
Rachel benar-benar terlihat begitu menikmati status barunya sebagai seorang istri, ia bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam di dapur hanya untuk memasak untuk hidangan makan malam.
Meski begitu, rasa lelah sepertinya sama sekali tak ingin menghampiri kala itu. Rachel masih terlihat begitu semangat saat menghidangi berbagai menu makanan yang dimasaknya. Hingga akhirnya beberapa menit pun berlalu, kini meja bar yang kosong, telah di sulap hingga menampilkan berbagai menu masakan, mulai dari sapi lada hitam, ayam goreng saus mentega, hingga beef steik terlihat sudah tertata rapi. Tak ketinggalan pula pancake dan macaroon juga nampak hadir memenuhi meja makan di tambah lagi dengan Orange jus yang kian menyempurnakan hidangan malam ini.
Rachel akhirnya bisa tersenyum puas memandangi hasil karyanya, lalu perlahan mulak membuka celemek yang sejak tadi ia pakai. Mulai merapikan rambut serta pakaiannya, merasa semuanya sudah cukup, Rachel pun beranjak menuju ke kamar yang berbeda dari kamar tidur mereka yang biasa. Kamar yang saat ini sementara di gunakan sebagai ruang kerja pribadi milik Arsen.
Tok tok tok...
Rachel mulai mengetuk pintu dengan pelan.
"Arsen,,, makanan sudah siap." Ujarnya.
Namun tak ada jawaban, akhirnya Rachel pun membuka pintunya secara perlahan, lalu langsung mendapati Arsen yang tengah duduk tertidur di kursinya. Rachel pun melangkah masuk untuk menghampiri Arsen yang tidur dengan begitu pulasnya.
Sebuah senyuman simpul mulai ia tampilkan di kala ia mulai memandangi wajah Arsen lebih dekat lagi.
"Bagaimana bisa seorang lelaki bisa memiliki alis sebagus ini? Dan hidungnya, dia memiliki hidung yang bahkan lebih tinggi dari hidungku. Astagaaaa, membuatku iri saja." Gumam Rachel dalam hati sembari terus tersenyum.
"Emmm sopankah begitu?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Arsen.
Yang kemudian secara tiba-tiba mulai membuka matanya. Hal itu sontak membuat Rachel yang kala itu tengah berjarak begitu dekat dengan wajahnya, dibuat terperanjat karena sangat terkejut. Rachel pun seketika menjauhkan wajahnya dengan cara bergegas menegakkan tubuhnya.
Tapi hal itu justru membuat keseimbangan badannya mulai goyah, hingga membuatnya ingin terjungkal kebelakang. Tapi tenang, hal itu nyatanya tidak terjadi karena Rachel memiliki suami yang begitu cepat tanggap. Melihat Rachel yang ingin segera terjatuh, membuat Arsen sontak membulatkan matanya dan bergegas menarik pinggang Rachel hingga membuatnya justru terjatuh ke tubuh Arsen yang kala itu masih terduduk di kursi kerjanya.
Kedua bola mata mereka kembali bertemu dan saling beradu, jiwa Arsen seketika menghangat saat memandangi Rachel yang kala itu berada di dalam dekapannya. Begitu pula dengan Rachel yang nampaknya masih syok, pun terus saja tercengang memandangi suami yang telah menjadi pahlawan baginya saat itu.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama, disaat Rachel yang akhirnya mulai tersenyum karena merasa terharu dengan Arsen yang seolah tak ingin istrinya itu terluka.
"Terima kasih suami, meskipun kamu masih saja bersikap sangat cuek, tapi tetap saja rasa pedulimu pada istri tetap tidak bisa di tutupi." Celetuk Rachel yang terus tersenyum.
Mendengar hal itu sontak membuat Arsen tersentak, lalu dengan cepat ia menolak pelan tubuh mungil Rachel hingga membuatnya kembali berdiri tegak.
"Itu hanyalah spontanitas saja, jangan terlalu berlebihan menanggapinya." Ucap Arsen datar dan memilih kembali fokus pada laptopnya.
"Eeeem apapun itu, aku tetap akan berterima kasih."
__ADS_1
"Ada apa kesini?" Tanya Arsen datar tanpa melirik ke arah Rachel lagi.
"Oh astaga aku hampir lupa, aku kesini ingin mengajakmu makan malam, semua sudah siap."
"Emm nanti aku makan kalau sudah merasa lapar, kamu makan saja duluan."
Rachel seketika terdiam dengan bibirnya yang kembali mengerucut.
"Hei, tidak bisakah kamu menghargai usaha seseorang? Kamu tidak tau berapa banyak waktu yang aku habiskan di dapur hanya untuk bisa menghidangkan makan malam yang istimewa untukmu!" Rachel pun mulai melotot dan mengecakkan pinggangnya.
Namun kala itu Arsen hanya diam seolah tak bergeming dan memilih untuk terus fokus pada laptop yang ada di hadapannya. Hal itu pun kian memicu rasa kesal Rachel, ia pun tanpa rasa takut, langsung menutup laptopnya begitu saja. Membuat Arsen seketika tercengang memandanginya dengan raut wajah yang tak biasa.
"Hei apa-apaan?!" Arsen ikut melotot.
Namun hal itu tidak membuat Rachel takut, ia justru semakin mendekati Arsen dengan keadaan matanya yang juga semakin melotot.
"Apa?! Mau memarahiku? Iya?!" Rachel kembali mengecakkan pinggangnya.
Entah kenapa, itu membuat nyali Arsen seketika menciut, amarahnya melunak dan berganti dengan rasa takut.
"Ke,, kenapa jadi ka,, kamu yang lebih galak?"
"Sudah ku katakan, nanti aku akan makan jika sudah lapar, kenapa begitu saja harus di permasalahkan?"
"Oh begitu rupanya?" Rachel pun mulai mendengus.
"Emm baiklah, tidak ada gunanya aku masak semua itu jika hanya jadi pajangan hingga dingin. Aku buang saja!" Rachel pun seketika beranjak pergi begitu saja membawa rasa kesalnya.
Membuat Arsen seketika mengusap kasar wajahnya dan langsung bergegas menghentikannya.
"Ok, aku makan!" Ucapnya sembari menarik tangan Rachel.
Saat itu Rachel yang berposisi membelakanginya pun sontak menghentikan langkahnya.
"Sudah, tidak perlu berdebat lagi! Ayo makan." Tambah Arsen yang kemudian langsung beranjak keluar dari ruang kerjanya.
Meninggalkan Rachel yang masih berdiri memandangi kepergiannya dengan sebuah senyuman yang terus berusaha ia tahan.
__ADS_1
"Tidak ingin berdebat? Aaaa baiklah, dengan senang hati." Gumam Rachel yang akhirnya tersenyum girang dan ikut menyusul langkah Arsen.
Arsen kembali di buat terpukau saat memandangi hidangan makan malam yang di masak sendiri oleh Rachel. Lalu semakin terpukau lagi saat merasakan masakannya yang begitu nikmat dan sungguh sesuai dengan seleranya.
Makan malam pun di lewati dengan tenang, antara Arsen dan Rachel kala itu lebih banyak saling diam dan fokus melahap makanan saja.
"Kenapa dia diam saja? Tidak cerewet seperti sebelumnya." Gumam Arsen dalam hati saat baru selesai menyelesaikan makannya.
Saat itu Rachel terus diam bukan karena sedang jaga image atau pun marah. Melainkan ia terus diam karena memikirkan bagaimana caranya membangun rasa percaya diri untuk memakai lingeri malam itu.
"Astaga, bagaimana cara memulainya? Ma,, maksudku, apa yang harus ku katakan padanya saat nanti aku tampil di hadapannya dengan pakaian seperti itu?" Gumam Rachel dalam hati.
Tak lama Arsen pun bangkit dari duduknya, membuat Rachel seketika tersentak dan menatapnya.
"Aku sudah selesai, aku mau kembali ke ruang kerja, ada beberapa yang masih belum selesai." Jelas Arsen yang memasang wajah datar seperti sedia kala.
"Oh, iya ok." Jawab Rachel yang entah kenapa terlihat sangat gugup.
Arsen pun beranjak menuju ruang kerjanya dengan membawa rasa herannya pada perubahan sikap Rachel yang terkesan begitu tiba-tiba jadi pendiam.
"Ada apa lagi dengan wanita itu?" Tanyanya dalam hati sembari melirik lagi ke arah Rachel yang kala itu mulai ikut bangkit untuk membereskan bekas makan mereka.
"Aah haruskah aku begitu peduli padanya disaat sedang kecewa? Emm kurasa tidak." Gumamnya lagi yang melanjutkan langkahnya.
Meja makan sudah dibersihkan, piring kotor juga sudah di cuci, akhirnya Rachel memutuskan untuk mandi air hangat, karena merasa tubuhnya mulai lengket akibat berjam-jam bereksperimen di dapur.
Setengah jam berlalu, Rachel pun keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan selembar handuk di dadanya.
Perasaan gugup rasanya semakin dalam menyerangnya, ia pun mulai melirik ke arah jam dinding, terlihat jarum jam sudah mengarah ke angka 9. Rachel mulai melangkah menuju cermin, memandangi pantulan dirinya sejenak yang kala itu dalam keadaan rambutnya yang masih basah.
Ia kembali melirik ke arah lemari, dengan ragu-ragu akhirnya mulai lah melangkah mendekati lemari dan membukanya. Memegangi kembali berbagai lingeri yang sudah ia tata di dalam lemari, berbagai warna dan mode, membuatnya kembali merasakan kebingung an untuk memutuskan harus memakai yang mana.
Meski awalnya sempat ragu, namun akhirnya pilihan pertama pun jatuh kepada lingeri yang berwarna hitam, yang merupakan lingeri paling sopan di antara semua mode yang ada. Di katakan paling sopan, karena memiliki luaran kimono yang memiliki lengan sesiku meskipun tetap saja memiliki ukuran yang begitu pendek serta bahannya juga tak kalah tipis di banding yang lainnya.
Setelah menghela nafas panjang, ia pun memberanikan diri untuk memakainya, ia meraih kimononya dan akhirnya mulai beranjak keluar dari kamarnya.
__ADS_1
...Bersambung......