
Tiga hari kemudian...
Hari berlalu seolah begitu cepat, berhari-hari lamanya Arsen tidak memunculkan batang hidungnya di kantor utama. Bahkan, sejak hari pertama Rachel pergi meninggalkannya maupun kota itu, ia sudah kehilangan minatnya untuk pergi ke kantor. Bukan hanya kantor, Arsen bahkan tidak terlihat keluar dari unitnya yang ada di apartement mewah itu. Hal itu pun cukup mengundang tanda tanya besar bagi sebagian orang-orang di kantor, terutama keluarganya sendiri.
Karena Arsen tak kunjung muncul, maka untuk sementara waktu, Benzie kembali mengambil alih kedudukan Arsen sebagai CEO dari kerajaan bisnis keluarga mereka. Nomor Arsen pun tidak pernah bisa di hubungi, hingga cukup menambah rasa cemas bagi Yuna.
Yuna, saat itu ia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak datang ke apartement Arsen. Setelah selesai dengan segala kegiatannya di rumah pagi itu, ia pun memutuskan untuk pergi seorang diri menuju kawasan elit tempat dimana gedung apartement Arsen berdiri kokoh.
Di tengah perjalanannya, Yuna pun memutuskan untuk menelpon Benzie dan berniat ingin memberitahunya jika ia akan pergi ke apartement Arsen.
"Halo sayang." Jawab Benzie dari balik telpon.
"Halo, apa aku mengganggumu?" Tanya Yuna memastikan.
Karena Yuna tau, sejak Arsen meninggalkan kantor dalam beberapa hari sebelumnya, membuat banyak pekerjaan yang terbengkalai, begitu pula ada banyak meeting yang harus di atur ulang dan dipertanggung jawabkan oleh Benzie selaku ayah dari Arsen.
"Oh tidak sayang, tapi dalam 20 menit lagi, aku akan menuju ruang meeting, ada meeting dengan klien yang dua hari lalu sempat tertunda karena Arsen tidak datang."
"Oh baiklah, ku harap kamu jangan terlalu lelah, karena kamu harus sadar jika energimu sudah tidak sama lagi seperti dulu."
"Hehehe apa sekarang kamu mulai meragukan kekuatanku sayang?" Tanya Benzie yang terdengar seperti sedikit berbisik.
Mendengar hal itu Yuna pun hanya tersenyum kecil namun tidak menjawab sepatah katapun.
"Oh ya sayang, ada apa kamu menelponku? Apa ada hal penting?" Tanya Benzie lagi kemudian.
"Oh itu, eeemm ya, aku menelponmu karena aku ingin memberitahukan jika saat ini aku sedang dalam perjalanan."
"Kemana? Kamu mau kemana sayang??"
"Aku mau ke apartement Arsen." Jawab Yuna.
__ADS_1
Benzie pun terdiam sejenak, mendengar nama Arsen kembali disebut membuat senyuman kecilnya yang sebelumnya terlihat muncul di wajahnya, kini seolah mendadak lenyap begitu saja.
"Kamu yakin sayang? Bukankah sebelumnya dia...."
"Ya aku tau!" Jawab Yuna memotong ucapan suaminya.
"Lalu??" Benzie pun mulai mengerutkan dahinya.
"Tapi aku sudah tidak bisa lagi bersikap seolah aku tidak peduli dengannya sayang. Biar bagaimana Arsen adalah putra kita, putra pertama kita! Menghilangnya kabar Arsen dalam beberapa hari ini benar-benar membuatku tidak bisa lagi berdiam diri di rumah sayang, jadi ku pikir aku harus menemuinya dan memastikan jika anak kita baik-baik saja." Jelas Yuna panjang lebar.
"Baiklah, aku mengerti. Apa perlu aku temani sayang?"
"Ah tidak perlu sayang, bukankah dalam waktu 20 menit lagi kamu akan meeting? Tidak mungkin di undur lagi kan?"
"Iya, tapi jika kamu menginginkan aku berada disana juga, maka aku akan pergi menyusulmu sekarang juga."
"Sepertinya untuk kali ini tidak perlu sayang, aku akan mencoba menemuinya sendiri dulu, barangkali jika hanya berdua, dia akan lebih mau dan bersedia bercerita tentang keluh kesahnya."
"Eemm benar juga, baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan sayang, tolong katakan pada pak Choi agar hati-hati dalam mengemudi."
"Bukan begitu sayang, tapi mengingat umur pak Choi semakin tua, ku yakin membuat konsentrasinya juga akan semakin berkurang."
Yuna pun hanya terdiam sembari mulai memutarkan bola matanya karena ucapan suaminya yang menurutnya mulai terdengar berlebihan. Tak lama, Yuna pun mengakhiri panggilannya, dan kembali fokus memandangi jalanan sembari sesekali ia kembali melamun, terbayang masa-masa dulu ketika Arsen masih kecil, saat Arsen tidak pernah terlihat terpuruk, dan selalu ceria.
"Dulu kamu di besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang Arsen Lim, hingga membuatmu jadi selalu ceria dan bahagia. Maka dari itu, saat melihatmu begitu terpuruk seperti saat ini, merupakan sebuah pukulan besar bagi mama nak." Gumam Yuna dalam hati sembari tanpa ia sadari, ia pun mulai meneteskan air matanya,
Tak ingin terus menerus terlarut dengan kesedihannya, Yuna pun bergegas menyeka air matanya dan kemudian langsung meraih kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Benzie lagi, melainkan kali ini ia berfikir untuk mengirimkan pesan pada Shea.
"Hai Shea, bagaimana kabar kalian disana setelah baru saja kembali? Ku harap semuanya baik-baik saja. Dan bagaimana dengan kabar Rachel? Apa dia juga baik-baik saja? Karena jujur saja aku pun jadi sedikit cemas dengannya." Setelah membaca ulang pesannya beberapa saat, akhirnya Yuna pun memberanikan diri untuk mengirimnya pada Shea.
Dan ya, seolah tak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan sebuah balasan, dalam waktu hitungan beberapa menit saja, ponsel Yuna kembali berbunyi menandakan adanya sebuah pesan baru masuk.
__ADS_1
"Hai Yuna, senang rasanya kamu mengirimku pesan untuk menanyakan kabar. Aku dan Martin baik, tapi sepertinya tidak untuk Rachel. Jujur saja, hingga saat ini Rachel masih tidak baik-baik saja. Dia masih sering menangis, dan hingga saat ini pula, ia masih kebanyakan mengurung diri di kamarnya."
Yuna pun jadi mendadak tertegun ketika membaca balasan dari Shea.
"Ya ampun, kesian sekali Rachel. Kenapa mereka harus di terpa masalah sebesar ini padahal mereka baru saja merasakan indahnya cinta sebentar saja." Gumam Yuna dalam hati.
Tak berapa lama, sebuah pesan dari Shea kembali masuk.
"Lalu, bagaimana dengan Arsen setelah Rachel pergi? Apa dia baik-baik saja?"
"Sama sekali tidak Shea, Arsenku pun sama! Dia sedang tidak baik-baik saja saat ini, bahkan sangat jauh dari kata baik. Dan jujur, saat ini aku pun sedang berada dalam perjalanan menuju apartementnya, karena sejak kepergian Rachel, ia mendadak tidak ingin di ganggu dan sekarang ia hilang kabar dan belum juga masuk kantor."
"Oh ya ampun, aku sangat tidak menyangka masalah ini sangat berpengaruh besar bagi Arsen. Oh ya ampun, apa yang harus kita lakukan saat ini Yuna? Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak kita kembali bahagia dan tidak terpuruk seperti ini?"
"Entah lah Shea, untuk saat ini aku juga tidak bisa berfikir apapun, aku merasa keputusan Rachel untuk pergi meninggalkan Arsen itu bukanlah keputusan yang tepat jika sampai sekarang mereka masih terus terpuruk seperti ini."
"Ya, aku juga mulai merasakan hal yang sama. Tapi mau bagaimana pun, kita juga tidak memiliki terlalu banyak daya untuk ikut campur dengan masalah rumah tangga mereka.
"Ya, kamu benar Shea, itu juga yang aku pikirkan saat ini."
Namun saat sedang asik berbalas-balasan pesan pada besannya, tiba-tiba saja saja mobil yang di tumpangi Yuna berhenti.
"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap pak Choi.
Yuna pun terkejut sembari seketika melihat ke sekelilingnya.
"Astaga, benarkah? Oh ya ampun, saking sibuk berbalas pesan jadi membuatku tidak sadar jika sudah sampai." Celetuk Yuna sembari tersenyum.
"Baiklah pak Choi, aku turun dulu. Jika pak Choi bosan, pak Choi bisa menungguku di coffe shop yang ada di dalam pak."
"Baik nyonya."
__ADS_1
Yuna pun tersenyum dan bergegas turun dari mobilnya lalu langsung berjalan menuju lift untuk naik ke unit milik Arsen yang berada di lantai paling atas.
...Bersambung......