Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 126


__ADS_3

Rachel mendadak kembali merasa kikuk saat menerima pertanyaan seperti itu dari Arsen.


"Kalo aku mengatakan jika dulu aku pernah gendut, bahkan sangat gendut, apa kamu akan ilfeel padaku?" Rachel balik bertanya dengan suara begitu pelan.


Terlihat dari raut wajahnya seperti sangat berhati-hati, seolah penuh dengan keraguan saat menanyakan hal itu.


"Tentu saja tidak, lagi pula aku tidak yakin jika kamu pernah gendut sebelumnya, itu kedengaran mustahil."


"Mustahil? Kenapa kamu bisa berfikir begitu?"


"Setauku, jika dulunya seseorang pernah sangat gendut, walaupun dia diet dengan cara apapun, pasti tidak akan mungkin menjadi langsing secara drastis seperti ini. Kecuali kalau..." Ucapan Arsen pun mendadak terjeda.


"Kalau apa?" Tanya Rachel penasaran.


"Kecuali kalau melakukan perawatan sedot lemak atau semacamnya, itu pun setauku harus dilakukan berkali-kali agar mendapat hasil yang maksimal. Bukankah begitu?"


"Iya tapi bisa sajakan aku pun melakukan hal itu hingga membuatku terlihat kurus sekarang."


Mendengar hal itu membuat Arsen terdiam sejenak.


"Apa itu sungguhan? Ma, maksudku, apa kamu pernah sangat gemuk sebelumnya?"


"Emm." Jawab Rachel sembari mengangguk pelan.


"Mungkin memang inilah saatnya." Celetuk Rachel dalam hati.


"Bahkan... ada seseorang yang selalu mengejekku pipi Bakpao, orang itu bilang pipiku begitu bulat, persis seperti bakpao daging." Tambah Rachel lagi yang tersenyum lirih, ia pun mulai menatap Arsen dengan tatapan sendunya.


Saat itu Rachel berharap jika Arsen merespon ucapannya dengan serius, hingga bisa memancingnya untuk berkata jujur lebih mudah dan nyaman. Namun yang terjadi sungguh di ekspetasi, respon Arsen sangat di luar dugaan.


Begitu mendengar hal itu, Arsen seketika langsung tertawa, ia terlihat terus tertawa geli bahkan sampai terbahak-bahak di hadapan Rachel yang kala itu jadi bingung.


"Kenapa kamu tiba-tiba tertawa? Kurasa tidak ada hal yang lucu dari pertanyaanku."


"Hahahah ti, tidak, bukan itu." Jawab Arsen sembari masih terus tertawa.


"Lalu?" Rachel pun mulai mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Akhirnya Arsen pun berusaha menghentikan gelak tawanya, ia pun harus beberapa kali kembali mengatur nafasnya agar kembali tenang.


"Emm jadi begini, entah kenapa, saat mendengar ucapanmu tadi, membuatku seketika jadi teringat dengan temanku waktu kecil." Jelas Arsen.


Mendengar hal itu, membuat darah Rachel seketika berdesir, diiringi pula dengan jantungnya yang semakin berdegub cepat.


"Te, teman kecil?"


"Ya, dulu waktu aku kecil, tepatnya ketika masih TK, aku memiliki teman yang juga sangat gendut. Namanya Rachel, dan kamu tau, aku juga memanggilnya si pipi bakpao, karena dia memiliki pipi yang memang sangat bulat mirip seperti bakpao daging hahaha." Arsen kembali tertawa di ujung penjelasannya.


Saat itu Rachel terdiam, namun kali itu ia jadi begitu semangat, ia berfikir jika perbincangan mereka kali ini bisa membuatnya lebih mudah mengakuinya.


"Setiap hari dia selalu menangis dan mengadu pada ibunya karena aku yang selalu mengejeknya. Aku begitu ingat, mamaku jadi sering mengomeliku karena aku terus menerus membuat temanku itu menangis, tapi itu sama sekali tidak membuatku berhenti mengejeknya hahaha aku bahkan sering mencubit pipinya hingga membuatnya semakin kesal dan menangis hahaha." Tambah Arsen lagi.


"Arsen, tidak kah kamu sadar jika orang yang sedang kamu ceritakan itu sekarang sedang berada di hadapanmu?" Gumam Rachel dalam hati.


"Hah aku benar-benar tidak habis fikir, kenapa ada orang secengeng dan segendut dia hahaha itu benar-benar melucukan. Hah apa kabarnya ya anak itu sekarang?"


"Kemana dia?"


"Dia ikut orang tuanya pindah ke Paris. Sejak saat itu juga aku tidak pernah tau kabarnya lagi dan sejak saat itu pula aku kehilangan bahan ejekanku hahaha."


"Saat itu aku masih sangat kecil, kurasa saat itu aku pun sama sekali tidak berfikiran untuk menanyakan kabarnya."


"Bagaimana jika dia kembali dengan penampilan yang sangat berbeda? Ma, maksudku bagaimana jika Rachel tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik serta kurus. Apa kamu akan menyukainya?"


"Hahaha pertanyaan macam apa itu? Jika dia kembali tentu aku akan senang dan menyapanya kembali. Tapi kurasa, aku tidak akan menyukainya."


"Kenapa?" Tanya Rachel sedikit meninggi, seolah tidak terima saat Arsen mengatakan tidak akan mungkin menyukainya.


"Anak itu sejak kecil sudah menjadi bahan ledekanku, mana mungkin aku menyukainya. Lagi pula, saat ini hatiku sudah kuberikan untukmu sepenuhnya." Jelas Arsen yang tersenyum menatap Rachel.


"Tidak mungkin tidak menyukainya jika dia berubah menjadi kurus dan cantik! Jika dia datang kembali dan menghampirimu, pasti kamu akan tergoda." Ketus Rachel lagi.


"Bisa kupastikan itu tidak akan terjadi, lagi pula di hanyalah teman di masa kecilku yang sudah tidak tau bagaimana kabarnya, jadi itu sama sekali tidak berarti." Tegas Arsen yang kala itu sedang meyakinkan kekasihnya jika dia memang takkan berpaling ke lain hati.


Namun siapa sangka hal itu justru membuat Rachel merasa sakit hati pada ucapan Arsen yang kala itu memang sama sekali tidak tau jika calon istrinya adalah teman kecilnya yang gendut.

__ADS_1


"Begitukah aku dimata mu Arsen Lim? Apa aku sungguh tidak berarti lagi?"


"Jadi sedikit pun kamu tidak mengingat kenangan bersamanya lagi?" Tanya Rachel pelan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak! Lagi pula sudah ku jelaskan sebelumnya, saat itu aku masih sangat kecil, dan kehidupan terus berjalan, orang yang menjadi temanku pun silih berganti dan bukan hanya dia saja. " Jawab Arsen dengan tenang.


Namun entah kenapa di waktu bersamaan, pikiran Arsen kembali teringat masa kecilnya, saat ia yang kala itu merasa begitu puas saat berhasil meledek Rachel hingga menangis. Ia pun teringat sebagian besar masa kecilnya kala itu, ia habiskan bersama Rachel.


"Rachel Chou, apa kabarmu? Apa kamu tau jika sebentar lagi aku akan menikah dengan wanita pilihanku. Lalu, bagaimana denganmu? Apa sudah ada seseorang yang mau menerima pipimu yang bulat seperti bakpao?" Gumam Arsen dalam hati sembari memancarkan senyuman yang begitu tipis.


Namun berbeda halnya dengan Rachel yang menjadi semakin sakit hati mendengar perkataan Arsen Lim. Dia pun langsung bangkit dari duduknya hingga membuat Arsen terkejut.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berdiri? Bukankah makanannya belum habis."


"Aku mendadak tidak selera makan dan aku mau istirahat sekarang. Bisakah kamu pulang sekarang?" Ucap Rachel tanpa menatap wajah Arsen sedikit pun.


Saat itu Arsen masih terdiam dan begitu di buat bingung dengan sikap Rachel yang tiba-tiba saja berubah.


"Ta, tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba sekali?"


"Sudah, ayo bangun lah." Rachel pun menarik paksa tangan Arsen agar ia segera bangkit dari duduknya.


"Hari sudah sangat malam, sudah seharusnya kamu pulang." Rachel pun terus membawa Arsen hingga ke depan pintu apartementnya.


"Sayang, apa kamu marah karena aku membahas teman masa laluku? Astaga, dia hanya anak gendut yang selalu aku ledek di masa lalu, apa kamu cemburu?"


"Hati-hati di jalan ya, good night." Ucap Rachel yang langsung saja menutup pintu Apartementnya.


Hal itu membuat Arsen jadi bertambah semakin bingung.


"Aneh sekali, apa ada yang salah dengan kata-kataku?" Gumam Arsen seorang diri sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Rachel yang masih berdiri bersandar di balik pintu, memilih diam sejenak merasakan perasaan sakit hati yang tak bisa ia sembunyikan.


"Bagi Bella, mungkin hal ini terdengar begitu sweet, saat ia tau calon suaminya takkan tergoda dengan wanita lain. Namun apa kau tau Arsen Lim, bagi Rachel kata-katamu tadi sangatlah menyakitkan." Gumam Rachel dalam hati sembari mulai meneteskan air matanya.


"Ini benar-benar membingungkan, aku bahkan tidak tau harus merasa senang atau sedih dengan ini semua. Aku sendiri bahkan bingung harus menempatkan diriku sebagai Bella atau Rachel." Tambahnya lagi sembari terus mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Haiisssh gagal lagi." Rachel pun ikut mengusap kasar wajahnya dan langsung melangkah masuk ke kamarnya.


...Bersambung......


__ADS_2