
Mata Yuna seketika mendelik saat mendengar pengakuan Rachel secara langsung, lalu kedua tangannya dengan refleks langsung ia lingkarkan pada lengan Benzie.
"Sayang, sepertinya aku memiliki firasat tidak enak, mereka akan menikah, otomatis cepat atau lambat Arsen pasti akan tau siapa Rachel, bagaimana jika dia marah dan kecewa?" Bisik Yuna pada Benzie lagi.
"Itu juga yang sedang aku khawatirkan sayang," bisik Benzie.
"Tapi kamu tenang lah dulu, kita pikirkan jalan keluarnya bersama." Tambahnya lagi sembari mengusap-usap lembut tangan Yuna.
Yuna pun hanya mengangguk lesu.
"Rachel, ini tidak akan baik jika kita terus menunda-nunda untuk memberi tau Arsen, kalian akan menikah, dan dia tidak mungkin menyebut nama Bella di janji pernikahan kalian nanti, Bella adalah identitas palsumu yang paman buat hanya pada saat kamu melamar kerja, jadi pernikahan kalian tidak akan sah jika menggunakan identitas palsu." Jelas Benzie yang terlihat begitu serius,
Tidak ada ketenangan lagi yang terlihat dari raut wajahnya, yang ada hanyalah ketegangan. Bukan hanya Benzie, Yuna, terutama Rachel pun ikut merasakan kecemasan yang sama.
"Iya aku tau paman, tapi,,, bagaimana jika saat mengetahuinya Arsen menjadi marah, bagaimana jika dia jadi kecewa karena merasa di bohongi oleh kita?"
"Mungkin di awal memang akan terasa menyakitkan baginya, tapi paman yakin ini adalah jalan yang terbaik untuk ini semua agar tidak terjadi masalah yang lebih rumit lagi di belakang hari."
"Tapi paman, bagaimana jika saat mengetahui hal ini, dia jadi membatalkan pernikahan kami?" Tanya Rachel lirih dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Membuat Benzie dan Yuna pun seketika menjadi terdiam sejenak.
"Tidak paman, maafkan aku, tapi sungguh aku sama sekali belum siap untuk mengatakan hal ini sekarang paman." Rachel pun mulai menjatuhkan air matanya.
"Aku sungguh mencintai Arsen dengan sepenuh hati, dan aku yakin bisa membahagiakan putra paman dan bibi. Dan aku baru saja merasakan hal yang paling membahagiakan dalam hidupku, tolong paman, tolong bibi, jangan paksa aku untuk merusak moment indah ini dengan mengakui siapa aku sebenarnya." Tambah Rachel lagi yang jadi semakin menangis tersedu-sedu sembari memegang tangan Benzie dan Yuna.
__ADS_1
Melihat hal itu, membuat Yuna dan Benzie menjadi iba pada Rachel. Yuna pun mengusap lembut pundak Rachel yang saat itu masih terus menangis.
"Rachel, tenang lah, bibi mohon jangan menangis." Ucap Yuna lembut.
"Bagaimana jika paman dan bibi saja yang akan mengatakannya pada Arsen? Paman dan bibi akan mencari waktu yang tepat dan akan sangat hati-hati saat menjelaskannya, paman yakin dengan begitu amarah Arsen hanya terjadi sesaat saja."
"Sepertinya tidak mungkin seperti itu sayang." Bantah Yuna pelan.
"Kita sama-sama tau karakter Arsen seperti apa, dia adalah manusia yang paling tidak suka di bohongi meski itu adalah hal sepele sekalipun. Tidak kah kamu ingat saat dulu ketika dia masih SMP, kamu pernah membohonginya tentang kamu yang jatuh sakit seminggu lamanya dan harus dirawat di rumah sakit, saat itu kamu berbohong dan mengatakan pada kedua anak kita jika kamu ada perjalanan dinas selama seminggu hanya demi agar mereka tidak cemas. Dan saat kamu sembuh, saat kedua anak kita akhirnya mengetahuinya, saat itu Lylia mungkin bisa menerima, lalu Arsen? Saking marahnya, dia bahkan tidak pulang ke rumah selama dua minggu. Apa kamu lupa?" Tambah Yuna lagi.
"Iya aku ingat, tapi inilah satu-satunya cara yang paling baik untuk Arsen dan Rachel, ini demi kebaikan hubungan mereka kedepannya. Arsen akan lebih merasa kecewa jika hal ini di tutupi lebih lama lagi." Jawab Benzie sembari menatap Yuna lekat.
Mendengar hal itu, membuat Rachel semakin merasa tidak tenang, baru saja ia merasa seolah melambung tinggi di awan, kini perasaan itu seolah ambruk begitu saja saat memikirkan kenyataan yang memang tak berjalan begitu mulus.
Ia pun akhirnya mulai mengusap air matanya dengan perlahan, lalu mulai menghela nafas panjang dan kembali menatap Benzie dan Yuna yang kala itu seolah sedang terlibat perdebatan kecil.
Membuat Yuna dan Benzie seketika terdiam dan menatap Rachel bersamaan.
"Baiklah, tolong beri aku waktu sedikit, biar aku saja yang mengakui semuanya pada Arsen. Permasalahan ini ada, karena aku yang memulainya, jadi memang aku juga lah yang harus menyelesaikannya." Tambahnya lagi.
"Apa kamu yakin sayang?" Tanya Yuna masih dengan raut wajah cemas.
"Iya bibi, tapi aku mohon beri aku waktu untuk menyiapkan mentalku, aku butuh waktu untuk membangun rasa beraniku. Bisakah paman? Bibi?" Wajah Rachel terlihat begitu lirih saat mengatakannya.
Membuat Yuna dan Benzie jadi saling berpandangan satu sama lain, seolah sedang bertanya pendapat satu sama lain. Tak lama Yuna pun mengangguk pada Benzie sebagai jawaban, agar Benzie memberi waktu pada Rachel dan membiarkannya untuk menjelaskannya sendiri pada putra mereka.
__ADS_1
"Baiklah Rachel, kapan kira-kira kamu akan mangatakannya?"
"Beberapa hari kedepan, kami akan sangat sibuk dengan beberapa meeting dengan klien penting untuk membahas proyek yang mulai berjalan. Tentu itu bukan waktu yang tepat, tapi aku usahakan untuk secepatnya memberitahukan semuanya pada Arsen paman."
"Emm baiklah kalau begitu, paman percayakan masalah ini padamu ya."
Rachel pun mengangguk pelan, karena dalam hatinya, ia sama sekali tidak siap untuk hal ini.
"Ok pembahasan kali ini kita anggap selesai, sudah sangat malam, paman dan bibi harus segera pulang." Ucap Benzie sembari mulai bangkit dari duduknya dan di susul pula dengan Yuna.
"Baiklah paman, bibi, sebelumnya terima kasih karena kalian sudah peduli tentang masalah ini. Terima kasih sudah mengingatkan aku lebih awal." Ucap Rachel yang masih saja terlihat memasang wajah sendunya.
"Hal ini kami lakukan, karena kami tidak ingin timbul masalah yang lebih rumit dan serius antara kamu dan Arsen. Kamu mengerti kan?" Yuna pun kembali mengusap lembut pundak Rachel.
"Iya bibi, aku mengerti, terima kasih banyak." Akhirnya Rachel pun tersenyum tipis meskipun sebuah senyuman yang muncul adalah senyuman yang ia paksakan demi menghargai calon mertuanya.
"Ya sudah, kamu beristirahat lah dengan tenang, jangan terlalu di pikirkan, bibi yakin kamu bisa menyelesaikan masalah ini."
Rachel pun hanya bisa mengangguk patuh. Yuna dan Benzie pun akhirnya beranjak pergi, meninggalkan Rachel seorang diri di depan pintu apartementnya dengan segudang perasaan yang kini tengah bercampur aduk. Kecemasan, takut, panik, sedih, kini berbaur menjadi satu kesatuan yang berhasil merenggut rasa bahagia Rachel pada malam itu.
Dengan tak bersemangat, Rachel menutup pintunya, lalu dengan langkahnya yang begitu lesu ia pun langsung menuju ke kamar, menatap ranjangnya dengan tatapan yang masih lirih dan seketika menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk.
"Setelah begini, masih bisakah aku mimpi indah malam ini dan seterusnya?" Gumam Rachel lirih dalam hati sembari kedua matanya menatap sendu ke arah langit-langit kamarnya.
"Oh ya tuhan, kurasa tidak." Rengeknya kemudian sembari menenggelamkan wajahnya dibalik bantal.
__ADS_1
...Bersambung......