
Malam itu, Rachel terbaring di atas ranjangnya yang nyaman dengan sudah memakai baju piyama. Matanya terus menatap ke awang-awang, dengan bibirnya yang terus tersenyum sembari terus membayangi kejadian tadi malam. Kejadian saat ia di antar pulang oleh seorang Arsen Lim yang rela ikut berjalan kaki dengannya. Hal itu sungguh membuat perasaan Rachel kian berbunga-bunga, karena sedikit demi sedikit ia bisa semakin dekat dengan Arsen.
"Bahkan seorang Arsen Lim rela berjalan kaki hanya demi mengantarku pulang di malam hari. Benar-benar sangat gentle dan bertanggung jawab, sungguh lelaki idaman." Celetuk Rachel dalam hati yang semakin mengembangkan senyuman.
Tak lama Rachel pun meraih sebuah boneka beruang yang ada di sisi tempat tidurnya, lalu ia kembali tersenyum memandangi boneka yang lucu itu.
"Selamat tidur Arsen Lim, semoga kamu mimpi indah malam ini, tapi akan lebih indah jika kamu memimpikan aku." Celetuk Rachel sembari mengusap-usap lembut wajah boneka beruang itu.
Rachel pun semakin tersenyum dan mulai memeluk boneka itu, lalu ia pun mulai memejamkan matanya dan bersiap untuk masuk ke dalam alam mimpi membawa rasa bahagianya.
Ke esokan harinya...
Rachel terbangun dari tidurnya saat bagian wajahnya mulai tersengat cahaya matahari yang mulai masuk dari sela-sela jendela kamarnya.
"Huaaahh." Sembari menguap ia pun mulai bangkit dari tidurnya.
"Jam berapa ini?" Tanya nya seorang diri sembari meraih sebuah jam beker yang ada di atas nakas.
"Hah?! Sudah jam setengah 8?!" Rachel yang baru sekali bangun langsung dibuat terperanjat dengan matanya yang jadi begitu membulat.
"Astaga, astaga, mati aku, hari ini ada meeting dengan klien." Rachel yang panik pun langsung berlari ke kamar mandi.
Dengan gerakan yang begitu cepat ia pun langsung mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya untuk mandi. Hanya menghabiskan waktu lima menit kini Rachel sudah keluar dari kamar mandi dan langsung meraih setelan baju kerjanya.
Merasa semuanya telah siap, dengan bergegas ia pun langsung turun untuk menemui oma dan opanya yang saat itu terlihat sudah duduk menunggunya di meja makan.
"Oh ya ampun oma, opa, kenapa kalian tidak membangunkan aku?" Keluh Rachel sembari terus menuruni anak tangga dengan cepat.
"Maaf sayang, oma fikir hari ini kamu memang ingin sedikit bersantai, karena biasanya tanpa di banguni pun kamu sudah bangun dengan cepat."
"Ayo sini cucuku, ayo kita sarapan." Tambah Mr. Liong.
"Maaf oma, opa, hari ini aku tidak bisa ikut sarapan bersama kalian, karena aku sudah sangat terlambat." Rachel pun langsung menghampiri oma dan opanya dan mengecup singkat pipi mereka.
"Bye oma, bye opa." Ia pun langsung pergi begitu saja sembari melambaikan tangannya.
Sepanjang jalan Rachel berulang kali melirik ke arah jam tangannya, dahinya sejak tadi terlihat berkerut karena mulai merasa panik.
__ADS_1
"Tolong cepat lah sedikit pak." Ucap Rachel pada supirnya.
"Iya nona, tapi di depan memang sedikit macet." Jelas sang supir.
"Astaga bagaimana ini, bisa-bisa aku benar-benar terlambat dan Arsen pasti akan sangat marah padaku." Keluh Rachel yang semakin merasa tak tenang.
Hingga akhirnya jam pun kini sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi, Rachel yang baru tiba langsung berjalan dengan terburu-buru memasuki loby kantor.
"Apa tuan muda Arsen sudah datang?" Tanya Rachel saat itu di depan meja resepsionis.
"Tuan muda sudah datang sejak pukul 08.00 tadi nona."
"Oh ok, terima kasih." Ucap Rachel yang semakin terlihat panik dan semakin melajukan langkahnya untuk menuju lift.
"Rachel oh Rachel, habis lah kau." Gumam Rachel dengan perasaannya yang semakin tak tenang.
Rachel yang sangat buru-buru akhirnya memberanikan diri untuk memilih lift prioritas yang biasa di gunakan Khusus untuk para petinggi Blue Light dan tamu penting saja. Ia pun menekan tombol lift, berharap lift itu bisa dengan cepat mengantarnya menuju ke ruangannya.
Tingg..
Lift berbunyi, pertanda pintu lift itu akan segera terbuka. Rachel pun bersiap ingin melangkah memasuki lift itu, namun begitu pintu lift itu terbuka, mata Rachel sontak dibuat membulat sempurna, betapa terkejutnya Rachel saat mendapati Arsen Lim ada di dalam lift yang saat itu terlihat ingin keluar.
"Astaga Bella, kamu hampir membuatku murka hari ini! Dari mana saja kamu?!" Ucap Arsen yang langsung keluar dan menghampiri Rachel.
"Ma, maafkan aku. Aku kesiangan, aku sungguh minta maaf." Rachel pun langsung menundukkan kepalanya.
Membuat Arsen yang terus menatapnya menjadi terdiam sejenak.
"Kamu tau, aku begitu cemas, aku pikir kamu sakit atau telah terjadi sesuatu padamu. Bahkan kami tidak sekali pun mengangkat panggilan dariku." Jelas Arsen.
Mendengar penuturan itu membuat Rachel sontak mengangkat kepalanya dan mulai menatap Arsen.
"Lihat lah, berapa banyak panggilan dariku yang telah kamu lewatkan!" Ucap Arsen lagi sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Rachel pun dengan cepat merogoh ponsel yang ia letakkan di dalam tasnya, lalu ia pun terkejut saat melihat ada 12 panggilan tak terjawab dari Arsen.
"Ka, kamu mengkhawatirkan aku?" Tanya Rachel lagi seolah tak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja, mengingat kita yang harus lembur kemarin, di tambah lagi harus pulang dengan berjalan kaki di tengah cuaca dingin di malam hari seperti itu. Jadi ku pikir kamu sakit atau semacam nya."
"Maaf, sejak meeting kemarin ponselku ada di mode senyap suara, aku lupa mengubahnya hingga saat ada yang menelpon aku pun tidak tau." Jelas Rachel yang terus menahan senyumnya karena pagi itu, perasaannya kembali di buat berbunga-bunga.
Arsen pun akhirnya menghela nafasnya.
"Ya sudah, hari ini kamu ku biarkan lolos dari SP 1." Ucap Arsen yang langsung memalingkan wajahnya.
"Ah benarkah? Aaa terima kasih kamu baik sekali." Rachel yang semakin merasa senang pun refleks memegang lengan Arsen.
Membuat Arsen kembali terdiam sembari memandangi ke arah lengannya.
"Eh maaf, aku lupa jika ini di kantor." Rachel pun langsung melepaskan tangannya sembari cengengesan.
Membuat Arsen hanya mendengus dan mulai menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo ikut aku." Arsen pun langsung menarik tangan Rachel begitu saja.
"Mau kemana?"
"Apa kamu lupa hari ini kita ada meeting?"
"Iya aku ingat, ta, tapi beberapa berkasnya masih ada di atas."
Seketika langkah Arsen terhenti, ia kembali menatap Rachel dengan datar lalu kemudian beralih menatap ke arah jam tangannya.
"Kita hampir terlambat, akan membuang banyak waktu jika ku biarkan kamu naik ke atas untuk mengambilnya." Arsen pun kembali menarik lengan Rachel begitu saja dan membawanya keluar dari kantor.
"Lalu bagaimana dengan berkasnya?" Tanya Rachel yang terus mengikuti langkah Arsen.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Rachel, Arsen dengan langkahnya yang tanpa henti langsung meraih ponsel dari saku jasnya dan melakukan panggilan.
"Hallo Anna."
"Aku mau kamu ke ruangan Bella sekarang juga, ambilkan berkas yang dibutuhkan untuk meeting bersama klien dari Starlight Corp dan tolong bawakan berkas itu ke kantor Starlight Corp sekarang juga. Aku yakin kamu tau berkas apa saja yang harus di bawa." Tegas Arsen.
"Baik, sekarang ya." Ucapnya lagi dan langsung memutus panggilannya.
__ADS_1
...Bersambung......