
Arsen pun seketika membulatkan matanya, ia sedikit syok saat mendapati Rachel yang kini ada di hadapannya dengan sudah berpakaian rapi dan terlihat formal.
"Ta, tapi kenapa bisa ka, kau yang jadi sekretaris pribadiku?" Tanya Arsen yang jadi begitu terbata-bata.
"Apa kalian sudah saling mengenal Arsen?" Tanya Alex yang berlagak tak tau apa-apa di hadapan Arsen.
"Ya uncle, kami sempat beberapa kali bertemu namun hingga sekarang aku pun tidak tau siapa namanya." Jawab Arsen.
"Ah bagus sekali, itu justru akan lebih memperkuat chemistry kalian." Ungkap Alex sembari menyengir.
Namun Arsen yang mendengar hal itu sontak langsung mendengus sembari tertawa geli.
"Apa hubungannya pekerjaan dengan chemistry unlce, aku ini sedang mencari sekretaris, bukan pasangan hidup." Ungkap Arsen kemudian.
Mendengar penuturan Arsen kala itu, membuat hati kecil Rachel sedikit merasa sedih, namun ia tetap tersenyum dan kembali bergumam dalam hati.
"Mungkin untuk saat ini, kita hanya partner kerja, tapi aku akan pastikan, di waktu yang akan datang, kita akan jadi partner hidup."
"Oh ya, siapa namamu?" Arsen pun seketika menjulurkan tangannya pada Rachel.
Melihat hal itu, membuat Rachel semakin melebarkan senyumannya dan bergegas membalas jabatan tangan Arsen.
"Namaku Rac..."
"Bella, ya, namanya Bella." Potong Alex secara cepat sembari menatap Rachel dengan tatapan berbeda seolah mengingatkannya tentang misinya.
"Astaga iya, mulai sekarang namaku adalah Bella, hampir saja aku keceplosan." Gumam Rachel.
"Ah iya tuan muda, namaku Bella." Sahut Rachel kemudian.
"Oh Bella, ok. Bisa ku lihat CV mu?" Tanya Arsen sembari kembali duduk di kursinya.
"CV nya sudah ada di tangan papamu, dan papa mu sudah meng acc semuanya, bahkan Bella pun sudah menanda tangani kontrak kerja, dan ia telah resmi bekerja sebagai sekretaris mu hari ini." Jelas Alex lagi.
"Oh begitu rupanya, emm ok. Selamat bergabung di Blue Light Group Bella, semoga kamu bisa menjalani tugasmu dengan baik dan profesional dan semoga juga kamu betah bekerja di bawah tekananku." Arsen pun tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan betah disini karena bisa melihatmu setiap hari." Gumam Rachel lagi.
"Ah baik tuan muda, terima kasih." Jawab Rachel akhirnya.
"Baiklah kalau begitu, Bella ruanganmu ada di sebelah sana." Jelas Alex lagi sembari menunjuk ke sebuah ruangan yang berada tepat di samping ruangan Arsen.
Ruangan Bella dan Arsen sengaja dibuat bersebelahan dan sekat pemisahnya pun sengaja di buat dari kaca yang transparan sehingga meski mereka berada di dalam ruangan mereka masing-masing, mereka tetap bisa saling melihat aktivitas masing-masing, kecuali jika sebuah tirai/gorden yang ada di sisi kiri dan kanan dinding kaca itu di tutup.
"Kamu bisa ke ruanganmu sekarang, ruangan kalian sengaja dibuat seperti ini agar lebih memudahkan kalian untuk berkomunikasi jika ada sesuatu." Jelas Alex lagi.
"Oh baiklah tuan, saya permisi dulu." Bella pun akhirnya pamit dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
Saat itu Arsen hanya diam dan terus memandangi Bella yang mulai duduk di kursinya. Alex yang menyadari hal itu langsung menepuk pundaknya dan kembali berkata.
"Apa yang sedang kamu lihat? Apa kamu mulai tergoda dengan sekretaris barumu ha? Hehehe." Celetuk Alex.
"Hah, tentu tidak uncle. Aku ini type lelaki setia, tidak seperti uncle yang buaya."
"Hei anak muda, apa maksudmu bicara begitu ha? Uncle mu ini memang memiliki masa lalu yang asik bersama banyak wanita, tapi saat ini, hanya bibi mu lah yang mampu membuat hari hari uncle menjadi berwarna."
Arsen pun kemudian hanya kembali mendengus dan tertawa kecil sembari terus menggelengkan kepalanya. Ia kembali menatap ke arah Bella yang kala itu terlihat mulai membuka laptop yang ada di meja kerjanya.
"Ya sudah tuan muda Arsen Lim, lanjutkan pekerjaanmu ya. Uncle mau kembali ke ruangan dulu." Alex pun menepuk singkat pundak Arsen lalu langsung berlalu pergi.
Saat itu Arsen hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia pun kembali menatap singkat ke arah Bella namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Ah pikiran macam apa ini? Tentu saja dia tidak asing, itu karena aku sudah pernah bertemu beberapa kali dengannya, bahkan aku juga pernah...."
Seketika Arsen kembali terbayang saat dimana bibirnya dan Bella tak sengaja saling bersentuhan ketika ia hendak menyelamatkan Bella yang hampir jatuh.
Namun mendadak lamunannya buyar, saat ponselnya berdering.
"Astaga tidak, tidak, kenapa aku malah mengingat hal semacam itu." Gumam Arsen lagi sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Menyadari ponselnya yang terus berdering, Arsen pun akhirnya meraih ponsel yang terletak di atas meja, matanya pun sontak sedikit membulat saat melihat nama Laura terpampang nyata di layar ponselnya.
__ADS_1
"Hallo." Sahut Arsen.
"Sayang, kamu dimana?" Suara manja Laura pun terdengar dari balik ponsel.
"Aku sedang di kantor."
"Oh apa aku boleh berkunjung kesana?"
"Sekarang?" Tanya Arsen sembari mengernyitkan dahi.
"Iya, tentu saja, aku begitu bosan di rumah sayangg."
"Tapi, sebaiknya jangan sekarang ya, karena masih ada banyak berkas yang harus ku tanda tangani dan harus selesai hari ini juga." Jelas Arsen.
"Jadi kamu melarangku kesana? Tidak ingin bertemu denganku? Tidak rindu padaku? Iya?"
"Astaga Laura, bukan begitu. Bukankah kamu tau jika saat ini aku sudah menjadi pimpinan Blue Light, harusnya kamu juga tau jika waktuku akan banyak terkuras di kantor."
"Tapi aku merindukanmu sayang, aku ingin makan siang bersamamu." Rengek Laura kemudian.
Arsen pun sejenak terdiam sembari mulai memijiti pelipisnya.
"Begini saja, aku akan menggantinya dengan makan malam. Bagaimana?"
"Benarkah? Apa kamu akan mengadakan makan malam yang romantis?"
"Ya makan malam seperti biasa saja."
"Tidak sayang, aku tidak mau seperti biasanya, pokoknya aku mau makan malam yang romantis. Titik!" Tegas Laura yang kemudian langsung menutup panggilannya.
Arsen pun terdiam, ia hanya bisa mendengus lesu sembari memandangi ponselnya yang masih di pegangnya.
"Huh, semakin hari semakin membuat pusing, astaga untung aku cinta." Celetuk Arsen seorang diri.
Akhirnya tak ingin semakin pusing, Arsen pun menghela nafas kasar dan meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Ia pun kembali bergegas meraih beberapa map lalu mulai mengamatinya untuk kemudian ia tanda tangani.
__ADS_1
Sementara Bella yang sejak tadi terus mengamatinya dari ruanga kerjanya, hanya bisa memasang wajah manyun saat ia menyadari jika Arsen baru saja telponan dengan pacarnya yaitu Laura.
...Bersambung......