Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 104


__ADS_3

Arsen terus melangkah menuju kantin kantor yang ada di lantai dasar untuk menemui Rachel.


Saat itu Rachel terlihat sedang menyeduh se cup coffe panas, namun dengan pandangannya yang kosong. Dalam hati Rachel sungguh merasa kesal saat melihat Laura yang kembali datang menghampiri Arsen. Rachel takut, jika Laura masih terus mendekatinya, Arsen bisa saja akan goyah hatinya dan kembali padanya.


"Baru beberapa detik aku merasakan hatiku berbunga-bunga, tapi rasa bahagiaku seketika harus dibuat sirna karena kehadiran wanita ular itu." Gerutu Rachel dalam hati.


Arsen yang akhirnya mendapati Rachel yang terlihat tengah melamun, seketika menghentikan langkahnya saat jarak di antara mereka sudah cukup dekat dan ia pun mulai tersenyum tipis.


"Baru beberapa menit resmi menjadi pacar CEO perusahaan ini, kamu sudah berani berleha-leha di kantin saat jam kerja ya." Ucap Arsen mencoba menggoda Rachel.


Rachel pun seketika menoleh ke arah Arsen dan ia pun jadi begitu terkejut saat melihat Arsen yang sudah berdiri tegak tak jauh dari hadapannya. Saat itu Rachel masih tercengang, sementara Arsen akhirnya kembali melangkah untuk lebih dekat dengannya yang kala itu berada tepat di depan booth yang khusus menjual segala macam minuman.


"Berikan aku satu cup capuccino hangat." Ucap Arsen pada pedagang itu.


"Baik tuan muda."


"Ka,, kamu, sedang apa disini?" Tanya Rachel dengan matanya yang masih begitu membulat.


"Aku kesini karena ingin memergoki Sekretarisku yang berani bersantai di jam kerja." Jawab Arsen dengan tenang sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.


"Kerjaanku sudah selesai, lagi pula bukankah kamu sedang kedatangan seorang tamu special di ruanganmu?" Rachel pun kembali tertunduk lesu dengan bibirnya yang sedikit ia monyongkan.


Mendengar hal itu membuat Arsen mulai memicingkan matanya saat memandangi Rachel sembari menahan senyumannya.


"Oouh, jadi... karena itu kamu meninggalkan ruanganku begitu saja dan memilih bersantai disini?" Tanya Arsen dengan pelan.


"Ini minuman anda tuan muda." Satu cup capuccino hangat pun di berikan pada Arsen.


"Terima kasih." Ucap Arsen.


"Ma,, maaf, tapi aku kesini karena..." Jawab Rachel yang mulai menundukkan kepalanya.


"Karena apa? Apa karena kamu cemburu pada Laura?" Tanya Arsen sembari menatap Rachel.



"Ti, tidakk."


Arsen pun hanya mendengus dan kembali tersenyum, lalu mulai menyeruput minuman miliknya dengan tenang.


"Tapi sepertinya apa yang kamu katakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang kamu rasakan."


"Apa ma, maksudmu?"


"Aku tidak yakin kamu tidak cemburu pada Laura." Arsen pun kembali memanas-manasi Rachel.


"Memang tidak!" Tegas Rachel yang mulai menatap Arsen dengan memicingkan matanya.

__ADS_1


"Oh jika begitu, berarti aku akan kecewa."


"Kecewa? Kecewa kenapa?" Rachel pun mulai mengernyitkan dahinya.


"Karena aku berharap kamu cemburu, bukankah salah satu tanda cinta itu adalah adanya rasa cemburu?" Jawab Arsen pelan dan mulai menatap lekat ke arah Rachel.


Tatapan Arsen kala itu benar-benar menggetarkan jiwa Rachel, hingga membuatnya kembali merasa gugup dan mulai salah tingkah.


"Ak, aku..." Rachel pun kembali terbata-bata dan lagi-lagi jadi menunduk.


Namun tiba-tiba saja Arsen menarik tangannya untuk membawanya kembali menuju ruangan mereka.


"Sudah lah, ayo kita kembali ke atas, disini agak panas." Ucap Arsen yang terus menarik Rachel.


Setibanya di ruangan, mereka di kagetkan dengan keberadaan Alex yang seolah sudah menunggu kedatangan Arsen.


"Oh astaga tuan muda Arsen Lim, kemana saja kau? Di hubungi juga tidak nyambung." Keluh Alex.


"Maaf uncle, aku dari kantin kantor. Ada apa?"


"Apa? Kantin kantor? Sejak kapan seorang Arsen Lim mau mengunjungi kantin kantor? Hahaha." Alex pun mulai tertawa.


Tanpa sengaja Alex pun melirik ke tangan Arsen yang masih memegang erat tangan Rachel.


"Hei apa ini? Kenapa kau terus memegang tangannya? Emmm ya tuhan, apa kau dan Bella sudah...." Alex pun semakin melebarkan senyumannya dan memainkan kedua alisnya.


Membuat Arsen hanya mendengus dan tersenyum, lalu mulai melepaskan pegangan tangannya pada Rachel.


Arsen pun hanya diam memandangi kepergian Rachel, kehadiran Alex di ruangannya benar-benar telah membuat pembicaraan mereka jadi tidak bisa berlanjut saat itu.


"Ada apa uncle?" Tanya Arsen lagi.


"Ah begini, ada banyak berkas yang butuh persetujuan darimu, namun belajar dari kebiasaan papamu dulu, dia selalu mengeceknya satu persatu sebelum menyetujuinya apalagi menanda tanganinya." Jelas Alex sembari menunjuk ke arah tumpukan berkas yang sudah ia letakkan di atas meja kerja Arsen.


"Jadi maksud uncle aku haruss..."


"Ya, kau harus mengeceknya dan memastikan jika semuanya tidak ada selisih dalam hal apapun." Jelas Alex sembari tersenyum.


"Tapi uncle, bukankah dalam hal pengecekan itu sudah menjadi tugasmu?"


"Oh Arsen Lim keponakanku yang paling tampan, sudah waktunya kamu belajar untuk hal seperti ini, kamu tidak bisa terus menerus mengandalkan uncle mu ini. Papa mu ingin agar kau lebih banyak mengerti tentang ini semuanya, jadi sesekali tentu tidak masalah jika kamu melakukannya."


Arsen pun hanya terdiam sembari memandangi tumpukan berkas-berkas itu dengan memasang wajah kecutnya.


"Sudahlah, uncle yakin kau bisa. Semangat Arsen Lim." Alex pun menepuk-nepuk pundak Arsen sembari tersenyum lebar, lalu kemudian ia pun langsung beranjak pergi begitu saja.


Arsen pun mulai terduduk lesu, lalu mulai meraih tumpukan berkas yang ada di atas mejanya dan mulai menelitinya satu persatu.

__ADS_1


Rachel yang melihat Arsen begitu fokus pada berbagai berkas di atas meja itu pun akhirnya kembali menghampirinya.


"Serius sekali, apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya Rachel.


"Oh tidak perlu, ini sudah menjadi tugasku, aku bisa menghandlenya sendiri." Jawab Arsen yang kembali tersenyum saat menatap Rachel.


"Kamu yakin tidak butuh bantuanku? Karena nampaknya kamu begitu kwalahan."


"Iya yakin, kamu kerjakan saja tugas mu."


"Oh baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku." Rachel pun mulai berbalik badan dan bersiap untuk beranjak pergi.


Namun seketika Arsen memanggilnya dan membuat langkah Rachel seketika terhenti.


"Ada apa?" Rachel pun kembali berbalik badan menatap Arsen.


"Bukankah kamu juga sedang tidak ada yang dikerjakan?" Tanya Arsen.


Rachel pun hanya mengangguk.


"Kamu yakin ingin membantu ku?"


Rachel kembali mengangguk.


"Emm ok, duduk lah."


Rachel pun akhirnya mulai duduk di kursi yang ada di hadapan Arsen. Namun setelah itu Arsen sama sekali tak memerintahkan apapun padanya, ia justru kembali fokus pada berkas-berkasnya. Hal itu pun sontak mengundang rasa bingung, heran, dan tanda tanya besar dalam diri Rachel.


"Sudah sepuluh menit lebih aku terduduk disini, tapi kamu hanya diam dan tidak memerintahkan apapun padaku. Sebenarnya apa yang bisa ku bantu?" Tanya Rachel kemudian.


Arsen pun akhirnya kembali menatap Rachel, ia mulai tersenyum, perlahan tangannya mulai membelai lembut sebelah pipi Rachel dan berkata,


"Aku hanya butuh kamu berada disini, duduk di hadapanku, dengan begitu aku akan bertambah semangat untuk mengerjakan pekerjaan ini." Jawab Arsen dengan begitu lembut.


Membuat Rachel sontak tersenyum di hadapan Arsen tanpa bisa ia tahan lagi.


"Pacar yang manis." Ucap Arsen lagi yang semakin melebarkan senyumannya sembari mulai mengusap-usap ujung kepala Rachel.


"Pacar?" Tanya Rachel dengan ekspresi wajahnya seolah tak yakin dengan pernyataan itu.


"Iya, bukankah kita sudah resmi berpacaran?"


"Hehe." Rachel pun hanya tertawa kecil sembari memutarkan kedua bola matanya.


Arsen pun hanya terus tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat reaksi Rachel, lalu kemudian ia pun memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Rachel yang kala itu masih memandanginya, mulai bergumam dalam hatinya.


"Apakah aku sungguh sudah berpacaran dengannya? Apa begini saja? Bahkan dia sama sekali tidak ada menembak ku seperti yang ada di film-film drama romantis. Huh lelaki ini, benar-benar tidak romantis, sungguh menyebalkan." Gumam Rachel dalam hati.

__ADS_1


Rachel yang melamun terus saja bergumam dan bertanya-tanya dalam hatinya, hingga tanpa sadar, Arsen yang terlihat sibuk pada berbagai berkasnya pun melirik ke arahnya, dan seketika Arsen pun paham apa sekiranya yang membuat Rachel jadi meragukannya.


...Bersambung......


__ADS_2