
Arsen pun terdiam sembari terus memandangi kepergian Rachel dengan tatapan yang tak biasa. Kemudian mulai mengusap kasar wajahnya dan langsung terduduk di kursi kejayaannya.
Begitu pula dengan Rachel yang langsung duduk di kursi kerjanya, kini ia mulai mengusap wajahnya yang mulai basah, lalu memalingkan wajah dan tak menoleh ke arah Arsen sedikit pun.
Hari-hari berikutnya pun berjalan dengan hal yang sama, Rachel yang sebelumnya terlihat selalu ceria dan selalu menjadi pendengar yang baik bagi Arsen, kini seolah berubah menjadi pribadi yang lebih banyak diam dan bersikap profesional sebatas pekerjaan saja.
Hal itu pun kian membuat Arsen mulai merasa bersalah, apalagi dengan sikap Rachel beberapa hari belakangan ini spontan berubah menjadi sosok yang sangat sedikit bicara, membuat Arsen seperti kehilangan sosok seseorang yang bisa selalu ia andalkan dalam hal apapun terutama dalam hal berbagi cerita.
Seperti hari ini, Arsen sedang duduk di kursi dengan tangannya yang bertopang dagu di meja kerjanya sembari terus memandangi Rachel yang terlihat begitu fokus pada laptopnya.
"Apa perkataanku tempo hari padanya sudah kelewatan ya? Dia benar-benar berubah menjadi pendiam sekarang." Celetuk Arsen dalam hatinya.
Dan entah kenapa dalam hati Arsen ingin sekali berbincang seperti dulu lagi dengan Rachel, namun dia sama sekali tak tau harus bagaimana untuk memulainya disaat sikap Rachel yang seperti sekarang.
Akhirnya Arsen pun perlahan mulai bangkit dari duduknya, dan mulai melangkah menuju dinding kaca pembatas antara ruangannya dan Rachel lalu mulai mengetuk kaca itu dengan jarinya.
Tok tok tok
Rachel pun seketika menoleh ke arah Arsen.
"Kemari!" Ucap Arsen sembari memanggil Rachel dengan tangannya.
Tanpa berkata apapun, Rachel pun langsung bangkit dari duduknya lalu mulai mengarah ke ruangan Arsen.
"Ada apa tuan muda?" Tanya Rachel datar saat baru masuk ke ruangan Arsen.
Entah kenapa melihat ekspresi datar yang di berikan oleh Rachel sontak membuat nyali Arsen yang awalnya ingin mencari topik perbincangan pun mulai menciut.
"Emm aku...."
"Ada apa tuan muda? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rachel lagi.
"Emmm..." Arsen pun terlihat semakin kebingungan sembari terus berfikir alasan apa sekiranya yang tepat untuk ia ungkapkan dengan Rachel.
"Oh iya aku baru ingat, aku memanggilmu kesini untuk meminta laporan pemasukan minggu lalu. Tolong di print sekarang juga." Akhirnya itulah yang keluar dari mulut Arsen yang padahal awalnya dia sama sekali tak ingin membahas pekerjaan.
"Ok tuan muda, akan segera saya print." Rachel pun membungkukkan badannya dan kemudian langsung pergi begitu saja ke ruangannya.
Hal itu membuat Arsen kembali terduduk dan kembali memandangi Rachel.
"Aneh, kenapa aku jadi begitu takut saat melihat ekspresi datarnya seperti tadi? Bahkan ingin kembali mengajaknya berbincang pun aku jadi tak punya nyali begini." Gumam Arsen dalam hati.
__ADS_1
Tak lama Rachel pun sudah kembali dengan membawa sebuah map berwarna hitam lalu langsung meletakkan map hitam itu ke atas meja di hadapan Arsen.
"Ini laporan yang anda minta tuan muda."
Arsen pun terus menatap Rachel sembari meraih map itu, lalu akhirnya ia pun mulai mengecek laporan yang diberikan Rachel.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Ucap Rachel yang langsung ingin berlalu begitu saja.
Namun seketika Arsen kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" Ucapnya sembari meletakkan kembali map hitam itu ke atas meja.
"Ada apa tuam muda?" Tanya Rachel sembari memancarkan senyuman keterpaksaannya.
"Es Capuccino yang pernah kamu belikan untukku, aku mau meminumnya lagi sekarang!" Ucap Arsen dengan tenang.
"Baiklah tuan muda, akan segera saya suruh OB untuk membelikannya untuk anda."
"Tidak, aku mau kamu langsung yang membelinya." Tegas Arsen.
Rachel pun langsung menghela nafas dan kembali menampilkan senyum sinisnya.
"Baiklah tuan muda." Rachel pun akhirnya pergi dengan membawa rasa kesalnya.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, kini Rachel telah kembali datang dengan membawa es capuccino pesanan Arsen.
"Ini pesanan anda tuan muda, selamat menikmati." Rachel meletakkan es capuccino ke atas meja Arsen dan berniat ingin langsung pergi, namun Arsen nampaknya belum puas dan kembali menghentikan langkahnya.
"Hei tunggi, siapa yang menyuruhmu pergi?"
Mendengar hal itu membuat Rachel yang sudah berjalan beberapa langkah semakin merasa kesal hingga ia mulai mengepalkan tangannya,
"Lelaki ini benar-benar sedang menguji kesabaranku ternyata? Atau hal ini memang sengaja dia lakukan demi mencari perhatian dariku?" Gumam Rachel dalam hati.
Namun lagi-lagi ia adalah seseorang yang pintar mengendalikan perasaannya. Beberapa kali menghela nafas kini sudah cukup membuatnya merasa cukup tenang, akhirnya Rachel pun kembali berbalik arah ke arah dimana Arsen terduduk.
"Ada apa tuan muda? Apa masih ada yang perlu saya bantu?" Tanya Rachel dengan senyumannya yang semakin terlihat begitu di buat-buat.
Melihat hal itu Arsen pun akhirnya tersenyum tipis dan menjawab,
"Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin makan bapao keju yang juga pernah kamu beli di kantin kantor ini. Bisakah membelikannya untukku?"
__ADS_1
"Baik tuan muda." Rachel pun langsung pergi begitu saja.
Lagi dan lagi, hal itu membuat Arsen semakin kebingungan.
"Apa dia sungguh sudah berubah menjadi wanita datar seperti itu? Dia bahkan tidak mengomeliku lagi seperti sebelumnya."
Saat itu Rachel sedang berada di dalam lift sembari terus menggeram seorang diri seolah sedang meluapkan rasa kesalnya.
"Benar-benar menyebalkan kau Arsen Lim, kenapa aku bisa suka pada lelaki menyebalkan seperti mu?!!" Keluh Rachel seorang diri sembari terus memukuli dinding lift dan terlihat begitu sangat kesal.
20 menit pun berlalu, kini dengan langkah yang terlihat mulai lesu Rachel akhirnya masuk kembali ke dalam ruangan Arsen.
"Ini tuan muda." Ucapnya pelan sembari meletakkan bungkusan yang tentunya berisi bapao keju.
Melihat wajah Rachel yang mulai terlihat lelah serta peluhnya yang muali terlihat di dahinya sontak membuat Arsen seketika semakin merasa bersalah.
"Sepertinya caraku kali ini juga salah." Gumam Arsen dalam hati.
"Apa ada lagi tuan muda?" Tanya Rachel lagi.
Arsen pun akhirnya menggeleng pelan tanpa bersuara.
"Baiklah, saya permisi." Rachel pun tersenyum singkat dan langsung ingin beranjak.
Namun untuk kesekian kalinya Arsen kembali membuatnya harus menghentikan langkahnya lagi dan lagi.
"Tunggu sebentar."
"Iya?" Rachel yang masih sabar kembali berbalik badan.
Arsen pun meraih tisu yang terletak di tepi meja kerjanya, lalu berniat ingin mengusap peluh yang ada di dahi Rachel akibat harus bolak balik ke kantin.
"Ha, mau apa dia? Apa dia ingin mengusap keringatku? Apa dia sedang merasa bersalah kali ini?" Gumam Rachel yang mulai kembali merasa gugup saat tubuh Arsen mulai mendekat kepadanya.
Kini Arsen pun semakin dekat pada Rachel dan siap mengusapkan tisu itu ke dahinya,
"Keringatmu." Ucap Arsen pelan.
Namun mendadak Rachel langsung merebut tisu itu dari tangan Arsen dan memilih mengusap sendiri dahinya yang berkeringat.
"Saya bisa sendiri, terima kasih." Ucap Rachel yang sembari tersenyum tipis dan langsung beranjak pergi begitu saja.
__ADS_1
...Bersambung......