
Arsen terus berjalan dengan tatapan begitu tajam, melewati para tamu tanpa memberikan sedikit pun senyuman. Tepat saat ia berada di tengah ballroom, matanya tak sengaja melihat Antony yang tengah berdiri di hadapannya. Namun saat itu Arsen berniat ingin terus berjalan melewatinya, namun ucapan Antony seketika membuat langkahnya terhenti.
"Sudah ku katakan sebelumnya, harusnya kau yang harus berbesar hati menerima kenyataan ini Arsen Lim." Ucap Antony dengan tenang sembari tersenyum tipis.
Mata Arsen sontak sedikit melebar saat mendengar perkataan Antony.
"Jadi kau pun tau?"
"Aku sangat tak enak harus mengatakannya padamu, tapi memang begitu lah faktanya. Selain keluargamu, akulah orang pertama yang tau semua ini. Calon istrimu bahkan menemuiku secara khusus hanya untuk membungkam mulutku. Oh astaga, apakah aku masih pantas menyebutnya calon istrimu?"
Mendengar hal ini membuat darah Arsen semakin mendidih rasanya, tangannya pun mulai mengepal dengan sempurna, namun akhirnya ia sadar jika saat itu ia tengah berada di tengah-tengah khalayak ramai hingga ia mengurungkan niatnya untuk memukul Antony.
"Sebaiknya kamu pikirkan ulang tentang rencana besarmu ini, bukankah kau paling anti dengan kebohongan?" Bisik Antony lagi yang kemudian beranjak pergi begitu saja.
Arsen yang sejak tadi hanya diam, pun akhirnya melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ballroom megah itu. Hatinya terasa begitu hancur saat mengetahui, bukan hanya Rachel yang bersandiwara di hadapannya selama ini, melainkan seluruh keluarganya pun ikut berpartisipasi dalam mempermainkannya. Bahkan rasa sakit hati dan kecewanya kini semakin memuncak saat ia tau jika Antony pun sudah tau.
"Bahkan lelaki itu lebih dulu tau semuanya di banding aku." Ucap Arsen lirih dan terus melangkah menuju parkiran mobil.
Rachel yang menyadari kepergian Arsen tak ingin tinggal diam dan pasrah pada keadaan, ia pun langsung melepaskan pelukan ibunya untuk mengejar Arsen.
"Mau kemana kamu?" Tanya Shea yang langsung menahan Rachel.
"Aku harus mengejarnya mom, tolong mengerti." Ucap Rachel lirih.
Shea dengan berat hati akhirnya melepaskan kepergian putri semata wayangnya.
"Mommy mengerti bagaimana rasanya memperjuangkan cinta sayang, bahkan sangat mengerti. Pergilah, kejar cintamu sekuat yang kamu bisa." Gumam Shea dalam hati sembari memandang lirih kepergian Rachel.
Rachel terus berlari melewati ballroom yang masih dipenuhi banyak tamu undangan, ia bahkan tak menghiraukan wajahnya yang sembab akibat terus menangis.
"Arsen, aku mohon jangan pergi, maafkan aku." Gumam Rachel dalam hati dan terus berlari keluar dari ballroom.
Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Rachel menemukan Arsen. Saat itu Arsen terlihat tengah berdiri membelakanginya dan baru saja ingin membuka pintu mobilnya.
"Arsen Lim tunggu." Ucapnya.
Arsen akhirnya menutup kembali pintu mobilnya, ia hanya melirik singkat namun ia tetap berdiri membelakangi Rachel tanpa membalikkan badannya.
"Kamu mau kemana? Tolong jangan begini, di dalam masih sangat banyak tamu undangan." Ucap Rachel lirih.
Mendengar hal itu seketika membuat Arsen mendengus dan langsung berbalik badan menatapnya.
"Kau sungguh masih memikirkan tentang bagaimana acara pertunangan ini tetap berlanjut???"
"Apa maksudmu Arsen Lim? Tolong, aku mohon maafkan aku, tolong jangan begini. Aku sungguh mencintaimu, aku tidak melakukan hal kriminal atau mengkhianatimu, aku hanya ingin memperjuangkan cintaku dengan caraku."
"Dengan cara menipuku? Dengan cara bersekongkol dengan keluargaku untuk menipuku? Dengan cara menemui Antony secara pribadi hanya untuk membuatnya tutup mulut?" Arsen yang begitu emosi terus menyerang Rachel dengan berbagai pertanyaan yang terlintas dalam benaknya.
"Ka, kamu tau aku menemui Antony?" Mata Rachel seketika melebar.
Membuat Arsen seketika mendengus dan tersenyum lirih.
"Haha, jadi itu benar? Kamu menemuinya secara pribadi? Lalu apa yang kamu lakukan padanya hingga membuatnya bisa menutup mulut hingga saat ini? Apa kalian sudah melakukan sesuatu yang indah? Lantas jika benar begitu, maka apa bedanya antara kau dan Laura?"
"Tidak! Itu sama sekali tidak benar. Aku sama sekali tidak melakukan hal seperti yang kamu pikirkan. Aku berani bersumpah demi keluargaku, aku hanya..."
"Hanya apa?!" Arsen kembali sedikit meninggikan suaranya.
"Ak, aku hanya..." lidah Rachel mendadak kelu.
Arsen dengan tatapan lirih mulai melangkah pelan mendekati Rachel. Ia mengusap lembut sebelah pipi Rachel dan menatapnya dengan begitu lekat.
"Kenapa kamu membohongiku Rachel? Kenapa kamu melakukan ini?" Tanya Arsen lirih.
Membuat Rachel yang melihat raut wajah Arsen jadi merasa semakin sedih dan rasa bersalahnya pun jadi semakin besar.
"Maafkan aku Arsen Lim, maafkan aku."
"Berkali-kali ku katakan padamu, jika aku sangat tidak menyukai kebohongan. Dan kamu, saat kamu berbohong sekali padaku, maka seterusnya akan ada kebohongan lain demi menutupi kebohonganmu yang pertama. Jadi bisa kupastikan selama ini kamu pun sering berbohong padaku, ya kan? Bantah aku jika aku salah!"
"Maafkan aku, aku terlalu takut untuk mengatakannya padamu, aku terlalu takut kamu akan marah dan kecewa. Aku terlalu takut kamu pergi dariku."
"Lalu dengan terus mengulur waktu, apa seperti ini yang kamu harapkan?" Tanya Arsen lagi.
Rachel tak kuasa menjawab pertanyaan Arsen yang satu itu, ia hanya terus menangis di hadapan Arsen.
__ADS_1
"Kamu sendiri bahkan tidak bisa menjawabnya." Ucap Arsen yang mulai melepaskan tangannya dari pipi Rachel.
Arsen akhirnya kembali berbalik badan membelakangi Rachel, entah bagaimana rasanya, namun kini air mata Arsen pun jadi ikut menetes tanpa di lihat oleh Rachel.
"Rencana besar yang telah kita siapkan, kurasa kita perlu memikirkan ulang untuk melanjutkannya." Ucap Arsen pelan.
Membuat mata Rachel kembali membulat saat mendengarnya.
"Tidak, tidak! Aku mohon jangan, jangan lakukan itu Arsen Lim." Rachel segera memeluk tubuh Arsen dari belakang.
Namun Arsen masih tak bergeming, ia bahkan tak membalas pelukan Rachel sama sekali. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah menyeka air matanya.
"Lepaskan aku, aku perlu sendiri." Ucap Arsen pelan.
"Tidak, aku tidak mau. Tolong maafkan aku. Kamu mencintaiku kan? Tolong jangan begini. Apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkan aku?"
"Aku bahkan tidak tau perasaan apa yang kini ku rasakan padamu." Jawab Arsen singkat.
"Aku harus apa Arsen Lim? Aku harus apa agar kamu mau memaafkan aku?"
"Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah, biarkan aku sendiri." Arsen pun melepaskan pelukan Rachel.
Membuat Rachel semakin menangis, namun Arsen seolah tak memperdulikannya saat itu. Ia terus melangkah menuju mobilnya.
"Tapi kamu mau kemana? Apa kamu pulang ke rumah? Aku mohon jangan melakukan hal aneh."
"Pulang? Rumah? Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa tinggal bersama orang-orang yang sudah menipuku." Ketus Arsen yang kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.
Arsen langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan Rachel yang masih menangis seorang diri. Arsen pergi dengan membawa segala rasa sakit hati dan kecewa yang telah berbaur menjadi satu dalam jiwanya.
Tak lama Benzie yang juga merasa kesal pun langsung memanggil orangnya untuk membawa Laura keluar dari hotel.
"Bahkan, jika karena hal ini anakku mau kembali padamu, akulah orang pertama yang tidak akan memberi restu." Tegas Benzie pada Laura sebelum akhirnya ia dibawa keluar oleh orang suruhan Benzie.
Tak lama mereka pun menyusul Rachel ke parkiran, saat itu Rachel nampak berdiri seperti orang bodoh dengan sorot matanya yang terlihat kosong.
"Rachel, dimana Arsen?" Tanya Benzie sembari melirik kesana kemari.
Rachel pun semakin menangis dan tak kuasa menjawab. Shea kembali memeluknya, untuk memberikan sedikit ketenangan.
"Aku mencintainya mommy, sangat mencintainya." Ucap Rachel yang terdengar begitu lirih.
Yuna yang melihat itu pun semakin merasa cemas,
"Lalu, kemana perginya anak sulung kita sayang? Aku takut dia melakukan hal yang tidak-tidak di luar sana."
"Kurasa dia pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya. Jadi tenanglah." Benzie hanya bisa merangkul Yuna sembari mengusap-usap lembut pundaknya.
"Aku akan merasa sedikit lega jika memang benar dia pulang ke rumah."
Tak lama Alex dan Tere pun muncul.
"Lex, tolong tanyakan pada orang-orang di rumah, apakah Arsen pulang ke rumah? Dan jika tidak, tolong cari tau kemana dia pergi."
"Baik Ben." Jawab Alex yang kali ini memasang wajah serius.
Ke esokan harinya...
Seluruh anggota keluarga Lim dibuat kebingungan karena menghilangnya Arsen. Bahkan Arsen sama sekali tak terlihat pulang ke rumah hingga saat ini. Orang-orang suruhan Alex pun belum ada satu pun yang memberi kabar tentang keberadaan Arsen Lim saat ini.
"Bagaimana dengan GPS dari ponselnya?" Tanya Benzie pada Alex.
"Dia tidak sebodoh itu membiarkan orang-orang kita melacaknya melalui GPS di ponselnya. Dia sudah mematikannya Ben." Jawab Alex.
"Dimana dia? Acara pernikahannya akan di gelar esok hari, seluruh undangan sudah tersebar, apa dia ingin membatalkannya begitu saja?" Benzie nampaknya dibuat untuk berfikir keras dengan masalah ini.
Bagaimana tidak, ini pun menyangkut nama baik keluarga besar dan kerajaan bisnis yang dikelolanya selama ini. Jika pernikahannya gagal, tentu akan menjadi perbincangan di seluruh kota hingga plosok desa.
"Aku mohon jangan di batalkan paman." Tiba-tiba saja Rachel datang dan menyambar ucapan mereka.
"Rachel, kamu disini?" Tanya Alex yang sempat terkejut.
"Ya paman, semalaman aku tidak bisa tidur. Apa sudah ada kabar dari Arsen?"
"Belum." Jawab Benzie pelan.
"Maafkan aku paman, aku sungguh minta maaf, aku pantas di hukum untuk semua masalah ini." Ucap Rachel tertunduk lesu.
__ADS_1
"Tidak nak, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku turut andil karena ikut memberimu ide gila itu." Jawab Benzie yang mencoba menenangkan Rachel di tengah kekalutan yang juga ia rasakan.
"Waktu tersisa hanya sampai besok, bagaimana jika Arsen tidak datang ke acara?" Tanya Alex.
"Aku akan berusaha semampuku agar dia datang." Jawab Rachel yang mulai memasang senyuman lirih.
"Caranya?" Dahi Benzie pun mulai mengernyit.
"Paman, apa mungkin Arsen menginap di hotel atau pun salah satu apartement?"
"Dia tidak mungkin di hotel, karena Alex telah melacak seluruh hotel yang ada disini mulai dari bintang lima hingga kelas bawah. Tapi... astaga kenapa aku tidak berfikir kesana sebelumnya" Benzie nampaknya mulai memikirkan sesuatu.
"Tapi apa paman?"
"Aku baru saja teringat tentang apartement yang beberapa hari lalu baru saja di beli oleh Arsen Lim."
"Arsen membeli Apartement?" Dahi Rachel pun seketika ikut mengernyit.
"Aku terpaksa mengatakannya, namun dia membeli apartement itu bermaksud untuk memberimu kejutan, sebagai salah satu hadiah pernikahan kalian."
"Salah satu? Apa dia telah menyiapkan banyak hadiah? Kenapa aku bisa tidak mengetahuinya?" Celetuk Alex.
"Apa kau sungguh perlu tau tentang hal pribadi anakku ha? Tidak cukup kah kau memegang kendali atas seluruh perusahaan yang ku miliki?!" Jawab Benzie yang langsung melotot.
"Hehehe maaf, kenapa begitu saja langsung emosi? Apa Yuna tidak memberimu jatah semalam?"
"Haissh kau ini." Benzie nampak semakin kesal dan bersiap ingin memukulnya dengan map yang sedang di pegang olehnya.
"Sudah paman, di situasi seperti ini kenapa kalian masih punya waktu untuk bertengkar seperti anak kecil." Keluh Rachel.
"Rachel, tidak salah lagi. Ku yakin Arsen pasti pergi ke apartement itu untuk menenangkan diri."
"Paman, dimana apartementnya? Bisa berikan aku alamatnya?"
"Dia membeli apartement di kawasan diamond park."
"Diamond park? Bukankah itu kawasan yang sangat elit dan seluruh property disana juga di jual dengan harga yang fantastis. Hemm, tidak diragukan lagi, dia pasti merogoh budget besar untuk membeli apartement itu." Ujar Alex sembari berdecak kagum.
"Kenapa kau harus sangat terkejut begitu? dia bahkan bisa membeli seluruh kawasan itu jika dia mau." Jawab Benzie tersenyum tipis.
"Haisssh, kurasa kau tidak akan bisa hidup tenang jika tidak menyombong seperti itu ya." Ketus Alex.
Benzie hanya mendengus dan terus tersenyum.
"Baiklah paman, kurasa aku tidak punya banyak waktu lagi, aku haris kesana sekarang."
Benzie pun mengangguk.
"Apa kamu perlu seseorang untuk mengantarmu?"
"Tidak paman, aku bawa mobil sendiri." Jawab Rachel yang langsung bangkit dari duduknya kemudian mulai ingin beranjak pergi.
"Ya sudah, kebetulan kami juga mau keluar sekarang untuk mengurus sesuatu. Ayo ben." Alex pun ikut bangkit, lalu di susul dengan Benzie.
Mereka berjalan ke pintu utama bersama-sama. Nampak sebuah mobil Lambo berwarna putih telah terparkir tepat di depan loby rumah Benzie.
"Baiklah paman, aku pamit." Rachel pun langsung menaiki mobil yang ia bawa.
Alex yang melihatnya hanya bisa tercengang dan berdecak kagum memandangi betapa kerennya Rachel saat mengendarai mobil sangar itu.
"Aku sungguh heran padanya, hanya demi cinta dia rela mengurung monster jalanan sekeren itu selama ini dan lebih memilih naik bis untuk menutupi kekayaannya." Gumam Alex yang masih terus memandangi kepergian Rachel.
"Aku lebih heran padamu yang sama sekali tak bisa berhenti untuk tidak mengurusi urusan pribadi seseorang." Celetuk Benzie yang langsung beranjak memasuki mobil mewah yang juga sudah menunggunya.
Rachel dengan di antar seorang menejer gedung apartement, akhirnya tiba di depan pintu apartement nomor 0404.
"Kita telah sampai nona."
"Baiklah, terima kasih." Menejer pun pergi dan meninggalkan Rachel seorang diri di depan pintu.
Rachel pun mulai menekan bel yang ada di sebelah kanan pintu. Tak lama seseorang pun muncul dari dari dalam membukakan pintu. Orang yang di maksud, tak lain ialah Arsen Lim, yang juga dibuat begitu terkejut saat mendapat Rachel yang sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Rachel." Ucapnya pelan.
"Ternyata benar kamu disini." Mata Rachel pun kembali berkaca-kaca.
Namun seperti tersentak, Arsen langsung ingin menutup kembali pintunya, namun dengan cepat tangan Rachel menahannya.
__ADS_1
"Tunggu! tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara padamu sekali lagi. Hanya sekali ini saja, setelah itu, kamu bebas menentukan dan aku takkan mengganggumu lagi." Ucap Rachel yang menatap wajah Arsen dengan begitu lekat.
...Bersambung......