
Pagi hari yang cerah...
Sinar mentari pagi semakin terasa hangat menyengat permukaan kulit wajah Rachel, efek silau yang di pancarkan dari bias sinarnya pun, turut membuat mata Rachel mulai bergerak dan perlahan mulai terbuka. Saat itu, gorden yang menutupi jendela kaca dan pintu yang menuju ke balkon terlihat sudah terbuka lebar, membuat Rachel seketika terperanjat dari tidurnya karena menyadari jika ia kesiangan.
"Aaaaww." Tapi tiba-tiba saja Rachel kembali meringis saat ia melakukan gerakan spontan.
Pagi itu, Rachel baru mulai merasakan seluruh badannya yang terasa sakit dan remuk redam. Terutama di bagian paha dan sekitarnya, terasa sengal, ngilu, dan rasa sakit yang juga sulit untuk di jelaskan.
Rachel melirik ke sebelahnya, dan tidak mendapati Arsen berada di sisinya. Yang terlihat justru, keadaan tempat tidur yang sangat berantakan, beberapa pakaian juga tercecer di lantai, seluruh benda yang ada di atas nakas yang terletak di sisi ranjang juga terlihat berantakan, begitu pula barang-barang yang sebelumnya tertata rapi di atas meja rias, kini terliat amburadul, hingga seprei kasur itu yang sudah terlihat sangat tidak singkron bentuknya. Lagi-lagi Rachel dibuat begitu terperangah memandangi pemandangan kamarnya di pagi itu, nyaris seperti kapal pecah yang sangat tidak beraturan.
"Apa-apaan ini? Tidakkah kekacauan ini terlihat begitu berlebihan?" Gumam Rachel dalam hati yang merasa heran serta bingung.
Perasaan bingung membuatnya mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Seperti mendapat jawaban dari tanda tanya besar yang ada di pikirannya, tiba-tiba saja ia terbayang bagaimana ia dan Arsen menghabiskan malam mereka semalam. Entah berapa kali mereka melakukannya dalam semalam, bahkan dua insan yang sedang di mabuk cinta ini, harus melewatkan makan malam mereka kala itu karena sama sekali tidak merasa lapar akibat pertarungan sengit yang berulang kali mereka lakukan.
Mulai dari di atas ranjang dengan gaya normal, menuju ke sebuah sofa panjang yang berada di sudut kamar, hingga di atas meja rias. Hampir seluruh sudut ruangan kamar di sapu bersih oleh mereka. Rachel masih merasakan sakit dari percobaan yang pertama, namun juga merasa nikmat yang juga sulit ia lukiskan dengan kata-kata. Cintanya yang juga begitu besar dan menggebu pada Arsen, turut menjadi alasan kenapa ia masih sanggup melayani Arsen yang ingin terus mengulanginya sepanjang malam.
Beberapa saat termenung, akhirnya sebuah senyuman simpul muncul begitu saja di wajahnya, lalu ia mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena mendadak jadi tersipu malu pada dirinya sendiri saat mengingat kejadian semalam.
"Astaga, kenapa aku bisa melupakan hal ini hahaha jelas saja kamar ini begitu berantakan, mengingat bagaimana perkasanya suamiku semalam." Gumamnya yang terus tersenyum menutupi wajahnya.
Rachel pun melirik ke arah jam dinding yang tergantung tepat di hadapannya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07:10 pagi, Rachel kembali bersenabut karena ia bahkan belum belum beranjak dari atas tempat tidur saat itu.
Rachel melangkah cepat menuju kamar mandi, beberapa kali ia kembali meringis kesakitan sembari memegangi kepunyaannya yang terasa begitu perih dan ngilu saat berjalan.
"Aaaghh, aku bahkan tidak pernah menduga jika rasanya benar-benar sesakit ini." Guman Rachel seorang diri sembari mulai memandangi bayangan dirinya dari cermin.
Ia kembali meraba lehernya, matanya kembali membulat saat mendapati ada banyak tanda merah di sekitar leher hingga dadanya.
"Haaaisss, kenapa banyak sekali tanda merah??" Celetuknya yang mulai terlihat panik dan terus mengusap-usap leher dan dadanya.
"Ini jelas tidak akan bisa hilang hanya dalam sehari, bagaimana aku bisa menjalani hari dengan keadaan seperti ini??" Tambahnya lagi yang terus memeriksa sekujur badannya.
"Haiss lelaki itu, benar-benar tidak berpikir sebelum bertindak, bagaimana dia bisa meninggalkan jejak hampir di seluruh bagian tubuhku? Haaaih, benar-benar merepotkanku saja!!" Rachel terus menggeram seorang diri.
Ia pun bergegas mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat yang cukup membantu meredakan otot-ototnya yang tegang.
25 menit berlalu, kini Rachel pun keluar dari kamarnya dengan langkah lesu menuju ke dapur.
"Lalu kemana dia? Kenapa sejak tadi tidak terlihat? Apa dia sudah kabur ke kantor dan meninggalkan aku dalam keadaan begini?" Ketus Rachel dengan keadaan bibirnya yang terus mengerucut.
Tapi baru beberapa langkah menjauh dari pintu kamar, langkah Rachel kembali terhenti saat indera penciumannya mencium aroma yang begitu menggiurkan. Sayup-sayup indera pendengarannya juga mendengar suara seperti wajan yang tengah bergesekan dengan sudip.
__ADS_1
"Bau masakan, hah?! Siapa yang memasak??" Tanya Rachel seorang diri yang sontak langsung bergegas menuju dapur.
Dan ya, untuk kesekian kalinya Rachel kembali di buat terperangah sejadi-jadinya saat memandangi seorang Arsen Lim, yang sedang memasak dengan begitu tenang.
Saat itu Arsen tak sengaja melirik ke arahnya, ia pun sedikit terkejut saat mendapati Rachel yang sudah berdiri tak jauh darinya dengan keadaan yang terlihat seperti begitu terkhayal.
"Bonjour istri." Sapa Arsen sembari tersenyum ramah dengan wajahnya yang terlihat begitu berbinar pagi itu.
"Bo,, bonjour." Rachel pun masih dengan perasaan yang tidak menyangka kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Arsen.
"Kamu sungguh sedang memasak?!" Tanyanya lagi.
Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Arsen sontak mendengus dan melebarkan senyumannya.
"Tidak, aku sedang bermain kelereng."
Bibir Rachel pun semakin mengerucut, membuat Arsen kembali terkekeh dan mengusap ujung kepalanya dengan lembut.
"Sudah jelas melihatku sedang masak, kenapa masih bertanya haaa?" Ucapnya lagi yang terlihat jadi begitu gemas pada Rachel.
"Aku tidak punya pilihan, melihatmu tidur begitu pulas dan sepertinya sangat kelelahan akibat kerja keras semalaman, tentu jadi tidak tega membangunkanmu."
Rachel pun mendengus dan tersenyum sinis.
"Ya ya ya, kerja keras bagai kuda, lihat lah ini hasil dari pada kerja keras itu." Rachel pun menunjukkan lehernya yang penuh dengan bercak merah akibat ulah sang suami.
Melihatnya Arsen justru kembali tersenyum seolah begitu bangga sebagai penciptanya.
"Kenapa menatapku begitu sinis ha, bukankah ini mahakarya yang luar biasa sepanjang sejarah di hidupmu?" Arsen semakin mengembangkan senyumannya dan meraih kedua pundak Rachel,
"Oh lihat, bahkan disini masih ada bagian yang kosong, apa perlu ku tambahkan lagi?" Goda Arsen yang seolah ingin menciumi lehernya lagi.
"Aaaa hentikan.." Rengek Rachel yang menahan wajah Arsen.
Membuat Arsen lagi-lagi hanya terkekeh dan kembali fokus pada masakannya.
"Mahakarya apanya?! Aku bahkan jadi dibuat kerepotan karenanya, kamu meninggalkan jejak hampir di seluruh bagain atas tubuhku, sudah pasti akan banyak menghabiskan foundation mahalku untuk menutupinya. Kamu harus bertanggung jawab, dan mengganti foundationku." Ungkap Rachel dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap.
"Jika masalahnya hanya pada foundation, aku bahkan bisa membelikan kamu foundation beserta pabriknya. Jadi tidak perlu mempermasalahkannya lagi." Arsen pun mencubit pelan pipi Rachel.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."
Arsen pun kembali mendengus dan mulai menatap istrinya dengan tatapan yang tak terima.
"Haiyoo, kamu berbicara seolah kamu tidak menikmatinya saja, lalu bagaimana denganku? Lihat ini!" Arsen pun menunjuk ke arah lehernya yang juga terdapat bercak merah akibat perbuatan Rachel.
"Hanya disitu saja, kenapa begitu mempermasalahkannya?" Gumam Rachel yang nampak mulai kikuk serta masih mencoba membuang badan.
"Hanya disitu saja??" Arsen pun mulai melotot tanda tak terima.
Lalu ia mulai membuka celemek yang terpasang di badannya.
"Bagaimana dengan ini?!" Kemudian Arsen pun menyingkap bajunya.
Dan benar saja, hampir di sekujur dada hingga badannya dipenuhi tanda kepemilikan.
"Ini." Arsen menunjuk bagian dada hingga perut.
" Dan ini." Ucapnya lagi yang kali ini menunjuk bagian di area pundak dan sekitarnya.
Hal itu membuat mata Rachel mendelik, karena begitu tercengang memandangi badan suaminya yang juga penuh dengan cupangan.
"Bagaimana? Apa kamu juga bersedia bertanggung jawab akan hal ini?"
Rachel pun terdiam kikuk dengan bibirnya yang semakin manyun.
"Kenapa bisa separah itu ya hehehe." Celetuknya sembari cengengesan dan mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Lagi-lagi Arsen hanya bisa mendengus dan tersenyum puas karena berhasil membungkam mulut istrinya yang cerewet.
Arsen pun membawa istrinya dan mendudukkannya di kursi.
"Duduklah disini dan jangan mengomel terus." Ucap Arsen yang kemudian kembali menuju dapur.
Ia mulai menatap makanan yang baru selesai ia masak, lalu menghidangkannya dengan penuh semangat ke hadapan Rachel.
"Nasi goreng special, dibuat dengan cinta untuk istri tercinta, silahkan di cicipi." Ujar Arsen dengan wajah sumringah.
Membuat Rachel lagi-lagi harus tersenyum dan mulai menyantap sarapan paginya dengan penuh rasa suka cita.
...Bersambung......
__ADS_1