Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 157


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, Arsen pun kembali keluar dari kamarnya dengan penampilan yang jauh nampak lebih fresh dari sebelumnya. Rachel yang kala itu baru selesai berberes dapur, bergegas menghampirinya kembali dan meraih tangannya begitu saja.


"Kamu sudah selesai?" Tanya Rachel penuh semangat.


"Seharusnya kamu sudah tau jawabannya." Jawab Arsen tidak senang.


Seolah hatinya terbuat dari baja, terus mendapatkan jawaban ketus dari Arsen nampaknya tak membuat Rachel tersinggung apalagi jadi terbawa perasaan. Ia justru hanya cengengesan dan bahkan semakin bersikap manja pada suaminya itu.


"Kalau begitu, ayo kita buka kado bersama." Ajak Rachel dengan wajah begitu sumringah sembari menarik tangan Arsen untuk membawanya ke sofa yang ada di ruang tamu.


Namun Arsen menarik kembali tangannya, seolah tidak mau beranjak.


"Haaiish, tidak, kamu saja! Aku sedang malas." Ucapnya kemudian.


"Haiyo, itu kan hadiah pernikahan untuk kita berdua, sudah pasti hadiahnya pun di tujukan untuk kita berdua, jadi membukanya juga harus berdua." Jelas Rachel yang nampaknya masih pantang menyerah.


"Hah kata siapa? Aku bahkan baru mendapati kado yang isi dalamnya sama sekali tidak di tujukan untuk di pakai berdua." Ketus Arsen yang kembali terbayang akan hadiah dari Antony.


"Aaaa, ayooo." Rengek Rachel yang kembali menarik tangan Arsen secara paksa.


Mau tak mau Arsen akhirnya patuh dan dengan langkah yang begitu terpaksa ia pun mengikuti Rachel yang terus menariknya.


"Yuhuuu." Celetuk Rachel saat kembali menghampiri tumpukan hadiah yang seolah sudah menunggunya.


Rachel pun duduk di bagian sofa yang kosong, lalu menarik Arsen untuk duduk di sisinya.


"Ayo duduk, semangattt."


Arsen yang seolah begitu bermalas-malasan hanya mendengus dan memutarkan kedua bola matanya.


Namun bukan Rachel namanya jika harus mengambil pusing sikap dingin suaminya yang tak kunjung membaik hatinya.


"Waaah, ada begitu banyak hadiah, kita mulai dari yang mana dulu ya?"


"Terserah saja, aku sama sekali tidak berminat." Jawab Arsen cuek yang lebih memilih untuk menyadarkan dirinya di sandaran sofa dan mulai meraih ponselnya dari saku celana.


Melihat hal itu, bibir Rachel mulai mengerucut karena nampak begitu tak senang saat melihat Arsen yang lebih memilih sibuk dengan gadgetnya. Namun Arsen sama sekali tak bergeming dan terus saja memainkan game dari ponselnya. Membuat Rachel semakin tersulut rasa geram dan seketika ia pun langsung merebut ponsel milik suaminya itu tanpa permisi.


"Hei, apa yang kamu lakukan? Kembalikan ponselku!" Arsen sontak ingin kembali meraih ponselnya.


Namun kali ini gerakan Rachel sedikit lebih cepat di banding Arsen, hingga membuatnya berhasil menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Arsen.


"Tidak lucu! sudah sini kembalikan!"


"Tidak mau." Rachel terus saja menjauhkan ponselnya.

__ADS_1


Membuat Arsen sejenak jadi terdiam memandanginya dengan matanya yang mulai ia picingkan.


"Kamu mencoba cari masalah denganku ya?!"


"Anggap saja begitu." Rachel pun tersenyum dan mengejek.


Membuat Arsen juga mulai jengkel padanya,


"Kembalikan, atau ku rebut dengan paksa!"


"Coba saja kalau bisa! Wek." Lagi-lagi Rachel justru menjulurkan lidahnya seolah menantang.


Membuat Arsen seketika langsung menyambar tangannya, Rachel pun mulai terkekeh dan berteriak sembari terus berusaha mengelak dan menjauhkan ponsel miliknya.


"Kembalikan Rachel!"


"Ambil saja kalau bisa." Rachel pun kembali terkekeh geli.


Mereka berdua pun sejenak terlibat adu tangan, seolah sedang menguji tangan mana yang lebih cepat dan kuat di antara mereka. Rachel terus berteriak geli saat beberapa kali Arsen mencoba menarik-narik tangannya. Hingga akhirnya Rachel ingin berlari pergi namun Arsen secara refleks mengikat pinggangnya dengan kedua tangan yang ia lingkarkan.


Hal itu membuat tubuh mungil Rachel seolah terikat hingga tak bisa pergi kemana-mana. Rachel pun mulai menoleh ke arah belakang, tepat dimana Arsen yang berjarak begitu dekat dengannya bahkan kini tubuh mereka saling bertautan.


"Apa ini termasuk modusmu agar bisa memelukku seperti ini?" Goda Rachel.


Membuat Arsen seketika merasa gugup dan langsung melepaskan tautan tangannya.


"Masa??" Rachel pun kembali terkekeh,


Menyadari Rachel yang mulai lengah, membuat Arsen dengan mudah langsung merebut kembali ponselnya dari tangan Rachel.


"Kembalikan milikku!" Ketusnya,


Membuat Rachel terkejut, namun baru saja itungan detik berhasil meraih kembali ponselnya, Arsen harus kembali dibuat jengkel saat Rachel dengan cepat merebutnya lagi dengan mudah.


"Akan kukembalikan nanti, setelah semua hadiah ini selesai di unboxing." Ucap Rachel yang kembali tersenyum dan langsung mengecup singkat bibir Arsen.


Lagi, lagi, dan lagi, Arsen hanya bisa mematung dengan membawa perasaan gugupnya yang kembali mendera karena sikap rachel yang cukup agresif.


"Sudahlah, ayo kita buka hadiahnya, tolong jangan berdebat dulu saat ini." Rachel yang manja kembali memanyunkan bibirnya dan melingkarkan kedua tangannya ke salah satu lengan Arsen.


"Huh, ok lah!"


Rachel langsung kembali semangat dan sumringah, kemudian dengan wajah berbinar, mulai meraih salah satu kotak hadiah dan membukanya dengan penuh keceriaan.


Tik tok tik tok

__ADS_1


Waktu dua jam berlalu, kini Rachel telah tersandar lemas di sandaran sofa, di hadapannya kini sudah banyak terletak barang-barang mahal dan mewah dari kerabat, rekan bisnis, hingga teman-teman mereka.


Hadiah yang diberikan juga berbagai macam bentuk dan fungsi.


"Ada sebuah jam tangan couple dari brand terkenal duni, ada pula dua pasang piayama premium yang siap membuat nyaman waktu tidur Rachel dan Arsen,


"Astaga, hadiahnya begitu banyak, benar-benar lelah sekali." Celetuk Rachel lemas,


Namun Arsen masih diam dan memandangi segala macam barang dan benda yang ada di hadapannya.


Namun seketika Rachel kembali menegakkan duduknya saat ia kembali teringat pertanyaan Antony sebelumnya.


"Oh iya, mana hadiah yang dimaksud oleh Antony? Seingatku, tadi tidak ada hadiah yang bertuliskan namanya." Gumam Rachel dalam hati sembari memandangi lagi hadiah-hadiah itu.


"Arsen." Panggilnya.


"Eeemm."


"Apa ini sudah semuanya? Ma, maksudku, apa kamu yakin tidak ada lagi hadiah yang belum kamu keluarkan?"


"Kenapa dia tiba-tiba bertanya begitu?" Tanya Arsen yang jadi merasa gugup.


"Tidak ada, apa yang ada disini, itulah semuanya."


"Kamu yakin? Tidak ada yang terselip? Oh atau mungkin tertinggal di hotel? Atau ada sebagian yang kamu letakkan di tempat yang berbeda?" Tanya Rachel memastikan.


"Haish, apa-apaan pertanyaan mu itu? Apa kamu mulai menuduhku menyembunyikan sebagian hadiah, begitu? Hahaha astaga, untuk apa aku melakukannya? Aku bahkan bisa membeli apa yang ku mau tanpa berharap pemberian dari orang."


"Tidak, aku tidak bilang begitu." Rachel pun mulai mengerutkan dahinya.


"Lalu, kenapa bertanya begitu?"


Rachel pun terdiam sejenak.


"Sebaiknya tidak perlu ku katakan, aku tidak mau dia salah paham dan semakin marah padaku." Gumam Rachel dalam hati.


"Emm tidak ada, hanya ingin memastikan saja." Rachel pun akhirnya tersenyum.


Membuat Arsen akhirnya bisa kembali bernafas lega dan menghela nafas panjang.


"Huh, untung tidak keceplosan." Gumamnya dalam hati.


Sementara Rachel masih terus terdiam dan bertanya-tanya hadiah mana yang di maksud oleh Antony.


"Aneh sekali, jika memang dia memberi hadiah, kenapa disini tidak ada? Lalu kemana perginya?" Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2