
Tak berapa lama, Rachel kembali masuk ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Rasa minder tiba-tiba saja seolah kembali menyerangnya hingga membuatnya tidak siap untuk menemui Arsen.
"Aduhh, kenapa aku justru jadi semakin gugup begini ya?" Keluh Rachel yang kembali berjalan mondar mandir di kamar sembari mulai menggigiti ibu jarinya.
Tak sengaja mata Rachel melirik ke arah cermin, ia pun bergegas mendekatinya, kembali memandangi tampilan diri yang malam itu terlihat cukup seksi. Rachel pun meraih lipsticknya yang berwarna nude, dan mulai memolesnya secara tipis ke bibir mungilnya. Yang terakhir adalah, menyeprotkan parfum yang ia beli ketika masih tinggal di Paris adalah usaha terakhir yang dapat ia lakukan demi bisa lebih terlihat sempurna di mata Arsen.
Rachel lagi-lagi menghela nafas panjang, lalu kembali memandangi dirinya lagi, memastikan tidak ada hal yang ia lewatkan.
"Ayo Rachel, you can do it." Gumamnya dalam hati yang akhirnya perlahan mulai kembali melangkah keluar dari kamar.
Rachel berjalan begitu pelan, bahkan terkesan mengendap-endap seperti pencuri, entah apa yang ada di pikirannya kala itu hingga membuatnya harus melakukan itu. Kebetulan, pintu ruang kerja Arsen tidak sepenuhnya tertutup, ada sedikit celah yang memungkinkan bagi Rachel untuk bisa mengintip ke dalam.
Kala itu Arsen terlihat seolah begitu sibuk dengan berbagai lembar kertas yang ia pegang, sembari sesekali matanya menatap serius ke arah layar laptop.
"Jika aku masuk begitu saja, tentu akan terasa sangat aneh. Emmm, aku harus memikirkan alasan yang tepat." Gumam Rachel lagi.
Rachel pun mulai berfikir, kemudian tak sengaja melirik ke arah dapur dan muncul lah sebuah ide yang akhirnya membuatnya mulai tersenyum.
"Eeemm baiklah, aku buatkan teh saja." Rachel pun semakin melebarkan senyumannya dan mulai beranjak ke dapur,
Dengan gerakan pelan, Rachel terus mengaduk-aduk teh buatannya, lalu perlahan mulai mengangkatnya dan kemudian membawanya menuju ruang kerja suaminya.
*Tok tok tok*
Rachel mengetuk pintunya, lalu langsung masuk dengan perlahan meski Arsen belum menyuruhnya untuk masuk. Kala itu kedua mata Arsen masih terus saja fokus ke layar laptop tanpa melirik sedikit pun ke arah Rachel.
"Ada apa?" Tanyanya datar sembari terus mengutak atik laptopnya.
"Ak,, aku... aku membuatkan teh untukmu." Jawab Rachel yang jadi begitu gugup.
"Letakkan saja disini."
"Oh, emm ba,, baiklah." Rachel semakin gugup, membuat tangannya mulai gemeteran.
Hal itu menyebabkan teh yang ingin ia letakkan di meja menjadi sedikit tertumpah dan mengenai tangan Arsen yang kala itu berada tak jauh dari cangkir teh yang masih panas itu.
"Aaaghh." Arsen seketika menjerit karena kepanasan hingga sontak membuatnya bangkit dari duduknya secara spontan.
Arsen terus menjerit dan memegangi tangannya yang terasa seperti melepuh, lalu mulai ingin menatap tajam ke arah Rachel yang kala itu juga terlihat begitu terkejut.
__ADS_1
"Ka,,,, ka,,, kamu." Awalnya Arsen seperti ingin membentak Rachel, namun seketika suaranya dibuat melunak saat memandangi penampilan Rachel kala itu.
"Arsen Lim, aku sungguh tidak sengaja, aku minta maaf." Rachel begitu terlihat panik dan langsung meraih tangan Arsen yang nampak mulai memerah.
Tapi entah apa yang terjadi pada Arsen kala itu, hingga membuatnya tiba-tiba saja jadi begitu terperangah memandangi Rachel yang nampak begitu cantik dan seksi saat mengenakan kimono berbahan satin yang berwarna hitam. Amarah Arsen seketika lenyap bak di telan bumi, bahkan rasa sakit pada tangannya pun tak lagi ia rasakan. Yang ada hanyalah rasa kagum sekaligus terpesona yang akhirnya kembali mengganggu ketenangannya.
"Astaga, tanganmu melepuh, aku sungguh minta maaf, tunggu ya aku ambil obat." Rachel yang panik tak lagi memperhatikan reaksi Arsen kala itu, ia pun bergegas pergi menuju kotak obat yang ada di dekat meja bar.
Arsen nampaknya masih begitu terperangah, hingga ia terus memandangi kepergian Rachel dengan terus menelan ludahnya sendiri.
"Gawat, ke,,, kenapa dia harus memakai pakaian seperti itu?" Gumam Arsen dalam hati yang mulai merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.
Arsen mulai mengusap-usap tengkuknya yang entah kenapa menjadi begitu merinding, perasaan gelisah pun kembali melanda, serta bayangan Rachel yang tampil begitu seksi di hadapannya mulai mengganggu pikirannya.
Tak lama Rachel pun kembali datang dengan sangat tergesa-gesa, di tangannya sudah membawa kotak obat dan langsung meletakkannya di atas meja.
"Biar aku obati, berikan tanganmu." Ucapnya yang langsung meraih tangan Arsen begitu saja.
Dengan sangat pelan, ia pun mulai mengolesi salap yang bertekstur seperti gel yang berfungsi memberikan efek dingin pada luka bakar. Sesekali ia pun meniup-niup area tangan Arsen yang merah, namun hal itu bahkan sama sekali tidak membuat Arsen meringis.
Arsen kembali terpaku memandangi Rachel yang kala itu begitu dekat dengannya, sesekali rambut panjang Rachel pun bergoyang menyentuh permukaan wajahnya, membuat aroma harum yang berasal dari rambutnya pun kian masuk ke rongga penciuman Arsen. Membuat bulu roma Arsen semakin berdiri dengan gagahnya, jiwanya seakan merasa terpanggil, membuatnya tanpa sadar semakin mendekat pada Rachel yang kala itu masih terlihat sibuk mengobati tangannya.
Perlahan tapi pasti, Arsen mulai mendekatkan wajahnya ke arah leher Rachel, aroma wangi Vanila yang berasal dari tubuh Rachel pun terasa begitu menggoda, hal itu kian membuat Arsen semakin sulit menahan gejolaknya.
Arsen seolah kehilangan kesadarannya, harum tubuh Rachel yang semakin kuat memasuki rongga hidungnya begitu memabukkan.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Rachel lagi yang kali ini langsung menoleh ke arahnya.
Hal itu membuat Arsen seketika tersentak dan kembali menjauhkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Rachel sembari mengerutkan dahinya.
"Ti,, tidak." Jawab Arsen singkat.
"Wajahmu terlihat sangat tegang, seperti menahan sesuatu, apakah kamu menahan sakit di tanganmu?" Rachel pun mulai menatap lirih wajah suaminya dan semakin membuatnya merasa bersalah.
"Aku yang salah, aku yang tidak hati-hati. Kamu boleh marah, tapi tolong maafkan aku." Rachel pun mengusap lembut pipi Arsen dengan sebelah tangannya, dan kembali menatapnya lirih.
"Aku memang sedang berusaha menahan sesuatu, tapi bukan menahan rasa sakit akibat tertumpah teh panas, melainkan sedang menahan sesuatu di bawah sana yang sejak tadi mulai memberontak saat melihat penampilanmu malam ini." Gumam Arsen yang mulai kembali mengusap-usap tengkuknya.
__ADS_1
Tapi berbeda halnya dengan Rachel yang kala itu tidak lagi memikirkan hal romantis, rasa cemas dan bersalah cukup menganggu pikirannya hingga membuat lupa dengan misi awalnya.
"Ada baiknya kamu istirahat ya, ayo aku antar ke kamar."
"Ti, tidakk!" Tegas Arsen yang kembali duduk di kursi kerjanya.
Arsen berkata tidak karena ia begitu takut jika nanti ia masuk ke kamar bersama Rachel, ia akan lepas kendali. Dalam pikiran Arsen saat ini, akan terlalu cepat rasanya jika ia memaafkan Rachel sekarang yang nantinya akan membuat Rachel tidak jera dan dengan mudah membohonginya lagi.
"Tapi tanganmu sedang sakit, kamu istirahat saja dulu, pekerjaan bisa di lanjutkan lain kali. Lagi pula bukankah kamu masih cuti." Pujuk Rachel yang kembali menarik tangan Arsen.
Lagi-lagi tak sengaja Arsen melirik ke arah dada Rachel yang kala itu cukup terbuka hingga dengan jelas menampilkan belahan dadanya. Arsen kembali merasakan sekujur tubuhnya yang mulai panas dingin, kepalanya mendadak pusing atas dan bawah.
Ia pun akhirnya langsung mengalihkan pandangan dan mulai memijiti pelipis dan dahinya.
"Apa kamu mulai pusing? Nah kan, itu menandakan jika kamu memang perlu beristirahat."
"Tidak, kamu tidak akan pernah mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Tidak akan pernah!" Jawab Arsen pelan yang terus memijiti dahinya sembari mulai memejamkan matanya.
"Biar aku pijit ya." Rachel pun ingin kembali mendekati Arsen, namun dengan cepat Arsen menghadangnya dengan sebelah tangannya,
"Tidak perlu! Pijitanmu hanya akan membuatku semakin kesusahan nantinya." Ucapnya pelan.
"Kesusahan apanya?" Tanya Rachel yang nampaknya masih sangat tak mengerti.
"Tidak usah di bahas. Oh ya, boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Tentu saja, mintalah apapun, aku akan mengabulkannya selama aku bisa."
"Bisakah kamu keluar dari sini?"
Rachel seketika terdiam dengan tatapannya yang kembali menatap Arsen dengan lirih, Bibirnya mulai mengerucut karena mulai merasa sedih karena berfikir kehadirannya sungguh tidak diharapkan oleh Arsen.
"Kenapa masih berdiri disitu? Tolong masuk ke kamar dan tidur lah, lagi pula ini sudah malam." Tambah Arsen lagi yang terus berusaha menjaga pandangannya.
"Lalu bagaimana denganmu, apa kamu tidak tidur?" Tanya Rachel lirih.
"Aku akan tidur jika aku sudah merasa ngantuk. Pergi lah, jika kamu terus disini, itu akan sangat menggangguku."
Dengan lesu, akhirnya Rachel pun patuh dan mulai beranjak pergi membawa rasa bersalah serta rasa sedihnya. Sementara Arsen, langsung bisa bernafas sedikit lega saat memastikan Rachel sudah pergi. Bagaimana tidak, sejak kehadiran Rachel ke ruang kerjanya, sejak saat itu pula lah ia jadi harus berusaha keras menahan gejolak naffsunya yang kembali memberontak meminta untuk segera disalurkan. Tapi lagi-lagi pemikiran Arsen seolah belum mengizinkannya melakukan hal itu disaat dia masih ingin memberi pelajaran dan efek jera bagi Rachel agar tidak berani membohonginya lagi.
__ADS_1
"Haiish, kenapa dia tega menyiksaku dengan sengaja memakai pakaian seperti tadi? Tidak kah dia tau menahan sesuatu yang begitu ingin di keluarkan rasanya sakit sekali." Keluh Arsen seorang diri sembari memandang lirih ke arah Arsen junior.
...Bersambung......