Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 87


__ADS_3

Sementara Rachel yang awalnya terus menunduk, seketika mulai mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Arsen dengan sangat lekat. Kini mata Rachel mulai berkaca-kaca karena begitu merasa haru saat mendengar ucapan tegas dari Arsen yang tak mau dirinya di pecat.


"Ternyata kamu berani membelaku di depan papamu Arsen Lim." Celetuk Rachel dalam hati yang sebenarnya ia pun sudah tau jika Benzie hanya ingin mengetes Arsen saja.


Suasana pun mulai terasa tegang dan seketika berubah menjadi hening, Benzie yang sudah merasa cukup puas dengan sikap tegas putranya pun akhirnya mulai menghela nafas panjang.


"Emm baiklah jika kau sudah memutuskan." Ucap Benzie dengan tenang yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.


Tak ingin kembali menjadi pengganggu, Alex pun memilih untuk ikut keluar menyusul Benzie.


"Baiklah, uncle juga harus kembali ke ruangan kalau begitu." Ucap Alex yang kemudian ikut pergi.


Kini di ruangan itu hanya kembali tersisa Arsen dan Rachel yang masih saling diam dan nampak kikuk karena kejadian tadi. Namun Rachel yang tak ingin terlalu lama terjebak di situasi yang cukup canggung itu memilih untuk kembali ke ruangannya.


"Kalau begitu, sa, saya juga pamit tuan muda." Ucap Rachel yang masih terlihat sangat gugup sembari mulai ingin melangkah pergi.


Saat itu Arsen masih terdiam. Namun langkah Rachel kembali terhenti saat ia sudah berdiri tepat di depan pintu, sebelum ia keluar, ia pun kembali berkata.


"Terima kasih banyak sudah membelaku di depan tuan besar Benzie Lim. Terima kasih." Ucap Rachel dengan lembut yang kemudian keluar dari ruangan Arsen.


Rachel pun kembali terduduk di ruangannya dengan membawa perasaan lega. Meski pun ia belum tau pasti apa permasalahan yang sebenarnya yang tengah terjadi antara Arsen dan Laura, namun itu sudah cukup membuat Rachel merasa senang karena peluangnya untuk menjauhkan Arsen dari sang hama betina semakin terbuka lebar.


Beberapa jam pun berlalu, kini waktu makan siang pun tiba, Saking fokusnya melanjutkan pekerjaannya, membuat Rachel baru menyadari jika Arsen sudah tidak berada di tempatnya.


"Ha?! Kemana dia?! Apa dia sudah makan duluan?" Tanya Rachel dalam hati sembari mulai merapikan meja kerjanya.


Tak lama, Alex pun terlihat kembali masuk ke dalam ruangan Arsen, namun ruangan itu nampak sudah kosong hingga membuat Alex jadi bertanya-tanya.


"Hei Rachel, kemana bos mu?" Tanya Alex.


"Aku tidak tau paman, aku pikir dia pergi makan siang bersama paman Alex dan paman Benzie." Jawab Rachel.

__ADS_1


"Aku bahkan baru ingin mengajak kalian makan diluar bersama Benzie."


"Lalu kemana dia pergi paman?" Rachel pun mulai nampak cemas.


"Ya sudah lah, usah terlalu di pikirkan, Arsen sudah dewasa jadi sudah pasti dia juga punya urusan sendiri." Alex pun tersenyum tipis.


"Ya sudah, apa kamu mau ikut makan siang bersama paman dan paman Ben?" Tanya Alex lagi.


"Emm sepertinya aku makan di kantin kantor saja paman. Tidak apa kan?"


"Ok tidak masalah. Ya sudah kalau begitu paman pergi dulu ya."


Rachel pun mengangguk. Akhirnya Alex pun pergi meninggalkan Rachel seorang diri yang saat itu masih memikirkan kemana perginya Arsen.


"Kemana dia? Apa dia bertemu dengan Laura lagi?" Tanya Rachel dalam hati.


Namun Rachel yang tak ingin pusing, akhirnya langsung menepis pikiran itu, lalu ia pun memilih untuk langsung keluar dari ruangannya untuk makan siang di kantin. Rachel berjalan lesu saat baru saja keluar dari Lift, namun langkahnya seketika terhenti saat ia melihat Laura yang juga tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Ka, kau." Ucap Rachel terperangah.


"Kenapa aku harus takut? Bukankah kau dan Arsen sudah...."


"Sudah apa ha? Jangan sok tau ya, hubunganku dan Arsen tidak akan pernah berakhir, kau mengerti?!"


Saat itu Rachel tidak menjawab dengan sepatah katapun, ia hanya memutarkan kedua bola matanya sebagai tanda tidak ingin begitu percaya dengan segala yang keluar dari mulut Hama betina itu.


"Sekarang katakan, dimana Arsen? Apa dia ada di ruangannya?"


"Arsen tidak ada di ruangannya." Jawab Rachel datar sembari ingin kembali melangkah pergi begitu saja.


Namun seketika tangannya di tahan oleh Laura yang seolah tak membiarkannya pergi begitu saja.

__ADS_1


"Heh ingat siapa dirimu! Dan apa tadi kau menyebutnya? Berani sekali kamu hanya menyebut namanya tanpa berkata tuan muda sama sekali?!"


"Ya ya ya, mungkin di kantor ini aku hanyalah seorang Sekretaris, tapi tidak kah kau tau apa yang Arsen dan aku sudah lakukan saat di luar kantor?" Jawab Rachel dengan tenang.


"Ap, apa maksudmu?" Laura pun semakin melotot.


"Emm jadi kau sungguh ingin tau ya?! Emm baiklah jika kau memaksa, tapi tolong persiapkan mentalmu sebelum mendengarnya ya, karena aku takut setelah ini kau akan gila." Ejek Rachel sembari terus tersenyum tipis.


"Katakan padaku apa yang sudah kalian lakukan di belakang ku?!" Bentak Laura lagi.


"Lebih tepatnya semalam, semalam saat ia begitu hancur karena mu, aku datang dan memberikan pundak ku untuknya. Dan kau tau apa yang terjadi, dia menatapku lembut, dan kemudian...."


"Kemudian apa?!" Laura pun mulai semakin tak menentu.


"Kemudian dengan perlahan Arsen mencium bibirku, emmm bahkan rasa manis bibirnya sampai sekarang seolah masih terasa disini." Jawab Rachel sembari kembali menunjuk bibir bagian bawahnya.


Laura pun mulai tak terkendali, kini emosinya seakan mulai memuncak.


"Eh tunggu, ini belum saatnya untuk kau emosi! Masih ada lagi. Dan kau tau, tadi pagi di dalam ruangannya, dia kembali memeluk ku, dan berkata 'terima kasih Bella, terima kasih sudah bersamaku semalam, dan ternyata apa yang kamu katakan tentang Laura itu adalah benar.' Begitu katanya." Jelas Rachel lagi sembari semakin tersenyum.


"Dasar wanita murahan, apa yang kau katakan padanya ha? Apa kau mencoba meracuni kekasihku ha?!!" Laura pun seketika menjambak rambut Rachel.


Namun mendapat perlakuan seperti itu membuat Rachel tak bisa tinggal diam, dia pun ikut menjambak rambut Laura dengan kuat. Lalu mulai menampar sebelah pipi Laura hingga membuat Laura hampir terlempar ke lantai.


"Kau!! Beraninya kau menamparku!!" Teriak Laura yang semakin menggeram.


"Aku tidak takut padamu Hama betina! Heh, dengar ya! Kau kira selama ini aku tidak tau bagaimana kebusukan mu? Kau sama sekali tidak mencintai Arsen, kau hanya mencintai uang dan kedudukannya saja."


"Berhenti bicara omong kosong!!" Teriak Laura.


"Baik aku akan berhenti, tapi mulai saat ini, aku akan merebut Arsen darimu! Kau dengar itu Hama betina?!" Rachel pun kembali tersenyum, lalu ia mulai melambaikan tangannya kepada Laura dan ia pun kembali melangkah pergi.

__ADS_1


Saat itu Laura hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan sebuah teriakan yang begitu menggema di koridor kantor yang cukup sepi. Namun Rachel yang mendengar teriakan itu hanya terus tersenyum, ia terus berjalan meninggalkan Laura tanpa menolah ke arah Laura sedikit pun.


...Bersambung......


__ADS_2