
Hal itu membuat Arsen terdiam, ia dibuat kebingungan sembari memandangi kepergian Rachel yang terlihat terus berjalan dengan langkah cepat memasuki gedung apartement nya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Arsen seorang diri.
Arsen pun akhirnya kembali melajukan mobilnya, pikiran yang awalnya terasa kalut, kini jadi kian bertambah tak menentu karena sikap Rachel. Hal itu pun membuat Arsen memilih melampiaskan kekalutannya dengan mengendarai mobil sportnya dengan sekencang-kencangnya hingga hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk dia tiba di rumahnya.
Jarum jam raksasa yang tergantung kokoh di salah satu sisi dinding rumah kediaman keluarga Lim, saat itu telah menunjukkan pukul 17:55 sore. Saat itu Arsen terus melangkah cepat menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Namun begitu tiba di lantai dua, langkahnya seketika ia hentikan saat suara ayahnya terdengar menggema di ruangan megah ini.
"Dari mana saja kau Arsen Lim?" Tanya Benzie yang saat itu sudah terduduk di ruang keluarga.
Arsen pun seketika menoleh ke arah sumber suara sang ayah.
"Tidak dari mana-mana, hanya mengantar Bella pulang ke apartementnya. Memangnya kenapa pa?" Arsen pun menghampiri Benzie.
"Mengantar Bella katamu? Jelas-jelas tadi papa bertanya langsung pada Bella, dia bahkan tidak tau kau pergi kemana sore tadi."
"Oh itu, ya aku memang ada pergi sebentar, tapi setelahnya aku langsung kembali menjemput Bella ke kantor dan mengantarnya pulang." Jelas Arsen singkat.
"Emm, duduk lah dulu, papa perlu bicara."
Arsen tanpa banyak bertanya, langsung saja duduk tak jauh dari Benzie, ia pun duduk dengan tenang sembari terus diam menantikan hal apa yang sekiranya ingin di bicarakan oleh ayahnya itu.
"Katakanlah, ada apa? Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?" Tanya Benzie sembari menatap lekat ke arah putra sulungnya.
"Memannya apa yang menggangguku pa? Sama sekali tidak ada." Arsen yang berkata bohong pun terlihat sedikit gelagapan.
"Apa kau sungguh berfikir masih bisa membohongi orang yang sudah lebih dulu hidup dibandingkan kau?"
Arsen pun hanya bisa mendengus, ia tersenyum lesu dan mulai menundukkan kepalanya.
"Katakanlah, ada apa? Anggap saja jika saat ini aku bukanlah papamu, melainkan teman sharingmu."
"Apa di kehidupan papa pernah berhadapan dengan orang yang secara terang-terangan ingin merebut apa yang sudah menjadi milik papa?" Tanya Arsen yang mulai menatap serius wajah Benzie.
"Hahaha tentu saja pernah, itu bahkan sering terjadi. Dunia bisnis yang sedang kita jalani ini memanglah sangat kejam, dan akan selalu ada saja orang-orang yang ingin menjatuhkan, apalagi saat ini perusahaan kita sedang berada di atas awan." Jelas Benzie yang nampaknya masih belum terlalu paham, kemana arah perbincangan Arsen.
"Dalam hal itu aku sudah paham pa, tapi bukan itu maksudku."
"Lalu?" Benzie pun mulai mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Oh tunggu, apa ini menyangkut masalah percintaan?" Tanya Benzie lagi yang mulai memicingkan matanya.
Arsen pun akhirnya mengangguk.
"Benar." Ucapnya pelan.
"Emm apa papa belum pernah bercerita tentang bagaimana uncle Martin yang dulu begitu menggilai mamamu setengah mati?" Tanya Benzie tersenyum tipis sembari mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Mendengar hal itu, membuat Arsen sedikit tertarik untuk mendengar cerita masa lalu dari kedua orang tuanya.
"Benarkah? Maksudku, apa sampai benar-benar ingin merebut mama secara terang-terangan begitu?" Tanya Arsen yang masih tak percaya.
"Hahaha tentu saja, bahkan dia sempat ngotot menyuruh papa untuk menceraikan mama mu, agar dia bisa menikahinya." Jelas Benzie dengan tenang.
"Lalu bagaimana tanggapan papa saat itu?"
"Tentu saja papa tidak menuruti permintaannya, mendapatkan mamaku bagaikan mendapat sebuah berlian yang ada di dasar lumpur. Jadi, mana mungkin papa mau memberikan hal yang sudah jelas berharga pada orang lain hahaha." Benzie pun tertawa bangga.
Mendengar itu Arsen pun terdiam sembari terus mencerna segala penjelasan sang ayah.
"Memangnya ada apa? Apa kau juga mengalami hal yang sama?" Tanya Benzie kemudian.
"Sepertinya begitu."
Ucapan Benzie pun seketika membuat Arsen jadi melirik ke arahnya dengan dahinya yang mulai mengernyit.
"Wajib waspada?"
"Iya tentu saja, mengingat hubungan mu dan Bella belum ada ikatan sah apapun. Hal itu tentu akan membuat sainganmu lebih berpeluang besar untuk merebutnya." Ucapan Benzie kali ini seolah sengaja ingin memanasi Arsen.
Membuat Arsen kembali menatap serius wajah sang ayah, kali ini ia pun merasa jika yang di katakan oleh Benzie ada benarnya juga.
"Pa." Arsen semakin menatap Benzie dengan begitu serius.
"Emm."
"Aku..." Arsen mulai terlihat sedikit gugup.
"Ada apa Arsen Lim?" Tanya Benzie lagi sembari meraih secangkir teh miliknya dan mulai menyeruputnya.
__ADS_1
"Aku, aku ingin menikah!" Ucap Arsen yang terdengar begitu tegasnya.
Membuat Benzie yang sedang menyeruput tehnya seketika tersedak hingga terbatuk.
"Uhukk... uhukkk." Benzie terus terbatuk sembari terus mengusap-usap dadanya.
"Kenapa pa? Apa papa baik-baik saja?" Tanya Arsen cemas yang seolah ingin bangkit dari duduknya untuk menghampiri sang ayah.
"Tidak, uhuk,,, uhukk,,, papa tidak apa-apa."
Arsen pun akhirnya kembali terduduk.
"Apa tadi katamu? Ingin menikah?!" Benzie mulai membulatkan matanya pertanda begitu syok dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Iya." Arsen pun mengangguk.
"Apa papa tidak salah dengar?" Tanya Benzie lagi yang masih sangat tidak menyangka.
"Sama sekali tidak pa. Aku ingin segera menikahi Bella, bagaimana menurut papa? Apa papa setuju?" Wajah Arsen terlihat sangat serius saat mengungkapkan keinginannya.
Benzie terdiam sembari sesekali masih terbatuk, perasaan senang sekaligus syok kini bercampur aduk dalam hatinya.
"Apa kau sungguh yakin dengan hal yang baru saja kau ungkapkan Arsen Lim? Apa kau sudah memikirkannya? Karena papa tidak ingin kau memutuskan untuk menikah hanya karena ingin mengalahkan lelaki yang menjadi sainganmu untuk mendapatkan hati Bella."
"Mungkin itu juga menjadi salah satu alasanku, tapi bukan itu satu-satunya yang membuatku ingin segera menikahi Bella. Melainkan aku melihat sebuah ketulusan dari mata Bella, aku sudah sangat yakin jika memang Bella lah yang terbaik bagiku dan aku tidak mau kehilangan seseorang yang benar-benar tulus padaku." Jelas Arsen.
Membuat Benzie kembali diam dan mulai mencerna ucapan Arsen.
"Jika memang begitu, papa tentu akan mendukungmu 100% nak, papa sangat setuju saat kau berpendapat jika Bella adalah gadis baik yang berhati tulus." Ucap Benzie tersenyum.
"Baiklah pa, kalau begitu aku akan melamarnya malam ini juga." Arsen pun terlihat begitu bersemangat.
Namun hal itu membuat Benzie kembali terkejut.
"Apa?!! Ma, malam ini?"
"Iya pa." Arsen pun tersenyum sembari mengangguk cepat.
"Tapi Arsen Lim..."
__ADS_1
"Sudah lah pa, papa tenang saja, aku bisa mengatur semuanya, yang penting restu dari papa sudah ku dapatkan, dan aku yakin mama juga akan merestuinya." Arsen pun langsung bangkit dari duduknya, dengan penuh semangat, ia pun langsung beranjak pergi menuju kamarnya.
...Bersambung......