
Arsen masih tercengang memandangi kepergian Rachel, perlahan tangannya mulai meraba bibirnya yang baru saja mendapatkan ciuman hangat dari Rachel.
Tak lama, sebuah senyuman tipis pun terlihat mulai muncul dari bibirnya, entah kenapa senyuman itu seolah muncul begitu saja tanpa bisa di kendalikan olehnya.
Arsen dengan membawa perasaannya yang campur aduk, akhirnya memilih untuk pulang. Mengingat hari sudah malam di tambah pula kepalanya yang mulai pusing.
Hanya memerlukan waktu beberapa puluh menit saja, kini Arsen telah sampai di rumahnya, ia berjalan sembari terus memijiti pelipisnya karena mulai merasa berat pada kepalanya. Sesampainya di kamar, ia pun langsung mengganti baju lalu mencuci mukanya, lalu ia pun kembali menuju kasur dan langsung menjatuhkan tubuhnya.
Sebuah senyuman kembali muncul, kala ia kembali terbayang hal tak terduga yang baru saja ia alami. Dimana ia di cium oleh Rachel, perempuan yang tanpa ia sadari sudah mulai ia sukai.
"Bahkan hingga sekarang, hangat bibirnya masih terasa jelas." gumam Arsen dalam hati sembari kembali meraba bibirnya dan terus tersenyum.
"Tapi, kenapa tiba-tiba dia jadi begitu berani dan agresif? Apa hal itu terjadi hanya karena dia sedang mabuk? Apa dia sungguh mencintaiku dari hati, atau karena hanya efek alkohol?" Arsen terus bergumam dalam hatinya sembari seolah terus berfikir.
Berfikir keras nampaknya membuat kepala Arsen terasa semakin berat, ia pun akhirnya mulai memejamkan matanya.
"Astagaaa, kepalaku, pusing sekali." Gumamnya yang kembali memijiti pelipisnya.
selang beberapa saat, Arsen pun tertidur begitu saja dan mulai memasuki alam mimpi.
Ke esokan harinya di pagi hari yang cerah...
Hari ini Arsen kembali masuk kantor seperti biasa, berbeda dengan kemarin, kini Arsen merasa moodnya sangat bagus hingga ia merasa begitu semangat untuk datang lebih cepat saat itu.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa security yang berjaga di depan pintu utama.
"Selamat pagi, semangat untuk hari ini ya." Jawab Arsen yang tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk pundak sang security.
Lalu kemudian ia langsung kembali melangkah begitu saja menuju lift untuk naik ke ruangannya.
"Ada apa dengan tuan muda hari ini? Wajahnya terlihat seribu kali lebih cerah dari biasanya." Gumam beberapa staf pegawai yang memandangi Arsen yang lewat di hadapan mereka.
Arsen pun masuk ke dalam ruangannya, seketika matanya langsung melirik ke arah ruangan Rachel, saat itu ruangan Rachel masih tampak kosong dan rapi. Membuat Arsen seketika melirik ke arah jam tangannya yang mewah.
"Emm, sudah hampir jam 8, kenapa dia belum datang juga?" Tanya Arsen dalam hati.
Arsen pun akhirnya langsung duduk di kursi kejayaannya, namun baru beberapa detik ia mendudukkan diri di kursi, Rachel pun muncul dengan langkahnya yang terlihat begitu tergesa-gesa.
"Tu, tuan muda, anda sudah datang?" Tanya Rachel yang terkejut saat mendapati Arsen yang telah terduduk di ruangannya.
Arsen perlahan mulai kembali berdiri untuk menghampiri Rachel yang baru saja tiba di ruangannya.
__ADS_1
"Tu, tuan muda pasti ingin memarahiku ya karena membiarkan anda datang lebih dulu dari pada aku?" Rachel pun mulai menundukkan kepalanya.
Namun seolah tak berminat untuk membahasnya, Arsen pun hanya melirik Rachel sejenak sebelum akhirnya ia kembali beranjak.
"Ke ruanganku, sekarang!" Ucap Arsen dengan tenang dan kemudian langsung beranjak untuk kembali duduk ke kursinya.
Rachel yang hanya diam pun mulai mengikuti langkah Arsen menuju ke ruangannya.
"Duduk." Perintah Arsen yang menatap datar ke arah Rachel.
Rachel hanya mengangguk lalu ikut duduk di hadapan Arsen.
"Ada apa tuan muda?" Tanya Rachel pelan.
"Kejadian semalam, kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Kenapa kamu begitu bodoh hingga menerima ajakan minum dari Mr. Fredy?"
"Ak, aku, emm aku,,," Rachel pun mulai terbata-bata karena lidahnya mendadak seakan terasa begitu kelu.
"Katakan!"
Rachel pun mulai menghela nafas panjang demi membuat dirinya bisa lebih rileks.
"Ak, aku... emm ada dua hal yang membuatku mau melakukannya."
"Yang pertama, karena aku mau perusahaan kita mendapat proyek besar yang di tawarkan oleh Mr. Fredy itu."
"Emm baik, alasan pertama bisa ku terima. Lalu alasan yang kedua?"
"Alasan yang ke dua ya? Emmm alasan yang kedua adalah..." Rachel pun kembali terlihat kikuk dan mulai gugup.
"Katakan!" Arsen perlahan mulai menyondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Rachel dan terus menatap wajahnya dengan begitu lekat.
Akibatnya, membuat Rachel bertambah jadi semakin gugup dan gelagapan.
"Membuat atasan menunggu lama hanya untuk mendengar sebuah jawaban, termasuk sebuah kesalahan. Kamu bisa saja mendapatkan SP..."
"Karena aku ingin membuatmu bangga padaku!" Jawab Rachel secara spontan sembari menatap tegas wajah Arsen.
Hal itu lagi-lagi membuat Arsen terdiam.
"Ya, alasan yang kedua adalah, ingin membuatmu bangga padaku saat aku berhasil mendapatkan proyek besar itu. Hanya itu saja." Tambah Rachel lagi yang kembali menunduk perlahan.
__ADS_1
Sama halnya dengan Rachel, saat mendengar alasan kedua Rachel, lagi dan lagi membuat Arsen ikutan merasa gugup, jantungnya kembali berdetak hebat.
Setelah menghela nafas cukup panjang, Arsen perlahan mulai bangkit dari duduknya dan mulai melangkah pelan ke arah dimana saat itu Rachel sedang terduduk.
Melihat hal itu, Rachel yang masih gugup spontan ikut berdiri sembari memandangi Arsen yang semakin dekat padanya dengan dahinya yang mulai mengkerut.
"Ad, ada apa tu, tuan muda?"
"Ada hal yang ingin ku tanyakan padamu." Ucap Arsen yang mulai menatap Rachel dengan tatapan begitu serius dan terus mendekati Rachel.
Hingga kini jarak di antara keduanya sudah semakin dekat, membuat jantung Rachel semakin berdegub begitu cepat.
"Tu, tuan muda, kita sedang di kantor, anda boleh bertanya apa saja, ta, tapi haruskah dengan jarak sedekat ini?" Tanya Rachel yang kikuk sembari berusaha ingin menghindar.
Arsen pun seketika tersenyum, namun tetap tidak beranjak dari posisinya saat itu.
"Kenapa kamu nampak begitu gugup?" Tanya Arsen pelan.
"Ti, tidak ak, aku tidak gugup."
"Benarkah? Jika tidak gugup, kenapa seolah tidak berani menatap wajahku?"
Rachel pun menghela nafas demi membuat dirinya lebih tenang di depan Arsen.
"Aku berani." Jawabnya kemudian yang langsung menatap wajah Arsen.
Membuat kedua mata mereka kembali beradu pandang dalam jarak yang cukup dekat.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Arsen secara gamblang.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Arsen, membuat Rachel seketika seolah tersedak hingga terbatuk-batuk saking merasa syoknya.
"Uhukk,, uhukk,, uhukk,,"
"Aduh, teng, tengorokan ku tiba-tiba sakit, aku mau minum dulu." Rachel pun ingin pergi begitu saja.
Pertanyaan Arsen benar-benar membuatnya seakan terjebak hingga rasanya ia ingin segera pergi melarikan diri sejauh-jauhnya.
Namun bukan Arsen namanya jika membiarkan Rachel pergi begitu saja sebelum ia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
...Bersambung......