Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 60


__ADS_3

"Oh maaf tuan muda, aku hanya..."


"Tidak apa, terima kasih." Arsen pun hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan makannya.


"Tumben sekali dia tidak marah, apa itu artinya dia mulai..." Rachel pun kembali tersenyum, ia seolah tersipu malu sembari mulai bersorak dalam hatinya.


"Yes yes yes, sudah ku duga, tidak butuh waktu terlalu lama untuk membuatnya mulai nyaman denganku hahaha. Dan kau hama betina yang tadi sudah berani mengataiku wanita murahan, siap-siap saja kau, bersiaplah karena kau akan kehilangan Arsen Lim." Tambah Rachel lagi sembari terus memunculkan senyumannya.


Tak lama Rachel pun akhirnya mulai bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana?"


"Masih ada tugas yang harus ku kerjakan untuk materi meeting besok pagi, jadi aku harus kembali ke ruanganku tuan muda."


"Oh ya sudah sana, bekerjalah dengan baik dan benar." Jawab Arsen yang terus melahap bapao keju miliknya.


Rachel pun tersenyum singkat dan hanya mengangguk lalu bersiap untuk beranjak.


"Hei tunggu!" Ucap Arsen yang langsung membuat langkah Rachel seketika terhenti.


"Ada apa tuan muda?" Tanya Rachel sembari berbalik badan menatapnya.


"Untuk semua makanan dan minuman yang nikmat ini, ku ucapkan terima kasih." Arsen pun menampilkan senyuman manisnya.


Itu pertama kalinya Rachel kembali melihat senyum manis Arsen yang ditujukan untuknya, terakhir ia melihat senyum manis nan tulus dari Arsen saat ketika mereka masih kecil.


"Senyummu itu, akhirnya aku bisa melihat senyuman itu lagi, senyuman yang begitu tulus dan terlihat sangat manis yang ditujukan khusus untuk ku. Arsen Lim, entah sejak kapan pastinya perasaan suka ini muncul, namun rasanya, aku akan rela mengabdi di kantor ini seumur hidupku demi bisa melihat senyummu yang seperti itu setiap hari." Gumam Rachel dalam hati.


Melihat Rachel yang jadi melamun, membuat Arsen langsung melambai-lambaikan tangannya ke hadapan Rachel.


"Hei halloooo." Ucap Arsen.


Membuat Rachel kembali tersentak.

__ADS_1


"Eh iya tidak masalah tuan muda, anggap saja kita impas. Anggap itu balasan dariku untuk kebaikanmu tadi pagi." Jawab Rachel kemudian.


Rachel pun kembali tersenyum singkat lalu langsung beranjak pergi begitu saja. Meninggalkan Arsen yang hanya diam terpaku dengan jawaban yang diberikan oleh Rachel.


"Bukankah ini terasa aneh, dia baru beberapa hari bekerja disini tapi aku sudah merasa seperti sangat akrab dengannya." Gumam Arsen dalam hati sembari memandangi kepergian Rachel.


Beberapa hari kemudian...


Sudah hampir seminggu lamanya Arsen memutuskan untuk tidak berkomunikasi apalagi bertemu dengan Laura. Meskipun Laura masih terus berusaha untuk menelpon dan mengirimkan pesan, namun tak satu pun di respon oleh Arsen karena ia masih begitu kecewa dengan ucapan Laura yang dirasanya benar-benar keterlaluan.


Hampir seminggu itu pula Arsen dan Rachel semakin terlihat akrab, baik dalam hal pekerjaan maupun sekedar sharing masalah keseharian mereka. Beberapa kali pula mereka terlihat pergi keluar bersama untuk melakukan meeting dengan klien sekaligus makan siang hingga membuat mereka semakin saling kenal satu sama lain.


Sama halnya seperti sore ini, saat ini Arsen dan Rachel tengah meeting dengan klien baru mereka dari Brunai di Lounge hotel milik keluarga Lim yaitu tak lain ialah Blue Light Hotel. Meeting perdana itu pun cukup memakan banyak waktu mereka hingga membuat Rachel pun harus lembur hari itu. Tanpa terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, akhirnya Arsen dan Rachel bisa menghela nafas lega karena akhirnya meeting yang telah memakan waktu lebih kurang hampir 6 jam itu telah usai.


"Huh, akhirnya selesai juga." Celetuk Arsen sembari mulai mengusap-usap tengkuknya dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah.


Rachel yang saat itu tengah bersibuk menyusun berkas-berkas pun hanya tersenyum tipis sembari melirik ke arahnya.


"Tuan muda terlihat sangat lelah, sebaiknya tuan muda pulang saja duluan." Kata Rachel yang terus menyusun berkas-berkas dan mulai menutup laptopnya.


"Emmm baiklah Arsen Lim yang terhormat."


"Huahh, sudah jam 09.00 malam, meeting perdana benar-benar memakan banyak waktu." Celetuk Arsen lagi sembari mulai menguap.


"Pulang lah, aku tau kamu sudah begitu lelah, semua berkas ini serahkan saja padaku, biar aku yang menghandlenya." Ucap Rachel dengan tenang.


"Tidak, ayo ku antar kamu pulang." Arsen pun seketika langsung berdiri.


Mendengar hal itu membuat Rachel seketika langsung tercengang menatap wajah Arsen.


"Oh tidak, dia mengatakan ingin mengantarku pulang? Bisa-bisa aku langsung ketahuan jika ia mengetahui dimana aku tinggal." Gumam Rachel dalam hati.


"Ada apa?" Tanya Arsen polos.

__ADS_1


"Ah tidak, sebaiknya tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, lagi pula apartment ku tidak jauh dari sini."


"Justru karena itu, aku juga perlu tau dimana tempat tinggal mu. Jadi jika seandainya kamu sakit atau apapun itu, aku tau harus mencarimu kemana." Jawab Arsen.


Lagi-lagi Rachel terdiam, ia terdiam karena mulai sedikit panik mencari alasan apalagi yang kira-kira bisa membuatnya menolak tawaran Arsen.


"Sudah, jangan terlalu banyak berfikir. Kali ini aku berbicara padamu sebagai atasan, jadi kamu harus patuh!" Tegas Arsen sembari tersenyum tipis.


"Ayo," Ucap Arsen lagi sembari mengulurkan tangannya.


Membuat Rachel lagi, lagi, dan lagi terus terdiam sembari mulai memandangi tangan Arsen, satu sisi ada perasaan senang bercampur deg-degan saat Arsen melakukan hal itu, namun di sisi lain perasaannya jadi begitu risau memikirkan Arsen yang memaksa untuk mengantarnya pulang.


"Astaga, sudah ayo!" Akhirnya Arsen pun menarik begitu saja tangan Rachel,


Membuat Rachel yang sejak tadi terus mematung mau tak mau jadi tertarik mengikuti langkahnya. Sepanjang langkah mereka, Rachel terus diam memandangi tangannya yang kini di genggam oleh Arsen yang terus menuntunnya menuju loby.


Setibanya di loby, Arsen dan Rachel pun berdiri sejenak untuk menunggu mobil mereka yang di ambilkan oleh security di parkiran hotel.


"Ayo, mobilnya sudah datang." Ucap Arsen lagi sembari mulai masuk ke mobilnya.


Rachel pun akhirnya hanya mengangguk singkat lalu ikut masuk ke dalam mobil, mobil mewah itu pun perlahan mulai berjalan pelan untuk keluar dari wilayah hotel. Namun na'as, baru beberapa meter keluar dari area hotel, mobil Arsen tiba-tiba tersendat-sendat hingga kemudian mati. Ia yang mulai bingung pun langsung keluar untuk mengecek apa yang terjadi pada mobilnya.


"Ada apa?" Tanya Rachel yang ikut keluar dari mobil.


"Entah lah, ini pertama kalinya ia begini." Jawab Arsen yang juga nampak bingung.


"Ah ya sudah, sebaiknya kamu telpon supir rumahmu untuk menjemputmu, dan aku akan pulang dengan berjalan kaki sendiri saja."


"Jangan!" Cegah Arsen.


"Kenapa?" Rachel pun mulai mengerutkan dahinya.


"Membiarkan seorang wanita berjalan sendirian di tengah malam seperti itu, tentu itu bukanlah pilihan yang bijak bagi seorang lelaki." Ucap Arsen yang langsung menutup rapat pintu mobilnya dan segera menguncinya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2