Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 129


__ADS_3

Rachel terus menarik tangan Arsen menuju belakang panggung, ia bahkan tak lagi memperdulikan ada berapa pasang mata yang saat itu terus memandanginya.


Yuna yang melihat kejadian itu pun mulai meremas lengan Benzie karena merasa sangat cemas.


"Apa yang kita khawatirkan akhirnya terjadi, astaga bagaimana ini?" Ucap Yuna yang terus memandangi kepergian Rachel dan Arsen dari atas panggung.


"Saat ini kita hanya bisa mengandalkan Rachel, semoga dia bisa menghandle hal ini tanpa menimbulkan masalah." Jawab Benzie yang juga sebenarnya merasa cemas namun kala itu dia tak bisa berbuat banyak dalam hal percintaan anaknya.


Setibanya di belakang panggung, Arsen langsung menghentikan langkahnya seolah ingin segera mendapat penjelasan tentang ucapan Laura.


"Berhenti disini!" Ucapnya yang berhasil membuat langkah Rachel ikut terhenti.


Rachel pun mulai menatap sendu wajah Arsen yang saat itu terlihat begitu bingung.


"Sekarang katakan! apa maksud ucapan Laura tadi?" Arsen menatap wajah Rachel dengan sorot mata yang sangat serius.


Pertanyaan itu membuat detak jantung Rachel semakin tak karuan, ia pun beberapa kali menghela nafas demi membuat dirinya sedikit lebih tenang.


"Arsen Lim." Rachel perlahan mulai meraih kedua tangan Arsen.


"Se, sebelumnya ak, aku ingin minta maaf padamu." Ucap Rachel dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


"Maaf???!" Dahi Arsen pun mulai mengkerut.


Rachel mengangguk pelan.


"Bella, aku masih sangat bingung dengan semua ini, tolong katakan dengan jelas apa maksud ucapan Laura yang mengatakan jika kamu penipu? Dan tadi, dia menyebutmu Rachel Chou??? Tolong, tolong Jangan membuatku semakin bertambah bingung."


Belum sempat Rachel menjawab, Laura yang sudah terlanjur dibuat marah pun ikut menyusul mereka hingga ke belakang panggung.


"Berhenti memanggilnya Bella! Karena dia adalah Rachel Chou, yang selama ini menyamar menjadi Bella untuk merebutmu perlahan dariku. Dia telah menipu kita selama ini, dia menghalalkan segala cara agar bisa merusak hubungan kita Arsen Lim, dia ini penipu!!" Jelas Laura yang kini berdiri tak jauh dari mereka dengan begitu menggebu-gebu.


Namun nampaknya Arsen masih tak ingin mempercayai ucapan Laura, ia bahkan sama sekali tak menggubris Laura.


"Katakan jika itu tidak benar Bella, ayo katakan! Apa yang wanita itu bilang tidak benar kan?" Arsen menatap lekat wajah Rachel sembari mengeratkan genggaman tangannya pada kedua tangan Rachel.


Namun saat itu Rachel masih terdiam dan mulai meneteskan air matanya di hadapan Arsen.


"Dan kau, sudah ku katakan padamu untuk pergi dari sini! Beraninya kau merusak acara pertunangan ini dengan mengarang cerita konyol seperti ini!" Bentak Arsen yang kemudian menatap tajam ke arah Laura.


Suara bentakan Arsen begitu terdengar hingga ke panggung dan sekitarnya, hal itu membuat Yuna dan Benzie bergegas menyusul mereka ke belakang panggung.


"Lex, tolong handle para tamu, jangan biarkan mereka berfikir yang bukan-bukan." Pinta Benzie pada Alex sebelum akhirnya ia beranjak ke belakang panggung.


Seolah tak bisa merasa tenang dengan situasi dan kondisi Rachel yang terancam, Shea pun segera menarik Martin untuk ikut menyusul mereka.

__ADS_1


"Arsen, tolong tenangkan dirimu! akan sangat malu jika para tamu mendengarnya." Ucap Benzie yang mencoba menenangkan putranya.


"Pa, kenapa wanita ini di biarkan masuk kesini? Dia mencoba merusak pertunanganku dan Bella dengan mengarang cerita konyol!" Ketus Arsen yang mulai tenggelam dalam lautan emosi.


"Apa yang dikatakan olehnya, adalah benar." Ucap Rachel yang mulai menundukkan kepalanya dengan suara begitu pelan.


Hal itu sontak membuat Arsen tercengang dan memandanginya dengan tatapan tak percaya.


"Apa?!" Tanya Arsen dengan suara yang juga jadi begitu pelan.


"Kamu ingat perbincangan kita terakhir saat di apartement ku beberapa malam yang lalu? Saat itu aku mengatakan jika dulu aku begitu gendut hingga ada seseorang yang menyebutku si pipi bakpao, tidak kah kamu menyadari maksud dari ucapanku itu?" Kini air mata Rachel mulai menyucur.


"Ja, jadi ka, kamu..." Namun Arsen nampaknya masih begitu tak menyangka.


"Ya, aku adalah sahabat masa kecilmu, Rachel Chou." Jawab Rachel lirih.


Bak petir di siang bolong, pernyataan Rachel saat itu benar-benar membuat Arsen merasa seolah tersambar petir hingga ia begitu syok.


"Tidak! Tidak mungkin!" Arsen sontak melepaskan genggaman tangannya pada kedua tangan Rachel sembari terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Arsen Lim, aku mohon maafkan aku." Rachel pun ingin meraih tangan Arsen lagi.


"Stop!" Namun Arsen langsung menarik kembali tangannya seolah sangat tak ingin di sentuh kala itu.


"Arsen Lim, tolong mengerti lah, aku melakukan ini semua karena aku ingin selalu berada di sisimu, dan aku...."


"Jadi selama ini kau hanya mempermainkanku? Kau masuk dalam hidupku dengan membawa segala bentuk keindahan, membuatku jatuh cinta padamu, lalu agar untuk bisa membuatku kecewa?" Kini Arsen benar-benar merasa kecewa karena ia merasa jika selama ini Rachel hanya mempermainkan serta menipunya.


Hal itu membuat Rachel semakin menangis.


"Apa kau begitu dendam padaku dimasa lalu, hingga itu membuatmu dengan sengaja mempermainkan perasaanku?"


"Tidak! Itu tidak benar. Aku memang berbohong selama ini, tapi satu hal yang aku tidak pernah bohong, itu saat aku mengatakan jika aku mencintaimu. Aku mencintaimu Arsen Lim."


"Bullshit!" Ketus Arsen dengan sorot matanya yang begitu tajam menatap Rachel.


"Tidak perduli kau Rachel Chou atau orang lain, yang jelas kau sudah mempermainkan ku, dan membohongi aku selama ini." Tambahnya lagi sembari mulai meninggikan suaranya.


"Cukup Arsen Lim!" Ucap Shea secara tiba-tiba.


Bagaimana pun, Rachel adalah putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi, tentu ia takkan tega melihat putrinya di bentak hingga menangis di hadapan banyak orang.


Shea pun mendekati Rachel dan ingin mengajaknya pulang.


"Jika pernikahan ini harus batal karena masalah ini, maka batalkan saja!" Tegas Shea sembari ingin menarik tangan Rachel.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Ucap Shea lagi.


"Tidak mommy, aku mohon jangan, tolong biarkan aku menyelesaikan masalah yang kubuat sendiri. Ini salahku mommy, ini semua kesalahanku." Rachel semakin menangis untuk membujuk Shea.


Hal itu membuat Shea semakin tidak tega, ia pun langsung memeluk tubuh putrinya dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


Melihat itu, Arsen hanya mendengus dan tersenyum lirih.


"Saat aunty mengatakan jika Rachel sedang sibuk, nyatanya itu memang benar, karena Rachel Chou ini, sedang sibuk bersandiwara untuk membohongi aku dan seluruh keluargaku."


"Kata siapa dia membohongi keluargamu?" Shea balik bertanya dengan mata mendelik.


"Seluruh keluargamu bahkan sudah tau sejak awal jika Bella adalah Rachel. Dan kau pikir, bagaimana Rachel bisa masuk begitu saja di perusahaan dan langsung di tempatkan sebagai Sekretaris barumu tanpa adanya interview ? Apa kau sungguh tidak berfikir kesana?" Jelas Shea yang sangat tak terima saat putrinya di tuduh menipu keluarga Lim.


Mendengar hal itu, Arsen seketika langsung menoleh ke arah Benzie dan Yuna. Membuat Benzie dan Yuna jadi ikut gelagapan dan merasa bersalah karena telah berbohong.


"Apa itu benar pa, ma? Apa kalian semua sudah tau jika dia adalah Rachel?" Tanya Arsen lirih.


"Arsen tolong dengarkan dulu..." Yuna mencoba menjelaskan tapi ucapan itu langsung di putus oleh Arsen.


"Aku hanya butuh jawaban! benar atau tidak?!"


"Benar." Jawab Benzie kemudian.


Arsen pun seketika tertawa lirih, ia tertawa bukan karena mendadak gila, namun ia sedang menertawakan kebodohannya sendiri yang menjadi orang paling terakhir mengetahui fakta mengejutkan itu.


"Hahaha jadi kalian semua sudah tau? Jadi... hanya aku yang baru tau hal ini?"


"Maafkan kami Arsen Lim, kami tidak ada maksud untuk membohongimu selama ini, tapi kami mencari waktu yang tepat untuk membicarakan ini." Jelas Yuna


"Aku benar-benar tidak percaya, keluargaku sendiri bahkan bersekongkol dengan wanita yang mengaku bernama Bella ini untuk mempermainkan aku." Arsen kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu dengar itu Arsen Lim, penipu ini sudah mengakuinya, dia memang sengaja ingin membodohi kita semua agar bisa merebutmu dariku. Sudah lah, batalkan saja pernikahanmu dengan penipu ini dan kembali lah padaku." Celetuk Laura lagi menimpali.


"Diam kau wanita jalanggg!!" Bentak Arsen yang semakin meninggikan suaranya.


Kala itu, rasa emosi Arsen jadi kian memuncak, rasa emosinya kini bersatu padu dari segala arah. Mengetahui kenyataan jika selama ini Rachel mempermainkannya dengan menyamar sebagai Bella juga turut serta memicu rasa emosinya yang hampir meledak.


Mendapat makian dari Arsen untuk pertama kalinya, membuat Laura terkejut bukan kepalang. Sosok Arsen yang dulu begitu lembut dan begitu mencintainya, kini sosok itu seolah hilang.


"Kamu akan menyesal karena telah memakiku Arsen Lim. Ku yakin setelah ini kamu akan batal menikah, seluruh orang-orang di kota ini akan membicarakanmu dan musuhmu akan tersenyum puas. Ku pun yakin, tidak lama lagi kamu akan kembali ke sisku, karena hanya aku yang pas untukmu.


Mendengar hal itu, membuat Arsen kembali menatap Laura, lalu perlahan mulai mendekatinya dan tersenyum.


"Silahkan bermimpi, karena aku takkan pernah sudi kembali padamu! Kamu pun tidak lebih baik darinya." Bisik Arsen dengan sorot matanya yang begitu tajam, lalu kemudian beranjak pergi begitu saja tanpa ingin mendengar penjelasan dari siapa pun lagi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2