
Pagi hari yang cerah...
Rachel berjalan dengan tenang memasuki loby kantor utama, pagi itu cuaca nampak begitu cerah, dan sejuk. Senyuman Rachel yang terus berkembang bak bunga pun terus ia tebarkan di sepanjang ia berpapasan dengan para staff yang lainnya.
"Selamat pagi." Sapa Rachel pada resepsionis sembari terus berjalan melewatinya.
"Hei Bella tunggu." Panggil sang resepsionis yang sontak menghentikan langkah Rachel.
"Iya?" Rachel pun kembali menghampiri meja resepsionis.
"Nona Anna menitipkan beberapa berkas yang akan kamu butuhkan, salah satunya adalah jadwal tuan muda Arsen untuk seminggu ke depan. Selanjutnya kamu bisa menghandle semuanya sendiri." Jelas resepsionis sembari menyerahkan beberapa map berwarna hitam.
Rachel pun meraihnya dan membaca singkat berbagai berkas itu, lalu ia pun kembali tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
"Ok, terima kasih ya." Ucapnya dengan senyum ramah.
Rachel pun langsung menuju lift, ia memilih menaiki lift yang biasa di pakai untuk para staff dan karyawan kantor hingga membuatnya menunggu sedikit lebih lama. Namun tak jauh dari sisi kanannya, tak lama terlihatlah seorang Arsen Lim, dengan sebelah tangan ia masukkan ke saku celana, sementara satu tangannya lagi ia gunakan untuk memencet tombol lift yang disediakan khusus untuk para petinggi Blue Light.
Rachel pun hanya terdiam memandangi keberadaan Arsen yang berdiri tak jauh darinya.
Tingg...
Bunyi Lift yang ada di hadapan Arsen sebagai tanda lift akan segera terbuka, sementara Rachel yang lebih lama menunggu, liftnya masih belum juga terbuka. Pintu lift Arsen pun akhirnya terbuka, dengan tenang Arsen melirik ke arah Rachel yang saat itu juga sedang memandanginya.
"Aku akan memberimu SP 1 jika aku harus tiba lebih dulu di ruanganku." Ucap Arsen yang kemudian langsung masuk ke lift nya.
Mendengar hal itu mata Rachel langsung membulat, sementara lift itu masih berada di lantai 8 dan belum juga turun ke loby. Dengan cepat Rachel pun langsung berlari menuju lift yang dimasuki oleh Arsen, tanpa memperdulikan apapun lagi, ia langsung masuk begitu saja dan berdiri di sisi Arsen.
Pintu lift pun akhirnya tertutup dan siap mengantarkan mereka, Arsen dengan tatapannya yang menatap lurus ke depan akhirnya kembali bersuara.
"Siapa yang menyuruhmu naik ke lift ini?" Tanyanya dengan datar.
__ADS_1
"Tidak ada," Jawab Rachel pelan.
"Lalu?"
"Aku hanya inisiatif saja agar bisa sampai lebih dulu dari anda tuan muda." Jawab Rachel yang dalam hatinya mulai menggeram.
Arsen pun hanya mendengus dan kembali diam. Begitu pula dengan Rachel yang ikut diam dan memilih merapikan pakaian dan rambutnya. Berada di satu ruangan dengan jarak yang cukup dekat Arsen kembali membuat Rachel menjadi sedikit gugup, berkali-kali ia harus menarik nafas panjang demi membuatnya lebih tenang.
Namun saat di pertengahan, lift tiba-tiba berguncang layaknya pesawat yang sedang menabrak awan. Membuat mereka berdua sedikit terkejut, Rachel pun begitu, ia langsung berpegangan pada dinding lift di sebelahnya.
"Ada apa itu tadi?" Tanya Rachel sembari memandangi langit-langit liftnya.
Namun Arsen tidak menjawab, ia memilih tetap diam dan bersikap tenang. Tak lama terjadi lagi guncangan lift yang kedua, dengan guncangan yang lebih kuat hingga membuat Rachel refleks berteriak.
"Aaaaaw." Teriaknya sembari langsung memeluk lengan Arsen hingga berkas-berkas yang ia pegang pun berhambur ke lantai lift.
Tak lama lampu di dalam lift pun padam, lift seketika terhenti seolah tak berfungsi, membuat Rachel semakin histeris ketakutan dan tanpa peduli apapun lagi ia langsung menjerit sembari memeluk Arsen.
"Aaaaaa aaaaaw gelap, gelap" Teriak Rachel.
"Tolong, aku takut gelap, gelappp." Teriak Rachel lagi.
"Bella tenang, ada aku disini, kamu tidak sendiri." Arsen yang juga sebenarnya panik hanya bisa terus mengusap-usap punggung Rachel demi membuatnya tenang.
"Tolong, aku fobia gelap." Rachel pun terus menangis sembari menyembunyikan wajahnya di dada Arsen.
"Ok kamu tenang, aku akan menyalakan senter dari ponselku." Arsen pun meraih ponselnya, lalu mulai menyalakan senter.
"Sudah, lihat lah, ini sudah tidak terlalu gelap, kamu tenang dan jangan panik."
Perlahan tapi pasti Rachel pun mulai terdiam, pelan-pelan ia mengintip dari balik jas Arsen untuk melihat keadaan sekitarnya yang masih terlihat remang-remang karena hanya mengandalkan satu cahaya kecil dari ponsel Arsen.
__ADS_1
"Demi tuhan aku takut gelap, aku takuttt." Rachel pun kembali menangis dan memasukkan lagi wajahnya.
Kali itu ia benar-benar tak peduli siapa Arsen dan apa jabatannya, yang ia tau ia begitu takut dan butuh tempat untuk berlindung dari rasa takutnya.
Lift kembali berguncang, Rachel pun kembali berteriak histeris dan semakin mengeratkan pelukannya pada Arsen dan benar-benar tak peduli Arsen akan marah atau tidak.
Namun nyatanya, saat itu Arsen seolah sama sekali tidak marah dan keberatan saat Rachel memeluknya begitu erat, ia justru membalas pelukan Rachel dan terus mengusap punggungnya demi menenangkan Rachel.
Lampu lift akhirnya kembali hidup setelah guncangan yang terakhir, lift kembali hidup dan melanjutkan untuk mengantar mereka untuk naik ke tingkat atas, membuat Arsen merasa begitu lega. Namun berbeda dengan Rachel yang nampaknya masih begitu ketakutan hingga tak menyadari jika lift sudah kembali berfungsi seperti biasa.
"Bella, semua sudah aman, lihat lah." Ucap Arsen sembari menepuk-nepuk pundak Rachel.
"Tidak, aku tidak mau lihat, aku takut, aku sungguh takut, tolong aku." Rachel terus menangis dengan mata yang terpejam.
Tak lama pintu lift pun terbuka, beberapa staff yang saat itu sedang lewat ataupun berdiri di depan lift seketika dibuat ternganga, melongo, dan terpaku melihat Rachel yang begitu erat memeluk Arsen.
"Bella, pintu lift sudah terbuka" bisik Arsen yang saat itu merasa malu karena menjadi tontonan para staff nya.
Rachel pun perlahan membuka matanya, matanya langsung menangkap para staff yang begitu tercengang di depannya, hal itu sontak membuat Rachel terkejut, namun ia lebih terkejut lagi saat melirik ke arah Arsen Lim yang sudah begitu dekat dengannya.
Seketika Rachel langsung terperanjat dan langsung melepaskan pelukannya begitu saja.
"Ma, maaaaaf...."
Namun belum sempat Rachel menyelesaikan ucapannya, Arsen langsung saja melangkah keluar dari lift meninggalkan Rachel yang masih terlihat begitu syok.
"Lift ini rusak! Tolong diperbaiki!" Tegas Arsen kepada para staffnya yang masih berdiri terpaku memandanginya.
Para staff itu pun langsung tersentak saat mendengar suara Arsen yang sedikit meninggi, dan mereka dengan cepat memilih langsung kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Ba, baik tuan muda." Jawab salah satu karyawannya.
__ADS_1
Sementara Rachel saat itu langsung memunguti semua berkas yang berhamburan, lalu dengan cepat ia langsung berjalan menuju ruangannya sembari menutupi wajahnya yang memerah dengan map yang ia pegang.
...Bersambung......