
"Jadi begitu ceritanya." Ucap Rachel mengakhiri penjelasannya.
Mendengar hal itu Arsen masih terdiam menahan rasa kesalnya, dadanya mendadak terasa panas, perasaan cemburu pun kini semakin jelas ia rasakan.
"Hei, kenapa kamu diam saja? Apa kamu sungguh marah?" Tanya Rachel yang kembali melirik ke arah Arsen.
Mendapati Arsen yang masih diam, Rachel pun mulai memegang lengan kokoh Arsen.
"Aku menerima parfum itu hanya karena menghargai pemberian dari seseorang, hanya itu saja. Dan ku yakin Antony juga memberikan parfum itu tanpa maksud tertentu." Tambah Rachel lagi dengan nada lembut.
Mendengar hal itu, Arsen pun langsung mendengus dan tersenyum sinis.
"Lelaki mana yang dengan secara khusus meracikkan sebuah parfum mewah dan mahal untuk seorang wanita jika tanpa maksud tertentu ha? Kamu ini memang sungguh polos atau bodoh, sehingga sama sekali tak menyadari, jika Antony begitu karena ia mengincarmu." Ketus Arsen.
"Hahaha astaga, ada apa dengan cara kerja otakmu hari ini? pemikiran macam apa itu? lelaki sekelas Antony mana mungkin melirik wanita seperti ku, dia tentu punya standart type wanita idamannya sendiri, yang pastinya jauh lebih dari segala hal dibanding aku."
"Apanya yang tidak mungkin? Aku saja bisa tertarik padamu, apalagi lelaki seperti Antony!" Jawab Arsen spontan.
Membuat Rachel seketika terdiam, mendengar ucapan Arsen yang mengatakan tertarik padanya sontak membuat Rachel tersipu malu dan kembali gugup.
"Apa tadi katamu?" Tanya Rachel sembari tersenyum.
"Tidak ada!" Jawab Arsen datar yang kembali memandang lurus ke depan.
"Oh." Rachel pun hanya bisa menahan senyumnya.
"Lalu dimana parfum itu sekarang?" Tanya Arsen kemudian tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rachel.
"Ka, kamu mau apa dengan parfumnya?"
"Dimana parfum itu?" Tanya Arsen lagi yang akhirnya menatap tajam ke arah Rachel.
"Ada di dalam tasku." Jawab Rachel dengan wajahnya yang mulai ia tekukkan.
"Berikan padaku" Arsen pun menjulurkan tangannya.
"Tapi untuk apa?"
"Berikan!" Arsen pun mulai melotot.
__ADS_1
Membuat Rachel menciut, dengan bibirnya yang manyun, Rachel pun akhirnya membuka tasnya untuk mengambil parfum itu, lalu dengan ragu-ragu memberikannya pada Arsen.
"Ini" Ucapnya dengan pelan.
Arsen pun langsung meraih botol parfum itu, memperhatikannya sejenak, lalu tak berapa lama, di samping mobil mereka lewat seorang lelaki paruh baya yang berseragam sebagai tukang bersih-bersih area sekitaran restaurant.
Dengan cepat Arsen membuka kaca mobilnya dan memanggil lelaki itu.
"Tunggu paman."
Lelaki paruh baya itu pun menoleh dan langsung menghampiri mobil Arsen.
"Ka, kamu mau apa Arsen Lim?" Tanya Rachel yang merasa kebingungan.
Namun saat itu Arsen sama sekali tak menggubris pertanyaan Rachel.
"Ya tuan muda, ada apa?" Tanya sang lelaki paruh baya.
"Apakah paman memiliki anak perempuan?"
"Ya saya memiliki seorang anak perempuan yang kebetulan dua hari lagi dia genap berusia 17 tahun hehehe"
"Wah bukankah ini suatu kebetulan." Ucap Arsen sembari tersenyum tipis.
"Karena aku ingin memberikan ini untuknya." Jawab Arsen sembari memberikan parfum mahal racikan Antony itu pada lelaki itu.
Hal itu sontak mengundang kejut bagi Rachel, hingga matanya pun dibuat terbelalak.
Lelaki itu pun meraihnya dan memandangi botol parfum yang terlihat begitu mewah itu.
"Wah, jika di lihat dari bentuk botol dan aromanya, sepertinya parfum ini berharga sangat mahal. Apa anda yakin ingin memberikan ini untuk anak saya?"
"Ya tentu saja." Arsen pun tersenyum.
"Oh ya ampun, terima kasih banyak tuan muda, terima kasih. Ku yakin, anak gadisku pasti akan sangat senang mendapat hadiah ini di hari ulang tahunnya." Sang pria tua itu pun terlihat begitu sumringah.
"Iya paman, sama-sama."
Lelaki paruh baya itu pun pergi dengan membawa sebotol parfum mahal itu dengan wajahnya yang terlihat sangat berbinar. Arsen pun dengan tenang kembali menutup kaca jendela mobilnya dan langsung saja menginjak gas untuk menjalankan mobilnya. Sementara Rachel, saat itu ia terus menatap tajam ke arah Arsen Lim karena begitu tak menyangka jika Arsen memberikan parfum pemberian Antony pada orang lain yang tak ia kenal.
__ADS_1
"Hei, apa-apaan? Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Rachel dengan kedua tangannya yang bersedekap.
Namun saat itu Arsen masih diam dan memilih terus mengemudi dengan tenang.
"Hei Arsen Lim, jawab aku!" Rengek Rachel.
Arsen pun akhirnya mulai menatap Rachel dengan tatapan datarnya.
"Karena aku tidak suka kamu menerima barang darinya, dalam bentuk apapun itu!" Tegas Arsen.
"Iya, tapi kenapa? Kenapa kamu tidak suka? Alasannya apa?"
"Perlukah aku menjawabnya lagi?" Ucap Arsen yang kembali fokus menatap ke arah jalanan yang ada di hadapannya.
"Iya tapi aku dan Antony tidak ada hubungan apapun, hanya sebatas teman dan partner kerja. Jadi tidak ada salahnya kan aku menerima barang pemberiannya, bukankah itu salah satu contoh jika menghargai pemberian seseorang?"
Rachel pun tanpa henti terus saja menghujani Arsen dengan celotehannya yang menunjukkan bentuk protesnya pada sikap Arsen. Namun saat itu Arsen memilih hanya diam, dan justru semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Rachel harus berpegangan pada pegangan yang berada di atas pintu mobilnya.
"Hei, apa-apaan lagi ini? Tolong pelankan mobilnya, ini sama sekali tidak lucu!" Rachel pun terlihat sedikit ketakutan.
Namun Arsen masih diam dengan tatapannya yang terus menatap tajam ke arah jalanan.
"Arsen Lim, ku bilang tolong pelankan mobilnya! aku tidak mau mati dengan cara seperti ini" teriak Rachel lagi yang semakin mengeratkan pegangannya pada pegangan yang ada di atas pintu mobil itu.
Namun teriakan itu pun seakan sia-sia karena Arsen masih tidak menggubrisnya.
"Ya sudah, terserahmu saja. Aku juga tidak takut-takut amat." Ucap Rachel yang langsung memalingkan wajahnya.
Rachel pun akhirnya diam, meski sebenarnya ia begitu takut hingga terus berdoa dalam hati meminta tuhan agar mau melindunginya kala itu.
Ciittt...
Suara gesekan ban mobil pada aspal begitu jelas terdengar, kini mobil Arsen pun telah berhenti sempurna di lahan parkir di depan gedung kantor utama.
Saat itu Akhirnya Rachel bisa kembali bernafas lega karena akhirnya ia bisa lolos dari maut yang mengerikan baginya.
"Sikapmu ini benar-benar kekanak-kanakan, apakah itu mencerminkan sikap seorang CEO sebuah perusahaan besar di kota ini?" Rachel kembali mengomel panjang lebar.
"Baiklah, tidak apa jika kamu terus membisu, Yang jelas aku tidak suka sikapmu seperti tadi, terserah kamu mau menerimanya atau tidak. Dan sekali lagi ku beritahu padamu, aku dan Antony murni hanya sebatas teman dan rekan kerja dan selamanya akan begitu" Sambungnya lagi masih terus mengomel tanpa jeda sedikit pun.
__ADS_1
Ocehan itu pun membuat telinga Arsen mulai terasa panas mendengar celotehan Rachel yang hari itu terlihat begitu cerewet. Hingga akhirnya Arsen pun langsung menarik tangan Rachel, membuat tubuh Rachel ikut tertarik ke arah Arsen, lalu dengan cepat langsung mencium bibirnya.
...Bersambung......