Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 172


__ADS_3

Tak lama bel kembali berbunyi, Rachel ingin segera beranjak menuju pintu, namun dengan cepat Lylia menahannya.


"Tidak perlu kakak ipar, biar adik iparmu yang paling patuh ini saja yang membukanya, hehehe."


Lylia dengan penuh semangat langsung bergegas menuju pintu, tanpa perlu membuang waktu untuk mengintip terlebih dulu, ia pun langsung saja membukanya.


"Permisi nona, saya pegawai kebersihan yang di perintahan tuan muda Arsen untuk membereskan kamar dan sekitarnya."


"Oh iya, silahkan masuk." Jawab Lylia sembari tersenyum ramah.


Rachel yang melihat hal itu pun segera beranjak menghampirinya.


"Mari ku antar." Ucap Rachel yang langsung menuntun petugas kebersihan itu menuju kamarnya.


"Sebelah sini." Rachel pun membuka pintu kamarnya.


Lylia ikut masuk, dan lagi-lagi ia dibuat begitu terperangah saat mendapati kamar yang cukup besar, namun terlihat begitu berantakan.


"Sistaa, what's happend with your room?" Tanya Lylia yang nampak masih begitu tercengang saat memandangi ke segala sudut ruangan.


Rachel hanya bisa cengengesan sembari mengusap-usap tengkuknya. Tak ingin Lylia semakin banyak bertanya tentang kondisi kamarnya, ia pun mengajaknya untuk keluar, membiarkan pegawai kebersihan tinggal di kamarnya untuk membereskannya semua kekacauan yang ada.


"Sebaiknya kita duduk sambil nonton TV saja selama dia membereskan kamarnya." Rachel pun menarik tangan Lylia dan membawanya ke ruang keluarga.


Namun sayangnya, saat itu Lylia nampaknya masih belum puas mempertanyakan apa yang mengganjal di benaknya.


"Kak, kenapa kamar kalian begitu mengerikan? Apa yang sebenarnya di lakukan oleh kakakku padamu? Bahkan hingga sofa pun dibuat bergeser dari tempatnya?"


"Nanti juga kamu akan paham jika sudah menikah." Rachel hanya tersenyum tipis.


Lylia pun mendengus dan ikut tersenyum, lalu ia kembali memandangi Rachel, dan langsung memangkas jarak.


"Kak, bagaimana rasanya?" Tanya Lylia lagi yang nampak penasaran.


"Haaaiss, anak kecil kenapa begitu ingin tau ha?"


"Ayolah kak, ayo ceritakan. Anggap saja ini sebagai pembelajaran awal, agar nantinya aku tidak terkejut." Rengek Lylia sembari menggoyang-goyangkan tangan Rachel.


"Haiyoo, kenapa adik iparku ini bawel sekali???" Keluh Rachel yang langsung membaringkan tubuhnya yang masih sedikit meriang di sofa tempat dimana ia duduk.


"Huh, benar-benar tidak seru." Celetuk Lylia yang mulai menyandarkan dirinya di sandaran sofa.


Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya Dokter spesialis yang di panggil Arsen sejak pagi pun datang. Arsen sengaja mencari dokter spesialis perempuan, karena ia begitu memikirkan kenyamanan Rachel, dan juga ia pun tak rela jika Rachel di periksa oleh Dokter laki-laki.


Rachel terbaring dengan perasaan begitu gugup, tangannya mulai meremas-remass bantal yang sengaja ia peluk. Dokter mulai memeriksa luka dan memar yang di alaminya dengan menggunakan senter,


"Memang terdapat luka dan pembengkakan nona, lumayan besar tapi tidak ada sesuatu yang serius yang perlu di khawatirkan."


Rachel pun mulai bangkit kembali dengan sangat hati-hati.


"Ini yang pertama kalinya bagiku dokter." Jelas Rachel singkat.


"Ya, untuk wanita yang baru pertama melakukannya, memang wajar bila terjadi seperti itu. Luka yang anda alami saat ini bisa terjadi, kemungkinan karena adanya gesekan yang cukup keras yang dilakukan secara berulang kali, dalam jangka waktu yang begitu dekat."


Rachel pun terdiam mencerna penjelasan dokter, meski tidak menjawab, namun dalam hatinya ia pun membenarkan apa yang di ucapkan dokter. Ia tidak memungkirinya karena ia dan Arsen memang melakukannya berulang kali, bahkan lebih dari lima kali karena mereka semalaman tidak keluar dari kamar.


"Ini ada salap, usapkan di area yang bengkak dan memar setiap pagi dan malam, dan ini, saya berikan juga obat pereda nyeri dan penurun panas."


"Tapi, apakah lukanya bisa pulih dalam waktu singkat Dokter?"


"Tergantung bagaimana aktivitas anda nona, semakin sedikit aktivitas yang anda lakukan, makan akan semakin cepat pula bengkaknya mengempis, dan semakin cepat juga lukanya mengering."


"Ohh begitu, eeemm baiklah, terima kasih banyak dokter."


Di waktu yang sama, Lylia nampak berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Rachel, ia begitu penasaran namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Rachel melarangnya untuk masuk.


Tak lama dokter keluar dari kamar, Lylia langsung menghampirinya dan bertanya.


"Jadi, kakak ipar saya sakit apa dokter? Apa memang hanya demam?"


"Iya nona, demam dari nona Rachel di akibatkan karena pembengkakan serta luka dan memar yang di alaminya di areaa kewanitaannya."


"Hah?! Pembengkakan?"


"Betul nona."


Tak lama Rachel keluar, ia nampaknya cukup kelimpungan menghadapi Lylia yang begitu bawel serta selalu ingin tau segala yang ia alami.


"Aaah Dokter, mari saya antar hingga depan pintu." Ucap Rachel yang langsung menuntun Dokter.


Ia sengaja melakukannya agar Lylia tak lagi banyak tanya.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, Rachel yang memang kurang enak badan, nampak mulai tertidur lelap setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter padanya. Sementara Lylia, memilih memainkan ponsel pintarnya dan duduk menikmati angin sepoi-sepoi di balkon yang ada di ruang tamu.


*Ceklek*


Suara handle pintu yang dibuka tiba-tiba saja terdengar, membuat Lylia seketika menoleh ke arah pintu, dan sontak langsung bangkit dari duduknya saat mendapati Arsen yang baru memasuki rumah.


"Kakak," ucapnya dengan raut wajah yang kembali berbinar.


"Hei, kau masih disini?" Tanya Arsen dengan santai sembari membuka jasnya.


"Tentu saja, bukankah kakak yang bilang agar aku menemani kak Rachel." Jawab Lylia sembari tersenyum begitu manisnya.


"Lalu, dimana istri tercintaku?"


"Haish, tidakkah itu terlalu berlebihan?"


"Emm bilang saja kau iri, karena hingga saat ini, belum ada lelaki yang mau dengan wanita cerewet sepertimu."


Kali ini Lylia pun jadi terdiam dengan bibirnya yang mulai mengerucut akibat ledekan dari sang kakak yang menurutnya juga ada benarnya.


"Kakak ipar di kamar, sedang tidur setelah di beri obat oleh dokter."


"Lalu Dokter tadi bilang apa? Apa ada sesuatu yang serius?"


"Dokter bilang ada pembengkakan dan luka di **** ***** kak Rachel,"


"Apa??! Pembengkakan??!!" Mata Arsen pun membulat.


Lylia pun mengangguk.


"Tapi kata dokter tidak perlu panik, itu hal yang wajar saat baru pertama melakukannya, apalgi jika di lakukan berulang-ulang." Celetuk Lylia lagi sembari tersenyum.


Senyum Lylia kali ini sungguh berbeda, terkesan seperti mengejek, menyindir, bahkan seolah sedang mengharapkan sesuatu.


"Ada apa dengan senyuman mu ha?! Kenapa mendadak membuatku jadi memiliki perasaan yang tak enak saat melihatnya." Celetuk Arsen sembari mulai mendengus.


Lylia pun hanya bisa menahan tawanya, lalu perlahan mulai menghampiri Arsen dan memujinya dengan penuh kata-kata mutiara.


"Semenjak menikah, kenapa wajahmu jadi 1000 kali lebih tampan dari sebelumnya kak?" Dan lihat lah wajahmu, auranya seakan begitu kuat terpancar, benar-benar CEO idaman."


"Haaaihh, kau tau, mendengar kalimat pujianmu ini, sungguh membuatku jadi merinding hingga mulai membuatku gelisah. To the point saja, kau sedang menginginkan apa lagi kali ini?" Tanya Arsen sembari mulai mengecakkan pinggang.


"Uang bulanan dari papa mulai menipis, boleh tidak beri sedikit tambahan? Hehehe." Lylia pun kembali tersenyum penuh makna.


"Sudah." Ucapnya datar sembari kembali memasukkan ponselnya.


"Sudah?? Benarkah??" Lylia semakin mengembangkan senyumannya dan mulai meraih ponselnya.


"Cek saja." Arsen pun kemudian langsung berlalu memasuki kamarnya.


Lylia bergegas membuka aplikasi mobile banking yang ada di ponselnya untuk mengecek saldo. Memandangi angka-angka yang bertambah cukup banyak, membuat matanya semakin berbinar dan kembali meloncat girang.


"Hah? 50j jutaTidak salah dia memberiku 50 juta hanya untuk ini?? Aaaaaaaa yeayyy."


Lylia nampak semakin bersemangat, bagaimana tidak, hanya dalam beberapa jam saja, ia bahkan sudah mendapat dua keuntungan sekaligus. Ia pun meraih tasnya yang terletak di sofa, lalu mengetuk pintu kamar Arsen dan Rachel.


"Kak, bolehkah aku pergi sekarang?" Tanyanya dari balik pintu yang tertutup rapat.


"Ya, pergi saja, hati-hati dan langsung pulang ke rumah! Mengerti??!" Jawab Arsen tanpa membuka pintu.


"Siapp, tapi tunggu,"


"Apa lagi??" Tanya Arsen.


"Next time, aku boleh berkunjung kesini lagi kan?"


"Eeemm ya, datang lah kapan saja kau mau."


"Aaaa asik, baiklah, aku pergi ya, bye."


Lylia pun beranjak pergi dari apartement kakaknya. Saat itu Arsen masih berdiri tak jauh dari pintu sembari memandangi Rachel yang masih nampak begitu lelap tertidur.


Lalu perlahan ia menghampirinya, ia duduk di tepi ranjang dan mulai mengusap lembut wajah Rachel yang nampak sedikit pucat.


"Badanmu hangat sayang." Ucapnya pelan.


Perlahan mata Rachel pun mulai terbuka, saat menyadari ada sebuah tangan yang terasa hangat membelainya. Rachel langsung melirik ke arah Arsen yang terduduk di hadapannya.


"Suami, kamu sudah pulang?"


"Eeemm." Arsen mengangguk pelan dan tersenyum.

__ADS_1


"Badanmu masih terasa hangat, apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?"


"Tidak, ini juga sepertinya badanku terasa sedikit lebih enakan dari sebelumnya. Hanya perlu beberapa saat lagi untuk obatnya bekerja maksimal." Jawab Rachel pelan.


"Aku ada membawa makanan, kamu pasti belum makan siang kan?"


"Eeem nanti saja, aku belum lapar sama sekali, masih ingin disini,"


"Emm baiklah, biar aku temani ya." Akhirnya Arsen pun ikut berbaring di samping Rachel.


Rachel pun tersenyum dan memeluk manja suaminya.



"I miss you, baru beberapa jam tidak bertemu tapi rasanya sudah begitu rindu dan ingin terus memelukmu seperti ini." Ungkapnya pelan.


"Ya, sekarang aku sudah disini, kamu bisa memelukku seberapa lama pun yang kamu mau."


"Sungguh?"


Arsen pun mengangguk.


"Aaaa suamiii, terima kasih."


Arsen lagi-lagi hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


Rachel kembali memandangi wajah suaminya, lalu ia pun kembali tersenyum.


"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?"


"I love you." Ucap Rachel.


"I love you more." Jawab Arsen sembari mencium kening Rachel.


Lalu Rachel semakin mengembangkan senyumannya sembari menunjuk ke arah bibirnya, seolah meminta agar Arsen mencium bibirnya juga. Arsen pun ikut tersenyum lebar, lalu mengecup singkat bibir istrinya. Namun nampaknya hal itu membuat Rachel jadi tak senang, hingga ia kembali memanyunkan bibirnya lagi.


"Ada apa lagi?" Tanya Arsen nampak heran.


"Cium yang lamaa." Pinta Rachel manja.


Akhirnya tanpa berkata apapun lagi, Arsen pun langsung mencium bibir Rachel, mulai memainkannya dari atas ke bawah, bawah ke atas, memutarnya dari kiri ke kanan, dan kanan ke kiri dan begitu seterusnya.


Hari beranjak petang, Arsen dan Rachel tentu saja sudah selesai dengan segala aktivitas mereka yang lumayan menguras keringat. Dan benar saja, apa yang di takutkan oleh Arsen sebelumnya benar terjadi, bercak darah kembali keluar dari **** ********** Rachel, membuat Arsen panik bukan kepalang.


"Tidak apa, aku sungguh tidak apa-apa."


"Kamu berdarah karena aku, dan kamu masih mengatakan kamu tidak apa-apa?"


"Ti,, tidak, ini mungkin hanya..."


"Sudah cukup, aku mohon maafkan aku, seharusnya aku memang tidak melakukannya tadi. Aku sungguh minta maaf." Arsen nampak begitu menyesal.


Arsen terduduk lesu di tepi ranjangnya, berkali-kali ia harus mengusap kasar wajahnya karena benar-benar menyesali perbuatannya yang membuat Rachel semakin terluka.


Saat itu, Rachel sungguh merasakan kesakitan, rasanya semakin perih dan begitu ngilu saat ia bergerak. Namun, sebisa mungkin ia tidak ingin meringis kesakitan di depan Arsen, karena ia begitu tidak mau membuat Arsen semakin merasa bersalah.


Sesungguhnya, Rachel bersikeras menahan rasa sakitnya hanya demi untuk memuaskan suaminya, melihat Arsen yang sejak kemarin nampaknya begitu menikmati tubuhnya, membuatnya merasa senang dan bahagia. Jadi dia rela menahan segala kesakitan demi membahagiakan Arsen.


Rachel pun bergegas menutupi tubuh polosnya dengan selimut, lalu bergerak dengan sangat hati-hati untuk mendekati Arsen, dan kemudian kembali memeluknya dari belakang.


"Aku mohon jangan begitu, tidak perlu merasa bersalah untuk hal yang kita nikmati bersama. Aku sungguh menikmatinya, demi tuhan aku menikmatinya." Ungkap Rachel yang mencoba menenangkan suaminya.


"Jangan mencoba untuk menghiburku, aku tau kamu sangat merasakan sakit karenanya, kamu hanya sedang berusaha menahannya di hadapanku."


Rachel pun terdiam saat ternyata Arsen bisa menebak dengan tepat apa yang ada di isi kepalanya saat itu.


"Ayo berpakaian! kita harus segera ke rumah sakit untuk mengobatinya."


"Tidak!" Rachel pun menggeleng cepat.


"Kamu masih mau membiarkannya dan menahannya? Tidak! Aku tidak mau begitu."


"Tidak, aku tidak mau, dokter bilang lukanya akan segera sembuh jika aku tidak terlalu banyak beraktivitas." Ujar Rachel lirih.


Mendengar hal itu, membuat Arsen kembali menatapnya dengan begitu lekat, ia mengusap lembut pipi Rachel dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, kalau begitu aku minta, tolong turuti apa kata dokter, jangan banyak bergerak dan beristirahat lah yang cukup." Tegas Arsen namun masih dengan nada bicara yang lembut.


Rachel pun akhirnya mengangguk patuh, dan kembali memeluk hangat tubuh Arsen.


"Dan, ada baiknya, kita memang jangan dulu melakukannya lagi." Tambah Arsen dengan pelan.

__ADS_1


Membuat Rachel seketika menegakkan kepalanya, lalu mulai menatap Arsen dengan matanya yang jadi nampak membesar.


...Bersambung......


__ADS_2